Rainy (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Mengharukan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 15 January 2016

Seorang suster yang menemaniku dan membantuku untuk mengecek status gadis ini perlahan-lahan undur diri dan meninggalkan kami berdua dengan senyuman lebarnya yang tidak dapat disembunyikan. Ketika suster itu berhasil menutup pintu dengan rapat setelah berbisik, “Kalian buat jantung berdebar-debar aja, deh.” secara resmi ruangan ini terkunci dari luar dan tidak ada siapa pun yang bisa menganggu kami tanpa kami persilahkan, kecuali dia juga punya kunci untuk membuka ruangan ini.

Tak sampai dua detik setelah itu, si gadis kemayu langsung melompat dari atas tepat tidurnya dan menodongkan pisau buah yang entah kapan dan entah dari mana diambilnya. “Siapa anda? Di mana dokter Sunny?” tanyanya dengan wajahnya yang garang dan membuatku seperti sedang mengingat kembali masa lalu. Mata tajam penuh curiga, alis berkedut, dan bibir tipis yang bersiaga untuk melontarkan hinaan. Wajah seperti inilah yang sedari tadi terbayang di otakku. Mungkin sisa-sisa memori dari “hati” yang disumbangkan Sunny padaku-lah yang membuatku sedari tadi memikirkan hal yang tidak terduga.

Demi keselamatan, aku mengangkat kedua tangan dan menunjukkan aksi give-up. Aku bahkan meletakkan kedua tanganku di kepala dan menirukan posisi tersangka seperti di film-film ketika FBI meneriakkan “FREEZE!”. Ketika aku melakukannya, penjagaaan gadis itu menurun dan membuatnya sedikit lega. “Dari mana kamu tahu kalau aku bukan Sunny?” tanyaku dengan ragu, takut bahwa pisau buah yang dipegangnya akan segera menancap di dadaku.

Gadis itu tersenyum puas seperti sedang melecehkanku. “Tentu saja. Aku tahu jelas bahwa dokter Sunny sama sekali tidak pandai bermain musik atau berolahraga. Tetapi kapalan yang berada di telapak tanganmu menunjukkan bahwa kamu mahir bermain alat musik profesional atau telah menjadi atlit bahkan sejak sebelum kamu belajar berbicara.”

Gadis itu benar. Kata ibuku dulu, ketika aku masih menjadi bintang, aku sudah bisa hafal tuts mana yang harus ditekan untuk memainkan lagu twinkle-twinkle little star di piano. Pada saat itu aku bahkan belum bisa berlari tanpa jatuh. “Dokter Sunny sering bercerita bahwa Kakak kembarnya Rainy sangat pandai bernyanyi dan bermain alat musik. Tetapi aku tidak ingat dia pernah bercerita bahwa kapasitas otak Kak Rainy sanggup mencerna dunia kedokteran. Jadi, Kak Rainy tidak mungkin mau menginjakkan kakinya di dunia medis. Apalagi berpura-pura menjadi dokter spesialis!” bentaknya garang. Mendengar omelan singkat itu, aku segera menurunkan kedua tanganku dan tertawa terbahak-bahak.

“Tidak bisa mencerna dunia kedokteran, katamu? Hei, aku sudah menjadi dokter spesialis jantung yang diidamkan banyak orang!” kataku dengan bangga. Gadis itu, Rainy, dengan kesadaran penuh tiba-tiba membuang senjatanya dan berjalan perlahan mendekatiku. “Kamu, kamu sungguhan Kak Ray? Lalu, di mana Kak Sunny?” ucapnya gusar dan sedikit kaget. Sepertinya ia juga punya firasat kalau sesuatu telah terjadi terhadap Sunny.

Aku mulai menggerakkan tubuhku seperti yang dilakukannya untuk memperpendek jarak di antara kami. Kemudian, tanpa repot-repot meminta izin aku langsung memeluk tubuhnya dengan erat untuk bersiap menerima perlawanan darinya. “Son sudah meninggal” suaraku terhenti, “lima tahun yang lalu. Dia mati untuk menyelamatkanku, padahal akulah yang membunuhnya.” Lanjutku lagi dengan suara parau karena menahan tangis.

Sebenarnya aku ingin bercerita banyak setelahnya. Tetapi aku harus lebih dahulu menunggu bagaimana reaksi dari gadis ini setelah mendengar kabar tentang adikku. Namun ternyata tidak ada perlawanan seperti dugaanku. Malahan tanpa ku sadari dia menangis dan membuat kemejaku menjadi hangat karena dibasahi oleh air matanya yang terus mengalir tanpa henti. Aku juga ingin menangis, tetapi air mataku segera dikeringkan oleh suhu ruangan yang dingin.

Hari ketika aku pertama kali bertemu gadis bernama Rainy adalah hari yang paling bermakna di dalam hidupku sebagai seorang Rainy. Aku merasa sungguh-sungguh kembali menjadi diriku yang sejati. Hari itu kami habiskan menjadi hari khusus kami berdua. Pagi itu setelah puas menangis dan saling berpelukan, kami sarapan sambil bercerita panjang-lebar. Siangnya kami berjalan ke kafetaria rumah sakit dan terus melanjutkan cerita sambil mengunyah atau menelan sesuatu.

Sorenya kami kembali ke kamar dan tetap bercerita sambil memandangi anak-anak dan pasien lain yang berada di taman rumah sakit melalui jendela kamarnya. Dan pada malamnya, kami akhirnya berhenti bercerita. Aku melepas status dokter yang membanggakan itu dan dia menanggalkan status pasien yang di mata orang hanyalah mahluk lemah. Saat itu kami hanyalah seorang laki-laki dan perempuan biasa yang menikmati malam layaknya remaja tanggung yang sedang kasmaran.

Dua orang Rainy menjadi satu dan bergabung membentuk hujan badai yang begitu besar, seperti tidak akan ada pelangi yang akan menghentikan amukannya. Sebab kini mereka sadar bahwa mereka telah kehilangan mentarinya untuk selamanya. Rasanya seperti benar-benar kehilangan sunny.

Tidak lama setelah malam itu, kami mulai akrab dan semakin dekat. Orang-orang mangatai kami pacaran meskipun belum pernah ada perjanjian resmi apa pun di antara kami berdua. Ku pikir karena Sunny hidup di dalam diriku dan karena wajah dan sifatku yang sangat mirip dengan Sunny, aku dan Rainy bisa merasa saling jatuh cinta. Namun aku tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kejanggalan dari perasaan yang aku, maupun Rainy, rasakan.

Semakin lama hubungan kami semakin baik saja. Tetapi sebaliknya, penyakit Rainy semakin memburuk. Begitu parahnya sampai aku bahkan tidak sanggup untuk menghitung jumlah jahitan dan jumlah cincin yang terpasang di jantungnya untuk menopangnya hidup. Belakangan ini aku juga melihatnya sering mual dan muntah, ku pikir mungkin karena efek obat yang terlalu keras terhadap lambungnya.

Dan ku pikir selama ini nafsu makannya semakin memburuk dan badannya yang tadinya ideal mulai mengurus sesuai dengan perubahan pola makannya. Namun akhirnya aku menemukan masalah baru. Belum lagi cerita tentang jantungnya selesai, aku mendapati Rainy ternyata sudah hamil. Entah angin apa yang menghalangi kelima inderaku sampai aku sendiri tidak menyadari bahwa kehamilannya sudah memasuki awal trisemester kedua.

Tanpa banyak bertanya dan menginterogasinya secara pribadi aku yakin betul kalau anak yang dikandungnya adalah anakku. Sebab, sejak hari pertama kami bertemu, hanya akulah satu-satunya pria selain keluarga dan kerabatnya yang menginap di kamar rawat inapnya. Rainy bukanlah cewek murahan yang mau menerima siapa pun untuk menyentuhnya. Di malam ketika kami benar-benar melepaskan kepergian Sunny, aku yakin bahwa ketika itulah Rainy telah resmi mengandung benih yang ku tanamkan kepadanya.

Rainy yang mungkin takut kalau ada orang lain yang mengetahui kehamilannya mulai sering menghindariku dan menolak siapa pun masuk ke kamarnya untuk memeriksanya kecuali suster-suster tertentu. Bagiku tidak masalah dia mau mengabaikanku atau memusuhiku, karena sejak awal memang akulah yang salah. Namun mengingat kondisinya yang semakin buruk karena ulahku, ku pikir saat itulah aku telah mencapai depresi yang paling tinggi di hidupku.

Bayi itu akan menghancurkan hidup kami berdua sekaligus. Ia akan merusak karir dan nama baikku dan ia juga akan membunuh Rainy karena mengandung di saat status fisiknya sangat tidak mendukung. Tetapi aku bukanlah pria bodoh seperti lima tahun yang lalu yang bahkan membiarkan hidupku sendiri tidak terurus dan tidak bermakna. Saat ini adalah kesempatan aku bisa berubah sepenuhnya menjadi sesosok manusia yang berguna.

Sebelum memulai langkah besarku, aku bercerita kepada orangtuaku untuk menyampaikan rasa bersalahku dan meminta maaf atas dosa yang ku perbuat. Aku sudah siap menerima konsekuensi apa pun atas perbuatanku. Tapi di luar dugaan, Ayah maupun ibuku tidak memarahiku, memaki, atau mencibirku seperti dulu lagi. Dengan lembutnya mereka berkata bahwa mereka mempercayai apa pun yang ku lakukan dan mereka akan membantuku agar aku tidak akan melenceng menuju jalan yang salah lagi. Mereka mempercayai “Rainy” apa adanya.

Setelah mendapat restu orangtuaku, dengan segenap harga diri dan tanggung jawab yang besar aku mengunjungi kedua orangtua Rainy dan menceritakan hal yang sama seperti yang didengar kedua orangtuaku. Bukannya marah atau berusaha memenjarakanku karena tuduhan pelecehan s*ksual, mereka malah menangis bahagia dan berterima kasih. Mereka berkata bahwa aku telah memberikan harapan hidup baru bagi Rainy. Sebab, dengan adanya anak yang dikandungnya, Rainy pasti berusaha mati-matian untuk semakin sehat agar bisa melahirkan dan membesarkan anaknya.

Belum sampai satu hari setelah aku mengaku, tanpa sepengetahuanku Rainy ternyata melakukan hal yang sama sepertiku. Tentu saja hal itu membuat kedua orangtua kami haru melihat kesungguhan yang telah kami tunjukkan. Tidak lama setelah itu, kami resmi menjadi sepasang suami-istri dan membuat pesta pernikahan yang begitu meriah sebagai perayaan penyatuan kami dan kehadiran anak kami.

Kisah kami tidak berakhir bahagia sampai di situ saja. Lagi-lagi seperti biasanya, cobaan mengujii kami di tengah-tengah kebahagiaan yang belum sempat kami rasakan. Dokter kandungan memvonis hidup Rainy akan berakhir sebelum umur kandungannya akan mencapai sembilan bulan. Perjalanan hidup Rainy hanya pada dua pilihan yang ada: Rainy akan mati bersama bayi yang dikandungnya atau Rainy akan mati setelah melahirkan bayi prematur, yang tidak akan bertahan lama sejak ia dilahirkan. Namun pilihan itu bukanlah merupakan sebuah hambatan baginya. Dengan tekad kuat dan keras, ia menentang prediksi dokter terhadapnya dan bersumpah bahwa ia akan hidup sampai anaknya lahir dengan sehat dan selamat.

Pada hari-hari menuju akhir kehamilan Rainy, hidupku rasanya seperti sedang menonton seorang wanita tak berdaya yang bertahan hidup di tengah-tengah perang dunia kedua. Dengan tubuhnya yang semakin mengurus, setiap hari dia harus olahraga ringan untuk melenturkan tubuhnya dan memperkuat jantungnya. Ia selalu muntah setelah ia baru saja berhasil menelan seluruh makanannya.

Setiap malam ia sulit tidur, sehingga di pagi harinya aku hanya bisa melihat seonggok tubuh lemah yang letih. Belum lagi pengecekan rutin melelahkan yang menguras banyak tenaganya serta mengurangi setiap kubik dari bagian tubuhnya. Meskipun begitu, ia tidak pernah mengeluh ataupun menangis. Ia selalu memamerkan senyumannya yang indah setiap orang lain menatap wajahnya. Ia bahkan masih menyempatkan dirinya memotivasi pasien-pasien lain dan memberiku semangat setiap pagi sebelum aku memulai kunjungan terhadap pasien-pasienku. Dengan keadaan ceria ini, wajar saja kalau ia masih bertahan sampai umur kehamilannya mencapai sembilan bulan dan delapan hari.

“Bagaimana keadaan istri dokter, dok?” tanya seorang pasien laki-laki tua, teman seperjuangan Rainy dan pasien langgananku, yang kebetulan lewat ketika aku baru saja ke luar dari kamar rawat inap Rainy. Belum ada satu menit ketika aku meninggalkannya dengan wajah yang tertidur pulas, jadi aku hanya tersenyum pada pasien tersebut dan mengangguk girang sebagai jawabanku.

“Wah, syukurlah dok. Saya juga ikut senang.” Ucapnya untuk membalas jawabanku. Ketika aku akan mengatakan “Terima kasih” mendadak ia membuka mulutnya dengan lebar seperti sedang terlupa atau teringat tentang sesuatu. “Oh, ya! Selamat tahun baru dok.” Katanya, mengakhiri ekspresi anehnya itu. Dahiku langsung berkerut dan menatap pasien itu begitu herannya.

Tahun baru? Sekarang? Mungkin pasien ini terlalu lelah seharian sehingga ia bisa mengigau dengan mata terbuka. Tapi sebelum aku bertanya, seakan-akan tahu kebingunganku, pasien itu tersenyum dan sedikit terkekeh. “Sebenarnya saya tahu tahun baru dua hari lagi. Tetapi firasat saya bilang kalau dokter pasti tidak ingat ini sudah tanggal berapa dan bulan berapa, dan tak akan sadar bahwa tahun baru tak terasa tinggal sebentar lagi.”

Dia benar. Ucapannya telah membangunkanku. Ku pikir dialah yang mengigau, tetapi ternyata aku baru sadar selama ini aku menjalani hidup seperti sedang bermimpi. Aku tidak tahu kapan siang dan kapan malam, kapan burung berkicau dan jangkrik mengerik, yang aku lakukan setiap hari adalah melayani pasienku dan mengurus Rainy sepanjang hari tanpa kenal waktu.

Masih dengan senyumnya yang belum lepas, pasien itu menjabat tanganku dan berbisik menyemangatiku agar aku tegar melewati akhir tahun ini. Setelah itu, dia pergi kembali ke kamarnya dan meninggalkanku yang masih terperangah dengan kalimatnya: “Saya tahu pasti sulit melewatinya. Tapi percayalah dok, tidak ada yang dapat mengalahkan tekad kuat dari seorang Ibu. Yang dokter lakukan hanyalah mendukung istri dokter dan berusahalah lebih tegar daripada dia. Semuanya pasti akan berjalan dengan lancar. Yakinlah dok, badai pasti berlalu.”

Hari ini adalah hari dimana semuanya berawal. Hari yang baru, bulan yang baru, tahun yang baru, dan kehidupan baru yang sedang ku gendong penuh haru. Orang berpendapat bahwa cuaca cerah adalah awal dari sebuah kebaikan. Tetapi meskipun di awal tahun baru ini cuaca di luar sedang kacau karena hujan begitu deras dan petir sedang menggelegar, aku tetap merasa sedang diterpa oleh hangatnya mentari yang setia menyinari bumi.

Sempat teringat olehku adik kembarku yang paling ku sayangi, yang dinamai Sunny karena sesaat badai datang ketika ia baru saja lahir dan membuat ibuku merindukan matahari yang belum lama ditutupi awan kelabu. Dan kebetulan hari ini adalah hari peringatan kematian Sunny setelah sekian lamanya. Seperti saat ini, pada hari kematiannya sedang ada badai di awal tahun baru. Aku jadi semakin rindu padanya.

Aku menatap mata sembab dari bayi merah di gendonganku. Bayi perempuan manis yang benar-benar mirip seperti ibunya. “Hei, boneka kecilku, bagaimana perasaanmu? Bagaimana rasanya akhirnya kau digendong pertama kalinya oleh Papamu? Aku lebih hangat dan lebih nyaman daripada Mamamu kan? Ya, kan?” tanyaku berulang kali tanpa peduli ia akan mengerti perkataanku dan menjawabku.

“Nak, kau lahir memang di saat hujan deras dan petir yang menakuti banyak orang. Namun Papa janji bahwa hidupmu tak akan semendung hari ketika kau dilahirkan. Papa yakin kau bisa hidup secerah Pamanmu, Sunny. Karena itu sejak awal papa ingin sekali menamaimu Sunny agar hidupmu selalu hangat dan terang. Tapi memang dasar Mamamu itu sungguh keras kepala dan egois. Dia tidak mau menamaimu Sunny. Padahal dia tahu betul bahwa berkat Sunny-lah kamu bisa ada di dunia ini, nak. Tapi–” Suaraku terhenti karena isakanku mulai mencekat tenggorokanku.

Aku tahu tidak ada yang perlu ditangisi sama sekali, tetapi air mataku tetap mengalir membasahi pipiku dan menetes jatuh membasahi kain yang membungkus bayi di pelukanku. Aku tak tahan menahan tangis haru karena kehadiran anakku sehingga mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Dan di luar dugaan, ternyata petir-petir sudah berhenti dan hujan telah mereda. Perlahan-lahan sinar matahari mengintip dari celah-celah awan dan cahanyaya mulai menyinari bumi. Cahaya itu juga menerpa wajahku dan memberiku semangat serta kekuatan.

Aku mengusap air mata cengengku dan menatap bayiku sekali lagi dengan penuh keyakinan. “Tapi, Nak, akhirnya Papa mengalah.” ucapku untuk melanjutkan cerita pertamaku kepadanya, “Ia bersikeras ingin menamaimu sama dengan nama Papa dan Mama, Rainy, agar kau tidak merasakan kepedihan di sepanjang hidupmu. Sebab, ‘petir tidak akan menyambar tempat yang sama untuk kedua kalinya.’ Begitu katanya sambil tersenyum menatap Papa untuk terakhir kali.”

Cerpen Karangan: Arthamy
Facebook: Arthemis Amy
Nama: Arthemis Amy
Tempat lahir dan tempat tinggal saat ini: Medan
Status: Single, dan mencoba untuk terus menjomblo sampai di saat yang tepat
Biografi singkat: Seorang mahasiswa yang sedang berjuang mendapatkan gelar abadi dari profesi yang paling diidamkan banyak orang dan masih mencoba membiasakan diri dengan hari-hari penuh perputaran antara kematian dan kehidupan. Seorang gadis biasa yang menginginkan cerita cintanya seperti komik dan novel fiksi romantis remaja.

Cerpen Rainy (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Terakhir

Oleh:
Tak terasa waktu terus bergulir, dari sekian banyak hal yang kulakukan tidak ada satu pun yang membuatkan merasa puas. Lantas aku mehempaskan tubuh ke kasur empuk ini. Kutatapi jam

Cinta Palsu

Oleh:
Adzan isya telah berkumandang, menandakan waktu sholat isya bagi umat muslim telah tiba. Tapi tidak untuk beberapa umat muslim yang tidak menghiraukan panggilan sholat tersebut, seperti 2 cewek manis

Tentang Aku dan Rasa ini

Oleh:
Aku hanya terdiam di bawah senja. Warnanya yang mulai meredup membuat siluet tubuhku di rerumputan ini. Sudah hampir 3 jam aku hanya terduduk disini, menikmati kesendirianku, menikmati segala hembusan

Merindunya

Oleh:
Rahma adalah seorang remaja cewek yang ceria, dia selalu berusaha buat nutupin semua masalahnya di depan orang-orang di sekitarnya dan memendam sendiri masalahnya. Rahma adalah seorang siswi kelas 7

Hujan

Oleh:
Aku berjalan sambil menutup mataku, menerobos derasnya hujan malam ini. Sebentar saja tubuhku sudah basah kuyup karenanya, tapi aku tak mempedulikan itu. Aku membuka mataku dan melihat sekelilingku, hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

7 responses to “Rainy (Part 2)”

  1. Nanda Insadani says:

    Selamat buat Kak Arthamy!^^
    Cerpennya emang top dah! Nilai-nilai kehidupannya dapat! Sempat ngira ini konfliknya bakal sama kayak film “Zathura” yang masalah kakak-adik. Eh, rupanya dikemas dengan rasa dan warna yang apik!
    Lanjutkan! (y)

  2. Arthamy says:

    Terimakasih banyak Nanda Insadani.
    Tunggu cerpen2 saya yg selanjutnya ya 🙂

  3. Ai says:

    Keren!
    Walaupun sedikit maksa di bagian sunny dan rainy kecelakaan dan harus cangkok jantung tapi suka banget cara kamu bawa flow cerita ‘rainy’nyaaa. Ditungguuu yaaa next cerpen yang berbau medis lagi

  4. Arthamy says:

    Terimakasih Ai atas saran dan dukungannya. Saya akan berusaha lebih maksimal untuk berikutnya ^_^

  5. yuyun says:

    waaahh,, keren sekaliii,,,cerpennya super duper bagus,,
    selamat buat kakak penulisnya..

  6. Rahma24 says:

    Seru banget tau Ka ceritanya :D,, Ditunggu yakk cerpen selanjutnya^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *