Seindah Melati Sungguhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 8 March 2016

Semua orang pasti mengenal yang namanya cinta, namun mereka tak tahu arti dari cinta, karena cinta hanya dapat dirasakan oleh hati dan tak dapat diibaratkan oleh apa pun. Sebagai manusia normal, tentu aku mempunyai perasaan itu, perasaan yang ku berikan pada sahabat tersayangku, Melati. Sangat tak bisa ku bayangkan jika satu hari tanpa melihat senyuman cerah nan seindah Melati sungguhan, mungkin hariku akan mendung, karena cahayanya tak bersinar.

Namun, ku rasa itu tak akan terjadi, karena Melati selalu menyinari hariku dengan senyuman indahnya. Kadang aku berpikir untuk merubah status persahabatan kita menjadi status kekasih hati, namun aku sadar, seorang sahabat selamanya akan menjadi sahabat, walaupun mereka terikat dalam satu hati menjadi kekasih, itu tetap bernama sahabat, sahabat untuk sehidup dan semati bersama. Aku berharap itu terjadi pada persahabatan kami. Saat ini aku sedang berjalan mencari seseorang, siapa lagi jika bukan sahabatku Melati. Seseorang yang selalu aku cari setiap detikan waktu yang berganti. Ku lihat dia sedang duduk di bangku yang jaraknya berdekatan dengan air mancur. Aku berjalan menghampirinya.

“Melati..” panggilku padanya. Dia menoleh ke arahku.
“Hai, baru dateng ya?” dapat ku lihat dengan jelas senyumannya yang amat indah seindah Melati sungguhan.
“Nggak, udah dari tadi, tapi aku nyari kamunya ribet,” aku membalas senyuman manisnya.
“Duduk deh, aku mau nunjukkin sesuatu sama kamu,” aku duduk di sampingnya. Ku lihat dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
“Kamu lihat ya,” dia memberikan sebuah buku padaku.

“Buku apaan ini Mel?” aku memandangi detail-detail buku yang ku pegang.
“Kamu buka aja deh,” aku membuka buku di tanganku. Ku lihat sebuah lukisan tiruan fotoku bersama Melati.
“Bagus banget, kamu yang gambar ya,” pujiku dengan tulus.
“Ya, udah lama aku ngelukis foto bareng kita di buku itu, dan di situ udah ada banyak banget lukisan foto kita.”
Aku menatap Melati, sebuah senyum terukir indah seindah Melati sungguhan di wajahnya.

“Aku mau kamu simpen buku itu buat aku,” aku tersenyum, lalu aku menyingkirkan rambut depan yang tertiup angin menutupi wajahnya. “Apa pun yang kamu kasih buatku, aku akan terus menjaganya dengan baik,” aku tersenyum manis kepadanya dan dibalas manis pula olehnya.
“Aku rasa udah waktunya kamu tahu tentang rahasiaku,” aku tersontak kaget.
“Rahasia apa?” ku lihat darah meleleh dari hidung peseknya.
“Mel.. Darah,” aku segera mengambil tissue dari dalam tas kecil Melati. Dan menghapus darah di bawah hidungnya.
“Kamu harus janji akan menerima apa pun kenyataan yang akan terjadi,” aku menghentikan gerakan tanganku.

“Maksud kamu?” aku berusaha memahami kata-katanya.
“Aku divonis menderita leukimia, dan udah sampai stadium akhir,” aku terlonjak kaget.
“Apa, kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku,” aku berdiri dari dudukku. Begitu juga dengan Melati.
“Aku nggak mau buat kamu sedih, jadi aku harap kamu bisa menerima segala kenyataan, termasuk saat aku pergi nanti,” Aku menghela napas, lalu menyentuhkan tanganku ke pipi imutnya.
“Aku yakin kamu pasti bisa ngelawan sakit itu, Melatiku itu kuat, Melatiku nggak mudah putus asa, aku akan nemenin kamu buat ngelawan sakit itu, tapi kamu harus janji akan berjuang demi aku dan semua yang sayang sama kamu.” aku mengeluskam tanganku di rambut halusnya. Dia tersenyum manis padaku.

“Aku cuma bisa berjuang, yang tahu usiaku hanyalah sang pencipta, ketika dia telah berkehendak, semua makhluk tak bisa menghindarinya. Dan suatu saat maut akan datang menjemputku, entah kapan itu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya aku membuat orang-orang yang ku sayang tersenyum bahagia,” ku lihat dengan jelas senyumnya yang indah seindah Melati sungguhan. Itulah yang ku kagumi darinya, meskipun keadaannya sedang sulit, dia tetap tersenyum seolah dialah insan terbahagia sedunia. Malam ini aku dan Melati melihat pemandangan kota lewat atap gedung pencakar langit. Kota terlihat lebih indah dari atap gedung ini.

“Kamu tahu nggak, kalau sekarang ini hatiku sedang menunggu,” ucapku padanya. Dia menoleh ke arahku.
“Ciee, sahabatku ini lagi jatuh cinta ya?” ku lihat senyumnya yang sangat indah, bahkan lebih indah dari biasanya dan melebihi keindahan Melati sungguhan.
“Ya, dia itu cantik, baik, manis dan tegar banget, dia itu segalanya buatku, dia permata di hatiku, kalau dibandingin sama bunga Melati asli, bunga itu pasti akan kalah jauh dari dia, kira-kira kamu tahu nggak dia siapa?” ucapku padanya. Berharap dia akan merasakannya. Ku lihat dia sedang berpikir.

“Kamu Mel..” ku lihat dia menoleh ke arahku. Aku menggenggam tangan lembutnya.
“Aku mau kamu jawab jujur, apa kamu merasakan itu?” aku menatap kedua bola mata indahnya.
“Jujur, aku juga merasakan itu, tapi aku tak yakin kita bisa lanjut, kamu tahu kan penyakit ini terus menghantuiku, aku nggak yakin kalau hidupku masih berlanjut lama, jadi aku mohon sama kamu, apa pun yang terjadi kamu harus terima itu dengan senyuman.” ku lihat dia masih tetap tersenyum manis.

“Kamu..”
“Janji..” dia mengacungkan kelingkingnya tanpa menunggu aku meneruskan ucapanku. Aku membalas acungan kelingkingnya dan tersenyum. “Janji..” ucap kami berdua bersamaan. Lalu aku menariknya ke dalam pelukanku, ku rasakan kenyamanan hati di dalam pelukannya. Dia menguatkan pelukanku, entah kenapa ku rasakan pelukan itu sangatlah nyaman di hatiku. Semakin lama, ku rasakan pelukan itu semakin mengendur, aku melepas pelukan itu. Ku lihat hidung Melati mengeluarkan darah. “Mel, kamu sakit lagi.” ku lihat wajahnya sangat pucat. Dan..

Suara tangis memenuhi lorong ruang ICU, semua yang ada di situ bersedih ketika mendengar kabar dari dokter bahwa Melati telah pergi. Semuanya menangisi kepergiannya, begitu juga teman-teman Melati yang juga ada di sana. Aku hanya bisa menahan kesedihanku, sekarang aku tahu kenapa dia sering membuatku bahagia, itu karena dia ingin membahagiakan semua orang di masa terakhir hidupnya. Sesuai janjiku padanya, aku harus bisa menerima kepergiannya dengan ikhlas. Sejak itu aku berjanji akan terus mengingatnya dalam memori hidupku yang terindah. Dan dia tetap yang terindah dari Melati sungguhan.

Tamat

Cerpen Karangan: Siti Mudrikah
Facebook: Dex BunGsu
Instagram: @rika_tasyaqhiela
Twitter: @rika_villena
ID LINE: dexbungsu
Aku bukanlah seseorang yang istimewa, aku hanyalah manusia yang mencari jalam yang benar. Seperti kata mutiara “kita memang mudah berada di jalan yang salah, tapi ketika kita berada di jalan yang salah, Tuhan pasti akan menuntun kita ke jalan yang benar”. Bagiku, hidup itu harus mempunyai prinsip, prinsipku adalah terus belajar untuk meraih sukses, menyesuaikan diri terhadap sesuatu yang baru dan baik untuk dijalani, dan berani mencoba dengan tekad yang kuat tanpa putus asa. Dari keadaanlah aku belajar, belajar untuk menerima kenyataan yang ada dengan hati yang ikhlas. Siti Mudrikah. Lahir di Demak, 12 September 2002. Hobi: DanceOn, Menulis, Basket ball, Voley ball, Menyanyi, dan Bermain Alat Musik (Keyboard, Gitar, Drum, Angklung). Cita-Cita Drumer Profesional. Alamat Rumah, Gajah, Demak, Jawa Tengah. Status Pelajar. Sekolah di SMPN 3 Gajah. Matur Suwun (Terima kasih).

Cerpen Seindah Melati Sungguhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Complicated

Oleh:
“hei tenang, kalau boleh aku bicara, ya… Kamu memang harus berubah ndra, kamu itu terlalu posesif, cerewet, dan curigaan. Ku rasa Roni memang sudah tidak cocok sama kamu.” ujar

Desember

Oleh:
“Aku punya suatu pertanyaan untuk kamu.” “Apa?” “Menurut kamu, hidup itu apa?” “Hidup yah, hidup itu, hidup itu sebuah keajaiban, karena aku bisa ketemu sama kamu. Kalau menurut kamu

Berbalas (Part 2)

Oleh:
Hari sudah sore, ini adalah waktu pertemuan itu. Haris segera menghubungi Sintya dan menanyakan apakah dia mau diantar ke sekolah atau mau sendiri. Melalui facebook Haris memberi pesan pada

Diary Rey

Oleh:
Namaku Ramlan Dion, orang-orang biasa manggilku Dion. Dulu sempat ada orang yang sangat aku sayang yaitu Reanata Virginia, akrab dipanggil Rey. Rasa sayang ku padanya melebihi apapun untuknya. Rey

Senja Yang Abadi

Oleh:
Malam ini sungguh sunyi.. Hanya terdengar suara detingan jam di sudut ruang keluarga. Semerbak tiupan angin membelalak jendela rumah. Percikan hujan di luar membuatku gelisah nan gundah Malam ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *