Satu Kesempatan Lagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 13 December 2016

“PlAK!!” Tamparan itu kini mendarat lagi di pipiku untuk ke sekian kalinya. Ku terdiam sambil memegangi pipiku yang masih terasa sakit.
“Aku cape! Aku cape harus selalu keras sama kamu val! Aku cape!!” Begitu teriak Nathan padaku. Aku hanya tertunduk sambil terus menangis.
“Mulai detik ini kita putus” ucapan tambahan darinya itu sontak membuatku kaget. Aku menatap matanya dengan penuh harap agar dia tidak melontarkan kata itu lagi
“Nathan tapi aku..”
“Udahlah, untuk apa lagi kamu mempertahankan hubungan seperti ini? Aku sudah terlalu muak dengan kamu. 5 tahun kita bersama tapi aku tidak sama sekali bahagia dengan kamu! Apa kamu bisa mengerti?” Aku masih terdiam mematung memandangi Nathan. Air mataku tak mampu menyembunnyikan dirinya lebih lama lagi. Kini aku menangis dan dia tetap saja bersikap dingin seakan tak ada hati yang terluka atas apa yang dia ucapkan.
“Kamu jahat than. Kamu jahat!” Ucapku lirih. Aku berlari sekencang mungkin meski hari itu sudah malam. Aku meninggalkan Nathan dan semua ucapannya tadi di sebuah mall tempatku dan Nathan janjian tadi. Aku berjalan mengikuti arah kaki dan akhirnya aku bisa sampai di rumah.

“Valen, Nathan kemana? Kok kamu pulang sendirian?” Pertanyaan itu seakan akan berhasil menusuk dadaku. Aku tak menjawab pertanyaan mama ku dan memilih untuk masuk ke kamarku.

Sudah 5 tahun aku berpacaran dengan Nathanael Dwi Tirtawijaya. Sudah 5 tahun kami menjalin hubungan dan sudah 5 tahun pula aku selalu mendapat perlakuan tidak menyenangkan darinya. Nathan adalah orang yang keras, wataknya sekeras batu karang di pantai. Namun kadang hatinya lembut seperti debur ombak di pesisir. Aku heran mengapa aku bisa bertahan selama ini dengan luka memar di tubuhku. Iya, lelaki berusia 23 tahun itu sudah sering memukuliku. Nathan adalah orang yang tempramen, posesif dan mudah melakukan hal diluar batas. Namun aku sangat mencintainya, demi Tuhan aku selalu mencintainya. Meski aku tahu sifat sikapnya yang seperti itu sangat sulit untuk dihilangkan.

Seminggu berlalu aku tak pernah lagi mendengar kabar tentang laki-laki bersuara merdu itu. Aku terus berjalan menyusuri koridor kampusku untuk mencari kelas. Akhirnya aku pun masuk ke kelas dan mulai dengan mata kuliah pertama. Setelah mata kuliahku selesai, aku memutuskan untuk tidak langsung pulang. Aku melihat jam di tanganku menunjukkan pukul 14:30. Aku pergi ke sebuah cafe yang terkenal dengan es krimnya yang enak. Kupesan 1 porsi es krim rasa vanilla coklat untuk mengusir kepenatanku. Tak berselang lama, handphoneku berbunyi. Itu seperti tanda bahwa ada pesan masuk di handphoneku. Kubuka kunci tombol dan kubaca pesan yang baru saja masuk itu.
“Valentina, aku minta maaf atas segala yang aku lakukan selama ini. Aku mohon jika kau masih mencintaiku temui aku di taman kota malam nanti. Aku tunggu kamu jam 7 malam ya. Nathan” Begitu isi pesan yang baru saja masuk. Aku segera menghabiskan es krimku dan bergegas pergi ke taman kota untuk menemui Nathan.

Sudah 30 menit ku tunggu kedatangannya. Namun gadis berkulit sawo matang dengan matanya yang indah itu belum menampakkan dirinya di hadapanku. Aku menyesal telah membuat dia kecewa untuk ratusan kali. Tapi aku hanya tak bisa tunjukkan maksudku. Kulihat di ujung sana seorang wanita berjalan pelan menuju taman ini. Wanita dengan memakai long dress berwarna putih pink itu berjalan ke arah taman ini. Dengan cara berjalannya yang anggun kulihat langkahnya dengan teliti. “Dia datang” ucapku dalam hati. Wanita itu adalah Valentina Rosellia. Dia adalah seorang wanita yang sangat aku cintai meski kadang sifat aroganku sering kali menyakiti perasaannya.
“Nathan..” Suara lembut itu membuatku berhenti berpikir banyak tentangnya.
“Valen? Kamu datang juga” ucapku padanya.
“Ada apa kamu minta aku kesini?”
“Val, aku minta maaf” kugenggam kedua tangannya dengan penuh harap dia akan memaafkanku.
“Aku udah maafin kamu than” gadis ini tersenyum manis kepadaku. Sebuah senyum yang langsung menusuk ke dalam jantungku dan membuar rasa sesal itu semakin menggerogotiku.
“Val, apa kamu mau menerimaku lagi?” Ucapku penuh harap.
“Maaf aku gak bisa than. Aku harus belajar menerima kenyataan bahwa bahagiaku bukanlah dengan kamu” bagai tersambar petir, aku kaget luar biasa. Wanita yang selalu sabar menghadapiku kini menolakku. Aku tak pernah menyangka bahwa kesalahanku padanya sudah membuat gadis di hadapanku ini menjadi mati rasa.

Entah apa yang membuatku mudah mengatakan hal demikian kepada Nathan. Aku sudah terlalu lelah untuk bersamanya. Memang, aku sangatlah mencintainya namun aku sudah tidak sanggup jika harus menerima kenyataan bahwa dia tidak akan pernah berubah. Kuputuskan untuk melangkahkan kakiku menjau dari Nathan. Menjauh dari harapan yang telah dia berikan kepadaku. Dan aku harus bisa berdiri tanpanya walaupun kini air mataku menetes untuknya. Maafkan aku Nathan aku bukan tidak menyayangimu dan kumohon jangan pernah kau katakan bahwa aku tak pernah menyayangimu. Aku menyayangimu lebih dari apa yang selalu kau katakan kepadaku. Tapi aku tidak siap jika aku harus terluka lagi untuk kesekian kalinya.

6 bulan berlalu. Tak terasa kuliahku sudah memasuki semester akhir. Sebentar lagi aku akan diwisuda dan menjadi seorang sarjana. Sudah 6 bulan ini aku menyendiri. Menutup hati untuk siapapun yang ingin mendekatinya. Aku bukan tidak bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Nathan bukan pula karena aku tidak bisa melupakan Nathan. Aku hanya terlalu sibuk menyibukkan diri sampai aku baru menyadari bahwa luka itu kini sudah sembuh dan membaik dengan sendirinya.

Hari itu aku baru pulang dari kampus. Kulajukan mobilku lebih pelan dari biasanya karena badanku sedang tidak enak. Aku terlalu sibuk dengan tugas akhirku sehingga aku harus menahan diriku untuk istirahat lebih banyak. Dalam perjalanan semua terasa baik-baik saja. Kemacetan dan jalanan yang padat membuat kepalaku agak sedikit pening melihatnya. Tapi.. Yah, inilah Jakarta. Bukan Jakarta jika tidak macet seperti ini. Kefokusanku buyar ketika tiba-tiba aku tak sengaja menabrak seorang yang sedang menyeberang. Dia terjatuh sambil memegangi lututnya yang sepertinya terluka. Dengan panik aku segera turun dari mobil dan menghampiri orang yang baru saja aku tabrak tadi
“Maaf mas, gak apa-apa kan?” Tanyaku dengan khawatir.
“Valen..” Pria itu memalingkan wajahnya ke arahku.
“Na, Nathan?” Aku terkejut setengah tak percaya ketika kulihat bahwa orang yang baru saja aku tabrak itu adalah Nathan. Mantan kekasihku.

Oh Tuhan.. Inikah takdirMu? Kau pertemukan aku lagi dengan wanita yang sangat aku cintai setelah sekian lama dirinya menghindariku? Inikah takdirMu mempertemukan kami di tempat ini? Tuhan.. Sungguh ku bahagia bisa melihatnya walau kini ku tahu bahwa dia sudah tak lagi mencintaiku.

Selama ini, aku tidak pernah menghindarinya. Aku hanya menjalani hidupku apa adanya walau tanpa dia di sampingku lagi. Tapi kali ini aku benar-benar melihatnya. Aku bertatapan mata dengan lelaki yang sudah membuatku hancur terluka. Laki-laki yang dulu menjadi alasan aku bahagia walau akhirnya dia pula yang mengundang tangis.
“Valentina..” Dia memanggilku
“Kamu gak apa apa kan? Than?”
“Enggak. Kamu apa kabar?”
“Aku baik. Kamu?”
“Aku juga baik”
Terlihat sebercak bahagia di dalam sudut matanya. Dia seperti merindukan aku yang telah lama menghilang darinya. Tapi, apa mungkin jika ini adalah pertanda bahwa Tuhan sudah menggariskan kita berjodoh? Apa aku harus menerima kenyataan bahwa dia memang sudah ditakdirkan untuk kembali padaku? Entahlah, suasana menjadi hening setelah percakapan itu. Kami seperti sepasang insan yang baru saja mengenal. Asing, memang itu yang terlintas dalam pikiranku. Kulihat dia terus menatapku. Tatapan itu sama seperti pertama kali dia mengenalkan namanya 6 tahun yang lalu.

“Val..” Dia memanggilku pelan.
“Iya than?”
“Boleh aku ngomong sesuatu sama kamu?” Ucapnya gugup.
Segera kutuntun ia menuju mobilku dan kuajak dia masuk ke mobil. Kukendarai mobilku menuju sebuaah restoran yang tak jauh dari tempat aku menabraknya.
“Val..” Dia memanggilku lagi.
“Iya than? Kamu mau ngomong apa?”
“Apa kamu udah punya pacar? Apa kamu udah bersama orang lain?” Kali ini tatapan matanya begitu lembut. Nathan yang keras dan dingin kini tak kulihat lagi. Aku seperti sedang berbicara dengan sosok Nathan namun yang telah dimasuki jiwa lain. Aku terpaku mencerna pertanyaan laki-laki ini. Aku bingung, bagaimana caraku menjawab pertanyaannya.
“Valen, kenapa kamu diem aja?” Dia memegangi tanganku.
“Aku gak sama siapa-siapa than” jawabku.
“2 bulan lagi aku pindah ke Paris. Aku harus ikut bersama papaku disana. Dan aku mohon val sebelum aku pergi bolehkah aku selalu bersamamu? 6 bulan sudah aku mencari kamu tapi nomor kamu tidak pernah aktif dan kamu pun tidak ada di rumah. Aku sudah tanya semua teman-teman kamu tapi hasilnya nihil, aku tidak pernah menemukanmu val” begitu jelasnya.
Jantungku seakan berdebar menyebutkan namanya. Aku merasa rasa itu kembali lagi. Aku merasa aku jatuh cinta kepada orang yang sama namun dalam waktu dan keadaan yang berbeda. Aku masih bungkam, mulutku terkunci ketika aku melihat matanya. Semua kata dalam bibirku seakan tertahan oleh genggaman tangannya.
“Valen aku mohon. Aku mencintaimu”
“Tapi aku..” Ucapanku terpotong
“Aku tahu, kita gak bakal bisa sama-sama lagi. Tapi setidaknya kamu mau jadi sahabat aku kan? Kita bisa kan jadi temen? Val, aku mohon cuma 2 bulan” Valen meminta dengan sangat kepadaku agar aku mau menjadi sahabatnya.
“Iya, aku mau kok” ucapku sambil tersenyum.
Setelah kami berbincang banyak, aku mengantarkan dia pulang karena Valen tidak membawa mobil. Mobilnya rusak dan sedang diperbaiki di bengkel.

“Makasih ya val” Nathan tersenyum padaku.
“Iya, sama-sama” jawabku ramah
“Val. Hati-hati ya”
“Iya makasih”

Setelah pamit, aku segera pulang ke rumah. Ternyata aku tahu selama ini Nathan selalu mencariku ke rumah. Karena akhirnya mama kutahu bahwa Nathaan sering menganiaya aku maka dari itu beliau tidak pernah memberitahu dimana aku tinggal. Beliau selalu menyembunyikan aku dan kini aku tahu bahwa lelaki yang sangat aku cintai 6 bulan yang lalu itu menyesali perbuatannya.

1 minggu berlalu aku dan Nathan sering bertemu di taman kota. Kini perlakuannya berubah drastis. Nathan yang tadinya keras dan arogan kini berubah menjadi lembut dan ramah. Aku tidak tahu mengapa dia berubah secepat ini. Apa karena penyesalannya? Atau karna ada maksud lain dibalik sifatnya yang seperti ini? Lagi-lagi Nathan terus meminta aku menjadi kekasihnya. Menjalin kembali hubungan yang sekian lamanya terbengkalai. Dan untuk berkali-kali pula aku selalu menolaknya. Bukan karena aku sudah membencinya tapi aku belum siap harus menerima rasa sakit lagi walau kutahu kini dia sudah berubah banyak untukku.

“Val..” Dia memanggilku.
“Iya?” Jawabku
“Aku mencintaimu” sudah seing kudengar kalimat itu terlontar dari mulutnya. Dan sudah sering pula ku hanya membalasnya dengan senyum kecil. Nathan tahu betapa aku kecewa padanya. Nathan pun tahu betapa terluka hatiku karenanya. Maka dari itu dia terus merasa bersalah setiap kali aku tersenyum menatapnya.

1 bulan berlalu kini aku dan Nathan sudah semakin dekat. Aku merasa ada yang aneh dengan dia. Akhir-akhir ini dia jarang menghubungiku. Akhir-akhir ini dia selalu terlambat datang jika aku minta bertemu. Mungkin dia sudah menyerah mengejarku atau dia sudah memiliki tujuan lain untuk dikejar. Entahlah, tapi aku tak bisa memungkiri bahwa aku merindukannya. 1 minggu menjelang keberangkatannya ke Paris aku tak pernah mendapati kabar darinya. Aku rindu padanya dan terkadang aku menyesal telah mengabaikannya. Dalam hati aku berkata “Mengapa tak kuberikan saja kesempatan itu kepadanya? Harusnya aku tdak naif. Harusnya aku tidak membohongi diriku bahwa aku masih sangat mencintainya. Harusnya perhatian dan kata cintanya tak kuhempaskan begitu saja” ah sudahlah, itu semua hanya membuatku semakin khawatir padanya.

3 hari menjelang keberangkatannya ke Paris, Nathan pun akhirnya menghubungiku. Betapa bahagianya aku ketika kutahu bahwa dia yang meneleponku pagi itu
“Val..” Dia memanggilku
“Nathan? Kamu dimana?”
“Besok aku tunggu kamu di taman ya. Jam 7 jangan telat”
“Iya, tapi kamu kemana aja?” Tanyaku dengan khawatir.
“Aku gak kemana-mana aku cuma sedang melakukan persiapan untuk kepergianku nanti. Aku perginya lusa”
“Kenapa lebih cepet?” Tanyaku heran.
“Papaku yang mengaturnya aku juga gak tahu kenapa”
“Aku mau ketemu kamu” aku berusaha menahan air mataku.
“Iya, besok ya” ucapnya pelan.

Entah mengapa waktu berjalan sangat lamban. Begitu lam sang surya menenggelmkan dirinya. Ku langkahkan kakiku menuju taman kota itu. Aku tahu itu masih sore namun aku ingin menunggunya disana. Kulihat Nathan berjalan pelan ke arahku. Dia duduk di sampingku. Kini Nathan berubah menjadi dingin. Tatapannya dingin seperti tidak senang melihatku disini. Ku lihat raut wajahnya nampak datar tak berekspresi. Dengan gugup aku bertanya
“Than, kamu kenapa?”
“Aku harus pergi” ucapnya singkat.
“Kemana? Bukankah keberangkatanmu ke Paris itu besok?” Ucapku.
“Aku harus pergi sekarang dan aku mohon kamu jaga dirimu baik-baik. Aku harus melupakanmu aku harus tidak untuk mencintaimu. Aku membencimu, Valen”. Bagai tersambar petir hatiku menggelegar hebat. Seakan tak percaya kutatap mata lelaki berwajah datar itu dengan harapan dia hanya sedang bergurau.
“Nathan..” Panggilku pelan.
“Pergilah, aku tidak mencintaimu” ucapnya seraya berjalan menjauh dariku.

Aku terbangun dari tidurku dan.. Astaga!! Hanya mimpi. Syukurlah Nathan yang kulihat tadi hanyalah impianku saja. Kulihat jam di tanganku menunjukkan pukul 18:52. Sudah 2 jam aku tertidur disini dan syukurlah aku belum terlambat. Akhirnya kulihat seorang lelaki berjalan ke arahku. Iya, itu Nathan. Dalam hatiku terus gelisah ketika kulihat langkahnya semakin mendekat. Aku takut Nathan akan mengatakan hal yang sama seperti apa yang aku mimpikan tadi.
“Valen..” Dia memanggilku.
“Nathan? Kau kemana saja!” Ucapku kaget.
“Maaf, aku harus menyiapkan banyak hal untuk keberangkatanku nanti. Apa kau sudah lama menungguku?” Lelaki itu masih tersenyum kepadaku. Wajahnya tidak datar. Tidak juga sangar. Dia masih bersikap baik seperti 2 bulan terakhir ini.
“Aku sudah lama menunggumu” ucapku.
“Valen, apakah kau mau kembali bersamaku? Apakah kau mau menjadi istriku? Apakah kau mau menerima bunga ini?” Nathan memberikan aku setangkai mawar kepadaku. Aku segera mengambilnya dan mengucapkan terimakasih.
“Nathan, apa kau yakin kau akan tetap seperti ini jika aku menerima cintamu?” Ucapku
“Tentu. Aku akan tetap seperti ini untukmu, Valentina Roselia”
“Nathan, aku pun mencintaimu” ucapku menahan air mata haru.
“ini untuk kamu” Nathan memberikan aku amplop berwarna merah muda dengan gambar boneka beruang di sudut-sudutnya.
“Ini apa?” Tanyaku.
“Buka saja nanti. Saat aku pergi” ucapnya sambil tersenyum.
“Apa kau sudah memantapkan niatmu untuk pergi dari sini? Dariku?” Ucapku.
“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu bersamamu.” Nathan memegangi tanganku dengan lembut. Suasana begitu hening sampai akhirnya aku dan Nathan menghabiskan malam di taman itu.

Waktu sudah menunjukkan jam 23:55. 5 menit lagi hari akan berganti menjadi besok. Dan aku harus melepas Nathan pergi ke Paris besok pagi. Rasanya aku tak ingin waktu berjalan begitu cepat agar aku bisa lebih lama bersama lelaki yang sudah banyak berubah untukku ini. Namun kehangatan kebersamaan itu berubah ketika tiba-tiba Nathan tiba-tiba saja mimisan hebat dan tergeletak jatuh di taman itu. Dengan panik aku segera menghampirinya
“Nathan, kau kenapa?”
“Untuk yang terakhir kalinya aku memintamu, apa kau mau menjadi kekasihku sebelum aku mati?” Ucapnya seakan menahan rasa sakit.
“Kau bicara apa? Ayo kita ke rumaah sakit” kini aku menangis di haapannya. Melihat dia terus menahan rasa sakit yang mungkin begitu menyiksanya.
“Nathan.. Kau kenapa?” Tanyaku sambil terus menangis.
“Tolong jawab dulu pertanyaanku. Apa kau mau..” Aku memotong ucapannya.
“Iya, aku mau kembali padamu” ucapku.
“Terimakasih” Nathan memegangi tanganku. Tepat pukul 00:00 Nathan tak sadarkan diri. Sampai aku meminta pertolongan dan akhirnya sebuah ambulan datang membawa Nathan ke rumah sakit.

Rasanya sulit kuterima kenyataan ini. Nathan yang seharusnya pergi ke Paris pagi ini, kini harus pergi untuk selama-lamanya. Dia tak hanya lenyap dari negeri ini namun dia juga lenyap dari dunia ini. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya hingga dia harus kehilangan nyawa dan kehidupannya. Kulihat amplop itu masih kupegang dengan erat. Kubuka isinya dan ternyata itu adalah sebuh surat.

“Untuk Valentina yang aku sayangi. Maaf selama ini aku telah membohongimu. Namun kali ini aku akan jujur padamu walau aku tahu aku tak bisa mengungkapkannya di hadapanmu secara langsung. Karena saat kau membaca surat ini mungkin aku sudah pergi jauh darimu. Sebenarnya, aku tidak akan pergi ke Paris besok pagi. Dua bulan yang lalu dokter memvonisku terkena kanker otak stadium 3. Dokter berkata bahwa umurku hanya bertahan 2 sampai 3 bulan. Namun firasatku benar, tak sampai 3 bulan aku tidak akan kuat dengan ini semua. Valen, andai kau tahu. Aku menyesal telah menyakitimu 5 tahun lamanya. Aku menyesal telah menghancurkan hatimu dan kurasa penyakitku ini adalah hukuman dari Tuhan karena aku sudah melakukannya. Valen, kuharap kau menemukan cinta sejatimu. Seorang pria yang baik dan sudah pasti menyayangimu. Maafkan aku jika hari ini aku harus pergi tapi satu hal yang kau harus tahu bahwa aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Nathanael”

Tuhan.. Mengapa aku harus kehilangganya? Ketika ku percaya bahwa dia takkan lagi menyakitiku.
Ku percaya takdirMu Tuhan semoga ini yang terbaik untukku dan juga untuk dia di sisiMu. Jaga dia Tuhan jagalah dia selalu untukku walau kini aku harus merelakannya pergi untuk selama-lamanya.

Cerpen Karangan: Andrea Silvana Vilim
Facebook: Andrea Silvan
Nama panggilan Andrea
Tempat tanggal lahir Bandung, 15-05-1998
Sekolah di SLBN-A kota Bandung

Cerpen Satu Kesempatan Lagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Sorry

Oleh:
Dia hanyalah seorang insan biasa yang berusaha mengejar cintanya. Namun salahkah bila dia mencintai seorang gadis sepertiku? Aku tak tahu jika dia sangat mencintaiku dengan penuh kasih sayang dan

Aku Rindu Ucapan Sayang Mu (Part 1)

Oleh:
Rian semakin dekat denganku, entah kenapa kadang aku juga merasa risih sama dia. Rian selalu meminta untuk menemaniku pulang karena dia tahu aku jarang diantar pulang oleh pacarku. Aku

Mengingatmu Menyadarkanku

Oleh:
Wajah itu sudah tak asing lagi bagiku, dia berjalan di hadapanku dengan mendongakkan wajahnya. bahunya tegap dengan gagah, dia melintas di hadapanku seolah-olah aku adalah manusia yang tak pernah

Senja Merindukan Bulan

Oleh:
Mentari terlihat indah… Angin yang berlalu membuat hati terasa syahdu… Rindu yang kian lama terpendam belum juga terobati. Hati yang selalu menanti kehadirannya walaupun hanya sebatas mimpi. Tapi apalah

December Rain

Oleh:
Sore itu, ku rasakan sebuah tetes air jatuh di punggung telapak tanganku… “Huhh! Air apaan sih ni?” gerutuku kesal. Lalu aku pun meninggalkan kamar ku, aku berjalan menuju sofa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *