Sebongkah Luka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 23 February 2016

Rasa itu menggelepar, merasuki setiap angan dan mimpinya. Ada pelangi yang terbias di matanya. Warna yang mungkin mampu menciptakan butiran-butiran embun di kala fajar. Hingga di setiap dekapan khayalnya terurai senyum yang indah, senyum yang berasal dari hati yang dilanda asmara. Itulah yang dirasakan Erina saat ini. Setitik cahaya telah menghiasi hidupnya, menyinari ruang sepi dalam hatinya. Hingga di setiap lorong mimpinya, sosok itu selalu datang menemani. Siapa lagi kalau bukan Reynal. Sosok istimewa yang kini telah tertambat di hati Erina.

Bagaikan bunga Edelweis di musim semi, cinta itu mekar seiring dengan kebersamaan mereka berdua. Canda, tawa, saling berbagi dan saling mengisi telah menciptakan satu ikatan kuat yang merangkum ribuan memori yang tak mudah untuk dilupakan. Pagi yang cerah senantiasa mewarnai derap langkah mereka dari detik ke detik. Hingga langkah itu seakan terhenti oleh gerimis pagi yang menciptakan mendung di mata Erina. Cita-cita yang kini telah diraih oleh Reynal membuat hubungan mereka harus terbingkai oleh jarak. Kewajiban yang kini tertanam di pundak memaksa Reynal harus berucap, “Aku harus pergi..”

Mereka pun saling mendekap, melarutkan setiap resah yang terpendam. Hingga di detik berikutnya, perpisahan membungkam mereka. Kini tak ada lagi kata yang terucap lewat bibir mereka dan juga tak ada lagi dekapan keresahan. Namun butiran-butiran kristal yang mengalir di kedua mata mereka cukup memberi tanda bahwa perpisahan itu sungguh tak diinginkan. Semua itu diceritakan Erina kepadaku. Entah alasan apa yang membuat Erina mau mempercayaiku untuk mendengar setiap resahnya. Aku pun tak tahu, namun yang pasti, semua itu sudah terjadi.

Ku ciptakan sebuah danau dalam benakku untuk mengendapkan setiap curahan yang terpancar dari keluh kesah Erina. Tak ada yang disembunyikan Erina padaku. Semua seakan mengalir bagai arus yang deras, hingga aku sendiri pun tak sadar, jiwaku ikut terbawa oleh arus itu. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah penantian. Tapi Erina masih tetap kokoh pada pendiriannya. Pendirian yang selalu meyakinkannya untuk tetap bertahan. Meski sebenarnya sepi itu selalu datang mengusik kesendiriannya. Yah.. Sepi yang kini terbalut oleh rindu yang mencekam karena Reynal tak pernah menghubunginya lagi.

Itu pun diceritakan Erina padaku. Bagaikan seorang anak penggemar dongeng, aku mendengarkan semua kisah Erina. Dari kesendiriannya melawan sepi, perkenalannya dengan Yogi, hingga kegelisahannya untuk memilih. Semua itu tak pernah terlewatkan oleh indra pendengaranku. Kehadiran Yogi dalam hidup Erina membuat hari-hari Erina menjadi cerah. Yogi selalu hadir dalam sepinya. Bahkan di saat Erina membutuhkan sandaran di kala ayahnya meninggal, Yogi dengan segenap perhatiannya datang menemani Erina. Yogi seakan menjadi dewa penghibur di saat duka menjenguk Erina. Hingga kebersamaan itu pun menciptakan warna baru dalam hidup Erina. Warna yang kemudian menyusup masuk ke dalam aliran darahnya dan mengendap menjadi pelangi di hatinya. Namun semua itu membuat Erina kian bingung. Walau bagaimanapun, Reynal masih selalu hadir di benaknya. Reynal telah mengukir namanya di hati Erina, dan begitu indahnya, Erina sendiri pun tak mampu menghapusnya.

Hari ini begitu cerah. Mendung seakan menjauh dari detik-detik yang melelahkan. Di sebuah pelaminan, sepasang sejoli menuai mimpi. Mereka mencoba untuk menapaki hidup baru. Dengan senyum bahagia, Erina duduk di samping seorang lelaki yang kini resmi menjadi suaminya. Lelaki itu adalah Yogi, bukan Reynal. Erina tak mau mengambil resiko dengan menumpahkan air setempayang, demi menanti datangnya hujan yang tak pasti. Hingga ketika Yogi datang melamarnya, Erina dengan hangat menyambut lamaran itu dan menutup rapat-rapat kisahnya dengan Reynal.

Itu semua aku ketahui karena aku pun menjadi saksi dari pernikahan itu. Aku dapat melihat keceriaan yang terpancar dari wajah Erina. Keceriaan yang melebihi indahnya fajar. Keceriaan yang dihadiahkan sang dewi amor kepadanya. Keceriaan yang kemudian menjadi beku dan tergantikan oleh keresahan yang menyayat. Di sudut sepi keramaian, sesosok masa lalu berdiri kaku bersimbah air mata. Sepasang matanya menatap tajam penuh kebencian. Tatapan itu menusuk batinnya dan membongkar paksa gembok kenangan yang telah terkubur jauh di hati Erina. Erina hanya bisa terdiam. Tubuhnya bergetar menahan isak. Perasaan bersalah pun menghakiminya. Namun, kehadiran Reynal dengan sejuta rindu tak mampu menghentikan langkah Erina, karena semua sudah terlambat. Kini aku pun menyadari, danau endapan keresahan yang ada di benakku, kembali teraliri oleh arus keresahan Erina. Entah sampai kapan jiwaku harus terombang-ambing oleh arus itu… Aku pun tak tahu.

Cerpen Karangan: Iwan Konedra
Facebook: I-One De Vart Konedra

Cerpen Sebongkah Luka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pergilah Kasih

Oleh:
Siang ini terasa begitu redup bagiku, meskipun ku tau matahari telah sepenuh hati menyinari dunia ini… Tapi, aku harus rela cahayaku terhalang oleh ribuan pertanyaan di benakku… Mengapa dia

Akhir Penantian

Oleh:
“Kakak…” sapa seorang wanita dengan raut wajah yang bahagia. “Ya ampun.. Sisil, bikin kaget aja deh lo, kalo mau masuk ketok pintu dulu donk” ucap Rachel kepada wanita tersebut.

Menikah

Oleh:
Air mata ini jatuh berlinang, saat aku melihatmu duduk di pelaminan. Kesedihan itu kian membuncah saat, kau diciumnya. Lelakimu itu lalu dia tersenyum menang. Aku pergi terlalu dini tak

Yang Tersisa Dalam Ingatanku

Oleh:
Angin musim gugur berhembus perlahan menerbangkan dedaunan. Menyibakkan rambut hitam legam yang terurai bebas. Maura, gadis yang tengah termenung di sebuah kursi kayu tua. Fokusnya hanya tertuju pada daun-daun

White Blue Love Story

Oleh:
Ku nikmati sepi malam ini, bagaikan di tengah hutan tanpa cahaya yang menerangi. Masih duduk di tempat yang sama, suasana yang sama hanya saja waktu yang membedakan. Kepala ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *