Rinai Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 2 May 2016

“Hujaaan… Gigi kelinci!” teriak gadis jelita di sampingku. Saat kami di dermaga dan ada tetesan gerimis.
“Iya… Rinai, hujan,” sahutku. “Ayo pulang!” ajakku.
“Tidak mau, aku mau di sini bermain sama hujan,” Ujarnya. Memang gadisku ini sejak dulu menyukai hujan.
“Tapi Rinai nanti kamu sakit,” Ujarku lagi sedikit memaksa karena dia memang sangat keras kepala.
“Hei… Yudhistira Andrianto, apa kamu pernah lihat seorang Rinai Anjani sakit karena hujan?” ujarnya sambil berdiri.

Dan aku hanya bisa menggelengkan kepala karena percuma berdebat dengannya tidak akan menang. Dan hujan pun bebar-benar turun dengan derasnya. Rinai menari-nari di bawah guyuran hujan. Dengan sekali-kali tertawa kecil dan aku pun ikut menari bersamanya. Aku masih ingat 3 tahun lalu, saat kami masih duduk di bangku SMA hujan sangat deras saat itu. Tiba-tiba suasana sekolah jadi ramai, para siswa menertawakan seorang siswi di lapangan menari-nari di bawah guyuran hujan. Dialah Rinai, dengan segala tingkah anehnya telah menarik perhatianku dan semenjak itulah dia menjadi gadisku.

“Kamu masih ingat filosofi hujan yang ku sukai?” tanya Rinai mengagetkanku dan menyadarkanku dari lamunanku.
“Masih dong,”
“Hujan selalu mau kembali meski dia tahu sakitnya terjatuh,” Ujar kami berdua berbarengan dengan tawa kami berdua.
“Dan kamu tahu, apa yang membuatku mau jatuh berkali-kali dalam pelukanmu?” Tanya Rinai kembali saat ini hujan sudah menjadi gerimis lagi, aku menggelengkan kepala.
“Karena kamu dan hujan tidak akan pernah terpisahkan dalam hidupku.”
“Dan kamu tahu Rinai kamu adalah alasanku masih kuat berdiri di sini.” Mataku dan matanya saling tatap ku temukan kelembutan di sana.

Kebahagiaan seperti itulah yang kami ukir setiap harinya selama 3 tahun ini. Tapi, tidak semenjak 4 bulan lalu aku didiagnosis mengidap kanker otak stadium lanjut. Yang ada di pikiranku bagaimana Rinai kalau terjadi apa-apa denganku? siapa yang akan menjaganya kalau jantungnya kumat lagi? Karena semenjak kecil Rinai memiliki jantung yang lemah. Karena itulah aku tidak memberitahunya soal ini. Puncaknya keadaanku memburuk, aku ditemukan pingsan di ruang tamu. Semenjak itu aku berusaha menghindari Rinai. Tidak ku beri tahu dia dengan keadaanku seperti ini meski sebenarnya aku rindu dia. Tanpa sepengetahuanku keadaan Rinai pun memburuk jantungnya semakin mengkhawatirkan, dia koma.

“Bunda,” panggilku dengan suara lirih.
“Iya sayang,”
“Bun kalau nanti aku sudah tidak kuat aku mau jantungku untuk Rinai.” Masih dengan suara tertahan
“Kamu jangan ngomong gitu dong kamu harus sembuh dan kuat untuk bunda dan Rinai.” suara lirih bunda membuat hatiku sakit, ada butiran kristal bening di sudut mata bunda itu yang membuat hatiku semakin sakit.

Bunda dan Rinai adalah dua wanita yang amat sangat ku cintai di dunia ini, mana bisa aku menyakiti mereka. “Tidak Bunda, Rinai harus tetap hidup dan lewat Rinailah aku tetap ada untuk Bunda,” ujarku semakin lemah dan lirih.
“Dan semua telah membaik berikan ini untuk dia,” aku memberikan surat dan kotak biru gelap berbahan beludru itu.
“Dan ini untuk Bunda,” ku sematkan cincin di jari manis bunda sebagai ungkapan rasa sayang dan terima kasihku, kepada wanita yang telah melahirkan dan merawatku penuh kasih sayang. “Yudhis sayang Bunda,” ujarku sangat lemah.
“Bunda juga sayang kamu Nak.” ujar bunda diiringi tangisnya yang tak tertahan lagi.

Aku kritis, semua tim medis berusaha menolongku. Tapi takdir berkata lain, aku tak tertolong. Di ruangan lain Rinai masih koma, dengan segala peralatan medis yang menunjang hidupnya saat ini. Operasi Rinai pun berjalan dengan lancar, kondisinya pun semakin membaik. Tante Renata bundanya Yudhis, memberikan sebuah surat dan kotak berwarna biru gelap berbahan beludru. Aku masih syok tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Tapi inilah takdir mau bagaimana pun Tuhan tetap yang punya kuasa. Aku mulai membaca surat itu.

“Hai… Peri kecil aku bahagia melihatmu sudah sehat sekarang. Jangan nangis gitu dong. Maaf telah meninggalkan duka di hidupmu ya…” aku tidak kuat menahan tangis lagi aku menangis sejadi-jadinya. Aku masih belum bisa berdamai rasanya dengan takdir ini. Akhirnya ku putuskan untuk melanjutkan membaca surat itu. “Maaf juga untuk pertama kalinya aku membuatmu menangis sedih, tapi aku janji ini yang terakhir aku membuatmu menangis. Kamu harus janji Rinai jangan pernah menangis lagi apa pun keadaannya. Harus tetap jadi Rinai yang ceria, dan menjadi Rinai yang menyenangi hujan dan menari-nari di bawah guyuran hujan.”

“Percayalah apa pun keadaannya selalu ada di setiap detak jantungmu dan tidak akan meninggalkanmu lagi. Ingat, sekarang dirimu sendirilah yang akan tanggung jawab atas keselamatan dan kesehatanmu sendiri. Jangan bertindak teledor dan bodoh hingga membahayakan dirimu sendiri. Aku cinta kamu peri kecil.” aku tersenyum lirih setelah membaca surat itu. “Aku janji gigi kelinci aku akan menjaga dan bertanggung jawab atas diriku sendiri.” aku kenakan kalung yang berliontinkan kristal yang berbentuk tetesan air itu.

Dermaga, entah sudah seberapa sering aku ke sini. Mungkin sesering aku rindu dia. Aku hanya terdiam menikmati hangat dan siluet jingga senja itu. Inilah yang aku sukai tatkala tidak ada hujan turun. “Hai… Gigi kelinci apa kabarmu di sana?” aku memandang ke langit yang berwarna jingga itu. “Sudah 4 tahun kamu pergi tidak terasa sudah selama itu, lihatlah aku di sini Yudhis aku baik-baik saja, dan aku rindu kita.” dan aku menunduk menahan air mataku, karena aku telah berjanji tidak akan menangis bagaimanapun keadaannya. Tapi sesak sekali rasanya dadaku.

“Dan kamu tahu, aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menggantikanmu dengan yang lain. Karena kamu telah membawa seluruh hatiku ke keabadian.” suaraku tertahan lirih. “Sering kamu bilang life must go on. Ya… Hidupku tetap berlanjut dan aku mampu melawatinya sendiri, tapi tidak dengan cintaku. Kamu tidak perlu khawatir aku sudah penuhi janji hati kita, aku cinta kamu gigi kelinci.”

Tamat

Cerpen Karangan: Ra
Facebook: Raras Anjani

Cerpen Rinai Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindunya Tak Pernah Ada

Oleh:
Hari yang begitu cerah dipenuhi bunga bunga yang merebahkan dedaunan yang indah menebarkan semerbak semewangi di taman ini. Randi awali hari dengan senyuman yang indah seindah hati randi sedang

Surat Untuk Senja

Oleh:
Pukul 2 pagi ketika suara jangkrik berorkestra di taman. Elang dan Senja duduk di antara bangku-bangku yang kosong. Lampu taman yang melankolis menghangatkan dialog dini hari yang mereka lakukan.

Aku Benci Bulan

Oleh:
Langit malam ini terlihat begitu indah, bintang bertaburan di atas langit gelap yang membentang. Terlihat sangat indah karena tak ada bulan di atas sana. Aneh ya, tak ada bulan

Barangkali

Oleh:
Kehidupan barangkali hanya berutar-putar dalam pusaran sebab-akibat, begitupun sebaliknya. Seperti … Aku diciptakan Tuhan dalam rahim Ibuku karena cinta. Ibu merawat dan menjagaku dalam kandungannya karena cinta. Aku dilahirkan

Aku Kehilanganmu

Oleh:
Jihan terlihat duduk dengan gusar sambil beberapa kali melihat jam putih yang melingkar di tangan kirinya, sebenarnya hari ini ia memiliki janji bertemu dengan Berry di taman tetapi mendadak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *