Sampai Jumpa, Surfboard

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 3 February 2016

Ku langkahkan kaki ini menuju tempat yang dipenuhi pasir putih. Ya. Tempat itu adalah pantai. Ku lihat pondok-pondoknya mulai dibongkar karena memang, musim panas kali ini akan segera berakhir. Hembusan anginnya terasa sangat sejuk. Musim yang akan berganti menuju musim dingin. Pikiranku menerawang kala ku lihat papan selancar yang tampak mengkilap oleh kumparan panasnya matahari.

“Yuhuuu!” teriak Karen yang sedang berlenggak lenggok di atas ombak dengan papan selancarnya. Tak mau kalah, aku pun menampilkan aksi hebatku kala aku di atas papan selancar.
“Hebat! kau memang pantas juara Noel,” puji Karen sambil menyenggolku. “Eh… Itu Scott! Lihat! dia sangat menawan,” ujar Lucie mengalihkan pandanganku pada sosok lelaki bernama Scott.

Tentang dia. Scott memang lelaki yang menjadi pujaan gadis gadis. Dengan tampangnya yang cool, macho, dan berkarakter. Maka tak ayal jika dirinya selalu menjadi pujaan banyak orang. “Ku dengar, kau ya Noel. Pemenang lomba Surfboard Challenge wanita selama empat kali berturut turut?” tanya Scott kepadaku.
“Ya begitulah,” jawabku dengan seulas senyuman. Semenjak itu kami berkenalan dan menjadi dekat.

“Mau es krim?” tawarnya dengan menggenggam es krim.
“Boleh,” aku pun mengambil cone berisi es krim dari tangan kanan Scott. Di bawah terik matahari kami saling berbaring teduh karena payung besar melindungi kami dari panas sinarnya. Aku dan Scott semakin hari semakin dekat saja. Kami selalu bersama, berbagi cerita, makanan, dan ilmu mengenai hobi kami yang sama yakni bermain papan selancar. Deburan ombak yang bagai menumpahkan segala suka cita ini menjadi saksi kebersamaan ini. Teriknya matahari seperti membakar perasaanku padanya.

“Scott!” panggilku sambil berteriak. Da menoleh dengan senyum indahnya.
“Hei… kau rapi sekali, kau sangat cantik. Mau ke mana?” tanyanya tak lupa dengan pujiannya yang membuatku tersipu. “Aku… aku mau mengajakmu jalan-jalan,” jawabku agak terbata-bata. Scott tersenyum lebar sehingga gigi putihnya yang rapi terlihat jelas, sangat manis. Dia lalu mengangguk pertanda setuju. Deburan ombak di sore hari mengiringi langkah kaki kami. Hembusan anginnya juga terasa seperti menemani.
“aku menyukaimu!” ucap Scott tiba-tiba, membuatku sangat terkejut bukan main. Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Aku menelan ludahku dan mulai berkata.
“kau serius? aku juga,” ucapku sedikit gemetar.

“Ya. Tapi…” sambungnya.
“Tapi Apa?” seruku.
“aku harus pergi, Summer ini adalah momen-momen terakhirku di sini,” ucapnya membuat hatiku berdebar tak rela.
“Pergi? Ke mana?” tanyaku agak kecewa. “Ke Italia. Ibuku adalah orang Italia dan aku harus menetap di sana,” jawabnya pelan. Seketika keadaan menjadi hening, kami saling hanyut dalam tatapan kosong menatap sunset di ujung pantai sana.

“Maafkan aku jika aku menyakitimu. Tapi aku hanya ingin jujur soal perasaanku ini padamu,” ujarnya sambil berdiri. “Tak apa. Aku rela melepasmu. Asal kau bahagia, aku juga akan bahagia,” tandasku lalu ikut berdiri. Tiba-tiba Scott memelukku erat-erat. Tercium bau parfum yang khas di tubuhnya yang tegap itu. Air mataku menetes dengan perlahan. Dia lalu mengusapnya dengan ibu jarinya.
“Ciuman ini sebagai salam perpisahan, semoga kita bisa bertemu lagi, Noel,” bisiknya setelah ia mencium dengan lembut bibirku. Aku tersenyum dan kembali memeluknya erat. Siluet dari bayangan kami terlihat jelas kala Sunset jingga itu menerangi kami, walau perlahan mulai meredup dan tergantikan oleh pekatnya malam.

“Noel!” bentak Karen membuyarkan lamunanku.
“kau mengagetkanku saja!” gerutuku padanya. Dia terkekeh tertawa renyah.
“Ayo pulang. Sudahlah Noel, jika Tuhan menjadikan kalian berdua jodoh. Percayalah kalian pasti akan kembali dipersatukan suatu saat nanti,” ucap Karen menasihatiku. Dia memang sahabat terbaikku. Aku tersenyum kepadanya. Dan mengikuti ke mana langkah kakinya menuju.

“Sampai jumpa Surfboard! Tahun depan pasti bertemu kembali walau tak akan seperti musim kali ini,” gumamku dalam hati seraya memandang sunset di atas rumahku. Terasa hembusan angin menerpa ragaku. Sangat segar namun menyedihkan. Membuatku teringat akan sosok Scott yang terlanjur melekat di otakku. Hatiku selalu bertanya-tanya. Sedang apa dia sekarang? Seperti apa keadaannya? Apa dia masih dengan cinta yang sama padaku? Seperti saat dia ungkapkan perasaannya padaku dulu?

Ku langkahkan kaki ini dengan cepat menuju tempat yang sudah terbayang di kepalaku.
“Sudah saatnya aku dengan tulus merelakanmu Scott! aku tak ingin menyiksa diriku sendiri seperti ini. Benar apa kata Karen. Jika kita jodoh Tuhan pasti akan menyatukan kita,” ucapku sambil melemparkan batu-batu kecil ke pantai. Kemudian aku berdiri dan mulai pergi dari tempat itu. “Good bye, Summer!” ucapku pelan lalu melangkahkan kaki ini dengan perasaanku yang sudah mulai lepas dari dekapan ombak perasaan Scott.

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: www.facebook.com/fauzimaulana.sukidakara

Cerpen Sampai Jumpa, Surfboard merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Janji Setia

Oleh:
“Melati aku ingin ngomong sesuatu sama kamu” ucap Bima dengan kedua matanya memandangi bening indah mata kekasihnya itu. “kamu mau ngomong apa sih sayang?” jawab Melati sembari membalas tatapan

Tenggelam Dalam Laila

Oleh:
Hari ini. Dari jauh mereka menapak senyap. Dengan irama jantung yang membising. Tak sampai 10 menit mereka tiba di jeti, di sana ada sebuah boat menunggu. Aura seram gelombang

Selamat Tinggal Tyo (Part 1)

Oleh:
Cinta pertama, masa lalu, dan penyesalan?. Vika sama sekali tidak pernah mengerti akan ketiga hal itu. Apakah cinta pertama ada untuk dikenang?, apakah masa lalu ada untuk dilupakan?, dan

Cinta yang Terpendam

Oleh:
Aku Muhammad Alvin Zulfikar. Kawan-kawan memanggilku Alvin. Aku, Dion, Farhan dan Wawan sudah berteman lama sejak SD sampai SMP. Kami berempat selalu mengadakan acara-acara konyol di setiap malam minggu.

Bintang Yang Indah

Oleh:
Malam hari saat aku sedang belajar mama memanggilku “taraa!” panggil mama, “iya ma?” jawabku. “ada temen kamu tuh yang pengen ketemu kamu” ucap mama. “indah ya ma?” tanyaku. “bukan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *