Sebut Saja Karena Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 17 July 2016

Gadis jelita berambut lurus yang sedang terbaring lemas di ruang ICU itu Amour Resky, talian kasih pujangga idola remaja, Rahmet Firza. Keduanya telah lama merajut cinta dengan segala kerahasiaan dari kekangan diktat keluarga. Cinta yang berkali-kali terjerembab dalam org*me fana yang melelahkan, tiada usai berperang dengan sengketa pemahaman dan sebuah kata “setia” yang sering disalahartikan. Anggap saja semua karena keadaan, bukan kebohongan atau dusta lisan yang tak bertulang. Hemmm…

“Bagaimana keadaanmu kini?, sayang Coba buka perlahan mata kananmu” Rahmet menegakkan rebah tubuhnya dari bantalan kasur dan membantu matanya terbuka pelan-pelan.
“Aduuh… sakit” teriak Resky berusaha membuka mata

Kembali mencoba dan mencoba, “ahh.. aku tak mau lagi membuka mata ini. Lelah! Sakit rasanya, kepalaku sakit…” miris suaranya mengundang tetesan air mata memecah keresahan Rahmet akan kesehatan Resky yang sama sekali belum terjamah belaian kasih kedua orangtuanya.

“Ohh iya iya… masih sakit ya, sudah merebahlah lagi, waktu sudah larut pula. Hayoo kata dokter harus banyak istirahat kan Istirahat yaa Resky” coba tenangkan suasana dengan sedikit belaian dan bujukan agar menyudahi isak sendu yang diurai Resky untuk kesekian kali.
“Aku tak kan bisa tidur sebelum kau mengantarkanku ke titik ternyaman itu Rahmet..” pinta Resky dengan memegang erat tangan Rahmet tiba-tiba –dengan posisi tetap– merebah dengan mata terkatup.
“Lalu bagaimana dan dengan apa aku harus mengantarkanmu sayang Coba sebutkan dan pasti aku lakukan untukmu seorang” tawa renyah Rahmet sembari mengusap air mata yang kembali mengalir dari belah mata Resky yang masih saja tertutup.
“Kau pujangga yang aku cinta dalam senyap dan ranum senja, meski aku harus menutup mata pun aku masih sangat hafal dengan suara sayupmu itu, aku ingin mendengarkan puisimu lagi, sayang” pinta Resky sembari mengelus pipi kiri Rahmet yang mulai basah sebercak air mata.
“Kalau itu maumu, coba kusibak dulu lampir-lampir lamaku ya… Ingin kau dengar puisi atau musikalisasi terlebih dulu, sayang” sesegera mungkin Rahmet mengusap air matanya dan berujar ditegarkan.
“Mengapa tak kau cari saja puisi tentang kematian atau indahnya sebilah perpisahan” Resky menyahut sesumbar dengan sedikit tinggi nadanya.
“Ohh… baik-baik, maafkan Rahmet. Hehehe… ini puisi Rahmet teruntuk Resky yang termaktub dalam antologi puisi Bidadari Surgaku, buku itu masih kau simpan kan” cobanya memutar keadaan dan kembali meminimalisir sendu Resky yang tak berkesudahan.

Timangan Kasih
Berpenjar seroja kata yang tumbuh indah
Di sudut hati yang gundah
Timangan kasih yang terhalang
selat rindu keharuan
Cobalah mengerti
Apalah arti kata “Cinta” itu
Namun hanya satu yang kupahami
Cinta itu tentang sebuah kebahagiaan
Yang mana tak harus berjumpa
Namun saling menjaga

“Nah, itu puisi yang pas. Itulah mengapa aku selalu memintamu untuk jauh-jauh dariku Rahmet, kau pun sebenarnya paham tetapi mengapa kau masih saja disini, masih saja perdulikan kelemahan ragaku yang tak kunjung usai dan mungkin akan usai beberapa waktu singkat ini. Bagaimana kalau aku pergi dan kau tinggal sendiri bagaimana kelanjutan cintamu dengan orang yang terus saja berbaring tak kunjung berdiri Cobalah sedikit menjauh Rahmet, aku tak ingin kau menyesalinya”
“Ssttt… kau ini bicara apa, sayang… cukup dengarkan puisiku berikutnya dan berbaringlah dengan nyaman” terduduk di samping Resky dan terus saja mengelus keningnya.

Apalah arti cinta
Bukan ku tak mengerti maksudmu
Bukan ku tak mau menuruti kata dan pintamu
Tapi jiwaku dan jiwamu
Mereka tak mampu sedikit saja menjauh
Karena keduanya telah bersatu
Menyatu mengikat tak kan mampu berjarak
Seperti pintamu,
Aku kan mencintamu dalam fana dan kekalmu

Semalam suntuk Rahmet memetakan cintanya yang makin mengerucut pada Resky dalam lembaran lembaran mushaf cinta yang dia bukukan. Resky pun kembali berisak, tiap judul yang dibaca mewakili tiap butir air mata yang kian deras membasahi pipi dan kini telah jatuh menggenang di samping kanan dan kiri bantal hello kitty yang setia temani hari-harinya. Tak lama setelah puisi ketiga disudahi, Rahmet mendapati Resky telah pulas dalam senyap sunyi malam yang berarti Rahmet telah mengantarkannya ke titik kenyamanan yang dia pinta.

Kini tinggal Rahmet sendiri. Tiada henti mengelus kening Resky yang tengah bertualang di dunia mimpi. Tiba-tiba air mata yang lama dia bendung semasa membaca puisi tadi menetes, mengalir dan berpendar berjatuhan. Dia mulai mengingat pertanyaan dan pernyataan miris yang dilayangkan Resky ketika jeda puisi pertamanya dibaca. Rahmet mulai mengurainya satu persatu.
“Bukankah kelemahan memang harus dikuatkan Aku hadir tak hanya untuk raganya kan, lalu mengapa dia selalu menyamaratakan cinta raga dengan cinta sepenuh jiwa yang kumiliki Aku rela jadi siapapun dalam dunia nyatanya asal tetap teristimewa dalam hati Resky seorang, aku pun tak pernah memandang sejauh mana cinta ini akan membawaku, bahkan hingga ke muara terkumuh pun aku kan merengkuh cinta dan mensucikannya. Kalaupun akhirnya tentang kesendirian, bukankah semua insan pun akan berpisah dan tinggal sendiri Hanya masalah waktu dan ketegaran bukan” pemikirannya makin bercabang tak kunjung usai.
Karena memang Rahmet pun telah berulang kali jelaskan, tapi nihil dan Resky selalu merasa dia sendiri dan ingin pergi sesegera mungkin menjemput adik kecilnya di surga. Tentang sebuah pengorbanan, Rahmet pun kini telah menjadi pembantu khusus di rumah Resky, pembantu khusus kedua orangtuanya yang jarang sekali kembali ke rumah untuk menengok keadaan buah hati tunggalnya, Resky.. Tak ada alasan lain Rahmet, kecuali untuk memposisikan diri dan merekatkan jarak dengan Resky meski dengan cara yang nekad, mungkin. Karena bahkan hanya Rahmet yang paham sesakit apa yang dirasa Resky ketika dia mulai mengatakan “Kepalaku sakit”. Hanya kepada Rahmet, Resky berujar dan mengadu akan rasa sakitnya. Karena Resky pun bingung harus mengatakan apa pada kedua orangtuanya yang selalu pulang ketika dia telah terbenam, dan pergi lagi ketika dia belum tersadar. Mereka terlena dengan proyek-proyek besar yang terus menggilas waktu bahagia Resky bersama keduanya. Mirisnya lagi, mereka tak pernah berbicara selain bernada tinggi dan berujar marah akan sebuah tatanan rumah yang tak sesuai kehendaknya, itu karena lelah bekerja, bukan menimang sebuah keutuhan keluarga.

Kembali ke ranjang Resky.
Bermacam problematika yang ada tadi, dipahami Rahmet sebagai sebuah kesalahan yang ada pada sebuah keluarga, hingga akhirnya pun Rahmet memutuskan untuk mengirim pesan singkat pada ayah Resky dan mengatakan semuanya. Tentang apalah arti anak yang tak terjamah kasih sayang orangtua hingga sakit yang telah lama diderita Resky, tertanda namanya. Kemudian Rahmet hentikan elusannya pada Resky dan mengecup sedikit saja bagian keningnya sembari meletakkan sepucuk sajak di atas tubuh lunglai kekasihnya. Kemudian perlahan-lahan melangkah pergi.

Aku mencintaimu, Resky
Sungguh mencinta tiada dua
Meski nantinya harus berpisah dan sendiri, katamu
Tapi andaikan itu sebuah tanya
Aku telah memilih sebuah langkah
Baiklah, kini berpisah dan nanti akan bersama
Kini sendiri dan nanti akan bersinergi
Terimakasih teruntukmu, Kasih.
Jangan lupa obatnya di meja, puisinya juga dibaca

Cerpen Karangan: Zarkasyi Abulhauly
Facebook: Zarkasyi PQ Ufakarsyah
Terlahir apa adanya dengan nama asli Mohammad Fikri Zarkasyi tepat pada 22 Februari ‎tahun 1997. Di kota Santri dilahirkan dan besar mengenyam bangku pendidikan dasar hingga ‎tingkat Aliyah di salah satu Pesantren Jombang, Jawa Timur. Kini meniti study di Universitas ‎Gadjah Mada. Silahkan add akun fb : Zarkasyi PQ Ufakarsyah. Berikut pula nomor hp untuk ‎WA/sms/calling/sekadar transfer pulsa 0856-5576-5817. Beralamat Masjid Jami’ Al-Inayah, ‎jl.Iromejan GK III 785 RT/RW 35/09 Sleman, Yogyakarta. E-mail : ‎mohammad.fikri.z[-at-]mail.ugm.ac.id

Cerpen Sebut Saja Karena Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan

Oleh:
“Na.. na.. nanna..” Aku bersenandung kecil sambil mematut diri di cermin, sambil sesekali mengambil baju yang pas untuk ku kenakan. 3 jam yang lalu. Kring.. Kriiing.. “Ugh siapa ini

Jodoh Tak Kemana

Oleh:
Tak lekang oleh waktu, hari pun berlalu. Tak ku sangka juga tak ku duga, ternyata aku sudah remaja. Umurku sudah 15 tahun. Rasanya baru kemarin ku ditimang-timang, ku dimanja-manja,

Jerit Tak Puas

Oleh:
Empat tahun sudah lamanya waktu. Ku tinggalkan tempat ini. Di belakang halaman kelas 7b. Dimana tempat ku nongkrong sama berandal anak sekolah waktu itu. Banyak cerita tawa bersama teman

Buah Kesabaran

Oleh:
Apa aku kurang sabar yah buat dia? Gumamku dalam hati. “Woe, bengong aja lo!”, sapa Kinar mengejutkanku. Aku tidak menjawab sapaannya. “Kenapa lo, mukanya di tekuk gitu?”, tanyanya memperhatikan

Tak Seharusnya Cinta Menyakiti

Oleh:
“Aku benar-benar menyukaimu.” ucapnya membuatku tersipu malu. “Perasaanmu sendiri gimana?” tanyanya lagi menatap tajam mataku. Aku hanya terdiam seakan tak sanggup berkata apa-apa. Aku juga menyukainya, namun bibirku seakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *