Sampaikan Salamku Untuk Kekasihmu Yang Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 17 January 2018

Akan kuceritakan ulang sebuah kisah. Kukira kau sudah sering mendengarnya, namun ini kisahku.

Jika aku tidak boleh menangis di toilet kampus hari itu, mungkin aku sudah akan pulang. Di sana, kuluruhkan segala bentuk emosi menjadi derai air mata yang membengkakkan mataku sendiri.

Setelah empat tahun bersama, baru kali ini dia menyakitiku. Dengan enam kata yang sangat sederhana. Yang lepas begitu saja tanpa ada penjelasan yang rinci. “Kita sudah tidak bisa bersama lagi.”

Aku ingin sekali bertanya kenapa, namun kalimat pendek itu mampu mengunci segala sistem sarafku. Membuatku membeku hingga dia pergi begitu saja. Saat itu aku tidak bisa menangis. Tenggorokanku tercekat. Lidahku kelu. Seperti mau mati.

Aku terduduk di bangku taman kampus. Kepalaku seperti melayang-layang di udara. Padahal, kemarin baru saja aku selesai membungkuskan hadiah untuk ulang tahunnya. Dua hari lagi dia berulang tahun.

Masih kuingat betapa bahagia malam yang kita lewati bersama satu tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu. Tiga tahu yang lalu. Dan baru kutahu jika tahun ke empat tidak akan pernah ada.

Tapi aku tidak bisa tenang jika harus ditinggalkan tanpa alasan. Jika saja memang karena salahku, setidaknya aku akan meminta maaf atas itu. Biarlah dia tetap pergi, namun setelah ia memaafkanku.

Aku segera menghubungi sahabatnya yang sepertinya juga ada di kampus hari ini. Tidak lama setelah itu, dia datang. Sahabat kecilnya yang kini juga bersahabat denganku.

“Lily, ada apa?”
Aku segera memeluknya seperti gadis kecil yang baru saja menemukan boneka. Air mataku mengalir hingga membasahi kemeja putihnya.

“Ada apa dengan dia, Bunga? Dia memutuskanku.”
Kulihat bunga seperti menarik napas panjang. Terkejut. “Dia sudah memutuskanmu?”
“Kamu tau jika dia ingin memutuskanku?”
Bunga hanya menunduk.

“Kenapa, Bunga? Apa salahku?”
Bunga menggeleng. Seperti ada hal yang tidak aku tahu tentang dia.
“Katanya, dia memiliki kekasih baru.”
Aku tersenyum getir. Ya, mungkin sesuatu yang baru akan lebih baik.

Setelah penjelasan singkat yang membuatku cukup, kutitipkan pesan pada Bunga. Aku ingin menemuinya nanti sore, di lapangan bola dekat rumahku. Aku ingin mengatakan sesuatu.

Dengan memenuhi permintaanku, kurasa dia masih cukup baik. Aku berdiri di sampingnya. Sama-sama menatap hijaunya rumput dan beberapa gembala kambing yang dilepaskan bebas di tengah lapangan.

“Seharusnya kamu bilang kalau aku sudah cukup buruk untuk menjadi kekasihmu.”
Dia hanya diam. Kurasa dia menggeleng. Karena saat itu aku sedang tidak menatapnya. Tapi aku merasakannya. Tatapan matanya.

“Sampaikan salamku untuk kekasihmu yang baru.”
Kalau saja aku belum berlatih untuk mengatakan itu sebelumnya, mungkin aku akan membisu di tengah kata.

Tanpa banyak kata, aku membalik badanku menghadapnya. Mendongak dan menatap matanya yang selalu aku rindukan sebelum tidur. Menatap bibirnya yang selalu aku mimpikan dalam tidur. Rambutnya, alisnya, hidungnya, dan segala hal yang pernah aku miliki.

Bahunya. Sandaran yang membuatku melupakan segala macam kesedihan. Pelukannya yang begitu hangat. Baunya yang khas. Damn. Dia membuatku benci mengingat.

Langkahku begitu berat untuk berbalik dan meninggalkannya. Namun tidak ada pilihan kali ini. Aku harus pergi, dan terimakasih untuk pernah menjadi milikku.

Sampai dua bulan setelah itu. Setelah tidak pernah ada kabar mengenai dirinya, Bunga memberitahukan sesuatu. Yang aku benci dan tidak pernah aku harapkan. Seharusnya hal itu tidak pernah aku ketahui sampai mati.

Bunga datang. Menggengam dan menatapku penuh penyesalah. “Lily. Kamu tau ke mana dia selama ini?”
Aku menggeleng. “Aku sudah tidak perlu tau, Bunga. Biar itu menjadi urusan dia dan kekasih barunya.” Andaikan itu masih menjadi urusanku, Bunga.
Bunga menggeleng-geleng sambil menahan air matanya. Ada apa dengan dia?

“Kekasih barunya adalah leukemia. Asrama barunya adalah rumah sakit. Kegiatannya adalah kemotherapi. Dan dia sudah pergi bersama kekasihnya, Lily. Selamanya.”

Tidak. Selama ini dia masih tinggal di hatiku, Bunga. Kamu bohong!

Cerpen Karangan: Erica Meilina
Facebook: Erica Meilina
Seorang gadis yang masih gadis. Suka menulis dan membaca. Tidak suka keramaian. Tidak suka buah Salak. Tapi suka kamu. Iya, kamu.

Cerpen Sampaikan Salamku Untuk Kekasihmu Yang Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love Isn’t Perfect (Part 2)

Oleh:
Aku tahu siapa orang ini dan pikiranku selalu memunculkan pertanyaan-pertanyan. Dia terlihat keren dan tampan malam ini dengan kemeja panjang kotak-kotak berwarna biru muda yang sengaja keseluruhan kancing depannya

Alsha (Part 1)

Oleh:
“Alsha… cepet ambilin tas gue… gue udah mau berangkat kuliah nih.” “Iya… bentar Maura.” Jawab Alsha Dengan tergopoh-gopoh Alsha berlari dan memberikan tas itu pada Maura “Ini tasnya Ra.”

Di Balik Embun Pagi

Oleh:
Budi keluar rumah merasakan dinginya embun pagi dan Budi melihat seorang wanita di pinggir jalan sedang kedinginan, karena iba Budi pun menghampiri wanita itu. “Ayo ke rumahku di sini

Ketika Tiada Cinta

Oleh:
Saya wanita yang sudah cukup dibilang dewasa, yang memiliki banyak mimpi, yang ingin mencoba banyak hal, yang selalu ingin bermanfaat bagi semua, dan tentunya saya wanita yang sangat ingin

Liliput (Part 3)

Oleh:
Morning world.. seneng deh, satu persatu kebaikan Lili mulai kelihatan. Usahaku ngerubah dia selama ini rupanya nggak sia-sia. “Senyum-senyum neng? Udah mulai naksir nih sama musuh bebuyutan?” sindir Alvin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *