Rintihan Di Balik Atap Kumal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 14 September 2016

Belasan itik bergerombol, berbaris rapi memasuki kandang kumuhnya. Bersuara seakan sedang menyerukan kesenangannya. Terlihat seorang wanita tua mendekati kandang itu dengan ember dedak di tangannya. Dia berbicara lembut kepada itik-itiknya.
“Ini… makanlah, jangan berebut” dia berbicara seolah itik-itik itu mengerti apa yang ia katakan.
Lalu ia pun melangkah memasuki gubuk kumalnya. Gubuk kumal serta sempit ini adalah saksi rintihannya ketika malam mulai larut.

Langit menguning, tak lama lagi akan berubah menjadi gelap. Hanya dengan sebuah lampu minyak yang cahayanya sudah mulai redup, ia menikmati malamnya. Sepi. Begitu sepi. Sesekali ia mengambil radio miliknya yang telah kusam, dan mendengar lagu-lagu jadul kesukaannya. Terkadang ia sampai menari-nari. Terlihat begitu bahagia. Entah benar-benar bahagia atau hanya berpura-pura bahagia. Dengan matanya yang mulai rabun, ia memandangi sebuah foto yang terbingkai bambu hitam dan terlihat klasik serta begitu sederhana.
Sambil mengusap-usap kaca penghalang foto itu ia berbicara dengan sangat lirih “Kau tau, kini hari-hariku kuhabiskan hanya untuk itik-itikku, mereka yang dulu menjadi temanmu. Dulu aku tak menyukai kau bersama itik-itik itu. Karena kau pasti melupakanku ketika telah bersama mereka. Tapi kini mereka adalah temanku dalam sepi ini”
Dia meneteskan air jernih lewat pelupuk matanya, mengalir terus di kulitnya yang telah keriput. Dia membiarkan cairan itu terus mengalir, hingga terjatuh di atas kaca penghalang foto itu. Foto mendiang suaminya. Ia teringat kembali kejadian 30 tahun lalu. Dia tak menyangka orang yang ia kasihi akan lebih dulu lenyap dari pandangan matanya.

“Kau di rumah saja”
“Aku ikut!!!”
“Tidak, kau di rumah saja”
“Tapi aku takut”
“Tak usah takut, kemanapun aku pergi, sejauh apapun aku melangkah, aku akan tetap menemanimu, menemani hatimu. Percayalah”
Wanita itu meneteskan air mata, dia memeluk lelaki yang ada di hadapannya. Lalu lelaki itu melangkah menjauh dari hadapannya. Lelaki itu pergi untuk menyelesaikan sengketa tanah dengan saudara kembarnya.

1 hari, 2 hari, 3 hari, 1 minggu. Lelaki itu tak pernah kembali. Wanita tua dengan mata rapuhnya selalu menanti kedatangan suaminya di atas papan bambu. Hingga suatu hari seorang pemuda berbadan kurus datang menemuinya.
“Bibi… Ini, ambilah” Dia menyodorkan sebuah cincin.
“Ini… Bukankah ini milik suamiku?”
Pemuda itu mengangguk
“Kemana dia? Apakah aku berbuat salah sehingga dia tak lagi ingin menginjakkan kakinya ke gubuk ini?”
“Tidak bi, maafkan ayahku”
“Apa yang kau katakan?”
“1 minggu lalu, ketika paman menemui ayah mereka terlibat perkelahian. Sehingga paman harus melepaskan nyawanya” jelas si pemuda.
Tanpa sadar, wanita itu membuka lebar sepasang mata dan mulutnya. Darahnya seakan berhenti mengalir.
“Tak mungkin!!! Mana jasadnya? Aku merindukannya? Aku ingin melihat senyumnya”
“Maafkan aku bi, saat itu aku tak bisa berbuat apa-apa. Bibi bersabarlah”

Itu adalah hari yang paling menyesatkan jiwa bagi wanita malang yang kini tengah menikmati malam gelapnya. Kala itu ia tak bisa bersikap damai dengan tubuhnya sendiri. Bahkan ia nyaris memutus urat nadinya.
“Kenapa kau pergi? Bukankah kau mau menemaniku? Pembohong!” Dia melemparkan foto mendiang suaminya yang tadi ia pegang erat. Seperti memiliki kekuatan, foto itu tak pernah tergores atau pecah meski seringkali wanita malang itu melemparnya ketika dia mulai tak bisa mengendalikan jiwa sepinya.
Dia menangis, merintih, menjerit, berteriak lirih, suaranya semakin parau.
“Tuhan… Kenapa adil yang kau berikan padaku bukan bahagia seperti yang mereka rasakan? Benci kah kau padaku?”
Ia menarik napas sesaat,
“Tuhan.. taukah Kau betapa menderitanya aku? Ketika aku hanya mampu merintih di balik atap kumal ini?”
Jeda sesaat
“Kau tau betapa sepinya hariku? Betapa heningnya malamku? Betapa gelisahnya hatiku? Betapa bimbangnya jiwaku? Kau tau rasanya hidup hanya ditemani bayangan hitam yang kadang tak bisa kulihat dengan mata rabunku ini?”
Lagi-lagi ia menjatuhkan tetesan air dari sepasang matanya yang nyaris rapuh, serapuh hati dan jiwanya.
Ia lelah memaki-maki Tuhan. Kelopak matanya mulai turun dan menutupi mata rapuhnya, ia tertidur.

Dia kembali muda, matanya kembali jernih, kulitnya kembali mulus. Dia duduk di atas tanah lapang tanpa pepohonan. Aroma khas seseorang yang ia kasihi membuatnya melangkah menuju aroma itu. Dia melihat seseorang berbaju putih berdiri tegak di samping sebuah jurang.
“Kau kah itu?”
Seseorang itu tak menoleh, seolah tak mendengar. Dia melangkah, mendekat. Dia mulai melayangkan tangannya, hendak menyentuh pundak tegaknya. Namun, angin berhembus dengan sangat kencang. Dedaunan berterbangan menghalangi pandangannya. Dia merasa janggal kenapa ada dedaunan berterbangan disini, padahal tak ada satu pun pohon yang ia lihat.
Angin itu tak lagi terasa. Dia membuka matanya. Gelap, hanya beberapa cahaya yang masuk dari celah bilik bambu.
“Aku bermimpi lagi, tapi kenapa di setiap mimpiku aku tak pernah diperlihatkan seseorang yang selalu hadir di mimpiku”

Wanita tua itu beranjak dari tidurnya. melangkahkan kakinya. Membasuh wajahnya yang masih sangat cantik, di mimpinya tadi. Kembali dengan rutinitasnya, dia membuka pintu kandang itiknya. Mereka bersorak dan segera berhamburan. Wanita tua itu tersenyum, sehingga kulit di sekitar bibirnya tertarik.
“Kemana mereka? Mengapa tak terdengar suaranya?”
Dia melangkahkan kakinya yang tak beralas, masih dengan baju kumal dan rambut putih beruban kusut. Namun bukan itik yang ia temukan, melainkan seorang gadis kecil manis yang sedang menangis.
“Gadis manis, kenapa kau menangis? Kemana ibumu?”
Namun tangis gadis itu semakin pecah, sepertinya dia ketakutan pada sosok yang ada di hadapannya.
“Tak usah takut, aku juga manusia sama sepertimu”
Namun kejujuran konyolnya tak bisa membuat gadis kecil di hadapannya berhenti menangis.
“Hey wanita gila!!! Menjauh dari cucuku, dia ketakutan melihatmu” gadis itu berlari menuju orang yang berbicara ketus pada wanita tua.
Wanita itu menoleh, betapa terkejutnya ia.
“Kau?”
Hening.
“Kau kah itu?”
Lelaki tua yang ada di hadapannya diam mematung. Tanpa sepatah kata. Tanpa ekspresi yang berarti.
Wanita itu ingat betul, meski telah 30 tahun yang lalu. Dia ingat, bahwa suaminya memiliki goresan khas di keningnya yang samar namun dia bisa melihatnya.
“Kenapa kau membohongi wanita tua gila yang selalu menantimu di dalam gubuk kumal yang kau bangun dulu? Kenapa kau meninggalkan aku sendiri dalam sepi dan gelap serta ketakutan yang selalu menghantuiku?”
Dia menutup matanya sesaat, dan membukanya kembali.
“Kenapa kau membiarkan yang dulu kau bilang wanitamu ini hidup dalam kehampaan? Dalam kekosongan, bagai hidup di atas bumi Tuhan sebatangkara”
Lelaki tua itu merobohkan tubuhnya perlahan, bersujud di ujung kaki wanitanya.
“Kau tau? Aku selalu merintih, menjerit, menangis, meronta, dan berteriak lirih memanggil namamu di balik atap kumalku. Dalam sepi. Dalam keheningan. Aku selalu berharap bisa bertemu denganmu lagi, meski awalnya kukira itu mustahil”
Lelaki itu tetap menunduk dalam sujudnya
“Tapi kini aku lebih memilih tinggal dengan itik-itikku daripada harus melihat wajahmu kembali. Menjauhlah dari kakiku”
Wanita itu melangkah dan meninggalkan suaminya yang tak lagi ia harapkan. Dia melangkah pergi menjauh dari lelaki tua yang masih tertunduk dalam sujudnya.
Lelaki tua itu menangis. Dia membenci dirinya. Ternyata Tuhan tak pernah salah. Adil yang diberikanNya adalah adil yang seadil-adilnya.

“Biarlah aku hidup dalam keheningan tapi dengan jiwa yang tanpa kebimbangan”
Dia menyaksikan sebuah foto yang dilahap api itu. Dia ingin memulai hidup barunya di akhir usianya. Dengan tubuh rentanya. Dengan itik-itiknya. Di dalam gubuk kumalnya.

THE END

Cerpen Karangan: Aisyah Kyumi
Blog: www.aisyahkyumi.blogspot.com
hay, selamat membaca, masih belajar
jangan lupa follow my IG & Twitter: @aisyahkyumi
terimakasih, salam kenal semuanya

Cerpen Rintihan Di Balik Atap Kumal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mencintaimu, Harus Bagiku

Oleh:
Aku tak habis pikir apa yang bisa kulihat dan kubanggakan darimu. Dengan segala kelemahan dan kekurangan yang kau miliki. Saat mereka bertanya tentang apa yang buatku kagum padamu, selalu

Penyesalan

Oleh:
4 tahun, mungkin bukan waktu yang singkat tuk mengenal seseorang. Ridwan faisal adalah sosok seseorang yang sangat tulus, baik dan sangat menyayangiku. Apapun akan dilakukannya untuk membuatku bahagia. Tapi

Harapan

Oleh:
Keringat keringat sebesar biji jagung mulai diproduksi tubuhku. Mengalir dari dahi ke pipi, dari tangan berjatuhan dan tertiup angin, mengalir di kaki yang tertutup celana panjang sekolah. Dengan sekuat

Long Distance Relationship

Oleh:
“Hallo selamat pagi sayang” sapa hangat dewa di telpon saat dia membangunkan tidurnya ica. “Pagi juga pesek” balas ica manja. Mereka berdua sudah lama menjalin hubungan jarak jauh. Dewa

Permen Karet Kematian

Oleh:
“Kematian adalah hal yang pasti. Mati merupakan pintu maka setiap orang yang ingin masuk kepada sebuah rumah harus melewatinya” kata seorang ustad dalam cermahnya. “namun cara untuk mati atau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *