Saat Aku Berpisah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 30 May 2017

Mungkin itu suatu saat yang tidak mengagumkan bagiku dan suatu saat yang menyedihkan saat aku hanyut bersama dia di dalam senandung mesra. Perpisahan yang tidak akan kulupakan untuk menjadi kenangan di buku catatan dan dalam pikiran. Walaupun aku tempuh perjalanan yang sangat panjang dengannya, aku serasa tak punya apa-apa saat terjadi suatu peristiwa

Pagi itu, aku bersamanya. Berjalan-jalan di taman sambil melihat bunga-bungaan yang diguyur hujan. Dia menunduk dan mencium salah satu bunga yang ada di taman tersebut. Tapak tilas nampak terlihat di kubangan air yang mengkilat karena terguyur hujan. Aku dan dia duduk di bawah pohon beringin yang kadang kali mencurahkan air di dalam daunnya karena kelebihan. Kami duduk bersampingan sambil melihat-lihat suasana taman yang rindang.

Karena waktu semakin siang dan udara kian memanas, aku dan dia pun pulang dengan sepeda motor sederhana milikku. Aku antarkan dia ke rumahnya. Aku pun pulang untuk menyelesaikan tugasku yang lain yang belum sempat aku selesaikan, padahal sudah dinantikan. Setelah PRku selesai, aku mengerjakan tugas kuliahan yang menumpuk. Maklumlah, untuk mengakhiri suatu kuliah, seorang mahasiswa harus berjuang mati-matian. Hari pun menunjukkan jati dirinya.

Setelah makan siang selesai, aku tidur siang. Aku terbangun dan melihat handphone. Ternyata ada 2 panggilan tak terjawab saat aku tertidur. Aku pun mencoba menelepon kembali ke nomor tersebut. Terkejutlah aku. Aku diberitahu seorang teman bahwa perempuan yang selalu bersamaku terjatuh dari motor. Dia sekarang sedang dirawat di UGD rumah sakit setempat.

Secepat kilat, aku bersiap-siap menuju rumah sakit itu. Aku pun mengendarai motorku dengan kecepatan angin, dan hampir saja aku menabrak sebuah truk yang berbelok secara tiba-tiba. Setibanya di rumah sakit tersebut, aku segera mencari UGD. Aku pun menemukan sebuah tulisan UGD di atas pintu ruangan yang tertutup rapat. Saat aku akan masuk, tiba-tiba ada perawat menghampiriku dan menyakan tujuanku. Aku pun menjawab dengan mengatas namakan aku adalah kakaknya. Perawat tersebut pun menjawab, bahwa perempuan yang aku maksud telah dibawa pulang. Saat kutanyakan sebabnya, perawat tersebut tidak tahu.

Aku pun berjalan menuju parkiran. Saat aku berjalan tersebutlah, aku menerima kabar yang sangat memilukan, yang membuatku seperti pingsan. Aku mendengar bahwa perempuan yang kumaksudkan telah pergi meningglakanku selamanya. Aku pun menghela nafas dalam sambil berkata dalam hati: mungkin inilah akhir dari semuanya.

Temannya tersebut memberikan aku sebuah kertas yang dilipat. Aku duduk di kursi rumah sakit sambil membuka surat itu dengan perasaan campur aduk. Saat kubuka suratnya, inilah isinya

“Engkau memang laki-laki yang baik, selalu memiliki perhatian lebih padaku. Kau tak pernah membuatku sedih. Tapi, sayangnya aku yang membuatmu sedih. Tak pernah kau membutku meneteskan air mata, tapi mungkin aku yang membuat meneteskan air mata. Hidupku hanyalah sampai di sini. Tak mungkin aku hidup selamanya di dunia ini. Kematian selalu menghampiri dan aku merupakan sasaran malaikat maut. Tak usahlah kau bersedih hati. Hatimu hatiku jua. Jika engkau sedih, aku tidak dapat pergi dengan tenang, karena hatiku juga sedih. Jika engkau mengikhlaskanku, aku akan tenang di alam sana. Tak usahlah kau menangis. Karena kita kan bertemu lagi, disana, di surga Tuhan yang penuh kedamaian dan cinta”

Aku pun menutup surat itu. Aku pun mengetahui, sebenarnya itu dari diary miliknya. Dia sudah memiliki firasat tak hidup lama.
Selamat jalan, semoga engkau bahagia di sana, walaupun tidak bersamaku. Aku mengenangmu untuk setiap waktu.

Cerpen Karangan: Wildan Hasibuan Amriansyah
Facebook: Wildan Hasibuan Amriansyah

Cerpen Saat Aku Berpisah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sudah Saatnya Kau Bahagia

Oleh:
Taman bunga, di tengah kota, menjadi tempat yang teramat istimewa bagimu. Di sana kau mengikrarkan cinta. Membuat dunia dipenuhi lantunan orkestra yang romantis nan merdu. Bunga yang menari-nari pun

Cinta Jessica

Oleh:
Aku cuman bisa membalas senyum tanggung ketika gadis itu menyunggingkan senyum untukku. Meskipun sebenarnya teramat sayang kalau senyum itu harus dibalas hanya dengan senyuman. Senyuman tanggung pula. Seharusnya dibalas

Cinta Abadi

Oleh:
Pada suatu hari di suatu universitas terkenal di London, ada seorang murid baru. Dia bernama Mei. Dia adalah seorang perempuan yang pintar, baik hati, bergaul dengan siapa saja, dan

Hening

Oleh:
Mobil Avanza melaju menyerobot derasnya hujan bahkan aku hampir tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Irwan mencoba mengelapnya untuk mengurangi embun yang menempel di kaca depan. Lampu temaran mobil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Saat Aku Berpisah”

  1. Dinbel says:

    Uhhhhhhh, jadi sedih bacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *