Sekuntum Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 13 December 2017

“Sekuntum cinta untuk dia yang nyata”

Aku tidak pernah berpikir untuk apa perasaan ini, dan kepada siapa akan berlabuhnya. Mereka bilang aku bodoh karena cinta, aku gila karena cinta. Tetapi ini hasratku, ini perasaanku dan juga cintaku.
Aku tahu telah lama aku memendam hasrat ini, dan aku paham akan perasaannya bahkan aku yang menyatakan dan dia yang menolaknya. Semua hal itu sudah tak asing lagi di pikiranku.

“Tapi buat apa loe bertahan Ra, jelas-jelas Reza gak pernah ngerespon perasaan loe apalagi ngedeketin loe!” tanya Rani padaku.
Aku hanya tersenyum melihat Rani yang selama ini terus saja mencoba menyadarkanku, tapi aku rasa dia adalah orang yang ke seribu kalinya. Sebab telah banyak dari temanku yang mengatakan hal itu.
“Plis deh Ra, loe itu cantik baik dan pasti ada banyak pria yang mau jadi pacar loe. Coba loe pikir, selama ini loe bertahan demi satu cowok yang gak pernah cinta sama loe!”. Ucap Rani dengan penuh emosi.
“Tidak Ran, ini sudah bukan cinta dalam hatiku lagi. Mereka sudah tau dengan perasaan ini, bahkan Reza pun sudah tau kan. Aku yakin belum saatnya cintaku bersatu dengannya dan aku telah bertahan lama untuk perasaan ini, aku tidak peduli dia telah bersama orang lain atau tidak karena ini adalah cinta yang bukan sekedar jatuh cinta saja saat pertama aku mengenalnya.” ucapku.
“Hmmm.. tapi Ara, Reza itu pacarnya Chika temen sekelas loe, Masa loe gak sakit Ra”.
Aku hanya terdiam meski sesekali air mata ini jatuh dan membasahi rona wajah ini.

Andai saja mereka tahu bahwa cintaku ini sudah hampir sering kumusnahkan, karena aku tahu bahwa cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Tapi apalah daya aku ini, semakin kejam aku berusaha memusnahkan perasaan ini justru semakin kuat cinta ini untuknya, entah apa yang harus kulakukan aku pun tak tahu dan kubiarkan hati ini berjalan sesuai keinginanya.

“Ra, kamu ikut kan nanti ke rumah pak Dhani kita masak-masak di sana sekalian kita rayain kemenangan kelas kita di turnamen kemarin, gimana mau ikut gak?” Tanya Rani padaku.
Aku belum bisa menjawab apa-apa karena satu yang ada dalam pikiranku, mungkin saja bila aku ikut di sana pun akan ada Reza dan aku harus ikut.
“Owhh iyah, aku pasti ikut. Mmmhh seluruh anggota kelas kan?” Tanyaku pada Rani.
“Yaelah Araaa, so pasti iyahlah ini kan acara kelas kita gimana sih”
“Hmmm maaf, yaudah berarti minggu besok kita ke sana yah.”
“Ok sip deh” lalu Rani meninggalkanku di kelas.

Mmhh aku tidak biasa sendiri karena itu cukup sunyi untuk sekedar melepaskan kekosongan hati ini, jadi aku putuskan untuk keluar kelas tapi entah apa yang akan terjadi semua teman yang ada di depan kelasku mereka tiba-tiba mengejekku
“Cieee Ara, liat tuh ada Reza.. cie cieeee”
Sontak aku langsung terdiam, meski aku sempat melontarkan senyum kesal pada mereka tapi apalah daya aku sudah cukup tegar untuk hal ini bahkan saat Cika melontarkan kata-kata kasar, bahkan sindiran-sindiran di media sosial aku cukup menghadapinya dengan apa yang aku bisa.

Terkadang aku berpikir apa iya aku ini terlalu kekanak-kanakan untuk hal yang benama cinta, atau aku hanya baru pertama kali merasakan cinta yang sesulit ini, entahlah aku tidak mengerti.

Ini adalah hari dimana aku dan kawan-kawanku akan mengunjungi rumah wali kelas kami. Tapi apa yang terjadi, yahhh seperti biasa aku hanya jadi bahan olokan kawanku soal cintaku kepada Reza. Bahkan yang lebih menyakitkan adalah saat kedua mataku ini menyaksikan bagaimana kemesraan Reza dan Cika di hadapanku, itu cukup sakit bahkan lebih sakit seolah-olah dunia hancur di hadapanku. Dalam hati ini aku tak sanggup lagi menahan air mata.

Namun herannya mengapa perasaan cinta ini masih utuh, masih tetap ada untuknya. Meski beberapa kali kunyatakan perasaan ini lewat pesan singkat kepada Reza agar ia tahu bahwa hati ini tetap menunggunya, tapi tetap sama jawabanya yakni ia tetap menolakku dan ini sangat menyakitkan. Beginikah rasanya saat cinta yang kita harapkan justru malah tak diharapkan, dan salahkah aku mencintai dia yang bencinya malah kusangka sayang.

Hari berganti dan bulan pun berganti. Kini aku akan segera berpisah dengannya dan aku mencoba beberapa kali untuk menjauh bahkan menghindar dari hadapannya.

“Aku ingin cepet lulus Ran, aku udah gak kuat dengan semua ini” Tangisku kepada Rani.
“Kenapa lagi sih Ra, orang mah masih pada takut kehilangan, nah kamu malah kayak gitu?”
“Iyah Ran mereka memang takut kehilangan begitu pula dengan aku, tapi harus kamu tau aku ingin segera melupakan semua ini, cinta bertepuk sebelah tangan ini aku ingin pergi dari perasaan yang perlahan-lahan membunuhku, aku lelah!”
“Sabar Ra, aku yakin kamu pasti bisa keluar dari masalah ini” Rani meyakinkanku bahwa aku pasti bisa keluar dari masalah ini walaupun aku tak yakin bisa melupakannya dengan waktu sesingkat ini.

Dan kini hari perpisahan pun datang dimana akan kulepaskan semua kenangan cinta pertamaku pada hari ini. Aku rasa sudah cukup untuk tiga tahun ini menanti dan bertahan untuk mencintainya, kini aku harus bisa melupakan semuanya walau pedih teramat dalam menyiksa batinku.

Selamat tinggal cintaku, selamat tinggal untuk kisah pedih ini dan selamat tinggal Reza. Entah apa yang akan terjadi suatu saat nanti, kubiarkan semuanya mengalir mengikuti jalan hidupku.

Cerpen Karangan: Nur Rajabiyah
Facebook: Noer Rajabiyah Solehudin

Cerpen Sekuntum Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia

Oleh:
Berapa banyak dunia itu? Ada yang bilang satu, mungkin iya untuk mereka yang hidupnya normal. Ada juga yang bilang dunianya dunia, dunia kerja dan dunia keluarga, ah itu berarti

Dua Dunia

Oleh:
“Malam sayang. Lagi ngapain?” Begitulah kalimat pembuka yang aku tulis di pesan singkat yang aku kirimkan kepada kekasihku yang nun jauh disana. Hampir dua tahun ini kami menjalani LDR

Cinta Sehari

Oleh:
Renita berangkat pagi-pagi. Di pintu gerbang, Nampak mang Udin sedang menyapu halaman sekolah. Ia mengenakan kaos biru yang sudah kusam. “pagi pak”, sapa Renita ramah. Mang Udin menjawab salamnya

Bahagia Sakit Hancur

Oleh:
Hari ini aku merasa bahagia karena orang yang aku sayangi kembali muncul tepat di hadapanku, orang yang selalu aku cari-cari selama kepergiannya, orang yang meninggalkan aku tanpa ada alasan

Elegi Kehidupan

Oleh:
Ini lebih mujarab dari alarm. Itulah kalimat pertama yang ku pikirkan di suatu pagi. A!Aa!.. Bangun! Sudah azan subuh. Lantunan suara merdu dede membangunkanku. Ku pandang wajahnya yang menyihirku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *