Sayonara Shitakunai No (Ku Tak Ingin Bilang Selamat Tinggal Padamu)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 4 August 2015

Sakura Kinamoto adalah adalah anak berumur 13 tahun yang baik, ramah, sopan dan dermawan. Sakura kerap kali dipanggil “adik” karena ia adalah anak bungsu dari keluarga Kinamoto bersaudara. Saat ini, ia tengah duduk di bangku 2-2 di Tokyo Learn City lebih tepatnya ia hampir kenaikan. Ia bersahabat dengan seorang pemuda yang sekelas dengannya bernama Yukito Sawatari. Mereka bersahabat sudah lama sekali, bahkan sejak masih duduk di bangku 2-2 SD. Persahabatan mereka begitu istimewa. Tak hanya sekedar bersahabat di sekolah, mereka juga bertetangga.

Suatu hari saat sakura tiba di sekolah, ia melihat yukito tidak hadir. “hah? Kenapa ya? Ini kan sudah pukul 07:45. Tapi… kenapa ia belum datang ke sekolah ya?” Tanya sakura di dalam hati. Rupanya yukito hanya terlambat saja. “sawatari-kun… kenapa kamu terlambat?” Tanya sakura. “tidak ada apa apa kok, Kinamoto-san. Cuma kali ini aku terlambat bangun saja.” Jawab yukito. “oh… Aku kira kau tidak akan sekolah…” duga sakura. “oh, tidak… ya sudah… ayo kita ke perpus untuk mengambil buku Ekonomi dan sejarah.” Ajak yukito. “ayo!” jawab sakura. Mereka pun pergi ke perpus untuk mengambil buku Ekonomi dan sejarah.

Sepulang sekolah, seperti biasa, mereka pergi ke taman untuk bercerita tentang pengalaman waktu SD sambil makan es krim vanila. Setelah itu, pulang ke rumah masing masing.

Sesampainya di rumah, sakura langsung pergi ke kamarnya untuk mengganti baju. Saat itu, ibunya yang bernama Yuzurina Kinamoto, memanggilnya untuk makan siang. “adik! Makan siang!” begitulah ibunya memanggil sakura. “iya, bu! Sebentar…” Jawab sakura. “cepat ya, sayang!” kata ibu Yuzurina. Sakura pun selesai lalu segera pergi ke dapur.
“ini… ibu masakan nasi matsutake untuk sekeluarga kita…” kata ibu yuzurina. “wah… nampaknya enak… Aku panggilkan kakak dulu ya!” kata sakura. “ya sudah… sana! Panggilkan kakakmu” tembal ibu yuzurina. sakura lalu menghampiri kamar kakak kakaknya satu persatu lalu kembali ke dapur lalu makan siang sekeluarga.

Ketika malam hari, saat sakura sedang berdiam diri di balkon rumahnya, yukito menyapanya lewat pesan suara. “Hai! Apa yang sedang kamu lakukan?” tertulis di pesan yukito. “amm… tidak.. aku hanya berdiam diri di balkon saja… aku sedikit… kesepian… kalau kau? Apa yang sedang kamu lakukan?” balas sakura di pesan. “hei! Aku juga! Meliriklah ke kanan!” tembal yukito di pesan. Sakura lalu melirik ke kanan. dan benar saja, yukito sedang duduk di bangku yang berada di balkonnya. “hei! Sawatari-kun!” seru sakura. “oh.. hei! Kinamoto-san! Ayo kita gunakan mainan telephone kita dulu saja. Ini, tangkap!” seru yukito. Yukito lalu melemparkan telephone mainan yang mereka berdua buat berkelompok waktu masih di kelas 3-2 SD. “aku jadi ingat waktu kita masih di kelas 3-2 SD. Kita membuat telephone mainan ini berdua… banyak yang bilang “Waktu SD adalah waktunya asmara itu mekar kemudian layu. Kemudian waktu waktu SMP dan SMA adalah waktunya asmara mekar kembali…” Kata sakura ke telephone itu. “iya, kau benar… tapi banyak yang bilang masa SMP itu tidak enak… ah.. tapi menurutku sama saja…” balas yukito ke telephone itu. “tidak… aku juga merasakannya…” tembal sakura ke telephone itu. “oh, ya? Pada siapa?” Tanya yukto ke telephone itu. “ah… itu tidak penting, itu adalah rahasiaku…” Jawab sakura ke telephone. “ah… kau ini… ya sudah, aku sudah dipanggil untuk makan malam…” kata yukito ke telephone. Yukito lalu menarik kembali telephonenya lalu masuk untuk makan malam. Dan sama halnya dengan sakura. Ia pun masuk ke dalam untuk makan malam.

Ketika hendak tidur, ia sempat sempatnya menulis dalam buku diarinya.
“Dear diary
Aku sudah lama bersahabat dengannya… dan jadi teman baiknya selama 8 tahun… dan rasanya aku telah jatuh hati padanya… Tapi aku tak tau… Bagaimana cara aku akan mengungkapkannya? Aku takan bisa ucapkan hal ini padanya… Kapan aku akan mampu mengatakan hal ini? Ah.. aku pikir masih cukup waktu untuk berpikir ulang… tapi aku yakin ia adalah… lelaki yang tepat bagiku…
sakura kinamoto” tulisnya dalam buku hariannya.

Keesokan harinya di sekolah, sakura riang serta gembira sesampainya di sana. Entah apa yang membuatnya senang. Rupanya hari ini adalah hari ulangan Fisika. Fisika adalah pelajaran kesukaan sakura. “YiPy!!! Hari ini ulangan Fisika!!! Pelajaran kesukaanku… aku sangat percaya diri…?” soraknya yang diakhiri dengan senandung. “sakura… kenapa kamu sebegitu girangnya?” Tanya salah seorang temannya, shiina yamamoto. “tidak ada apa apa, shiina-san… hanya saja hari ini ulangan Fisika… Pelajaran favorit ku…” jawab sakura. “jadi hanya itu yang membuatmu girang?” Tanya shiina lagi. “ya… aku pikir…” jawab sakura. Sakura lagi lagi heran kenapa yukito terlambat datang lagi. “bangun terlambat lagi?” Tanya sakura. “iya… tadi malam aku lupa menghafal Fisika… jadi aku tidur pukul 22:00 dan bangun pukul 06:27.” Jawab yukito. “hah… Ya sudah… itu lebih baik dari pada tidak sama sekali…” kata sakura. “terima kasih… itu bisa jadi motivasi dagi diriku sendiri.” Tembal yukito.

Bu Yoshida lalu masuk ke kelas dan memulai pelajaran. “anak anak… buka buku paket pelajaran Fisika dan hafalkan part ke-4 nya yang tentang Pengenal pembahasan pesawat sederhana!” suruh bu yoshida. “ia bu…” jawab murid murid. Lalu semuanya mulai menghafalkan Part ke-4 dari buku itu.

Setelah semua muris menghafal Fisika sampai hampir 1/8 jam, bu guru yoshida pun mengumpulkan semua buku paket dan membagikan soal ulangan Fisika. Karena soal yang diberikan hanya 15 buah, jadi waktu yang diberikan hanya 45 menit.

“haduh… susah susah ya…” keluh semua murid. Tapi, berbeda dengan sakura dan yukito. Mereka tetap mengisi dengan tenang. “amm.. nomor 4… amm… Katrol yang dipakai anina… memiliki satuan… amm… pasti isinya adalah 25 newton. Nomor 5… amm… anina mencoba untuk menghitung satuan gaya, alat yang digunakan anina adalah… Dinamometer…” Kata sakura dalam hati.

Tak terasa sudah 45 menit, lalu bu yoshida pun datang dan semua murid mengumpulkan kertas ulangan. Setelah semua kertas ulangan di nilai, bu Yoshida tidak menyangka, sakura benar benar menghafal sengan baik. Sakura kali ini mendapatkan nilai 100. “wah… ini mengesankan… sakura dapat nilai 100!” seru bu yoshida. “apa?! Aku dapat nilai 100?!” Tanya sakura dengan lagam yang keras. “iya!!! Selamat sakura.. kau benar benar memanfaatkan waktu 1/8 jam ini dengan baik…” kata bu yoshida. “YAY!!! Ini mengesankan…” seru sakura yang begitu senang bukan kepalang. “selamat ya, Kinamoto-san! Aku hanya mendapat nilai 90…” kata yukito. “nilai 90… itu bagus… hampir mendekati sempurna. Jika kau terus berusaha… lama lama, kau juga akan berhasil!” tembal sakura. “hah… sekali lagi.. terima kasih karena telah memberiku sebuah motivasi… lagi…” kata yukito. “tidak apa apa… itulah gunanya sahabat…” tembal sakura.

Karena ini adalah hari Rabu, mereka semua pulang pukul 12:00 siang. Ketika pulang sekolah, kali ini sakura tidak pulang bersama dengan yukito. Ia menaiki sepeda sendirian saja karena yukito harus pergi les sepulang sekolah. “oh.. jadi kau pergi les sekarang? Ya sudah.. aku pulang sendiri juga tidak apa apa…” kata sakura. “iya.. sekali lagi maaf…” tembal yukito. “baiklah… aku pulang duluan, ya!” seru sakura. “iya… hati hati ya!” kata yukito. “pasti.” Tembal sakura. Saat hendak pulang menaiki sepeda, sakura menjatuhkan buku hariannya. Yukito melihat buku itu terjatuh dari tas sekolahnya sakura. “buku apa ya ini? Ah.. aku akan lihat.” Kata yukito. Yukito lalu membuka buku itu.

“Dear diary
Aku sudah lama bersahabat dengannya… dan jadi teman baiknya selama 8 tahun… dan rasanya aku telah jatuh hati padanya… Tapi aku tak tau… Bagaimana cara aku akan mengungkapkannya? Aku takan bisa ucapkan hal ini padanya… Kapan aku akan mampu mengatakan hal ini? Ah.. aku pikir masih cukup waktu untuk berpikir ulang… tapi aku yakin ia adalah… lelaki yang tepat bagiku…
sakura kinamoto.” Tertulis di buku itu. Yukito lalu menghela nafas panjang lalu berkata. “tak ku sangka… kau begitu jatuh hati padaku… tapi, bukankah banyak lelaki di luar sana? Kenapa kau lebih memilihku?” Tanya yukito. Yukito lalu dijemput oleh motor kakaknya.

Sesampainya di rumah, ibunya sudah menyiapkan makan siang untuk sakura dan kakaknya. “adik… kakak… makan siangmu sudah siap…” seru ibu yuzurina. “baik, bu!” jawab sakura dan kakak kakaknya. “nanti ya, bu… aku ganti baju dulu… nanti aku turun…” kata sakura. Sakura pun pergi ke kamarnya. Ia pun mengganti pakaian, menyisir rambut, memakai sandal rumah lalu pergi lagi ke bawah. “wah… makan siang hari ini meshikotsu ya?” Tanya sakura. “iya… ini!” kata ibu yuzurina. Mereka lalu makan bersama sama.

Sepulang dari tempat les, yukito datang ke rumah sakura untuk mampir dan berbicara banyak. “permisi… Kinamoto-san…” seru yukito. Sakura lalu membukakan pintu dengan persaan senang sekaligus malu. “oh… Sawatari-kun… selamat siang! Ayo, silahkan masuk…” salam sakura. “baiklah, terima kasih… sudah lama aku tidak mampir ke sini…” kata yukito. “baiklah kalau begitu, masuklah!” kata sakura. Mereka lalu masuk ke dalam.
“jadi tujuanmu datang ke sini… ada apa ya?” Tanya sakura. “tidak… aku hanya ingin mengembalikan sesuatu…” jawab yukito. “apa itu?” Tanya sakura. Semulanya, yukito menyembunyikan buku harian sakura yang ia temukan tadi. “aku ingin tanya… itu apa?” sakura begitu penasaran. “amm… ini ad-adalah… buku harianmu.. ini terjatuh waktu pulang sekolah tadi…” jawab yukito dengan ragu sambil memberikan buku harian itu pada sakura karena takut sakura akan marah padanya. Tapi sakura sebenarnya hanya mengkerutkan alisnya saja dan diam sebentar. “apa kau marah padaku?” tanya yukito. “apa kau membacanya?” sakura berbalik tanya. Yukito ragu untuk menjawabnya. “ayo jawab!” seru sakura. “ti-tidak..” jawab yukito berbohong. Dalam hati sakura sudah tau bahwa yukito membaca soal buku hariannya itu. “oh… syukurlah… Kau tidak membacanya…” kata sakura. Mereka lalu berbincang bincang tentang banyak hal. Yukito lalu pulang saat pukul 17:58, yukito lalu pulang ke rumahnya.

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, saat sakura tengah bercerita kejadian lucu yang dulu ia pernah alami. “aku sungguh… Pria itu meletakan celana dalamnya di toilet perempuan… bagai mana mungkin aku tak tertawa terbahak bahak bukan? Dan lagi… pria itu tidak menyiram bekas pipisnya itu… bukakah itu sangat memalukan? Tapi akhirnya aku merasa kasihan karena ia harus dihukum pelayanan masyarakat…” cerita sakura sambil tertawa tawa. Yukito juag tertawa terbahak bahak. “hahahaha… itu menjijikan… Aku tidak bisa menahan tawaanku… Hahahahaha… aduh… rasanya aku juga pernah alami hal seperti itu… tapi aku lupa…” kata yukito. “oh… ayo kita pergi ke toko es krim…” ajak sakura.

Saat hendak menyebrang, tiba tiba sebuat mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi secara sembrono sehingga mecelakakan yukito dan sakura. Untungnya sakura hanya mengalami luka ringan saja. Tapi, sakura menyaksikan sendiri bagaimana yukito jadi korban yang paling parah. Kepala yukito mengalami pendarahan dan tulang kakinya patah. Saat itu, kaca mata yukito terlempar, namun hanya retak sebagian saja. “sawatari-kun… TIDAK!!!!” seru sakura sambil menghampiri yukito. “sawatari-kun… Bangunlah… aku mohon… Jangan tinggalkan aku… Bangunlah…” sakura terus memanggil manggil nama yukito. Yukito akhirnya tersadar sejenak. “kinamoto…-san… jaga diri-mu ba-ik ba-ik…” semakin lama yukito semakin sulit untuk berbicara. “sawatari-kun…” panggil sakura. “aku tak bisa… untuk terus menjagamu… aku tak kuasa lagi… jika aku tutup usia saat ini juga… aku harap… kau mau menerima cintaku…” Kata yukito. Sakura meneteskan banyak sekali air mata karena tak kuasa untuk menahan kesedihan. “tidak! Kau tidak boleh berkata seperti itu… Aku tak ingin kehilanganmu… aku tak siap untuk kehilanganmu…” jawab sakura. “tapi tidak bisa, sakura… jagalah dirimu baik baik… selamat tinggal… akan ku tunggu kau di keabadian…” kata kata terakhir yukito. Saat itulah yukito menutup usia dan meninggalkan kehidupannya.

12 hari kemudian setelah kematian yukito… Sakura teringat akan perkataan terakhir yang diucapkan oleh yukito. “aku ingin kau tau… aku benar benar merindukanmu… tapi ku pikir… sudah terlambat untukku mengucap, Betapa aku cinta padamu… aku cinta padamu apa adanya… meskipun kau orang yang sederhana… tapi ku tetap mencintaimu… bukan hanya karena paras wajahmu yang tampan… namun juga karena kau baik… jujur… pengertian… dan begitu bersahabat dengan ku… namun kini aku terlambat untuk mengucapkannya… aku memang bodoh! Kenapa aku tidak ucapkan hal ini sedari dulu?” katanya begitu menyesal.

Nama penulis: Diva adelia. S
umur: 11 thn
TTL: 10 oktober 2003
alamat: kab. Bandung, Kec. Rancaekek , ds. Cangkuang, kp. Babakan jeung jing RT 01 RW 03

Cerpen Sayonara Shitakunai No (Ku Tak Ingin Bilang Selamat Tinggal Padamu) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Tidak Harus Memiliki

Oleh:
Di sebuah sekolah ada seorang laki laki yang kudambakan yang bernama Sean, dan ku merasakan getaran hati bila lewat di depannya. Dan gini ceritanya Ketika di kelas, “karena cinta

Kemanisan yang Tak Tergapai

Oleh:
Senja berganti malam. Reza pun pergi ke rumah Ana sahabat baiknya sedari SMP. Malam ini Reza janji dengan Ana untuk mengajarinya bagaimana cara mengedit film. Saat dalam perjalanan, Reza

Terimakasih

Oleh:
Kisah fiksi dari buku kusam yang berdebu Aldo dan Dini adalah sepasang kekasih yang sangat berbahagia, hubungan mereka dimulai sejak mereka kelas 2 SMA, Dini jatuh cinta kepada Aldo

Kehilangan

Oleh:
Ku ingin kau tahu bahwa aku suka caramu tertawa Ku tahu itu sangat mengobatiku Ku ingin mendekapmu erat dan ku hapus lukamu Karena aku luluh-lantak saat aku kesepian Dan

Gerimis Merah (Part 1)

Oleh:
Langit tampak begitu temaram, sesekali suara bergemuruh menggema sayup-sayup dari balik awan, mengabarkan pada semesta bahwa rintik-rintik air hujan bisa jatuh kapan saja membasahi bumi. Angin hanya berhembus perlahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *