Sang Fajar Dari Kota Biru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 19 December 2016

Aku Susan. Setidaknya begitulah teman-temanku sering menyapaku. Aku duduk di bangku SMP kelas 1, alias kelas VII. Aku sangat senang menulis. Baik itu karya-karya fiksi, ataupun kayra ilmiah. Yah, meskipun tak satupun tulisanku terpublikasikan, tapi rak buku kamarku telah dipenuhi oleh buku-buku karyaku sendiri, yang tentunya aku cetak dan terbitkan sendiri. Mulai dari pulang sekolah hingga menjelang tidur, aku hanya di depan laptopku untuk mengetik kata demi kata agar menjadi sebuah novel yang utuh. “Sang Fajar dari Kota Biru” itulah judul novel yang sedang aku kerjakan kali ini. Sudah hampir sebulan aku mengerjakan ini. Namun, belum kunjung selesai.

Hari ini hari minggu. Biasanya aku sudah mengurung diri di kamar. Tapi khusus untuk hari ini, aku ingin ke luar mencari inspirasi. “Susan, kamu sehat, kan?” Pertanyaan Mama itu sedikit menggelitikku. “Hahaha…” gumamku sambil memandang lucu wajah mamaku yang kucintai itu. Oh ya, sebagai informasi, aku hanya tinggal bertiga, sama mama dan pekerja rumah tangga kami, Atun. Sedangkan Papaku, telah meninggal 4 Tahun yang lalu. Setelah menghabiskan sarapan, aku langsung berlari ke luar rumah.

Aku pergi ke taman kota yang letaknya tak begitu jauh dari rumahku. Seperti dugaanku. Taman kota sangat ramai dengan mereka yang ingin berolah raga, atau sekedar jalan-jalan saja. Aku duduk di salah satu bangku taman sembari mengamati sekeliling dengan notes kecil dan pulpen di tanganku. Pandanganku fokus pada sekelompok remaja putri yang tertawa riang sesamanya. Tawa mereka terhenti ketika seorang remaja pria menghampiri. Remaja pria itu lalu menarik salah seorang yang paling cantik di antara mereka. “apa hubungan keduanya?” gumamku dalam hati seraya memperhatikan mereka lebih lekat lagi.

Rasa penasaranku makin bertambah ketika dua orang itu saling berpandangan, mereka yang lain lalu pergi meninggalkan keduanya. Maka, kupaksa kakiku untuk berjalan mendekat ke arah mereka. “untuk apa kamu datang lagi?” itulah suara dari sang gadis yang kudengar jelas.
“aku balik untuk memenuhi janjiku, Jen.” Tukas sang pria.
“janji kita udah batal. Jadi kamu gak perlu memenuhi apa-apa. Dan… Jangan pernah datang lagi di kehidupan aku.”
“But, Jena… you’re the one and only for me. How could I let you go?”

Aku mulai paham arah pembicaraan mereka. Dan percakapan mereka sangat mengispirasi daya khayalku. Aku mencoba lebih dan lebih lekat lagi mengamati mereka.

“Don’t ever say it, Andreas. you’ve hurt me very much. Do you know how long I wait for you? it’s more than 7 years. Selama itu, aku terus bertahan. Dan kamu… Sekalipun kamu gak pernah ngasih kabar ke aku. Kamu tau, gak??? Gimana sakitnya aku? Kamu tau, gak?!!” si gadis mengucapkan kata-kata itu dengan nada tinggi dan mulai keliatan air matanya jatuh dari pelupuk matanya. Sang pria tiba-tiba jadi speechless. Bahkan tak mampu bergerak.

“To know you, it’s the greatest happiness of my life. To be with you, it’s the biggest dream of my life. To let you go…” air jernih mulai terlihat pula di pelupuk mata sang pria. “it’s a biggest mistake of my life. But, if left you can paint a sweet smile on your cute face… I … I will do.” Sang pria lalu membalikkan badannya dan dengan langkah gontainya meninggalkan sang gadis yang masih berusaha menahan tangisnya.

Perhatianku terus tertuju pada sang gadis. Menyaksikan kejadian itu, hampir saja aku juga menitihkan air mata. Dari tatapan mereka, aku tahu, mereka masih saling sayang. Aku memang masih belia. Namun, karena aku seorang penulis, aku lumayan bisa menafsir isi hati seseorang dari matanya. Sebelum apa yang kulihat tadi lenyap dari ingatanku, kuusahakan sesegera mungkin menuliskannya di notes kecilku.

“Aaaaaaaa…” teriakan seperti itu terdenganr ramai dari jalan raya yang letaknya hanya sekitar 15 meter dari tempatku berdiri. Segera kuhampiri kerumunan itu. “Astaga…!!!” Aku terbelalak melihat pria yang terkapar berlumuran darah itu adalah Andreas. kuperhatikan sekelilingku, namun aku tak melihat Jena di antara mereka. Aku berusaha keluar dari kerumunan orang yang mengelilingi Andreas. aku beruntung, Jena masih ada di tempatnya berdiri. “Kak Jena… Kak Jena!!!” teriakku ke arahnya. Ia heran melihatku, seseorang yang tak pernah dikenalnya tapi mengetahui namanya. Ia lalu melihat sekeliling untuk memastikan tak ada nama Jena lain di sekitranya. Aku melambaikan tangan ke arahnya untuk lebih meyakinkan kalau Jena yang kumaksud itu dirinya. “Kak jena… kak Andreas, dia kecelakaan.” Kusampaikan padanya ketika ia sudah berdiri di dekatku.

Ia menerobos kerumunan orang, diikuti aku dari belakang, tentunya. “Andre… Andre…” teriaknya sambil meletakan kepala Andreas di pangkuannya. “Jena, please… trust me… I … I … re… really… Love… you.” Setelah Andres berkata seperti itu, sirene ambulan mulai terdengar keras. Orang-orang yang mengelilingi mereka mulai menyingkir, kecuali aku. “Andre, please hold on. Kita akan bawa kamu ke rumah sakit.” Ucap Jena cemas. “Jena… If… I … Go … to … the …” Ucapan Andreas terhenti, karena Jena langsung menyilangkan jari telunjuknya di atas bibir Andreas. “Kamu gak boleh ngomong gitu. Kamu akan baik-baik saja.” Tangis Jena bertambah.

Terlihat petugas ambulan telah siap dengan tandunya untuk mengangkut Andreas ke rumah sakit. Ia dibaringkan di atas tandu, dengan masih tetap menggandeng tangan Jena. Aku yakin, ia sedang menahan sakit yang amat sangat, namun ia tak mau sedikitpun memalingkan pandangannya dari Jena. Sungguh cinta luar bisa yang ironis. Jena pun ikut naik ke ambulan itu. Ia juga mengisyaratkan agar aku ikut naik ke ambulan. “Dik, kamu gak ikut ke rumah sakit?” tanya salah satu petugas ambulan yang mengagetkanku. ‘Eh, ehh.. I, iya.” Ucapku lalu masuk ke dalam. Dengan begitu, berangkatlah kami ke rumah sakit.

“Je’ Jena…” ucap Andreas memecah keheningan. “Andre, tolong behenti bicara.”

“No… I … Can’t, Je… na. if.. I stop… tal… king now, may…be no mo…re chances to… tell.. you, that… my… heart… sta… stays… with you, e… even… Thought… my body… was not…” setelah kalimat itu terucap tersendat-sendat dari bibirnya, andreas tersenyum melihat Jena yang masih terus menangis. “Andre… Maafin aku… Huhuhuhu…” Jena masih terus menangis sambil sesekali mencium tangan Andreas yang berlumur darah. Perlahan tapi pasti, mata Andreas mulai tertutup. Genggaman tangannya juga mulai melemas. “Andre… Andre…” Hanya nama itu yang terus terucap keras dari bibir Jena.

Mobil ambulannya berhenti. Artinya telah tiba di rumah sakit. Petugas medis berlarian menurunkan Andreas dari mobil dan membawanya masuk untuk diobati. Jena yang sudah terkuras tenaganya karena menangis dan berteriak, hampir tak mampu menyusul bangsal tempat Andreas berbaring yang didorong para suster. Aku terus mengikutinya dari belakang hingga tiba di depat ruang IGD.

Aku berusaha mendekati Jena yang terduduk lemas di depan pintu. “Kak Jena…” ucapku sangat pelan. Ia memandang ke arahku. “Ayo kita duduk di kursi. Kita tunggu kak Andreas sama-sama.”

“ka… kamu, si.. a .. pa?…” tanyanya terisak.

“Aku Susan, Ka. Maaf, tadi di taman, aku sudah mendengar kakak dan Kak Andreas berdebat.” Aku tertunduk lesu. Tak disangka, ia sama sekali tak marah. Ia malah berhambur memelukku dengan erat. Setelah ia merasa lebih baik, ia duduk di kursi bersamaku. Ruang rumah sakit yang luas itu terasa sangat kosong. Karena tak ada sepatah katapun terucap dari kami berdua. Dengan wajah cemasnya, Jena sesekali memandangi pintu IGD.

Dua jam berselang, seorang Dokter keluar dari balik pintu itu. Jena langsung menghampirirnya “Dokter, Andreas…” ucapannya dihentikan dokter dengan menepuk pundaknya. “Kami telah melakukan semua yang kami bisa” lalu sang dokter pergi meninggalkan Jena yang terdiam kaku seakan tak percaya. Pintu IGD terbuka lagi, kali ini yang keluar adalah beberapa suster yang mendorong sebuah bangsal yang diatasnya terbaring Andreas yang telah ditutupi dengan kain putih.

“Andre… Andre…” Kami berdua mengikuti mayat Andreas sampai di ruang mayat. “Andre… Kamu udah ninggalin aku sangat lama tanpa kabar… kamu tadi baru saja bilang kamu balik untuk aku.. Tapi mana??! Mana??! Kamu malah ninggalin aku untuk selama-lamanya…!!! Andre, bangun… Buka mata kamu.!!! AKU BILANG BUKA MATA KAMU!!!” melihat Jena yang begitu histeris dengan kepergian Andreas, aku juga ikut menangis.

Tak lama setelahnya, keluarga Andreas datang. Mereka lalu membawa mayat Andreas untuk disemayamkan di rumah. Aku pun pulang ke rumah dengan diantar oleh supir keluarga Andreas.

Malamnya, kubuka lagi catatan kecil yang kubawa ke taman tadi. Setelah membacanya, aku lalu melanjutkan menulis novelku dengan terus membayangkan wajah Andreas yang berusaha mengungkapkan isi hatinya pada Jena meski berlumuran darah. Kisah pilu yang menyayat hati itu, sangat membantuku dalam penulisan novelku.

Seminggu setelahnya, novel “Sang Fajar dari kota Biru” selesai kubuat.

“Cinta yang paling murni laksana lilin yang terus menyinari meski ia habis terbakar, laksana embun yang terus menyegarkan meski tanpa warna, laksana awan yang melembutkan meski tak tersentuh. Cinta sejati bukan cinta yang harus terus bergandengan tangan meniti jembatan kehidupan, namun cinta yang mampu melepaskan genggaman itu demi sebuah kehidupan yang telah ditakdirkan tanpa melepaskan perasaan itu bersamanya. Cinta yang tulus akan terus hidup dalam kenangan meski mata tak bisa lagi saling menatap” begitulah serangkaian kata mutiara yang kuselipkan di akhir novelku yang kutujukan untuk Jena agar ia tabah. Agar ia tahu, cinta Andreas sebenarnya masih terus hidup dalam kenangan mereka.

Sang Fajar dari kota Biru yang isinya sebagian besar adalah kenangan tentang Andreas akhirnya diterbitkan dan dijual di pasaran. Novel yang endingnya menyerupai kisah cinta Jena dan Andreas itu terjual laris. Jena juga membantu menerbitkan buku-bukuku yang lainnya yang belum sempat terbit. Aku sungguh bahagia, bukan karena novelku habis terjual, tapi karena tangan mungilku bisa memberikan seberkas senyum di wajah Jena. Aku yakin, senyum itulah yang diharapkan Andreas dari dunia sana.

Cerpen Karangan: Cinta Astuty
Facebook: www.facebook.com/cntstt

Cerpen Sang Fajar Dari Kota Biru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Hanya Mencintainya

Oleh:
“Aku berharap kau lah jodohku, aku berharap hanya kau milikku” Pagi yang cerah, aku berangkat sekolah untuk pertama kalinya di musim panas. Langit biru, awan-awan putih menggantung di langit.

Bersamamu

Oleh:
Aku kembali merentangkan lebar tanganku. Merasakan hembusan angin yang menampar setiap anganku. Aku masih berdiri disini, menunggu sesuatu yang takkan pernah datang. Aku tau itu, tapi bukankah keberuntungan akan

Luka Ini Penyemangatku

Oleh:
Aku merasa hidupku begitu sempurna… Karena aku punya kekasih yang sangat aku sayangi dan juga menyayangiku, Indra… Dia penyemangat hidupku, tak mungkin aku bisa bayangkan bila gak ada dia.

Kau Yang Pertama Dan Terakhir

Oleh:
KRING!!! KRING!!! Suara alarm membangunkanku dari tidur nyenyak. “Hoahm..” aku pun menguap lalu melihat jam weker di samping tempat tidurku. “Apa?! Udah jam 06:15! Aku harus buru-buru berangkat sekolah

Impian Terindah Ku

Oleh:
Aku hanya seorang ibu rumah tangga, seorang perempuan yang lemah dan tak berdaya bila disakiti suamiku, baik secara fisik maupun batin, sudah hampir 3 tahun kami menikah dan mempunyai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *