Segenggam Cinta Serta Luka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 10 January 2014

Terlihat langit hitam di atas kepalaku. Sempat angin mencoba menggoyahkan aku dengan kedinginannya. Merapuhkan aku di setiap hembusannya. Namun tubuhku mencoba untuk selalu tegar berdiri. Menatap langit, mengharapkan satu bintang memancarkan cahayanya, untuk mengisi kekosongan jiwaku. Memberi satu pengertian padanya, bahwa aku masih di sini, menantinya sampai sisa nafas berhembus. Tak peduli kapan ia akan datang menemuiku, aku akan setia menunggunya di penghujung waktuku.

Terdengar suara angin menggoyangkan daun-daun. Menari indah, mentertawakan atas kebodohanku. Mencintai seorang lelaki, yang belum tentu juga mencintaiku. Kupalingkan wajahku kembali menatap langit gelap tak bercahaya. Dalam hati, aku berharap langit itu akan dipenuhi cahaya-cahaya pendar yang menerangi malam. Melukiskan bagaimana ketulusan cinta yang kumiliki.

Aku masih terus berdiri di tempatku berpijak. Tak sedikit pun merasa lelah. Atau memutuskan satu harapan yang tersisa di hidupku. Aku sadar, mencintainya bisa membuatku terluka. Tapi aku percaya, bahwa cinta yang kumiliki bisa membuatku bahagia. Walaupun tak pernah bisa kumiliki raganya. Namun aku bisa memiliki bayangannya untuk bisa kucintai.

Masih kuingat betul saat pertama kali aku bertemu dengannya. Pertemuan itu tak akan bisa terhapus dari otakku, walaupun waktu telah memakan usiaku sekalipun. Walau hanya satu pertemuan, namun bisa mengubah jalan hidupku. Mengenalnya, berarti mengenalkanku pada cinta. Menyapanya, berarti cinta telah menyapaku. Menyimpan wajahnya dalam hatiku, berarti membawa cinta ke dalam hidupku.

Tubuhku bergetar, ketika sehelai daun kering jatuh menerpa punggung tanganku. Kuraih daun kering itu dengan perasaan lembut. Kutatap laksana seorang kekasih, yang menatap kertas surat cinta dari kekasihnya. Kubaca setiap lekukan tulang daun, sebagaimana huruf-huruf cinta terlihat di bola mataku. Secercah kehangatan menyelusup di balik hatiku, menyunggingkan senyum di sudut bibirku yang merah.

Tanpa kusadari, kristal-kristal bening pun menampakkan dirinya. Berlari kencang melewati sudut mataku, membasahi pipi putihku dengan kecepatan tinggi. Setetes air mata membasahi daun kering di genggaman tanganku. Mengubah setiap kata cinta menjadi kata-kata puitis yang baru. Seolah berbicara denganku. Mengabarkan keadaan kekasihku. Tapi bibirku tak bisa berucap. Hanya suara hati yang terdengar menjerit, membuana ke angkasa.

Lama aku menatap daun kering itu, dan tangisku semakin pecah berubah menjadi isakan yang memilukan. Ketika sebuah angin berbisik padaku. Menyuruhku untuk melupakannya. Karena kekasihku telah menghianatiku, dengan mengambil cinta yang bukan milikku. Dengan tangan gemetar, kujatuhkan daun kering itu hingga terhempas tak berdaya di atas tanah. Aku menatapnya miris. Penuh rasa sesak dan sakit menyelimuti hatiku. Bertanya, benarkah kabar itu? Atau hanya ingin menggoyahkan ketegaranku saja? Tapi sebelum sempat aku berpaling, sebuah suara telah menjawabnya.

Terdengar suara derap langkah mendekat di belakangku. Suara langkah itu semakin mendekat.

“Mya.” Suara lembut nan renyah berbisik di belakang telingaku.

Kupalingkan wajahku menatap sosok bersuara itu. Setetes air hangat bergulir di pipiku, bahkan semakin deras mengiringi langkahnya. Aku terpaku menatap tangannya menggandeng hangat tangan lain, yang bukan tanganku. Wajahku membisu tanpa kecuali air mata yang masih deras mengalir.

Hatiku menatap sendu pada wajah yang selama ini kunantikan kehadirannya. Lidahku kelu untuk bisa menyapanya. Bahkan, bola mataku semakin redup untuk bisa menatapnya. Dan tanganku semakin lemah untuk bisa melambai ke arahnya.

“Aku tak bisa memberimu sesuatu. Kecuali setangkai mawar putih ini.”

Tangannya terulur ke arahku. Memperlihatkan satu tangkai mawar putih dengan kelopak yang masih segar. Mawar putih, bunga kesukaanku. Aku suka bunga itu, karena melambangkan kasih sayang yang penuh dengan ketulusan. Dan tak ada bunga lain yang secantik bunga itu.

Tapi detik ini, aku malah membencinya. Membenci bunga kesayanganku. Karena bunga itu, telah membawa luka pada hatiku. Memperlihatkan lelaki yang kucintai, menggandeng mesra seorang wanita yang tak lain sahabatku. Sepasang cincin melingkar di jari manis mereka. Mengatakan bahwa mereka telah menikah. Satu perasaan benci dan marah menyeruak di dadaku. Memperlihatkan amarahku di mataku.

Dengan kasar kubuang mawar putih itu, hingga terjatuh ke tanah. Juna dan Mayang menatap heran padaku. Kemudian mereka mengerti, mengapa aku berbuat begitu. Marah. Yeah, aku marah bahkan sangat marah. Tak kukira sebuah kepercayaan yang kumiliki, telah mereka rusak dengan sebuah penghianatan.

Cinta yang kumiliki untuk Juna, merelakan lelaki itu untuk berbagi kasih dengan Mayang, sahabatku. Tapi kukira, itu hanya sebuah perasaan kasih yang hanya dimiliki oleh seorang sahabat. Sampai Mayang memintaku untuk membiarkan Juna menemaninya ke Jakarta, menemui keluarganya. Tak kusangka, semua ini telah mereka rencanakan. Mereka pergi ke Jakarta untuk mendapat restu dari orangtua Mayang dan menikah, karena Mayang telah hamil dengan Juna.

Satu perasaan kecewa dan sakit terlanjur menghuni hatiku. Tak bisa lagi aku melihat mereka. Apalagi dengan perut Mayang yang membuncit. Mungkin aku akan gila, bila terlalu lama melihat mereka berdua. Aku pun membalikkan badanku hingga membelakangi mereka. Aku berlari dan terus berlari menelusuri jalan yang ada. Tak peduli seberapa jauh aku berlari, tak ingin sekalipun aku menoleh ke belakang. Menatap duri yang terus menusukku, hingga mengalir darah segar di sekujur tubuhku. Tak peduli seberapa banyak peluh keringat membasahi kulit hingga bajuku. Tak peduli seberapa lelahnya aku. Aku terus berlari dan berlari, mencoba menjauh dari dua sosok penghianat itu. Berharap satu bintang akan berlari menyongsongku, membawaku terbang ke langitnya. Membiarkan aku menempati rumahnya, atau sekedar menghapus duka lara yang terlanjur tertoreh di dadaku.

The end

25 Januari 2013

Cerpen Karangan: Mia
Facebook: www.facebook.com/der.laven3

Cerpen Segenggam Cinta Serta Luka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Terakhir Mu

Oleh:
Perjumpaan pertamaku mengawali senja dengan guratan permata jingga, terdiam di atas hamparan bebatuan dengan dihiasi gemericik air yang berjatuhan. Ilyas namaku, seorang musafir muda dari tanah jawa. Mencoba mencari

Senja Terakhir Sofia

Oleh:
Mataku terus menatapmu dari kejauhan. Mengagumi elok parasmu yang tidak pernah bisa tersaingi oleh laki-laki lainnya. Kamu tersenyum di seberang jalan kepada seorang gadis yang juga tidak kalah elok

Lupakan

Oleh:
Masa yang indah nan manis, Bayangan mulai hilang dihempas angin. Mungkin hanya diriku yang merasa tak rela akan hilangnya bayangan kenangan itu, jauh dengan dirimu yang hanya sekejap dapat

Kakak, Aku dan Dia

Oleh:
2 tahun lalu aku duduk di kelas 7 smp. di sekolah itu aku mempunyai kakak kelas yang bernama kak rahma, kak rahma sudah aku anggap seperti kakak kandungku sendiri.

Aku Sudah Cukup Lama Mengenalnya

Oleh:
Aku sudah cukup lama mengenalnya. Mungkin sekitar 1 tahun atau lebih. Aku bertemu dengannya secara tak terduga. Waktu itu, aku bergegas menuju kelas terakhir di hari rabu. Aku melihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *