Selamat Tinggal Tyo (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 16 January 2017

Cinta pertama, masa lalu, dan penyesalan?. Vika sama sekali tidak pernah mengerti akan ketiga hal itu. Apakah cinta pertama ada untuk dikenang?, apakah masa lalu ada untuk dilupakan?, dan apakah penyesalan ada untuk disesali?. Ketiga hal itu selalu bersarang di benak Vika namun tidak pernah sekalipun terpecahkan arti dari masing-masing kata itu.

Cahaya matahari memantulkan cahaya senjanya tepat di wajah suram Vika. Terukir sebuah senyuman nanar di bibir gadis mungil itu. Pandangannya menerawangi masa kelam yang pernah ia lalui dulu yang sampai sekarang pun tidak bisa ia lupakan begitu saja. Tubuhnya terjungkai mengulang kembali masa di mana dia menangisi Tyo yang telah menyatu dengan bumi pertiwi. Ia menyesali semua perbuatannya di detik-detik Tyo bertemu ajalnya. Mengapa dahulu ia meninggalkan Tyo melewati semua hal itu dan berjuang sendirian?.

Ya, Tyo adalah cinta pertama, masa lalu, sekaligus penyesalan Vika. Tyo dan Vika merupakan dua sosok manusia yang saling mencintai sejak mereka masih berumur 5 tahun. Karena mereka sudah sangat mengenal lebih dari 12 tahun, Vika pikir ia sudah memahami dan mengetahui semua tentang Tyo. Vika sering menumpahkan seluruh isi di hatinya kepada Tyo. Namun, Tyo sangat jarang dan bahkan tidak pernah menceritakan masalahnya kepada Vika sekalipun. Tetapi Vika selalu berpikir positif tentang hal itu dan memercayai apapun yang dilakukan oleh Tyo dan menganggap bahwa Tyo baik-baik saja selama ini. Tyo tidak pernah sekali pun memperlihatkan wajah murungnya di depan Vika, ia merupakan sosok laki-laki yang ceria dan selalu berhasil membuat Vika tertawa.

Vika tidak pernah menyangka akan kejadian yang menimpa Tyo dan kedua orangtuanya sepuluh tahun lalu. Dan yang lebih mengejutkan Vika adalah kedua orangtuanya yang selama sepuluh tahun terakhir menyembunyikan kebenaran dibalik kematian Tyo dan kedua orangtuanya. Selama ini Vika sangat memercayai setiap perkataan yang dilontarkan oleh kedua orangtuanya.

Ketika seminggu sebelum tragedi itu dimulai, orangtua Vika mengirimnya untuk pergi mengikuti sebuah pertukaran pelajar di luar negeri. Tanpa menolak sedikitpun Vika menerima program tersebut. Tetapi apa yang Vika dapatkan ketika ia kembali ke rumah?. Ia tidak dapat berjumpa dengan kekasihnya lagi, yang ia dapatkan adalah sebuah makam yang bertuliskan nama orang terkasihnya itu. Padahal ia sangat mengingat, sebelum ia berangkat ia sempat berpamitan kepada Tyo. Dan hal yang paling erat bersemayam di benak Vika adalah wajah Tyo yang tersenyum riang ketika itu. Sebab itulah tanpa keraguan sedikitpun, keesokan harinya Vika pergi meninggalkan Tyo. Tetapi ternyata, dibalik senyum kepalsuan itu Tyo menyembunyikan kepedihan dan masalah yang sangat besar yang sama sekali tidak Vika ketahui.

Ketika peristiwa malang itu telah terjadi, kedua orangtua Vika menceritakan seluruh kesaksian mereka kepada Vika. Mereka mengatakan bahwa sehari setelah Vika pergi, ayah Tyo tewas dalam sebuah kecelakaan dimana penyebabnya belum diketahui. Namun, beredar isu bahwa ayah Tyo telah melakukan penyuapan dana perusahaan dengan jumlah yang sangat besar. Beberapa hari setelahnya usaha baju yang dijalankan ibu Tyo mengalami kebangkrutan, dan sehari setelahnya ibu Tyo ditemukan tewas bersimbah darah di lantai kamar tidurnya. Peristiwa itu belum berakhir sampai di situ. Selang dua hari setelahnya, seorang tetangga menemukan tubuh Tyo telah membiru kaku dengan posisi tergantung di halaman belakang rumahnya. Belum dapat dipastikan apa penyebab kematian Tyo, sampai beberapa waktu lalu ibu Vika yang tidak tahan menjalani hidup terbelit dengan rasa bersalah mengungkapkan semua kebenaran di balik kematian keluarga Tyo.

Vika tak pernah menyangka selama ini kedua orangtua yang selalu ia percayai bisa hidup di atas kebohongan yang telah mereka buat. Ia merasa malu, kecewa, dan marah kepada kedua orangtuanya. Ia benar-benar tak dapat percaya kedua orangtuanya tega memfitnah ayah Tyo melakukan suap dan menyebabkan perusahaan yang dipimpin ayah Tyo mengalami kebangkrutan. Sekarang Vika dapat menduga seluruh kronologis dari permasalahan itu. Ia sekarang tahu mengapa ayah Tyo mengalami kecelakaan dan membuat Tyo dan ibunya melakukan hal yang segila itu. Vika sangat menyesal, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa ketika ia pergi meninggalkan Tyo, Tyo sedang mengalami sebuah masalah yang sangat menyakitkan itu, dan bahkan tanpa ragu sedikit pun Vika malah meninggalkannya sendirian. Vika benar-benar merasakan bagaimana perasaan yang dirasakan Tyo dan keluarganya saat itu jika ia berada di posisi mereka.

Vika hanya bisa meratapi segala perbuatannya dahulu. Ia menatap sendu langit-langit senja. Perlahan Sang Surya mulai menyembunyikan dirinya di balik juntaian bukit yang jauh di sana. Seakan-akan matahari pun enggan untuk menampakkan dirinya di hadapan Vika, gadis hina yang penuh dengan kedustaan. Vika menyadari bahwa dirinya tidak pantas lagi untuk mengingat seorang Tyo dengan dirinya yang kotor ini, bahkan hanya untuk mengucapkan sebuah kata maaf. Dirinya tidak layak dianggap sebagai seorang kekasih, karena tentu tidak ada seorang kekasih yang meninggalkan pujaan hatinya ketika ia sedang mengalami kesusahan. Vika benar-benar sangat menyesal dan membenci dirinya, sampai-sampai segala kebencian dan penyesalannya itu tidak dapat ia tuangkan di atas kata-kata semata.

Bagaimana bisa dulu ia meninggalkan Tyo begitu saja dan membiarkan lelaki itu diliputi oleh penderiataan dan kesepian. Dirinya membiarkan Tyo melewati semua masalah itu seorang diri. Sungguh betapa kejamnya dirinya kepada lelaki yang dianggapnya sebagai kekasih itu.

Angin senja kembali berhembus menembus ruangan dan menerpa pori-pori kulit Vika. Ia membiarkan dirinya terselimuti oleh rasa dingin yang begitu menusuk. Tangan Vika tergerak dengan sendirinya memukul-mukul dadanya yang begitu sesak dan sakit. Seluruh tubuhnya terasa nyeri dan ngilu ketika mengingat kejadian yang sangat memilukan hati itu. Air mata yang selama ini selalu menemani tidurnya kembali mengalir membasahi kedua pipi Vika. Tak bisa ia bendung lagi air mata kesedihan itu. Tangisnya kembali menyeruak memenuhi seluruh ruang di kamarnya.

“Vika, kami berdua sangat menyesal telah melakukan itu, Vika. Kami tidak bermaksud membunuh ayah Tyo dan menyebabkan Tyo dan ibunya meninggal dunia. Kami benar-benar minta maaf Vika”, diacuhkannya ibunya yang kini tengah berlutut sembari menangis terisak di kaki Vika.

Vika terlalu kaget akan semua yang diceritakan ibunya kepadanya. Vika sama sekali tidak siap untuk mendengarkan semua itu. Bibirnya tak bergeming, pandangannya kosong, ia tak tahu harus berkata apa, semuanya terjadi begitu cepat, pikirannya kalut membayangkan kebenaran dari peristiwa sepuluh tahun lalu itu.

“Vika.. Vika.. Dengarkan Ibu, Nak. Ibu tahu kami berdua sebagai orangtuamu tidak seharusnya melakukan hal itu. Saat itu kami terlalu tenggelam dalam kegelapan dan kami tidak dapat mengendalikan diri kami sendiri. Karena itu Ibu dan Ayah ingin meminta maaf kepadamu Vika, kami menyesal akan semua yang telah Ibu dan Ayah perbuat”.

Vika masih diam tak bergeming. Pandangannya beralih pada ibunya yang terus menerus berlutut meminta maaf di hadapannya. ‘Namun mengapa ayahnya hanya terduduk di sofa tanpa mengucapkan sepatah kata pun?’. Vika masih tidak percaya akan semua ini, ia sangat berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk.

Vika mulai menggerakkan kakinya untuk pergi menjauh dari wanita di depannya ini. Vika yakin ini hanyalah mimpi buruk, ya mimpi buruk!. Dan ia harus mengakhiri mimpi buruk ini dengan segera.

“Dan.. Dan.. Kami tidak pernah menyangka bahwa Tyo dan ibunya akan melakukan hal itu. Kami pikir setelah ayahnya meninggal, mereka berdua akan baik-baik saja dan kembali pada kehidupan mereka sebelumnya”.
“Tidak, ini hanya mimpi buruk. Aku harus segera pergi dari tempat ini”. Ucapnya seraya berusaha menarik kakinya dari pelukan ibunya.
“Vika.. Sadarlah, Nak. Ibu mengerti perasaanmu, Nak.. Karena itulah baru saat ini kami memberanikan diri untuk memberitahukanmu segala kebenarannya. Jadi tolong mengertilah, Vika”.
“Hentikan.. Hentikan!! Ini semua tidak nyata, ini semua hanyalah mimpi!! Benar kan, Bu?. Ini semua hanyalah mimpi. Iya, kan Bu?! Jawab Bu jawab!!”.
“Vika anakku.. Sadarlah.. Ini semua bukanlah mimpi, ini semua benar adanya. Mulai sekarang kamu harus bisa menerima semua kenyataan pahit ini, Nak”.
“Menerimanya?. Ibu bilang aku harus bisa menerimanya?. Jangan bercanda, Bu!. Apa semua ini masuk akal?!. Kalian berdua yang merupakan sahabat baik dari kedua orangtua Tyo sendiri telah tega membunuh mereka hanya karena persaingan bisnis?!. Apa kalian berdua sudah gila?!”.
“Vika! Hentikan, Nak. Kami tidak pernah bermaksud untuk membunuh mereka.”
“Lalu apa bedanya dengan kalian yang memfitnah ayah Tyo dan menyebabkan beliau mengalami kecelakaan?. Apakah itu tidaklah membunuh?. Jawab aku Bu bukankah itu juga namanya membunuh?!”.
“Maafkan kami Vika, kami berdua benar-benar minta maaf…”
“Bagaimana bisa selama ini Ayah dan Ibu bisa hidup dengan tenang setelah menyebabkan sebuah keluarga terbunuh?. Apakah Ayah dan Ibu tidak memiliki hati nurani?!. Bagaimana bisa kalian setega itu membunuh keluarga sahabat kalian sendiri?”.

Dikeluarkannya semua isi di hati Vika di hadapan ayah dan ibunya. Hatinya berdenyut nyeri ketika mendengar semua penjelasan yang dilontarkan oleh ibunya. Dengan terisak-isak ia kembali melanjutkan perkataannya.

“Tidakkah kalian tahu?. Setiap malam aku selalu bermimpi tentang kematian Tyo, dan tahukah kalian?. Aku.. Aku.. Sangat malu dan menyesal terhadap diriku sendiri, juga terhadap Tyo!. Aku malu memiliki orangtua seperti kalian. Aku malu memiliki orangtua pembunuh seperti kalian!!”.

PLAK!!!

Ayah Vika yang sedari tadi duduk dan terdiam, menampar keras pipi putri semata wayangnya itu hingga bunyinya menyelimuti seluruh ruang tamu di rumahnya. Baru pertama kali ayah Vika menamparnya dengan begitu keras. Vika yang terkejut hanya bisa memegangi pipinya yang memerah karena tertampar.

“Vika, ayah tahu kamu tidak akan pernah bisa menerima semua ini, tapi kamu harus belajar untuk melupakan semua yang telah berlalu Vika dan memulai sebuah kehidupan baru”.

“Bagaimana aku bisa melupakan semua itu, Ayah?!. Ayah tahu bahwa Tyo merupakan sosok yang sangat penting dan berarti bagiku. Begitu juga ayah Tyo yang merupakan orang yang sangat berharga bagi Ayah. Namun bagaimana bisa Ayah tega untuk mengkhianatinya?!. Cih!. Aku yakin beliau akan sangat sedih jika mengetahui semua ini. Bagaimana bisa kalian hidup menyembunyikan semua ini dariku dan bisa hidup tenang seperti ini selama bertahun-tahun?!”.

Deru nafas Vika menggebu-gebu, aliran nafasnya tidak teratur. Itu semua dapat dibuktikan ketika Vika berbicara dengan ngos-ngosan.

“Aku sungguh tidak percaya dengan semua ini. Kalian yang selama ini sangat aku percayai dan aku hormati ternyata telah lama menusukku dari belakang. Vika pikir kalianlah yang kini satu-satunya orang yang dapat Vika percaya setelah kepergian Tyo. Tapi apa?. Ternyata Ayah dan Ibu lah yang menyebabkan Vika terpisah dengan Tyo!!. Akuu.. Aku tidak akan pernah percaya terhadap kalian lagi, dan detik ini juga aku tidak akan pernah menganggap kalian sebagai orangtuaku lagi!!!”.

“VIKA!!!”.

Vika berlari menuju kamarnya dan mengacuhkan suara yang terus saja memanggil namanya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan ayah dan ibunya. Ia sudah muak dengan mereka.

BRAKK!!!

Vika kembali membayangkan kejadian di ruang tamu tadi. Dadanya kembali sesak, tubuhnya kembali merasakan getaran-getaran yang begitu kuat sehingga membuat dirinya begitu kesakitan. Matanya membengkak, air matanya mengering, tangisannya tidak lagi bersuara. Matanya masih saja terpaku menatap sendu langit-langit senja yang kini telah berubah menjadi kelabu. Tubuhnya terlentang mematung di atas kasur yang begitu empuk. Dirinya tenggelam pada penyesalan yang begitu dalam.

Mengapa ini semua harus terjadi pada dirinya. Hal itu masih saja ia pikirkan walau pun berjam-jam telah berlalu. Sebuah ketukan yang begitu keras kembali terdengar dari balik pintu kamarnya diiringi dengan suara yang menyerukan namanya berkali-kali. Namun Vika tidak mau mempedulikannya, ia hanya acuh tak acuh. Ia terlalu lelah untuk mempedulikan semua itu.

Perlahan-lahan keributan itu mulai tidak terdengar di telinga Vika. Penglihatannya perlahan-lahan mulai terlihat kabur, entah itu karena bendungan air matanya yang begitu banyak atau pun karena hal lain, Vika tidak mengetahui hal itu.

Namun yang jelas, seketika sekelilingnya berubah menjadi gelap sampai ia benar-benar tidak dapat melihat apa pun lagi. Tubuh dan pikirannya kini telah memasuki area dari sebuah alam bawah sadarnya.

“Vika.. Vika.. Vika..”.

Suara lembut itu membuat Vika yang tadinya terlelap mulai membuka matanya perlahan.

“Eemm?? Siapa?”.

Vika tersentak, penglihatannya yang semula masih mengantuk dan enggan untuk terbuka lebih lebar, kini mulai tersadar dan tertegun melihat apa yang terjadi dengan dirinya dan sekitarnya.

“Dimana ini?”.

Vika semakin kebingungan ketika melihat ke sekitarnya yang dikelilingi oleh kabut-kabut tebal. Tidak ada seorang pun di sana, ya tidak ada siapa pun. Hanya terdapat kabut tebal yang menyelimuti pandangannya.

“Vika.. Vika.. Vika..”.
‘Siapa?. Ada seseorang yang memanggilku. Tapi siapa?’, batin Vika.

Kini pikirannya dipenuhi oleh beribu-ribu pertanyaan. Vika sangat yakin, bahwa yang ia ingat terakhir kali ia sedang membengkuk di kamarnya dan memperdebatkan masalah kematian Tyo dan keluarganya dengan kedua orangtuanya. Suara yang terus saja memanggil nama Vika itu terdengar sangat lembut di telinganya, tapi Vika tidak tahu siapa yang memanggil namanya dan ada di mana sebenarnya Vika sekarang ini. Tanpa ragu Vika berlari memutari tempat itu untuk mencari sumber suara yang semakin lama semakin terdengar jelas.

“Vika.. Vika…”

Namun tempat itu masih saja terlihat sepi, sunyi, dan tertutup oleh kabut yang begitu tebal. Tidak ada siapa pun di sana, bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di tempat itu. Menyadari suasana yang menyeramkan itu, seketika bulu kuduk Vika berdiri. Vika kembali melangkahkan kakinya dan berlari tanpa arah dan tujuan. Ia hanya mengikuti kata hatinya dan membiarkan kedua kakinya membawanya entah kemana.

‘Tolong! Seseorang kumohon tolonglah aku!!’. Vika benar-benar ketakutan. Batinnya terus berseru meminta tolong. Ia sendirian di tempat yang sangat asing baginya.

BRUUGG!!!

Tubuh mungil Vika terhempas keras ke tanah ketika ia menabrak segumpalan tanah yang sangat besar.

‘Aww, sakit sekali. Dimana sebenarnya aku berada saat ini?. Dan apakah gerangan gundukan tanah besar yang ada di depanku ini?. Tanah ini terlalu besar’. Bibirnya tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, hanya batinnyalah yang berkecamuk.

Ia meringis kesakitan. Dipijatnya bagian tubuhnya yang terasa sakit. Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangan ke arah Vika. Dan seketika itu juga tubuh Vika membeku dan matanya sontan membelalak kaget.

“Vika…”, panggil sosok itu seraya melemparkan senyuman yang sangat hangat kepada Vika.

Vika tetap terdiam. Pandangannya terpaku pada sosok itu, lidahnya kelu, bibirnya terkatup rapat tak bergeming, tubuhnya melemas tak dapat ia gerakan ketika ia menyadari siapa sosok yang berbaik hati mengulurkan tangan ke arahnya. Pada akhirnya Vika memberanikan diri untuk berkata walaupun dengan ucapan yang terpatah-patah.

“T..Ty..Tyo..”, kata Vika untuk sekadar meyakinkan siapa sosok di depannya ini.
“Vika..”. Sosok itu masih tetap tersenyum hangat kepadanya.
“Tyo!!”. Kini ia sudah bisa menguasai dirinya kembali. Dengan spontan Vika berhamburan menuju sosok itu yang tak lain adalah kekasihnya dan memeluknya sangat erat.
“Tyo! Kamu kemana saja, Tyo?!. Aku sudah lama menunggu kamu pulang. Tyo, aku sangat merindukanmu.”
“Vika. Maafkan aku karena telah membuatmu lama menunggu, aku juga sangat merindukanmu Vika.”
“Tapi Tyo, aku pikir kamu.. Kamu sudah-”
“Ssst. Vika, sebenarnya tanpa kamu sadari selama ini aku selalu berada di sisimu, Vika”.
“Benarkah?. Dimana?. Mengapa aku tidak pernah melihatmu?”. Tanya Vika antusias.
“Di sini, Vika. Aku selalu berada di sini”, digerakkanya tangan Vika menuju dadanya yang rata. Masih dengan senyuman hangat itu. ‘Dingin sekali’, pikir Vika.
“Aku selalu berada di hatimu, Vika. Selalu.”, lanjutnya.

Vika kembali terdiam. Ia tidak bisa menanggapi perkataan pria itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Satu menit telah berlalu, dengan ragu Vika meyakinkan kembali perkataan pria itu.

“Ja.. Jadi, apa kamu berjanji tidak akan pernah meninggalkanku lagi?”. Vika mengeratkan jemarinya yang sedang digenggam pria itu.

Seketika senyuman di wajah pria itu memudar. Wajahnya menunduk seakan tak berani menatap wajah Vika.
“Tyo?. Kamu janji kan?”. Vika berusaha meyakinkan kembali perkataannya semula.

Wajah pria itu terlihat ragu. Namun perlahan pria itu kembali mengangkat wajahnya dan memperlihatkan sebuah senyuman tipis yang terkesan dipaksakan.
“E..em. Aku berjanji. Tapi saat ini dan di dunia ini, aku tidak bisa berlama-lama dan kembali bersama denganmu, Vika… Tapi aku berjanji aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku akan selalu bersamamu apa pun yang terjadi-”

Ucapannya terhenti sejenak. Kini giliran pria itu yang mengeratkan genggamannya kepada Vika.

“Di kehidupan selanjutnya. Maafkan aku Vika, hanya ini yang bisa aku perbuat selama ini. Selamat tinggal, Vika. Aku akan senantiasa menunggumu di kehidupan kita yang selanjutnya…”

Dalam sekejap sosok pria itu menghilang.

“Tyo!!!. Tidak Tyo, kembali. Jangan tinggalkan aku. Tyooo!!!!”

“Hah hah hah.. Mimpi?”, tanpa seizin Vika cairan bening yang hangat itu telah mengalir keluar membasi pipi Vika.
“Tyo… Kamu jahat…”.

Cerpen Karangan: Yeni Wardani
Facebook: Desak Yeni

Cerpen Selamat Tinggal Tyo (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Terlarang

Oleh:
ini kisah nyata yang di alami oleh sahabat terbaikku. cerita ini aku tulis 7 tahun yang lalu, Cerita ini bermula ketika gue baru sampai beberapa hari di Jakarta. Namanya

Tak Seharusnya

Oleh:
“Pacaran yuk ” Kata itu selalu terngiang di telinga gue dan bikin gue mematung untuk sepersekian detik dan membuat otak gue berpikir terlalu keras. Matahari terlalu setia untuk menampakkan

Bidadari Lesung Gandaku

Oleh:
Hai, namaku Rizky Syahrul. Biasa dipanggil Rizky. Aku sekarang duduk di bangku kelas XI IPA 2 SMAN 1 Bandung. Aku punya seorang kekasih satu angkatan di kelas sebelah. Namanya

A Hope of Disha

Oleh:
Di malam yang gelap itu, aku termenung sendirian di dalam kamarnya. Ya, aku adalah Disha. Aku sedang memikirkan kekasihku yang sangat aku sayangi. “Disha” 1 pesan SMS masuk di

Kehilangan

Oleh:
Di pagi hari ku buka jendela kamarku, lalu ku keluar dari kamarku. Melihat, mendengar dan merasakan itu yang ku rasakan sekarang. Melihat burung yang berkicau di pagi hari. Mendengar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *