Seindah Pelangi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 21 September 2015

Pernah nggak kamu marah sama cowok kamu, saat dia membatalkan acara malam minggu? Bukannya parno. Cuma kesel aja, Owi membatalkan semuanya. Padahal aku udah dandan mati-matian! Kesel, kesel. Duh, perasaan aku jadi nggak enak. Jangan-jangan Owi udah nggak sayang lagi sama aku. Jangan-jangan.
“Sebenarnya kamu masih sayang nggak sih sama Icha?” selidikku.
“Icha, kamu ngomong apa sih, sayang? aku nggak ngerti!”

Aku hanya bisa cemberut, tanpa berkata sepatah pun. Memasang wajah memelas, sebenarnya aku udah mulai curiga kalau dia udah berani selingkuh di belakangku. Tapi, sebenarnya aku nggak boleh berpikiran seperti itu. Karena Owi selalu menelponku tiap malam, seharusnya aku nggak ragu. Tapi apa aku salah kalau aku menginginkan Owi meluangkan waktunya untukku, hanya sebentar saja.
“Udahlah Wi, Icha mau tidur dulu. Udah malam. Percuma Icha ngomong, toh Owi nggak pernah ngerti perasaan Icha,”
“Oke, sekarang aku ngerti, Icha marah gara-gara aku nggak jadi jemput Icha dari tempat bimbel, iya?” Tanya Owi seketika.

Sebenarnya aku ingin mengatakan ‘iya’ tapi entah kenapa aku masih terdiam membisu, tanpa menjawab sepatah kata pun. Wajar nggak sih Owi bertanya demikian, sementara aku udah nungguin dia dua jam lamanya. Kemudian, dia bilang nggak bisa cuma karena nggak ada helm di rumah! Huft.. bilang aja kalau nggak mau jemput. Terus, besok alasan apa lagi!
“Iya deh, aku minta maaf, Icha jangan ngambek dong!” suara Owi di telepon membuyarkan lamunanku.
“Lain kali, kalau buat janji itu ditepati dong! Udah berapa kali Owi nggak nempetin janji,”
“Icha.. tadi aku baru pulang kerja! Jadi aku nggak sempat minjam helm sama teman, kamu harus ngertiin aku dong Icha,” Owi berteriak geram. “Tidak seperti biasanya kamu bersikap seperti ini,”
Pokoknya aku nggak rela kalau Owi diam-diam cari cewek lain! Kurang apa aku coba? pokoknya nggak rela! Nggak rela!

6 Juni
My birthday, sebenarnya aku sangat berharap Owi bisa meluangkan waktunya untukku. Sekedar mengucapkan ‘Happy birthday sayang. Semoga panjang umur ya, aku sayang kamu?’ Cuma itu! Aku tidak mengharap lebih. Owi kamu dimana? Apakah pekerjaanmu lebih penting dari pada aku? Aku menatap bayanganku di cermin sambil menghapus air mataku. Sempurna. Gaun putih yang manis dipadu dengan pita berwarna pink di rambutku betul-betul membuat penampilanku terlihat cute. Namun sayang, malam yang penuh bermakna akan aku lalui tanpa Owi di sampingku.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan Mama menengok ke dalam kamar.
“Sayang, temen-temen kamu udah pada datang tuh,” aku pun bergegas memakai sepatu yang tingginya 7 cm, yang membuat betisku tersiksa.
“Kamu di mana Owi? aku butuh kamu sekarang, apa kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu? Sehingga kamu lupa kalau hari ini aku ulang tahun? Owi,” isakku sambil menangis.

Bagaimana tidak laki-laki yang begitu aku cintai, tidak pernah meluangkan waktunya untukku. Okey mungkin selama ini kalau dia nggak bisa nyempetin waktunya untuk aku, fine-fine aja. It’s ok. But, untuk kali ini aku tidak bisa terima. Ini sudah keterlaluan! Mungkin aku harus malakukan sesuatu. Tapi apa yang harus aku lakukan sobat? Aku tak mampu memendung hujan di mataku. Ini terlalu menyedihkan. Mungkin hanya aku wanita yang paling bodoh! Yang paling bego, yang masih setia menunggu ucapan itu dari mulut Owi secara langsung. Owi. I hate you!

Hari itu tak seperti biasanya. Matahari sangat menyengat. Tak kalahnya dengan panas yang kini ku rasakan dalam dadaku. Dengan jalan cepat-cepat, aku berjalan meyusuri gang menuju rumah Owi. Hari ini akan ku putuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Owi, meskipun aku masih sayang sama dia. Tapi aku tidak boleh egois, mungkin Owi tak lagi betah bersamaku. Tak ada gunanya aku mempertahankan Owi, aku tidak mau hubungan ini terlalu dalam. Aku tidak mau terlalu berharap sama Owi, yang tak mungkin lagi mencintaiku.
Mungkin aku tak lagi bisa tersenyum seperti hari kemarin, saat Owi masih berada di sampingku. Owi. Aku sayang kamu, maaf kalau aku terlalu menuntut untuk selalu ada di sampingku. Tapi, itu semua karena aku sayang sama kamu Owi.

Ketika aku sampai di depan rumah Owi, saat aku hendak mengetuk pintu. Samar-samar aku mendengar ada yang minta tolong dari dalam rumah. Spontan, aku membuka gagang pintunya. Dan langsung mencari sumber suara itu, ternyata suara itu berasal dari kamar Owi. Dan betapa terkejutnya aku, ketika aku melihat Owi sedang berjalan dengan menggunakan kedua tangan dan kakinya. Aku mulai panik, ketika aku melihat keadaannya karena darah berceceran di seluruh lantai, dan ternyata Owi mimisan.

“Owi!”
“Icha? Kamu, kamu ngapain di sini?” dia tampak berusaha untuk berdiri, namun dia kelihatan kesulitan sekali. Aku pun berlari memeluknya, sambil menangis tersedu-sedu.
“Owi. Kamu kenapa?”
“Icha. Maaf ya, malam tadi aku nggak datang,” ungkap Owi yang membuatku menjadi serba salah.

Jadi selama ini, dia menutup-nutupi penyakitnya dari aku. Tapi kenapa? Bukankah dalam menjalani hubungan itu kita harus saling terbuka? Owi, aku tak menyangka jadi begini. Apa yang sebenarnya terjadi Tuhan. Kenapa orang yang aku cintai harus mengalami hal ini? Aku sayang Owi Tuhan.

“Kanker dalam tubuhku sudah menyebar ke seluruh kepalaku, hidupku tak lama lagi. Maaf jika selama ini aku tak pernah ada waktu untukmu Icha. Kanker ini telah melumpuhkan sebagian tubuhku,” Owi menggenggam tanganku semakin kuat. Aku tahu dia pasti merasakan perih di kepalanya. Tuhan. Cobaan apa ini? Kasihan Owi.
Kemudian Owi mencoba mengambil sebuah kado di atas meja kecil dekat tempat tidurnya. Lalu memberinya padaku. Aku pun menyeka air mataku, dan menerimanya.
“Apa ini Wi?”
“Happy birthday ya ca. Maaf baru sekarang aku memberinya. Aku sayang kamu ca!”

Ku pandangi sebuah kotak musik yang terpasang foto kami berdua. Kado ini sangat indah, seindah pelangi di langit sana. Yang mengiringi kepergian Owi di hidupku untuk selamanya. Ku ikhlaskan kepergianmu Owi, karena dengan demikian penyakit yang kau rasakan akan lenyap. Selamat tinggal Owi, selamat tinggal cinta sejatiku. Selamat tinggal kenangan. Selamat tinggal.

TAMAT

Cerpen Karangan: Renny Afiza
Facebook: Ren Twin Nda

Cerpen Seindah Pelangi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan

Oleh:
Aku berjalan sambil menutup mataku, menerobos derasnya hujan malam ini. Sebentar saja tubuhku sudah basah kuyup karenanya, tapi aku tak mempedulikan itu. Aku membuka mataku dan melihat sekelilingku, hanya

Rintihan Senja

Oleh:
Hujan yang turun membasahi bumi tak mampu menyirami hati ku, sejenak aku berfikir tentang rasa sakit dimana kekasihku pergi dan tak pernah melihat kembali pada kekasih yang dulu dia

Nicha

Oleh:
Cinta tu bukan hanya sekedar siapa yang menang dan siapa yang kalah, bukan masalah siapa yang memiliki dan siapa yang dimiliki. Menang bukan selalu berarti kita memiliki orang yang

Mengingatmu Menyadarkanku

Oleh:
Wajah itu sudah tak asing lagi bagiku, dia berjalan di hadapanku dengan mendongakkan wajahnya. bahunya tegap dengan gagah, dia melintas di hadapanku seolah-olah aku adalah manusia yang tak pernah

Dawai Cintaku Hilang Di Malam Itu

Oleh:
Memandangnya menjadi acara rutin. Setiap aku duduk di bangku ini, aku mungkin sudah ketergantungan pada dirinya, wajahnya, rambutnya, dan juga senyumnya. Dia yang paling cantik menurutku di kelas ini,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *