Sang Belahan Jiwa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 5 November 2016

Di sebuah lapang rumput yang luas, aku duduk sendiri. Ditemani hembusan angin yang sejuk, siang itu aku duduk dengan santainya. Cuaca sedang cerah, nggak terlalu panas, nggak mendung, bisa dibilang netral saja. Namun suasana yang sedih sedang menyelimuti hatiku saat itu. Aku hanya bisa melamun, mengingat kembali kejadian di masa lalu.

Namaku Loris, seorang insinyur IT di sebuah perusahaan elektronik. Usiaku 28 tahun sekarang. Jomblo? Iya benar aku jomblo, udah nggak perlu ngehina ya. Kalian saja yang baca mungkin juga jomblo (ehhh jleb!). Tapi ceritaku tentang masa laluku ini akan memberitahu kalian mengapa aku bisa jadi jomblo sekarang ini. Tepatnya lamunan yang sedang kulakukan sekarang ini, mengingat kembali segala peristiwa yang terjadi di masa laluku, tepatnya berawal dari saat aku telah lulus SD. Saat itu, 16 tahun yang lalu, di sebelah rumahku yang dulu…

“Pa, Ma, lihat kayaknya ada tetangga baru di rumah sebelah kita!” kataku pada kedua orangtuaku seraya melihat ke luar jendela. Ya, rumah sebelah kami sudah lama kosong sejak aku masih TK, dan sekarang sudah ada penghuni baru. Uniknya, di gang komplek itu cuma ada 2 rumah, rumahku dan rumah sebelah. Aku juga nggak tahu apa maksudnya yang bikin perumahan ini, sengaja dibuat so sweet mungkin gang ini. “Ayo kita ke sana, terus kenalan sama keluarga itu,” kata papaku. “Eh bentar, aku selesaikan masak dulu ya,” sahut mamaku sambil buru-buru menyelesaikan masakan.

Aku dan kedua orangtuaku pun berkenalan dengan tetangga baru kami. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami istri dan anak mereka. Anak itu seorang cewek, yang wajahnya bisa dibilang manis dan menawan untuk anak seusianya. “Lho anaknya cuman satu ini aja, Pak, Bu?” tanya mamaku. “Iya, cuman satu ini aja” jawab ibu tetangga itu. “Ya, kami sih males punya anak banyak-banyak. Takut repot aja,” sahut bapak tetangga sambil tertawa. “Wah, sama ya, kami juga punya anak tunggal ini,” kata papaku menanggapi.

Aku pun akhirnya berkenalan dengan cewek itu, tangan kami bersalaman. “Hai, kenalkan namaku Janice!” kata cewek itu sambil tersenyum. Senyumannya betul-betul mengalikan dunia. Wajah menawan nan manisnya seakan-akan langsung membuatku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. “Kamu.. cantik!” kataku dengan polos sambil memandangi wajahnya yang indah. Dia pun kaget lalu menghentikan bersalaman. Ia hanya tertawa karena balasanku itu, dan berkata “Lho, bentar.. Kamu kok belum beritahu namamu?” Mendengar itu aku langsung terkaget, terbangun dari hipnotis wajahnya yang cantik. Lalu dengan agak malu aku berkata “Eh iya ya, maaf-maaf, namaku Loris, salam kenal Janice!” Orangtua kami masing-masing yang melihat kejadian itu langsung tertawa. Janice pun ikut tertawa, sementara aku hanya bisa tersenyum kecil dengan rasa malu yang luar biasa.

Sejak saat itu, keluargaku dan keluarga Janice menjadi sangat akrab. Wajar sih ya, karena lagian di daerah itu cuma ada 2 rumah. Bagaimana nggak akrab coba, memang tetangga mana lagi yang mau ditemui di daerah situ? Dan nggak kaget bila aku dan Janice pun akhirnya menjadi sangat akrab. Kami menjadi sepasang sahabat. Dan kebetulannya lagi adalah ternyata kami sekolah di satu SMP yang sama. Kami tiap hari selalu bertemu dan bersama, berangkat dan pulang sekolah bersama, belajar bersama, bermain bersama. Hampir setiap waktu kami habiskan bersama. Sudah bukan keanehan lagi kalau lama-lama akhirnya pun aku suka dengannya. Bagiku dia cewek yang sempurna, sampai benih-benih cintaku tumbuh terhadapnya. Tapi aku nggak mau terlalu menunjukkan, karena takut malah menganggu persahabatan kami. Aku pun belum tahu perasaannya, yang aku tahu kami hanya sangat dekat sebagai sahabat. Untungnya, dia masih jomblo sih (hehehehe).

Lulus SMP, kami sengaja disekolahkan di satu SMA yang sama oleh orangtua kami. Aku memiliki firasat bahwa kami pada akhirnya akan dijodohkan oleh kedua orangtua kami masing-masing. Ya bagiku sih nggak masalah, toh si Janice adalah cewek yang cantik dan sifatnya begitu baik serta kalem. Masalahnya si Janicenya sendiri mau nggak sama aku, lah aku sendiri udah muka pas-pasan, biasa aja, sifatku kadang absurd pula. Mikir-mikir lagi lah cewek kayak gitu bisa mau sama aku. Tapi diluar dugaan, tepatnya waktu 2 SMA awal, ketika aku memberanikan diriku mengatakan perasaanku yang sebenarnya (sebelum kedahuluan orang lain). Ternyata si Janice juga bilang bahwa dia juga punya perasaan yang sama denganku. Dia juga suka padaku, bahkan sejak SMP. Mungkin karena efek sudah lama kenal dan akrab, juga dikarenakan kondisi tetanggaan kami yang so sweet, maka rasa suka dan sayang saling muncul di antara kami. Tapi kami berdua sepakat untuk tetap dalam hubungan sahabat, meski sama-sama memiliki perasaan cinta dan saling menyayangi layaknya sepasang kekasih. Nggak disangka kami ternyata saling memendam rasa bertahun-tahun sebelumnya.

Kami akhirnya pun lulus SMA setahun kemudian. Malam harinya setelah wisuda SMA, aku dan Janice duduk di kursi taman depan pekarangan rumah Janice, sembari menikmati indahnya malam itu. Udara sangat sejuk, suasana cukup hening, kami melihat sinar rembulan yang begitu terang dan indah. Aku pun mulai membuka percakapan karena suasana makin garing kalau berdiam saja.
“Hmm apa sebaiknya kita tidak melanjutkan hubungan kita ini lebih ke arah yang serius aja?” tanyaku pada Janice.
“Boleh aja, maksudnya nggak sahabatan lagi, tapi pacaran gitu tah?” jawab Janice lalu bertanya balik.
“Ya begitulah, tapi sebenarnya aku punya ide unik untuk itu,” kataku pada Janice
“Hah? Ide gimana yang kamu maksud?” tanya Janice heran
“Jadi kita gak usah berstatus pacaran, cukup tetap berstatus sahabat. Tapi bedanya kita bakal saling bersikap lebih saling menyayangi kayak pacaran. Juga kita berkomitmen untuk nantinya bersama di pelaminan setelah lulus kuliah nanti. Gimana?” kataku.
“Hmm, okelah, tapi janji ya kita bakal ke pelaminan sungguhan nantinya? Awas aja kalo nggak beneran!” tanya Janice memastikan
“Iya, tenang aja janji kok, pasti kita bakal ke pelaminan,” jawabku dengan meyakinkan. Kami mengikat janji untuk saling menunggu dan setia di malam itu. Langit malam, bulan, serta bintang-bintang yang bersinar seakan menjadi saksi.

Janji dan komitmen kami pun terwujud. Benar saja, kira-kira 4 tahun kemudian setelah lulus kuliah, aku dan Janice pun akhirnya menikah. Kami telah cukup lama menempuh hubungan persahabatan yang diwarnai dengan perasaan cinta satu sama lain, sudah waktunya bagi kami untuk melaju ke jenjang yang lebih lanjut yaitu pernikahan.

Setelah menikah kami berpisah dengan orangtua kami masing-masing, dan tinggal berdua di sebuah rumah yang letaknya ada di tengah kota, agak jauh dari rumah kami sewaktu kecil dulu. Rumah itu pemberian kedua orangtua kami masing-masing sebagai hadiah pernikahan. Aku tidak menyangka keluarga kami masing-masing begitu mendukung hubungan kami sampai segininya. Mereka ingin kami berdua hidup bahagia, melihat kekuatan cinta kami yang begitu erat. Aku mendapat pekerjaan sebagai seorang insinyur system IT di sebuah perusahaan elektronik, ya masih sama dengan pekerjaanku yang sekarang ini. Sementara aku bekerja, Janice tinggal di rumah, mengurus semua pekerjaan rumah.

Hubunganku dengan Janice makin erat dan mesra saja setelah menikah, meskipun kami tidak bisa menghabiskan waktu secara penuh karena aku harus bekerja dari pagi sampai sore. Makin bahagia saja kami berdua waktu itu, tidak ada pertengkaran sama sekali. Jika ada masalah, kami sama-sama menyelesaikannya dengan kepala dingin. Sungguh, aku bertemu dengan wanita yang tepat, benar-benar belahan jiwaku yang sudah dipersiapkan Tuhan untukku. Apalagi semakin dewasa, wajahnya makin cantik saja. Ketika bekerja, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah.

Namun di suatu pagi, tepatnya sekitar setahun setelah kami menikah, datanglah peristiwa itu. Peristiwa yang menciptakan ketegangan dalam hubungan kami. Janice mengalami batuk-batuk yang tidak biasanya. Ia batuk keras sampai mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku pun membawanya ke dokter untuk diperiksa. Aku takut akan terjadi hal yang buruk nantinya terhadap Janice bila tidak segera diperiksakan.
“Apa, istri saya kena TBC dokter?” Aku betul-betul kaget mendengar kata dokter.
“Betul pak, istri anda menderita TBC, paru-parunya sudah terinfeksi virus,” kata dokter itu menjelaskan.
“Tapi dok, selama ini sepertinya istri saya selalu hidup sehat-sehat aja, nggak pernah makan yang sembarangan atau apapun, kok bisa kena TBC?”
“Berdasarkan analisa saya, ini bukan sembarang TBC. Virus TBC ini sangat langka, didapat dari faktor internal yaitu keturunan. Virus ini hanya menyerang keturunan secara silang jenis kelamin, saya pernah mempelajari ini sewaktu kuliah, tapi lupa namanya. Sebut aja TBC silang turunan.”
“Apa? Apa maksudnya silang turunan dok?”
“Nenekku..” Tiba-tiba Janice menyahut pembicaraanku dengan dokter. “Ada apa sayang?” tanyaku heran.
“Aku sudah tahu ini akan terjadi. Keluargaku memang punya jenis penyakit turunan ini. Yang aku tahu, nenekku menderita sakit ini, menurun kepada papaku dan akhirnya menurunlah ke aku. Itulah yang disebut turun silang jenis kelamin. Tapi aku gak nyangka, sakit ini bisa secepat ini muncul ke aku.”
“Jadi.. maksud kamu, kamu punya penyakit turunan mematikan ini? Tapi kenapa kamu nggak beritahu aku sebelumnya?”
“Karena aku gak mau kamu akhirnya gak nerima aku gara-gara hal ini. Aku gak mau kamu kecewa, aku gak mau kamu ninggalin aku gara-gara penyakitku ini. Aku cinta sama kamu!”
Janice pun mulai menangis, seakan juga tak percaya penyakit ini secepat itu muncul padanya, ia takut hal ini malah menganggu hubungan kami berdua. Semua ini awalnya memang mebuatku sangat kaget dan syok. Aku nggak menyangka dia punya penyakit semacam ini. Tetapi aku berusaha tegar, aku menyayangi Janice, walaupun bagaimanapun keadaan dia. Aku berusaha menenangkannya, sembari berkata pada Janice, “Siapa juga yang mau ninggalin kamu, walau tahu kamu punya penyakit kayak gini. Aku gak akan pernah ninggalin kamu walau gimana pun. Aku setia sama janji kita berdua. Ayo kita pulang! Kamu gak usah khawatir, mulai sekarang aku akan ngerawat kamu, selalu ada di sampingmu. Aku akan cuti beberapa bulan, sampai kamu benar-benar sembuh.” Aku memeluk Janice, yang saat itu masih belum bisa menghentikan tangisannya. Aku peluk dia, belahan jiwaku, dengan penuh rasa sayang, sebagai suami-istri yang saling mencintai.

Kami berdua pun akhirnya pulang dengan suasana yang agak hening karena masih syok dengan apa yang dikatakan dokter. Dokter pun menyaranku Janice untuk tidak banyak kegiatan dan banyak istirahat saja di kamar. Ia disarankan untuk jalan pagi setiap sejam untuk menghirup udara segar, dan menghindari makan-makanan yang kering serta berminyak. Kata dokter setidaknya itu mungkin bisa menghambat perambatan virus di paru-parunya.
Tapi ironisnya itu tidak membantu. Beberapa bulan kemudian, sakit Janice makin parah. Hampir tiap hari, ia selalu batuk keras, mengeluarkan darah. Sampai akhirnya malam itu, adalah kondisi yang mencapai puncaknya. Ia batuk darah lebih banyak dari biasanya, sampai badannya lemas tak berdaya. Aku sangat syok serta ketakutan. Segera kubawa dia ke rumah sakit. Dia sempat pingsan saat perjalanan ke rumah sakit. Para medis dan suster membawanya ke ruang ICU karena kondisinya memang sudah gawat. Aku menunggu di luar dengan sangat khawatir dan ketakutan. Sekujur tubuhku berkeringat karena aku tiddak bisa tenang saat itu, melihat Janice dalam kondisi yang buruk sekali. Aku berdoa pada Tuhan supaya tidak terjadi yang parah terhadap Janice, memohon agar kondisinya cepat stabil. Dokter pun keluar, aku langsung segera menghampiri si dokter.

“Dokter, bagaimana keadaan istri saya, dok?”
“Maaf, pak. Istri anda sekarang kondisinya makin kristis dan hampir mencapai puncaknya. Paru-parunya sudah hampir sebagian besar terinfeksi virus. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berharap perambatan virus itu terhenti.”
“Jadi, maksud dokter, istri saya kemungkinan besar tidak akan selamat? Waktunya hanya tinggal sebentar lagi?”
“Saya sebenarnya tidak tega berkata begitu, tetapi kemungkinan iya. Maaf kami dari tim dokter sudah tidak bisa berbuat banyak, pak.”
Aku benar-benar syok setengah mati mendengar perkataan dokter. Intinya adalah waktu Janice di dunia ini tinggal sebentar lagi. Kenapa? Kenapa secepat ini? Ini tidak adil bagiku. Kami belum lama ini mengikat janji setia untuk selamanya bersama. Tapi, kini semuanya berubah. Penyakit itu, itulah biangnya. Biang parasit bagi janji setia kami.

Aku masuk ke dalam kamar ICU. Ia sedang tertidur. Wajah cantiknya yang dulunya menawan itu, kini berubah menjadi lemas dan pucat. Aku sungguh tidak tega, melihat belahan jiwaku itu, terbaring lemas, melawan maut yang sedang menghampirinya. Aku meneteskan air mata, sambil menghampirinya, di samping tempat tidurnya.
“Loris?” kata Janice yang tiba-tiba terbangun karena merasakan kehadiranku.
“Eh, sayang, kamu udah bangun, gimana kondisi kamu?”
“Baik kok, kamu kenapa nangis sayang? Aku gak apa-apa kok, aku bahagia, setidaknya orang yang kucintai, ada di sampingku, nemenin aku di sisa-sisa waktuku..”
“Plis Janice, kamu jangan ngomong gitu, kamu pasti sembuh, aku mau kamu sembuh. Kamu harus sembuh ya, aku mau kita lanjutkan hidup bersama kita yang bahagia kayak dulu. Aku ingin keluaraga kita bahagia bersama selalu.”
“Loris, udah kita nggak bisa lari dari kenyataan. Aku sendiri menyadari umurku sudah nggak lama lagi. Bisa saja sebentar lagi, besok, atau besoknya lagi. Itu semua bisa terjadi.”
Aku terdiam sebentar mendengar perkataan Janice. Ia memang benar, saat ini memang keadaanya seperti itu. Aku sendiri tidak bisa mengelak. Aku hanya bisa merasakan penyesalan, kekecewaan yang berat di dalam hatiku. Haruskah aku secepat ini akan kehilangan wanita yang sangat kucintai?
“Aku masih ingat kata-kata yang kamu ucapin ke aku waktu kita pertama berkenalan dulu. Apa kamu masih ingat?” Tiba-tiba Janice bertanya ke arahku sambil terseyum.
“Ohh itu, iya aku masih ingat kok itu, kenapa? Jawabku sambil tersenyum balik.
“Aku mau kamu ngucapin itu lagi sekarang ke aku,” kata Janice masih dengan senyumannya. “Hai, kenalkan namaku Janice..”
“Kamu cantik!” kataku pelan dengan mata persis memandang ke wajahnya sambil tersenyum dan meneteskan air mata.
“Terima kasih ya Loris, sayangku.. ” Seketika itu juga, entah kenapa, meski dengan wajah pucatnya, aku dapat melihat wajah cantik Janice masih terlihat. Mungkin karena senyumannya itu yang tak pernah pudar. Setelah berkata begitu, Janice tertidur kembali. Aku mencium keningnya. Saat itu juga aku menangis, tidak tahan melihat penderitaan yang dialami belahan jiwaku itu, seseorang yang benar-benar kucintai. Aku pun lalu bergegas ke luar sambil berlinang air mata, meninggalkan ruangan itu agar Janice bisa istirahat.
Istirahat.. Ya, istirahat untuk selamanya, karena esok harinya, Janice telah tiada. Dokter mengatakan paru-parunya sudah terinfeksi seluruh, sel-sel pernafasannya hancur. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari itu. Belahan jiwaku itu telah pergi dari dunia ini, meninggalkanku bersama kenangannya yang indah. Ketika kami mengulang lagi percakapan kami pada awal bertemu, tak kusangka itulah percakapan kami juga yang terakhir di dunia ini. Kini ia telah pergi, meninggalkanku, untuk selama-lamanya…

Kejadian itu tepat 5 tahun yang lalu. Hari ini tepatnya adalah hari peringatan meninggalnya Janice. Dan aku mengingat kembali segala kenanganku di masa lalu bersamanya. Air mata ke luar dari kedua mataku, sembari aku bernostalgia dengan masa laluku yang indah bersama belahan jiwaku itu. Penyesalanku masih ada, dan nggak tahu kapan akan hilang. Nah udah tahu kan kalian, kenapa aku sekarang ini jomblo (alias duda).

“Papa!” Tiba-tiba lamunanku terbuyarkan oleh suara seorang gadis kecil yang memanggilku dari belakang.
“Eh, sayang, kamu udah balik..” sahutku sambil berbalik badan ke belakang
“Papa abis nangis ya?” tanya gadis kecil itu
“Ah nggak kok, mata papa kelilipan debu daritadi ini aduh..” kataku sambil mengusap air mata.
Gadis kecil itu adalah adalah anakku dengan Janice, namanya Orice. Ya memang belum aku ceritakan sebelumnya. Orice lahir sekitar beberapa bulan sebelum Janice meninggal. Di saat mamanya sedang sakit keras, Orice yang masih berumur beberapa bulan kutitipkan pada kedua orangtuaku untuk diasuh sementara. Karena aku mau fokus untuk merawat Janice saat itu. Sekarang anak kami ini telah berumur 5 tahun. Bisa dibilang dialah yang sekarang ini menjadi pelipur laraku kala kepergian Janice untuk selama-lamanya. Oh ya, aku lupa bilang bahwa lapang rumput tempat kami berada ini sebenarnya adalah lokasi pemakaman keluarga. Di depanku persis ini adalah makam milik Janice tempat ia disemayamkan.
“Kamu habis darimana aja sayang?” tanyaku pada Orice
“Ini, abis metik bunga buat ditaruh di makamnya mama..” Jawab Orice dengan tersenyum lalu menaruh bunga-bunga yang digenggamnya ke atas makam Janice.

Senyuman Orice, ya, sangat mirip dengan senyuman Janice yang dulu sering ia tunjukkan padaku. Terlebih memang wajah lucu dan manis milik Orice, persis seperti wajah cantik yang dimiliki mamanya. Orice benar-benar mengingatkanku pada sosok Janice, aku benar-benar dibuat nggak bisa move on. Aku pun jadi ikut senang melihat senyuman anakku yang manis ini. Aku yakin di waktu besar anak ini akan tumbuh seperti mamanya. Wah aku jadi agak iri, sepertinya gen Janice lebih banyak ada di gadis kecil ini daripada genku. Kok bisa ya?

“Papa, aku lapar!” kata Orice sambil memegangi perutnya.
“Okelah, ayo habis gini kita makan! Kamu mau makan apa?” tanyaku.
“Aku mau pizza, burger, ayam gorengg, kentang gorengg…”
“Oke hari ini papa belikan khusus buatmu, makanlah sepuasnya ya..”
“Horeee!! Asikk…!”
“Tapi ayo berpamitan dulu sama mama sana..”
“Mama, aku sama papa pergi dulu ya, mama yang bahagia di sana, kami bakal sering ngunjungi mama kok. Dadah mama, kami cinta mama..”
Orice melambaikan tangannya pada makam Janice, seolah-olah mamanya ada di situ. Aku agak tertawa melihat tingkah lucu gadis kecil ini, sambil juga merasa terharu. Ia tetap sayang pada mamanya, walau mamanya telah tiada. Padahal juga dulu ia hanya sebentar mendapat kasih sayang dari seorang mama. Bagaimana denganku yang sudah lama mejalin hubungan sayang dengan mamanya, saling mencintai yang awalnya hanya sahabat sampai menikah? Tentu aku lebih merasa kehilangan. Aku pun ikut berpamit dengan Janice, dalam hati.
“Sudah, ayo kita pergi sayang!”
“Ayo, pa!”

Aku dan Orice beranjak pergi dari makam Janice. Kami bergegas menuju mobil yang kuparkirkan di depan gerbang pemakaman. Orice berlari menuju mobil, sementara aku hanya berjalan santai saja.

“Kalian berbahagialah.. Aku mencintai kalian, dan menyertai kalian..”
Tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita muncul dari arah belakang. Aku melihat ada bayangan samar-samar seorang wanita cantik, berdiri di atas makam Janice. Wajah yang terihat familiar, ya tidak salah lagi. Itu bayangan Janice. Ia melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum. Wajah cantiknya, berseri-seri. Seolah-olah jiwanya yang telah pergi, memberitahuku bahwa ia bahagia di surga. Aku tidak bisa menahan perasaanku yang bahagia pula, air mataku menetes lagi. Melihat sosok bayangan wanita yang kucintai, menandakan ia bahagia. Aku melambaikan tangannku seakan membalas lambaian tangannya. Perlahan bayangan Janice mulai hilang dari pandanganku.

Selamat tinggal Janice, sampai jumpa. Kuharap kamu bahagia selalu di surga sana. Aku dan anak kita di sini akan selalu merindukanmu. Tenang saja aku akan selalu menyayangi anak kita dan menjaganya, seperti yang pernah aku lakukan padamu dulu. Aku akan membahagiakannya. Kami pasti akan selalu bahagia di sini, kamu tidak usah khawatir. Terima kasih Janice, kamu telah membuat hidupku bahagia, bisa bertemu dengan wanita sempurna seperti dirimu. Aku tidak pernah akan melupakan semua momen-momen indah yang kita lalui bersama. Terima kasih, terima kasih banyak. Kau akan tetap selalu menjadi, sang belahan jiwaku selamanya.

Cerpen Karangan: Andi Prayogo
Facebook: Andi Prayogo

Cerpen Sang Belahan Jiwa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Angel

Oleh:
Dear Diary, Kapan ya aku bisa kayak mereka? Main sama temen-temen. Bercanda bareng. Kejar-kejaran. Terakhir aku melakukan hal itu saat aku masih kelas 7 smp, dan sekarang bahkan sudah

Malam dan Siang Menyatu

Oleh:
Malam dan siang. Dua hal yang menurut sebagian orang tak mungkin dapat bertemu. Tapi nyatanya aku hidup di antara keduannya dalam waktu bersamaan. Tidak percaya? Atau penasaran? Berarti kamu

Cinta Terlarang

Oleh:
ini kisah nyata yang di alami oleh sahabat terbaikku. cerita ini aku tulis 7 tahun yang lalu, Cerita ini bermula ketika gue baru sampai beberapa hari di Jakarta. Namanya

The End (Part 4)

Oleh:
Keesokan pagi, di sekolah, lantai tiga tempat ruangan kelas mereka, Richard sedang berdiri di pinggir pembatas sambil memandangi ke bawah. Tiba-tiba Leon datang mengejutkannya. “Heyy?!” Leon setengah berteriak sambil

Waktu

Oleh:
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, waktu yang sudah begitu gelap. Tapi yang namanya kota Jakarta tidak pernah sepi dengan suara bising kendaraan terkecuali hari raya idul fitri. Kiran yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *