Secercah Harapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 25 December 2013

Aku terpaku menatap seutas tali yang menjalar di atas kedai beratapkan daun Kelapa itu. Air hujan yang datang menyerbu dataran tanah kuning ini tak kunjung henti. Entah sudah berapa kali jam itu berputar. Berharap akar tanaman dapat menyerap air dengan cepat. Duduk termenung seperti orang melamun inilah yang bisa aku lakukan saat ini.

Sebuah mobil berhenti tepat di depan ku. sosok laki-laki dengan paras yang aku kenal keluar dari mobil itu. Senyumku mulai mengembang. Akhirnya ku terselamatkan juga dari hujan ini. Bergegas ku masuk ke dalam mobil itu.
“lama ya menunggu tadi?” ucapnya
“lumayan” jawabku.

Sesebal apapun ku menunggunnya tadi, namun aku tidak bisa marah kepadanya. Entah mengapa?. Tiba-tiba hanphonenya yang ia letakkan di atas dashboard berbunyi. Sekilas ku lihat nama yang muncul dari hp itu. mood ku tiba-tiba hilang. Rasa cemburu merasuk hatikku. Ia segera mengambil handponenya.
“hallo” ucapnya
“kamu dimana?” Tanya cewek itu
“di jalan” jawabnya
“cepat kesini ada yang ingin ku perlihatkan” ucap cewek itu
“nanti aku kesana” ucapnya
Ia menutup hpnya. Kembali ia mengemudi. “Tak sadarkah dia?” ucapku dalam hati.

Mobil itu berhenti tepat di depan rumahku. Seperti angin berlalu, aku kembali tersenyum padanya. Lalu membuka pintu mobil. Setelah ku keluar, ia langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi.
“huh… kapan dia bisa mengerti aku?” ucapku sambil menghela nafas.

Ku bergegas masuk ke rumah. Menuju dapur. mencari bahan-bahan yang bisa ku masak di hari yang begitu panas ini, seperti apa yang ku rasakan saat ini.

kringgg… handphoneku berbunyi. Segera ku mengambilnya. Di layar muncul nama itu “alex”. Tanpa ku sadari. Senyumku mulai mengembang. Segera ku angkat telponnya.
“hallo” ucapku semangat
“key, hari ini ku nggak bisa antar jemput kamu, maaf ya” ucapnya pelan
Senyum ku mulai memudar. Tidak bisa berkata apa-apa selain kata “ya udah nggak apa-apa”

“kemana sih dia?” Ucapku dalam hati. Kembali ku raih handphone ku. dan menghubungi seseorang.
“hallo” ucapku
“ada apa key?” Tanya nya
“bisakah kita ketemuan di luar?” tanyaku
“tentu” jawabnya

Aku berjalan menelusuri taman kota. Ketika ku melihat sosok yang ku cari. Segera ku menghamipirinya.
“fhani?”
“hey, ada apa mengajak ku kesini?”
“seperti baru kenal saja. Dia berulah lagi.”
“alex.”
“kapan dia bisa menyadari semuanya”
“apakah kamu sudah menegurnya?”
“kayak kamu tidak tau aku saja”
“tapi sebaiknya kamu mencoba dulu”
“sudah, namun ku tak sanggup”
“ya sudah, aku punya beberapa cara”

Fhani menjelaskan semua rencananya padaku. Mau tak mau aku harus mencoba rencana itu. aku ingin tau apa penyebab semua ini. ku coba cara pertama, menghubunginya. Namun tidak ada jawaban dari sana. Kembali ku menghubunginya. Tetap tidak ada jawaban. ”kemana sih dia?” ucapku gerutu. Mungkin dia sedang sibuk.

Keesokan harinya, ku menuggu telepon darinya. Namun tak ada tanda-tanda handphone ku berdering. Akhirnya ku putuskan untuk mencoba cara kedua, pergi ke rumahnya. Dengan penuh pengorbanan. Ku ayunkan langkahku menuju rumahnya. Panas terik tak ku hiraukan lagi. yang ada di pikiran ku saat ini hanyalah dia. Keringat mulai mengucur keluar. Muka ku sepertinya sudah berubah menjadi udang rebus. Langkahku mulai berat. Kaki ku mulai letih. Kira-kira sudah 2 km ku berjalan di tengah panas terik seperti ini. Ku melihat ada sebuah pohon besar di ujung jalan. Sejenak ku berhenti di batang pohon itu. “huh…” menghela nafas. Setelah 10 menit istirahat. Ku mulai berdiri dan meneruskan perjalanan. Pikiranku fokus kepadanya. “sebentar lagi sampai” ucapku semangat.

Sesampainya di rumah alex. Ku langsung memencet bel pintu rumahnya. Pintunya terbuka. Seorang wanita muncul dari balik pintu.
“mbok inah, ada alex gak di rumah?” Tanyaku ramah.
“tidak ada, tuan pergi dari tadi pagi.” jawabnnya
“kemana mbok?” tanyaku penasaran
“kurang tau juga, neng” jawabnya
“owh iya lah, makasih mbok.” Ucapku
“Perjuangan ku sia-sia“ ucapku dalam hati.

Ku bergegas pergi. tak tau lagi harus bagaimana. Ku ingat, masih ada cara ke 3 atau cara terakhir yaitu bertanya kepada teman dekatnya. Ku coba mengingat-ingat siapa teman dekat alex yang aku kenal. Sambil berjalan otakku terus berfikir. Itu dia akhirnya ku menemukannya. Ku raih handphone ku. Ku cari namanya di phonebook ku. ternyata ada. Ku coba hubunginya. Tersambung.
“hallo” ucapnya
“bojes, kamu dimana?” tanyaku langsung
“di rumah, ada apa?” ucapnya
“ada alex nggak disana?” penasaran
“tidak ada, ada apa?” tak kalah penasaran
“nggak apa-apa” ucapku sinngkat

Setelah cara ke 3 ku coba, ternyata gagal. Entah di mana dia. Sudah ku putuskan untuk tidak mencarinya lagi. aku pasrah total. Tak ingin berfikir lagi akhirnya ku pulang.

Setelah kejadian kemarin ku tak berniat lagi mencarinya. Ku ceritakan semua kejadian kemarin dengan fhani, sahabatku. Dia mengajakku refreshing pergi ke pantai. Aku setuju dengan ajakannya.

Kami berjalan menyusuri bibir pantai sambil menikmati pemandangan laut sore hari. Dia memberikan banyak nasihat. Inilah yang ku suka darinya. Dia selalu memberiku inspirasi untuk ke depan. Kami asyik berbincang-bincang.

Hari sudah sore, kami pun segera pulang. kami berpisah di pintu gerbang menuju pantai. Ku berjalan ke halte. Menunggu angkutan umum lewat. Sambil menunggu ku mencoba sms alex.
“aduh, kalungku mana?” ucapku sembari memegang leher.
“masa jatuh di pantai?” pikirku.

Akhirnya ku putuskan kembali ke pantai. Berjalan di pinggir pantai sambil menatap ke bawah.
“aduh, di mana sih?” ucapku sambil terus berjalan.
Tatapan ku terpaku ke ujung pantai. ku lihat sosok yang sangat ku kenal di sana. Ku mencoba mendekat. Sosok itu semakin jelas.
“alex” ucapku dalam hati
“sama siapa dia?” pikirku
Ku mencoba melihat lebih dekat.
“Gladis?” ucapku
Tiba-tiba tubuhku menjadi lemas, pupus sudah harapanku. ternyata ia memiliki perempuan lain selain aku. hatiku begitu remuk. Aku berdiri mematung. Tak mampu bergerak. Pandangan ku tak lepas dari sosok dua orang itu. mereka sedang asik berbincang-bincang di sana. Tak sadar ku memencet tombol “call” ke nomor handphone alex. Ku lihat alex meronggoh kantong celananya. Tanpa ia angkat ia masukkan kembali hpnya. Air mataku mulai menetes. Dengan segenap tenaga yang tersisa ku berjalan ke arah mereka.
“teganya kamu!!!” teriakku
Sontak mereka kaget melihat kedatanganku sambil berteriak.
“key?” ucap gladis
“ini tak…” ucapannya terputus Ketika tanpa sadar ku menampar pipinya. Plakkk…

Aku segera berlari sekencang mungkin. Air mataku tak mampu ku bendung lagi. Aku terjatuh di tepi pantai. tangisan ku pecah. Ku berteriak sekencang mungkin di tepi pantai.
Inilah akhir dari segala perjuanganku. Sirna sudah secercah harapan yang ku miliki.

TAMAT

Cerpen Karangan: Kethy Inriani
Facebook: KetHyy D’Princess Lion
Sekolah : SMAN 1 MUNTOK

Cerpen Secercah Harapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Symphony Aurora

Oleh:
Di ruang itu – dengan pencahayaan yang mendekati minim dan satu fenomena alam terlukis di langit-langit yang dipancarkan sebuah proyektor – mirip seperti malam musim panas di San Jose..

Permata Impian

Oleh:
Lega rasanya, semua perlengkapan untuk acara resepsi pernikahanku dengan raisa telah disiapkan. Tinggal menunggu hari H nya yang kurang beberapa minggu lagi. Tak bisa kubayangkan betapa cantiknya raisa memakai

Cinta Di Atas Bencana

Oleh:
06 Desember 2016 17.00 Padang, Sumatera Barat, Indonesia Hana duduk di atas kursi kayu. Kursi itu sudah lama dibuat oleh Abi Hana di halaman rumah. Tanaman pohon kertas yang

Lupa

Oleh:
Aku masih berdiri di bawah senja yang sama. Di bawah jingga yang sama. Juga di bawah temaram yang sama. Saat lembayung senja mulai mengirimkan pasukan merah saganya, mengusir sore

Kembali dan Hilang

Oleh:
Hampir seminggu sudah aku berada di pedesaan yang asri ini. Desa yang sudah sepuluh tahun kutinggalkan demi mengejar impian di kota seberang itu, rupanya sudah berubah banyak termasuk sungai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *