Rembulan Yang Menyayat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 24 September 2019

Lambaianmu dari kejauhan membuat aku mematung. Setelah itu kau berlalu menghampiri aku di tepi pantai. Ohh, Ratna, kau benar-benar jelmaan bidadari. Matamu yang begitu indah dengan bulu mata yang sangat lentik. Senyumanmu yang membuat aku semakin terpaku menatapmu.

“kamu sudah lama menunggu” tanyamu
“dalam menunggumu, aku tak peduli terhadap waktu” jawabku

Aku melihat senja sangat indah. Tapi setelah kau hadir senja menjadi biasa, keindahanmu jauh lebih indah dari senja. Seandainya kau tahu betapa aku mencintaimu dalam diamku.

Aku teringat pertama kali kita bertemu. Ketika aku melihatmu dengan tatapan agak tajam. Lalu kau pergi sambil mengatakan yang bagiku lucu.
“ihh, kamu kok natap akunya gitu banget” ujarmu sambil berlalu dengan teman wanitamu.

Sejak saat itu aku jadi ingin menatapmu seperti itu selalu. Suaramu yang rada serak membuatku teringat padamu setiap malam. Namun apakah kau tahu betapa aku menyukaimu.

“kamu kok melamun” ujarmu membuyarkan lamunanku.
Aku terenyuh, mati kutu. Seandainya kau tau bahwa kau yang sedang aku lamunkan.
“aku terpesona menatap senja yang begitu indah” jawabku mengelak.
Kau hanya tersenyum lalu mengatakan hal yang sama. Kamu adalah isi dari setiap lamunanku. Meski aku tahu kau belum pasti mempunyai rasa yang sama terhadapku. Aku selalu memanjatkan harapanku terhadap Tuhan bahwa aku mencintaimu.

“Kamu inget nggak, sa? … Nggak jadi deh” sambungmu.
“ingat apa? Kenapa nggak jadi” tanyaku.
Kamu hanya menggeleng tanda tak mau menjelaskannya lagi. Apa sebenarnya yang sedang kau ingat-ingat. Apakah kita sedang mengingat-ingat hal yang sama. Ah, tapi aku tak yakin kau mengingat hal yang sama denganku.

Tuhan, aku tak sanggup menahan rasa ini. Menahan seluruh perasaan yang semakin mencuat dan berkembang ini. Tapi rasa takut untuk mengatakan perasaan ini lebih dari rasa takut ketimbang melihat kuntilanak atau sejenisnya. Biar aku simpan dahulu rasa ini.

Kau mengajakku untuk main air padahal hari sudah cukup gelap. Aku turuti kemauan kau. Kau kibaskan air ke arah wajahku. Lalu kukejar kau sambil berlari-lari. Tak takut sedikitpun terhadap ombak yang datang. Rasa yang begitu indah, tak bisa kuutarakan lewat aksara.

Hari semakin gelap. Pesona mentari telah lenyap. Kini rembulan yang mulai berselok kemudian memancarkan aura-aura cinta terhadap dunia terkhusus kepadaku. Demikianlah jika sedang jatuh cinta. Sinar rembulan tampak lebih indah dari biasanya.

“sa, aku harus pulang” katamu dengan wajah sedikit lemas
“padahal aku masih ingin bersamamu” jawabku spontan
Kamu terbelalak. Matamu menatapku setengah melotot. Apa sebetulnya yang membuatmu seperti itu. Apakah kau pun masih ingin bersama denganku. Atau itu isyarat bahwa aku tak pantas mengatakan itu.
“benarkah itu” kamu penasaran
“benar” jawabku rada malu

Hampir sekian detik kau diam setelah aku menjawab. Dalam diam kita saling bertatapan sama mesra. Duhai pemilik semesta. Ragaku telah masuk dalam ranah cinta yang begitu dalam. Sementara sukmaku asik melayang di atas angkasa bersama harapan dan khayalan yang begitu mesra. Ingin rasanya kudekap daksamu untuk meluapkan semua rasa dan cintaku lewat dekapan itu. Namun aku ragu.

“tapi aku harus benar-benar pergi, mungkin ini terakhir kali kita bisa bercanda ria semacam ini” kata mu sedikit sendu
“kenapa, apa kau tak ingin bersamaku lebih lama” tanya ku
Kau menundukan kepalamu. Tak lama setelah itu isak tangis mulai terdengar di telingaku.

“jika ada yang ingin kau sampaikan padaku, katakan sekarang, sa” ucapmu sambil menahan tangis
“aku ingin, tapi aku tak mampu”
“kenapa? … Aku ingin tahu, sebelum hari esok datang”
Keadaan terbalik. Kini aku yang terdiam. Ingin rasanya kuusap air matamu yang jatuh butir demi butir. Lalu kuberi kau pelukan hangat yang menenangkanmu.

“sa, katakan saja. Aku ingin tahu” paksamu
“aku belum mampu, rat”
Tangismu semakin menjadi. Aku bingung apa yang membuatmu sedih seperti ini. Apakah kesalahanku yang membuatmu seperti itu.

Rembulan sudah berada di puncak. Tak terasa waktu jika aku bersamamu. Pantas saja kau bicara kau harus pergi. Mungkin karena hari yang semakin malam. Tapi tak mungkin. Kamu katakan kepadaku dengan tatapan mata tanda tanya. Aku bingung Ratna. Kenapa kau sedih seperti ini.

“aku cinta kamu, sa” tiba-tiba kau memelukku erat.
Aku kaget mendengar kau berkata seperti itu. Aku pun sama, bahkan aku lebih mencintaimu wanitaku. Aku semakin bingung. Kenapa kau mengatakan itu sambil menangis sendu.
“a… Ak…u pun men..cin..taimu” jawabku tergagap-gagap

Kamu memelukku semakin erat. Dan menangis semakin keras. Apa sebetulnya yang membuatmu menangis. Lalu aku berkata setengah berbisik kepadamu.
“apa yang membuatmu menangis, rat”
“aku mencintaimu itu yang membuatku menangis”
Oh Tuhan.. Kau menangis karena mencintaiku. Apakah mencintaiku menghadirkan lukan untukmu.

Lalu kulepas dekapanmu. Kupegang kedua pundakmu. Kutatap matamu yang indah itu. Mata dengan bulu mata yang lentik. Mata yang hanya dimiliki bidadari. Ingin rasanya kukecup bibirmu kala itu. Tapi rasa cintaku menahan itu. Rasa cinta itu menjadi penahan segala nafsuku. Aku telah berjanji kepada diriku bahwa aku tak akan merusak kehormatanmu sebelum sumpah sakral itu terucap dari bibirku.

“Ratna, kau tau. Aku mulai mencintaimu sejak kala itu. Kau lah yang setiap malam hadir dalam lamunanku”
“cukup… Jangan buat aku lebih sedih lagi” potongmu
“apa yang membuatmu…”
“aku harus menikah, aku telah dipinang dan kedua orangtuaku menerimannya. Aku tak bisa membantah perintah orangtuaku”
Jedar!! Aku seakan tersambar petir mendengar kalimat itu. Mulutku kaku tak mampu mengutarakan aksara barang sehuruf.

“sa, jika kau benar-benar cinta padaku. Berikan seluruh cintamu padaku malam ini. Sebelum aku pergi”
“maksudmu?” tanyaku, bingung mendengar kalimat tanya yang ambigu
“kita ber cinta malam ini. Untuk pertama dan yang terakhir” katamu sambil memelukku lagi.
Aku lepas pelukanmu lagi. Kutatap matamu setajam pertama aku bertemu denganmu. Ingin, aku sangat ingin melakukan itu. Tapi cintaku menahan itu. Ilahi.. Bantu aku tahan terhadap rayuan iblis yang sengaja menggodaku dan ingin membuatku jauh darimu. Aku ingin melakulan dosa itu. Tapi aku mencoba menahan itu cintaku.

“bagus, bagus jika kau sudah dipinang. Dan sangat jarang wanita yang mau menurutu titah orangtuanya. Aku ikut senang mendengarnya” kataku setengah munafik!!
“maukah kau lakukan itu?” tanyamu lagi.
“tidak” jawabku cepat

Kau melepaskan tanganku dari pundakmu. Lalu memalingkan wajahmu ke arah deburan ombak yang besar.
“kau tidak benar-benar mencintaku” katamu sambil membelakangiku

Tuhan.. Bantu aku menahan ini semua.
“karena aku mencintaimu, aku tidak mau”
“aku tidak paham katamu”
“aku cinta padamu, bukan nafsu. Cintaku datang dari kasih sayang Tuhan. Simbol kebesaran Tuhan. Aku tak ingin mengotori cintaku dengan hal yang belum bisa kulakukan kepadamu saat ini. Aku mencintaimu. Karena itu aku ingin menjaga kehormatanmu sayangku” jelasku kepadamu

Aku seperti mendapat ilham dari Tuhan. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Setelah mendengar kalimat itu kau kembali berbalik menatapku. Kau tatap aku dengan begitu tajam. Lalu kau menunduk. Ratna… Bahkan saat menangis pun kau tetap cantik dan indah.

“ma..af… Aku tahu kenapa aku tak pantas untukmu” ucapmu lirih
“aku akan selalu mencintaimu, meski kau tak pernah menjadi milikmu. Sebab cinta adalah bab hati, bahasa batin yang datang dari ilahi”
“aku malu, seharusnya kau yang menjadi pembimbing dan imamku”
“tidak, justru calon suamimu yang pantas. Pilihan Tuhan lebih baik dari pilihan seluruh manusia di bumi ini”
“cukup, sa. Kata-katamu membuatku semakin aku tak ingin kehilanganmu. Jangan buat aku bersedih”

Lalu malam ini aku lalui kuanggap sangat indah. Meski sedih, hatiku tersayat bahkan lebih pedih ketimbang tersayat belati paling tajam di atas muka bumi. Tapi kuanggap itu sebuah keindahan yang sangat menyakitkan. Setelah itu kau pergi, mungkin untuk yang selamanya.

Cerpen Karangan: Ilham Pasawa
Blog: zarnura.blogspot.com
Ilham pasawa lahir di kota Bogor pada tanggal 15 Oktober.
Saat ini sedang mengecap pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan akidah dan filsafat.
Juga saat ini menjadi direktur eksekutif Sanggar Terasi. Juga menjabat sebagai pembina teater taring dan teater kancil.

Cerpen Rembulan Yang Menyayat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kangen

Oleh:
Dalam gelapnya malam, dalam kesendirian yang akhirnya membuat Aldo larut dalam kesedihan yang mendalam. Hembusan angin malam menyeruak masuk ke dalam tubuhnya. Hidupnya kini terasa hampa dan sepi. Senyum

Buih Sesalan Al

Oleh:
Al menatap gamang jauh menembus jendela kaca yang membentang luas di hadapannya, ke arah deburan ombak yang meninggalkan buih di sepanjang garis pantai. Buih kecil dan berwarna kelabu, nampak

Suddenly You Changes My Life (Part 2)

Oleh:
Setelah kejadian yang tidak terduga itu, Rani tidak bisa memikirkan hal lain selain pria itu. Ia terus menyuarakan nama ‘Rendy Pratama’ dalam benaknya. Materi yang disampaikan Pak Muhidin tidak

I Hate U, I Love U

Oleh:
“Main basket yuks fay!” ajak vector, Fay menggeleng. Ia sudah lelah berurusan dengan kata Basket, sebenarnya bukan olahraga Basketnya namun pemainnya. Refay Fereira atau Fay, siswi kelas 11 SMA

Pelangi Senja

Oleh:
“Hidup ini gak ada yang mudah, kalau hidup ini mudah mungkin gak ada satu orang pun yang hidup menderita…” Petir menyambar-nyambar di atas sana membuat sepasang suami-istri yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *