Secarik Kertas Putih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 23 July 2013

5 tahun meninggalkan Indonesia, Randy kembali lagi bersama dengan berita sedih. Kekasihnya Winda berada di rumah sakit terbaring lemah di dinginnya kasur beroda itu. Randy ditemani robby, dengan berat hati menyiapkan buket bunga untuk winda. Mobil robby melaju kencang menuju rumah sakit. Suasana tegang terasa ketika Randy hanya diam.
“dy, gimana kabar lo? Betah di Australia?” robby mengkerutkan kening
“Ya gue betah aja bi, tapi kabar ini buat gue gak enak sama winda”
“maksud lo?”
“gue udah ngelewatin 4 tahun anniversary gue sama dia selama 4 tahun”
“tenang aja dy, winda pasti ngerti..”

Sesampainya di rumah sakit, Robby langsung mengantarnya ke ruangan dimana Winda dirawat. Randy terdiam di depan pintu, dilihatnya nama Winda di papan pasien. Ia memasuki ruangan itu, kembali Randy terdiam. Randy terpaku menatap Winda yang terbaring lemah menutup rapat matanya dengan selang infus di sampingnya. Robby pun turut hening ketika melihat Randy…
“rob! Liat, dia menderita” Randy menengok ke arah robby yang ada di belakangnya
“hem?” terheran “gue kasih lo waktu dy”
robby pun pergi dengan langkah cepat meninggalkan Randy.

Randy tak henti-hentinya menatap Winda, ditariknya kursi untuk menemani winda. Randy memegang tangan winda lembut, ia tidak mampu mengucapkan kata-kata seraya rasa kecewanya itu terus menghujani perasaannya bertubi-tubi. win.. sorry, batinnya. “bangun win! Aku sayang kamu, maafin aku..” suara Randy bergetar. Tampak Robby mengintip di balik pintu, robby menggelengkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian mucul seorang perempuan cantik yang tidak asing lagi baginya, Fanissa.
“ngapain lo disini rob?” menyipitkan matanya
“tuh” Robby memperlihatkan pemandangan Randy yang berada di dalam
“apa-apaan sih dia, bukannya…”
“ssst.. biarin aja”

Fanissa menatap robby kesal dan langsung nyelonong masuk ke dalam ruangan.
“Randy, udahlah” Fanissa memegang lembut pundak Randy.
“lo liat nis, dia menderita, tapi gue gak ada buat dia” Randy tertunduk dalam dan tampak kecewa akan dirinya sendiri.
Fanissa menghembuskan nafasnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Fanissa tampak tegang, setelah itu robby datang membawa buket bunga. Robby masuk ke ruangan itu, robby memperhatikan Randy seksama. Fanissa membalikkan badannya, robby menghampirinya. Ia membisikan sesuatu pada fanissa. Fanissa mengangguk tanda meng-iyakan dan mengerti apa yang dimaksud robby.

“Randy, lo mau kita temenin?”
“ga perlu bi, thanks a lot” Randy tersenyum.
Tanpa basa-basi Fanissa dan robby meninggalkan Randy sendirian. Ia masih setia menunggu, harapan besar ia simpan dalam hatinya baik-baik mengharapkan Winda bisa merasakan kehadirannya sekarang. Randy memandang jauh ke arah jendela rumah sakit yang tertutup rapat..
“randy..” terbata
Winda merespon keadaan Randy, Windapun meneteskan air matanya. Tetesan air mata itu perlahan mengalir, sunyi. Winda membuka matanya perlahan namun, mata cantik itu kembali melemah dan terpejam kembali rapat-rapat. Winda maafin aku, ini hari anniversary kita kan? Batin Randy, tersenyum pahit.

3 hari berlalu, tampak Randy kelelahan. Ia hanya makan makanan yang dibawakan robby. Robby dan fanissa pun mulai khawatir.

“dy” winda tersenyum
“Winda?” Randy tersenyum menggenggam halus jemari Winda.
“relain aku ya…” tersenyum ragu
Wajah pucat Winda tampak menyiratkan kesedihan yang sangat mendalam.
“maksud kamu apa?”
“kamu pasti ngerti kok, aku sayang kamu..”
“aku gangerti win”
“kamu pasti ngerti, kamu lupa ya? Ini hari jadi kita.. aku nunggu 4 tahun buat rayain sama kamu. Sayang banget tahun ke-5 ini kita rayain di rumah sakit” tersenyum.
“aku? Lupa?” Randy tampak kebingungan
“hem… kamu pasti tau kok dan ngerti.. aku titip pesan ke kamu, cari baik-baik”
Tak sempat Randy menjawab, Winda pun memejamkan matanya perlahan. Randy merasa kecewa terus menerus..

Keesokan paginya Randy terbangun, ranjang itu sudah kosong. Pot bunga tertata rapi, jendela kamar itu terbuka, tercium aroma khas rumah sakit. Randy mencari-cari pandangan yang ia saksikan 3 hari lalu. Randy semakin kebingungan dan panik. Tanpa basa-basi Randy menelfon robby.

“Bi! Gue butuh elo! Cepet kesini!”
“iya”
15 menit Randy menunggu, datanglah robby..
“bi! Winda dimana?!”
“Lo baru sadar?”
“maksud lo apaan? Apa maksud lo bi?!”

Robby tak mengucapkan sepatah katapun, robby keluar dari kamar itu dan tanpa diduga fanissa datang. Fanissa datang dengan sikap tenang dan tampak menyembunyikan sesuatu. “dy” fanissa tersenyum. “nis lo tau winda dimana?” Randy tampak panik.
“udahlah dy… kamu harus bisa relain dia”
“apa maksud lo sih, maksud kalian berdua?!” amarah Randy mulai tersulut.
“udahlah dy, udah..” robby menyentuh bahu randy.
“apa-apaan lo? Mana winda?!” Randy melepaskan tangan robby dan menggertak.
“dy!! Winda udah gak ada, udah 1 bulan yang lalu dia ninggalin kita semua, Winda udah pergi..” fanissa menarik tangan Randy. “lo belum rela” fanissa menatap tajam Randy.
“engga! Engga mungkin, nis! Gue sama dia 3 hari ini”.
Robby dan Fanissa saling bertatap. Robby tampak lemas, ia menarik nafas dalam-dalam.
“sebenarnya waktu di mobil, gue itu pengen banget ngomong hal ini sama lo. Tapi gue liat lo terpukul banget sama kabar sakitnya Winda dan gue ga mau bikin lo makin sedih. Waktu sampai disini pun gue heran sama lo, disini udah ga ada siapa-siapa. Tapi lo bilang ke gue kalau dia menderita. Padahal di situ engga ada apa-apa.” Robby mencoba bersikap tenang.

“dan waktu gue datang, gue liat lo diem di sebelah kasur kosong itu. Gue nanya sama robby, gue khawatir sama lo dan langsung ngehibur elo. Gue dikasih tau robby buat pura-pura Winda masih ada disini, gue minta maaf ngelakuin ini sama lo.” fanissa menatap Randy dalam.
Randy pun terdiam, seluruh tubuhnya bergetar. Ia melihat sekelilingnya, kamar itu memang tampak sangat kosong, bersih dan tak ada tanda-tanda orang baru menempatinya. “gue sengaja ngajak lo kesini, karena suster bilang kamar ini dipakai sebulan seminggu buat ngenang almarhum” robby menimbrung. Tampak sepotong kertas putih di bawah bantal, Randy membuka bantal itu. Di balik bantai itu terlihat secarik kertas putih bersih yang masih tersimpan rapih dan tampak diabaikan…

“Seandainya kamu ada disini dy, kuharap kamu mengerti.. ku harap kamu bisa kembali. Aku sayang kamu selalu, mungkin kamu bertemu aku. Tapi mungkin tempatnya tidak disini, di tempat yang lebih indah lagi.. maafku meninggalkanmu.. atau kau terlalu sibuk dengan urusanmu itu… aku tetap menyayangimu, sampai akhir waktu..”

Cerpen Karangan: Mayang Putri B
Facebook: facebook.com/mayangputribestari
Namaku Mayang Putri Bestari
Aku Dari Bandung
Bisa follow twitter aku @mayangmaay
Terimakasih telah membaca 🙂
winda

Cerpen Secarik Kertas Putih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Teh Hangat (Part 2)

Oleh:
Hari ini aku sengaja melapangkan semua daftar panjang pekerjaanku yang sangat padat ini demi, Dia! Oh ayo lah email singkat itu benar-benar membuatku terjaga semalam penuh. 5 menit aku

Bukan Untukku (Part 1)

Oleh:
Seperti kebiasaanku setiap minggu. Aku selalu meluangkan waktuku di sini. Aku duduk dengan membawa serangkaian bunga untuk kekasihku. Kubelai nisannya, bahkan sering kukecup nisannya di sini. Aku sangat menyayanginya.

Ada Cinta di Ujung Usia

Oleh:
Latief Hendrayana, seorang akuntan yang bekerja di sebuah perusahaan keuangan ternama di Jakarta, Money Finance yang di vonis mengidap kanker otak oleh dokter, memiliki tujuan hidup. Menjadi orang yang

Salahkah Aku Mencintaimu

Oleh:
“Gooool…” sorak sorai penonton sambil berloncat-loncatan mengganggu aku yang mendapat posisi duduk di belakang. di tengah kegondokanku tia-tiba di depanku lewat sekelompok cowok yang terlihat keren, awalnya ku abaikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *