Semenit Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 16 October 2014

Di pelukan ku terakhir kali
Kau katakan cinta
Putih dan suci yang kau persembahkan
Seperti janji manis…

“dik.. Aku mencintaimu” ucap nya lirih sambil meneteskan air matanya. Aku memeluk kekasih ku dengan erat, aku seakan tak ingin kehilangan nya

Belum sempat aku membalas ucapan nya, pelukan nya sedikit merenggang. Aku mengangkat dagunya agar aku dapat melihat wajah nya, ternyata matanya terpejam

“nias bangun” aku menggoncangkan tubuh nya

Tak terasa air mataku mengalir

“nias jangan bercanda” ucap ku lagi. Tetap tak ada respon dari nias

Aku begitu panik.. Aku segera memanggil dokter untuk menanganinya

Aku sangat khawatir. Aku takut akan terjadi apa-apa pada nias, aku belum siap kehilangan nya

Aku menunggu di luar..

Aku adalah dicky m prasetya, nias adalah kekasih ku. Aku dan dia sudah pacaran lebih dari 3 tahun. 1 tahun yang lalu nias terkena penyakit kanker.. Akhir-akhir ini kondisinya sangat ngedrop

Aku sangat frustasi.. Aku sangat takut kehilangan nya. Karena dia adalah separuh dari hidup ku, sumber kebahagian ku..

1 jam aku menunggu. Tetapi dokter pun tak kunjung keluar dari ruang rawat nias

Aku pun memutuskan untuk pergi ke taman di rumah sakit untuk menenangkan pikiranku

Bila malam menjelang..
Ingin ku hitung lagi
Sejenap jumlah bintang
Yang bersinar di wajah mu

Langit menampakan warna orange nya. Karena kini hari mulai senja..

Kini aku duduk termenung di bangku panjang yang tersedia di taman

Lagi-lagi air mataku menetes..

Aku kembali memutar memory indah saat bersama kekasih ku pada waktu dulu -nias

“aku mohon bertahan lah.. Demi aku. Aku sangat mencintai mu nias” batin ku

“tuhan.. Beri kesempatan waktu agar aku bisa lebih lama bersama kekasih ku -nias” ucap ku

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berdo’a agar mendapatkan yang terbaik

Aku memutuskan untuk kembali ke dalam rumah sakit

Akhirnya semua telah berakhir
Bagai mimpi buruk
Menerjang ruang batin hidupku
Tak berperasaan..

Saat aku sampai di depan ruangan tempat nias dirawat

Cekleks!

Pintu itu terbuka, ku lihat dokter yang menangani nias keluar

Aku segera menghampiri dokter itu

“bagaimana keadaan nias dok?” tanya ku penuh harap

Dokter itu menggelengkan kepalanya

“keadaannya kritis. Dia begitu lemah, sekarang ia mengalami koma.. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi semua sudah kehendak tuhan. Berdo’a lah.. Permisi” ucap dokter itu sambil menepuk bahu ku

Aku terasa lemas.. Sendi sendi ku serasa runtuh

Aku tetunduk lemah. Aku seakan tak berdaya

Aku berjalan memasuki ruang rawat nias

Banyak alat medis yang menempel pada tubuh kekasih ku

Aku menghampiri nya. Ku genggam erat jemari nya

“nias bertahanlah, aku yakin kamu pasti kuat” lirih ku

Ku diam tertegun
Menatap pilu
Dirimu.. Kau begitu indah

“kau adalah anugrah untuku.. Ku mohon. Jangan pernah meninggalkan aku” aku tetap menggenggam tangan nya. Air mataku seakan tak mau berhenti mengalir

“nak dicky” ucap seseorang di ambang pintu

Aku menengok ke sumber suara. Terdapat wanita paruh baya berjalan ke arah ku. Dia mamah nya nias

“iya tante” balas ku sambil menghapus air mata ku

“pulang lah nak, dari kemarin kau terus menjaga nias. Kau juga perlu istirahat” ucap mamah nias

“tak apa tan, aku masih ingin bersama nias” ucap ku

“nias akan sedih jika melihat mu terus seperti ini.. Pulang lah, sudah malam. Biar tante yang menjaga nias” ujar mamah nias

“baiklah tan, aku pulang” aku mencium punggung tangan mamah nya nias

Sebenarnya aku tak ingin pulang, tapi apa boleh buat.. Benar kata tante dini, aku harus kuat dan harus menjaga kondiri ku

Sesampai di rumah..
Aku memasuki kamar ku, aku langsung merebahkan tubuhku di kasur milik ku. Ku pejamkan mata ku, hingga akhirnya ku terlelap

Dunia serasa mati
Hilang semangat hidup ku
Aku rindu pada mu
Aku teramat sayang

2 minggu kemudian…

Tak ada perubahan sedikit pun pada kondisi nias

Ia masih koma.. Aku pun masih setia menjaga nya

“aku kangen kamu nii.. Aku kangen senyum kamu, aku kangen saat saat kita bersama dulu. Aku sangat menyayangi mu” ucap ku sambil menatap wajah indah kekasih ku

Aku seakan tak semangat lagi untuk hidup, dunia ku seakan mati tanpa nya

Aku sangat merindukan sosok ceria nias, aku juga sangat merindukan tawa nya, sifat manja nya, aku sangat merindukan masa-masa itu.

Aku mengecup kening nias lama..

Jika ini takdir ku
Bolehkah ku berharap
Semenit waktu ingin
Ku balas kata cinta

“tuhan.. Jika kita ditakdirkan untuk berpisah. Ku mohon.. Bangun kan dia untuk terakhir kali” batin ku

Aku menggenggam erat tangan nias

“bangunlah.. Izin kan aku untuk membalas kata cinta yang belum sempat ku balas” ucap ku berbisik di telinga nias

Aku kembali menangis

Tangan nias pun terasa bergerak di genggaman ku

Aku melihat wajahnya. Dia mulai membuka mata

“enghh” desisnya

Dalam tangis, senyumku mengembang

“nias kau sadar.. Aku juga sangat mencintaimu nias” tanya dan balas ku yang pernah tertunda

Nias tersenyum pada ku

Aku menggenggam tangan nias lebih erat lagi

“dicky.. Ku mohon jangan menangis, aku semakin berat untuk meninggalkan mu” lirih nias

“tidak.. Kau tidak akan kemana-mana, kau akan tetap bersama ku kan?” ucap ku

“a..Ku sudah tak kuat lagi, ikhlaskan kepergian ku.. Aku akan tetap di sisi mu. Di sini.. Di hati kamu” ucap nias sambil meletakan tangan nya di dada ku

“aku gak sanggup kehilangan kamu” air mata ku lebih deras lagi keluar dari mata ku

“tersenyumlah.. Senyuman mu akan membuat ku bahagia. Janji sama aku kalo kamu gak akan sedih setelah aku pergi” nias

Aku menggeleng

“aku tak bisa.. Aku tak akan mampu, kamu adalah kebahagiaan ku” ucap ku

Aku mencium keningnya

“selamat tinggal dicky, kamu akan selalu di hatiku” ucap nya semakin lirih nyaris tak terdengar

“kamu juga akan selalu di hati ku.. Selamanya” ucap ku sambil mengelus pipi nias

Perlahan nias menutup matanya

“nias” panggil ku. Nias tak menjawab

“niaassss” teriak ku

Tante dini menghampiri ku

“nias” lirih tante dini seakan tak percaya

Dokter dan tim medis memasuki ruangan nias

Aku dan tante dini keluar, kami berharap ada keajaiban datang

Tak perlu waktu lama, dokter pun keluar

“bagaimana dok?” tanya tante dini

“maaf bu.. Anak ibu telah tiada” ujar dokter itu

“dokter bohong kan? Nias tidak mungkin meninggal” dicky mengguncang-guncangkan bahu dokter itu

“maaf.. Tapi itu memang kenyataan nya. Permisi” ucap dokter itu kemudian pergi

Aku tak percaya ini begitu cepat

Tante dini menangis histeris.. Aku hanya diam, aku berharap ini hanyalah mimpi

Harusnya ku berlari
Mengejar kepergian mu
Takkan terulang kisah dua anak manusia

Tidak seharusnya tadi aku membiarkan mu pergi dari kehidupan ku untuk selamanya

“tunggu aku di keabadian” lirih ku sambil menangis

Dunia serasa mati
Hilang semangat hidup
Aku rindu pada mu
Aku teramat sayang…

1 tahun kemudian…

Aku masih belum bisa menerima kepergian nias
Keluarga dan teman teman ku selalu menyuruh ku bangkit dari keterpurukan

Tetapi aku tak bisa kembali ceria seperti dulu, karna kebahagian ku telah hilang bersama nya -nias.

Hari ini aku memutuskan untuk ke pemakaman tempat persinggahan terakhir nias

Sesampai di pemakaman..
Aku menghampiri makam nias. Aku menaruh 1 tangkai mawar putih. Bunga kesukaan nya, kenapa aku hanya bawa 1 tangkai? Karena hanya nias lah satu satu nya di hati ku

Aku mengelus batu nisan nya

“nias sayang apa kabar? Kamu baik2 aja kan?” tanya ku

“bagimana keadaan mu disana? Apa kau merindukan ku seperti aku yang selalu merindukan mu” sambung ku

Aku menangis.. Aku akui aku memang lelaki yang lemah

Tapi.. Siapa pun akan menangis jika menjadi aku

Aku mencium batu nisan nias

“i love you” ucap ku lirih

End

Cerpen Karangan: Aam kurniasih
Facebook: Nias Dhineyza Prasetya/Aam Qoerniashy
follow twitter ku https://twitter.com/aam_qoerniashy

Cerpen Semenit Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Separuh Coklat Hati

Oleh:
Aku terlelap dalam mimpi indah ku yang mampu membawa ku dalam ketenangan. Entah sampai kapan laki-laki separuh baya ini masih menemani di sampingku. Setelah aku sadar kehadiran laki-laki ini

Sesosok Matahari

Oleh:
Matahari mulai meninggi. Namun sorak-sorai penonton masih menggema di lapangan. Semua sibuk menyoraki dan mendukung tim basket yang sedang bertanding. Aku berdiri menyandarkan badanku pada tiang penyangga di lantai

Nugi dan Tita (Part 1)

Oleh:
Burung-Burung berkicau menebarkan keelokannya. Embun di pagi itu membasahi daun-daun dan ranting di pekarangan rumah. Rumput hijau terhampar luas di sana! Pagi yang menyejukkan. Kuhirup udara di sekitar rumah.

Berhenti Menunggu

Oleh:
Di sini, di tengah gelapnya malam aku masih menunggunya, menunggu dia yang amat ku cintai, walaupun mustahil untuk kembali tapi aku tetap menunggunya. Aku menjadi bodoh karena cinta aku

Pergi Yang Tak Pernah Kembali

Oleh:
Hidup bagimu seperti sebuah labirin yang kau harus berjalan di dalamnya, meskipun lelah kau harus tetap berjalan untuk bisa keluar dari labirin itu agar kau dapat bertahan hidup. Tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *