Sebuah Kisah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 2 April 2016

Suatu hari. Ada seorang anak bernama Dion. Dion adalah anak yang suka menyendiri, dia memiliki tubuh yang biasa saja, dan memiliki wajah yang tampan. Dion termasuk anak yang pintar, tetapi dia memiliki fisik yang sedikit lemah dari anak-anak lainnya. Malam harinya, ia berjalan-jalan di taman, dan ia selalu bersedih, karena ia selalu merindukan masa kecilnya, entah kapan dia bisa merasakan kasih sayang dari orangtuanya lagi, dia bukan anak yatim, akan tetapi kedua orangtuanya terlalu sibuk bekerja.

Lalu Dion bertemu dengan wanita yang sedang berjalan dengan ibunya, wanita itu bernama Dina, Dina merasa merasa kasihan terhadap Dion, karena saat itu turun hujan, Dina langsung mendatangi Dion yang sedang kehujanan. Dan Dina bertanya kepada Dion, “kenapa kamu berhujanan di sini?”
“Aku hanya ingin menyembunyikan air mataku dengan air hujan” Jawabnya.
Dina bertanya lagi, “Memangnya kamu kenapa, kok bisa seperti ini?”
“Aku hanya sedih, dan ingin melupakan sejenak kepalaku ini,” jawab Dion.

Karena merasa kasihan Dina langsung memberikan jaket yang dipakainya kepada Dion. Dina menasihati Dion untuk segera pulang, karena hujan sudah sangat deras. Dina memberikan alamat rumahnya kepada Dion, lalu Dion mengikuti nasihat Dina, Dion pulang setelahnya. Pagi hari pun tiba, Dina terkejut, karena pagi pagi Dion sudah ada di rumahnya, dia langsung merapikan rambutnya, karena dia baru saja bangun tidur, Dina dengan sedikit malu menghampiri Dion, yang sudah gagah berdiri di halaman rumahnya.

“Hai, kenapa pagi-pagi udah ke sini?” tanya Dina pada Dion.
“Nggak apa-apa, aku cuma mau ngembaliin jaket kamu,”
“Hai, gak segitu juga kali, kok segitunya kamu?” Jawab Dina.
“Oh, ya udah, aku pulang dulu yah,” sambung Dion.

Esok harinya, Dion mendaftar SMA, setelah mendaftar, Dion masuk di kelas 10-B, kebetulan Dina juga bersekolah di sana. Dan di kelas yang sama, di kelas itu Dion menjadi idola para siswi lain, saat itu guru langsung memberikan tugas, dan Dion yang pertama mengumpulkannya, karena Dion adalah orang yang pintar. Setelah itu sebenarnya Dion sudah boleh pulang. Namun dia menunggu Dina di luar kelas, 10 menit berlalu Dina pun datang dan bertanya.

“Mengapa kamu belum pulang? Kan kamu sudah boleh pulang dari tadi,”
Dia menjawab, “Aku nungguin kamu Dina aku mau ngobrol sama kamu boleh?”
“Boleh memangnya ada apa?” tanya Dina.
“Tidak ada apa-apa aku cuma mau nitip nomor HP aku sama kamu,” jawab Dion.
“Oh iya,” sahut Dina pelan.
“Aku pulang duluan ya,” Sambung Dion, setelah memeriksa hasil tugas itu guru Dion tahu bahwa Dion adalah siswa yang pintar, dan siswa seperti Dion sangat dibutuhkan oleh sekolah tersebut.

Malam harinya Dina menghubungi Dion, karena tidak punya pulsa, Dina hanya mengirim pesan singkat kepada Dion. “message,” HP Dion berdering, dilihatnya ternyata adalah Dina. Setelah itu dia langsung menghubungi Dina, setelah lama mengobrol, Dion merasa mendapatkan apa yang dibutuhkannya bersama Dina. Rasa kasih sayang yang tak diperoleh dari kedua orangtuanya, dan Dina telah berhasil mengukir senyum di wajah Dion, seusai menelepon Dina, Dion tak bisa tidur. Karena terasa sangat bahagia, dan berterima kasih kepada Allah, karena telah mempertemukannya dengan Dina.

“Selamat terlelap Dina. Jangan lupa baca doa ya,” Sambung Dion mengirim pesan singkat kepada Dina, karena Dion tahu. “Apa pun yang kita lakukan kita harus mengingat Allah.”
“Dion orang yang baik religius juga.” pikir Dina, Dina pun tidur dengan senyum kecilnya.
Mulai saat itu, Dion memiliki rasa kepada Dina, keesokan harinya Dion mengajak Dina untuk makan bersama di kantin sekolah. Setelah itu banyak siswi lain yang melirik kepada Dion dan Dina, tiba-tiba ada seorang siswi ke tempat duduk mereka.

“Hai Dion. Aku Sifha,” sosok cewek yang terkenal dengan Gayanya yang sombong itu di sekolah.
“Yah aku Dion,” jawab Dion dengan nada terganggu.
“Kamu kok mau aja sih deket sama cewek miskin ini?” sambung Sifha sambil melirik Dina, merasa terusik dengan suasana itu. Dion menjawab, “Kamu nggak boleh gitu, kasihan Dina kamu telah menyakiti hatinya,” kemudian Dina bergerak pergi dari meja itu, berlari ke arah Taman, setelah itu Dion langsung mengejarnya. “Mengapa dia berkata seperti itu?” tanya Dion.
“Mereka adalah penguasa geng cewek di sekolah ini dan Sifha adalah ketua mereka, anak orang kaya yang selalu menyombongkan Bapaknya,” jawab Dina.
“Kamu nggak apa-apa kan? Jangan pikirkan omongan mereka ya..” sambung Dion.

Tret, tret, tret, tret. Bel sekolah sudah berbunyi, mereka lalu masuk ke dalam kelas, sepulang sekolah Dion berencana mengajak Dina jalan-jalan untuk membeli buku, ternyata Dina tidak bisa pergi karena harus membantu ibunya. Esok harinya, hari Minggu. “Selamat ulang tahun Dion.” pesan singkat Dina masuk ke HP Dion.
“Loh kok dia bisa tahu ya hari ini aku ulang tahun?” tanya Dion dalam hati.
“Iya makasih Dina, tapi kamu kok bisa tahu aku hari ini ulang tahun?” jawab Dion, menjawab pesan Dina itu.
“Aku tahu dari data kamu, aku kan anggota OSIS di sekolah jadi aku tahu.” balas Dina. Malam harinya Dion datang ke rumah Dina, dengan sebungkus martabak dalam kantong plastik di tangannya.”

“Assalamualaikum,” sahut Dion. Di depan pintu rumah Dina.
“Waalaikumsalam,” sahut seorang wanita sambil membuka pintu, itu adalah ibu Dina.
“Eh Ibu saya Dion temannya Dina, Dinany ada?” tanya Dion.
“Oh, iya Dinanya ada tuh di dalam Lagi duduk,” jawab mama Dina, “ayo masuk Nak Dion,” sambungnya.
“Oh iya Dina Ayah kamu mana?” tanya Dion.

Suasana berubah menjadi sangat diam, Dina hanya terpaku menundukkan kepala, ibunya hanya memperhatikan Dina.
“Maaf kenapa diam? Apa aku salah?” tanya Dion lagi.
“Tidak Nak Dion, Ayahnya Dina itu, udah nggak ada sejak Dina berusia 7 tahun,” jawab ibu Dina.
“Maaf ya Dina, Maaf Bu saya mengungkit ini,” sahut Dion dengan nada pelan dengan penuh rasa bersalah.
“Nggak apa-apa.” jawab Dina.

“Dina saja seorang perempuan terlihat begitu tegar, kuat, dan sabar. Meski Dia sudah tidak punya ayah dan selalu dihina di sekolah, malu aku padamu Dina, aku lemah, aku selalu menangis karena ini, sedangkan kedua orangtuaku masih ada.” pikir Dion di hati. Setelah lama mengobrol, Dion meminta izin pulang kepada ibu Dina dan juga Dina. Sepulang dari rumah Dina, Dion membeli obatnya di apotek. Dion menderita kanker otak, yang sekarang sudah stadium 3, hal yang tak seorang pun tahu bahkan kedua orangtuanya.

Di rumah Dina.
“Kamu kenapa Nak, Ibu lihat akhir-akhir ini semenjak kenal Dion kamu lebih ceria?” tanya ibunya kepada Dina, “kamu lagi jatuh cinta ya?” sambungnya.
“Ibu apaan sih, bisa aja. Jadi gini Bu semenjak Dina kenal Dion, ada yang beda rasanya, Dina punya sahabat sekarang, ya Jujur saja ya Bu, Dina juga punya rasa sayang sama Dion,” jawab Dina tersipu malu.
“Anak Ibu sudah tahu jatuh cinta ya, Ibu lihat Dion anak yang baik, sopan dan taat agama. Ya udah sekarang tidur tuh udah malem,” jawab ibu Dina.
“Siap Kapten.” Jawab Dina dengan nada bercanda.

Mulai saat itu, Dion terus berpikir akan sosok Dina yang sangat sabar, tabah dan kuat itu. Dion mulai belajar bahwa mensyukuri apa yang ada itu lebih penting, dan percaya rencana Allah adalah yang terbaik. “Tidak ada manusia yang lemah jika dia senantiasa mendekatkan diri kepada Allah,” pikir dan prinsip Dion. Hari berganti, minggu, bulan. Dan tak terasa hampir satu tahun mereka berada di kelas yang sama, dan dekat di rumah, dengan perasaan yang sama sama dipendam oleh kedua remaja tersebut. Hari itu Dion mengajak Dina jalan-jalan, kali ini Dina bisa pergi dengan Dion. Mereka pergi ke sebuah Danau.

“Din,” seru Dion.
“Iya ada apa?” jawab Dina.
“Aku salut loh sama kamu. Kamu wanita yang kuat, tabah, dan sabar atas semuanya di hidup ini,” kata Dion.
“Ibu selalu mengajarkan aku untuk sabar Dion, Ibu selalu mengingatkan aku kalau keburukan tidak boleh dibalas dengan keburukan juga.” jawab Dina.

Dion semakin kagum kepada Dina, sosok wanita hebat, yang berada di sampingnya saat ini, membuatnya harus berkata jujur, bahwa dia lemah. “Aku iri sama kamu Din, kamu selalu sabar dan kuat, sedangkan aku, masih punya dua orangtua, masih sangat lemah, cengeng. Dan waktu itu, pertama kali kita ketemu, aku lagi sedih, karena kedua orangtuaku tak memperhatikanku,” kata Dion dengan nada sedih, kepala tertunduk ke bawah.
“Kamu nggak boleh seperti itu Dion, mereka sayang kepadamu, mereka mencari uang pasti untukmu. Tidak ada orangtua yang tidak mencintai anaknya.” balas Dina.

Senja pun tiba, mereka pulang, dan sesampainya di rumah Dina. “Din makasih ya, kamu udah support aku, kamu telah mengajarkan banyak hal kepadaku,” kata Dion, dan berlalu pergi. Dina hanya heran, dan berpikir, kenapa Dion pergi begitu saja. Dua minggu telah berlalu, tetapi Dina tak melihat Dion di sekolah, di rumah, dan juga Dion tak bisa dihubungi. Dan akhirnya, Dina mendapat informasi tentang Dion, dia tahu bahwa Dion dirawat di rumah sakit, dan Dina langsung pergi ke rumah sakit itu untuk melihat Dion. Setiba di rumah sakit…

“Kamu kok bisa ke sini Din?” tanya Dion, dengan suara yang tak begitu jelas, menahan rasa sakit.
“Aku tahu dari teman aku. Kamu kenapa nggak ngabarin aku?” tanya Dina.
“Aku nggak mau membuat kamu sedih, dan aku punya penyakit kanker otak. Aku mencintaimu..” jawab Dion.
Dina sontak terdiam dan berkata, “Terus apa masalahnya, kalau aku tahu, aku juga mencintaimu Dion.”
“Makasih ya Din, sekarang aku bisa pergi dengan tenang, tanpa ada tanda tanya lagi, kamu terus semangat ya.” Sambung Dion. Dion pun berlalu, menghembuskan napas terakhirnya di hadapan Dina, Dina hanya terdiam dengan tangisnya, lalu jatuh pingsan di samping Dion.

Cerpen Karangan: Anil Safrianza
Facebook: Anil Safrianza
Makasih buat Nilam Febri Saskia yang sudah selalu setia dan sabar buat support aku. Stay with me sayang. #never say impossible.

Cerpen Sebuah Kisah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Goodbye

Oleh:
Dia adalah mahluk pribumi dari tempat dimana semua asa terkabulkan. Dia merupakan pemenuhan harapan, dari segala keinginan muluk manusia. Aku yakin, dia mengetahui segala semilir angin yang membicarakan kesempurnaannya.

Kenangan

Oleh:
Rara terdiam, ia membisu, melihat ke langit-langit, matanya berkaca-kaca. Ia menoleh kanan dan kiri, melamun sejenak dan merenung di sebuah taman yang sepi. Ia duduk pada ayunan di bawah

Cinta Pertamaku Sepupuku

Oleh:
Malam begitu dingin, dengan hembusan angin yang menyentuh secara perlahan. Tiba-tiba Hp-ku berbunyi, ternyata pesan datang dari Kakak onyonk. Dia adalah sepupuku yang tinggal di seberang pulauku, tepatnya kota

Berujung Maut

Oleh:
Angin semilir berhembus, serasa tulang-tulang kaku merasakannya, menggugurkan dedaunan pohon yang kering. Musim hujan berganti musim panas dan kering karena itu chika harus sesering mungkin untuk menyapu halaman rumahnya

Hujan Kenanganku

Oleh:
23 November 2011 Di bawah hujan yang sama, kamu berdiri di bawah pohon pinus yang tak dapat melindungimu dari titik-titik hujan yang turun dari langit. Di bawah payung biruku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *