Senandung Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 16 January 2018

Hari itu langit cerah tertutupi awan abu-abu kelam. Tetesan air sedikit demi sedikit jatuh menetes lama kelamaan semakin deras. Mendengar suara tetesan air hujan yang semakin lama semakin deras, seorang gadis kecil langsung beranjak dari tempat tidurnya dengan kakinya yang lemah. Dilihatnya keluar jendela, hujan begitu deras hingga seluruh pemandangan di luar jendela tertutup kabut putih. Ia mencondongkan badannya agar lebih dekat ke kaca jendela dan melirik ke kanan dan ke kiri. Mulutnya tersenyum lebar ketika ia melihat seorang anak laki-laki berdiri di depan gerbang rumahnya dan melambaikan tangannya. Anak laki-laki itu tersenyum hingga gigi putihnya terlihat jelas.

“Syifa…!” Teriaknya. Syifa yang melihat dari balik jendela hanya bisa membaca mimik wajah laki-laki itu namun ia tahu bahwa namanya sedang diteriakkan. Syifa membalas dengan melambaikan tangan dan tersenyum lebar.

Syifa mendengar seseorang membuka pintu kamarnya. “Syifa, sudah waktunya minum obat.” Seorang wanita paruh baya menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari gadis kecil yang disayanginya itu. Akhirnya ia menemukan Syifa sedang berdiri di depan jendela. “Syifa! Sudah ibu bilang jangan terlalu banyak bergerak dulu, nanti bekas operasinya terbuka.” Wanita itu menuntun anaknya kembali ke tempat tidur. Dengan wajah kecewa, Syifa mengikuti ibunya ke tempat tidur. Syifa kemudian meminum obat yang diberikan oleh ibunya.

“Mama, dia datang lagi.” Syifa memberitahu ibunya dengan senyum mengembang di wajahnya. “Anak laki-laki itu?” tanya wanita itu kepada anaknya. Melihat Syifa mengangguk dengan antusias, wanita itu juga ikut tersenyum. “Syifa ingin bicara dengannya?” Tanya ibunya. “Iya, aku mau. Boleh?” Tanya Syifa dengan polosnya. “Kalau dia datang lagi, panggil mama. Mama akan suruh dia masuk agar Syifa bisa menemuinya. Oke?” Ucap wanita itu sambil tersenyum. Syifa mengangguk mendengar ucapan ibunya. “Sekarang Syifa istirahat dulu supaya besok wajah Syifa tidak pucat saat bertemu dia.” Wanita itu kemudian membaringkan anaknya di tempat tidur dan menyelimutinya kemudian ia keluar. Syifa yang masih penasaran dengan anak laki-laki itu akhirnya bangun dari tempat tidurnya dan kembali ke jendela namun anak laki-laki itu sudah pergi.

“Mama, kenapa tidak juga turun hujan? Syifa ingin melihatnya.” Syifa hanya bisa menangis di atas tempat tidurnya. Ia melampiaskan kekecewaannya karena hujan tak kunjung datang selama satu minggu itu. Keesokan harinya, awan mendung terlihat menyelimuti langit dan siang itu hujan turun seakan menjawab do’a Syifa. Syifa terperanjat mendengar tetesan hujan. Matanya berbinar dan senyumnya mengembang. Ia berlari mendekati jendela menunggu seseorang datang.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, tiga puluh menit Syifa menunggu tak ada seorangpun yang muncul. Hujan berikutnya Syifa melakukan hal yang sama. Menunggu dan terus menunggu hingga hujan reda namun anak laki-laki yang ditunggunya tak kunjung datang. Hari itu Syifa menangis sekeras-kerasnya. Kesempatannya memiliki teman pertama kali dalam hidupnya hilang begitu saja.

“Syifa…!” Seseorang berteriak memanggil namanya. Ia menoleh, di belakangnya seseorang berlari menuju ke arahnya kemudian merangkul pundaknya. “Hari rabu nanti ayo pergi ke karaoke sama-sama” Alisa mengajak Syifa dengan penuh semangat. Syifa membalik badannya dan melekatkan kedua telapak tangannya di depan Alisa. “Maaf, hari rabu ada jadwal checkup jadi gak bisa ikut.” Ujar Syifa. “Ah… gak kenapa napa kalau gitu, mungkin lain kali.” Alisa menepuk kedua pundak Syifa dengan kedua tangannya. “Aku duluan ya, sebentar lagi kelas olahraga akan dimulai, jadi harus ganti pakaian dulu.” Alisa berlari melewati Syifa menuju ruang ganti.

Syifa duduk di bawah pohon di pinggir lapangan. Ia melihat anak-anak yang lain berolahraga dan bersenang-senang. “Selalu saja begini setiap hari.” Syifa menghela napas panjang. Dalam hatinya ia ingin sekali bergabung dengan mereka. “Kapan aku bisa berlarian seperti mereka?” Gumam Syifa.

“Waah… Di sini sejuk sekali. Sepertinya enak duduk di sini.” Seorang laki-laki tiba-tiba duduk di sebelah Syifa. Setelah melihat wajahnya, ternyata dia adalah siswa pindahan di kelasnya yang baru saja masuk hari ini. Namanya Fauzan, ia siswa pindahan dari Bandung. “Ah… Tadi pagi kakiku terkilir, jadi aku minta izin untuk gak ikut olahraga.” Fauzan tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya. “Gak nanya.” Balas Syifa dingin. Mendengar balasan Syifa, Fauzan hanya tertawa.

“Syifa gak kesepian?” Tanya Fauzan. Melihat Syifa kaget dengan pertanyaan seperti itu Fauzan memalingkan pandangannya dan langsung menambahkan kalimatnya. “Ah, Aku dengar Syifa gak pernah ikut pelajaran olahraga dan selalu duduk di sini sendirian, di kelas juga jarang ngobrol dengan teman yang lain. Makanya aku na –.” Perkataan Fauzan terpotong saat melihat air mata jatuh mengalir di pipi gadis di depannya itu.

“KAMU TAU APA?” Teriak Syifa, “Gak usah sok akrab padahal baru kenal tadi, dan gak usah ikut campur sama urusan orang lain!” Syifa berlari meninggalkan Fauzan. Syifa tau ia tidak seharusnya berlari. Jantungnya berdegup kencang, rasa sakitnya membuat Syifa berhenti berlari sambil memegangi dada kirinya. Napasnya terengah-engah, ia pikir mungkin jantungnya akan berhenti. Ia menyandarkan tubuhnya ke tembok di sebelah kirinya. Tubuhnya akan segera ambruk.

“Kau baik-baik saja? Seseorang memegang lengannya sebelum ia terjatuh. Syifa mengenal suara itu dan langsung berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Fauzan. “Le… lepas!” Namun energinya tidak cukup untuk menarik lengannya.

Saat itu seorang guru perempuan lewat dan melihat wajah Syifa yang pucat pasi sambil memegangi dadanya. Dia adalah Bu Susan, guru yang bertanggung jawab untuk UKS. Fauzan melihat Bu Susan dengan wajah khawatirnya berlari menuju mereka. Saat itu juga ia melepaskan lengan Syifa yang digenggamnya.

“Di mana obatmu?” Tanya Bu Susan panik. “Te… tertinnggal di tas.” Fauzan yang mendengar ucapan Syifa yang samar-samar langsung berlari ke kelas. Tak lama kemudian ia kembali dengan obat dan air mineral di tangannya. Tak lama setelah mengkonsumsi obatnya, rasa sakit di dada Syifa semakin berkurang. Ia melepaskan genggamannya dari dadanya dan menghela napas panjang. Bu Susan dan Fauzan pun ikut menghela napas panjang.

“Sebaiknya istirahat saja di ruang UKS” Saran Bu Susan. Syifa mengangguk. Akhirnya Bu Susan memapahnya menuju ruang UKS dan meninggalkannya setelah membaringkannya di tempat tidur.

Setelah mengantar Syifa ke ruang UKS, Fauzan berbicara dengan Bu Susan di ruang guru yang saat itu sedang kosong karena semuanya mengajar. “Bu Susan, aku ingin tau lebih banyak mengenai Syifa.” Mendengar pernyataan Fauzan, Bu Susan memandangnya lekat namun ia tidak menemukan keraguan dalam wajah Fauzan saat menanyakan pertanyaan itu.

Bu Susan menghela napas panjang dan mulai membuka mulutnya. ”Hal itu sering kali terjadi saat Syifa tidak sanggup mengontrol emosinya. Saat ia berumur delapan tahun ia harus mengalami operasi pada jantungnya. Dokter sudah mengatakan kalau ia tidak bisa sepenuhnya pulih. Suatu saat kondisinya pasti akan memburuk, dan saat itu tiba, jalan operasi tidak akan bisa digunakan lagi. Karena itu kakakku sangat protektif. Ia tidak bisa banyak bergaul dengan teman-temannya saat kecil karena kegiatan yang dilakukannya terbatas. Ia hanya bias menonton teman-temannya bermain di taman di seberang rumahnya dari kejauhan dan itu yang dilakukannya setiap hari saat cuacanya cerah, saat ia bosan dengan bonekanya, saat ia merasa kesepian. Namun ia selalu berusaha tersenyum saat berbicara dengan ibu dan ayahnya, bahkan denganku sekalipun. Dulu aku pernah bertanya kepadanya, “Apa Syifa tidak kesepian?” lalu ia tersenyum dan berkata, “Syifa sudah cukup bersyukur karena ada ayah, ibu dan tante Susan. Syifa punya keluarga yang sangat menyayangi Syifa.” Saat mendengar ucapannya, hatiku tidak sanggup menahan sakit, memikirkan anak sekecil itu sudah bisa menerima keadaan dirinya apa adanya saat anak seusianya harusnya asyik bermain dengan teman-temannya.” Bu Susan menghentikan perkataannya. Ia berusaha menata hatinya agar tidak hanyut dalam kesedihan dan meneteskan air mata. Lalu ia menghela napas panjang dan tersenyum.

“Suatu hari ia pernah bercerita kalau ia mendapat teman baru yang selalu datang saat hujan turun. Dan wajahnya saat bercerita tidak pernah lepas dari ingatanku. Itu wajah yang paling berseri-seri dan gembira sepanjang aku mengenal Syifa hingga saat ini. Suatu saat anak itu tidak pernah datang lagi berapa kalipun hujan yang ditunggu Syifa. Mungkin saat itu ia baru menyadari bahwa dirinya kesepian. Aku tidak pernah melihat senyum bahagianya lagi sejak itu.” Ia menghentikan ucapannya. Ia memandang wajah Fauzan lekat. Ia tersenyum. “Ah, aku harus ke kelas, sudah ganti pelajaran. Pembicaraan informal ini, jangan katakan pada siapapun ya? Aku bisa dimarahi guru-guru senior.” Ia beranjak dari kursinya dan berjalan beberapa langkah lalu berhenti. “Ah, aku sempat mencari tahu soal anak itu, sebenarnya saat aku menemukannya aku ingin menyeretnya ke depan Syifa, beraninya dia membuat senyuman semanis itu di wajah Syifa lalu menghilangkannya dalam sekejap. Keponakan manisku yang malang.” Bu Susan kembali berjalan menuju pintu keluar.

“Dia benar-benar marah” Pikir Fauzan sambil menundukkan kepalanya. Namun kata-kata terakhir Bu Susan tidak bisa lepas dari pikirannya, “Aku benar-benar jahat” pikirnya.

Sebelum kembali ke kelas ia menuju ruang UKS untuk melihat keadaan Syifa namun tidak ada seorang pun di sana. Fauzan memutuskan untuk kembali ke kelas dan menemukan Syifa di sana. Hari itu ia tidak bisa berbicara dengannya karena Syifa selalu menghindarinya.

Sudah tiga hari semenjak hari itu, Fauzan tak melihat Syifa masuk sekolah. Hari itu ia memutuskan untuk menemui Bu Susan untuk menanyakan keadaan Syifa. Namun sudah tiga hari juga Bu Susan tidak datang mengajar.

Hari itu akhirnya Fauzan memutuskan datang ke rumah Syifa namun tak ada seorangpun disana. Saat itu seorang bibi tetangga lewat di depan rumah. Melihat Fauzan di depan rumah Syifa dengan mengenakan seragam sekolah, ia berhenti dan berkata “Hai anak muda, mungkinkah kau teman sekolahnya Syifa? Sepertinya tiga hari yang lalu kondisinya memburuk dan keluarganya tergesa-gesa membawanya ke rumah sakit. Kebetulan suamiku yang mengantar mereka. Anak yang malang, dia masih sangat muda.” Bibi itu melanjutkan langkahnya namun tertahan karena Fauzan memegang lengannya.
“Rumah… sakit mana?” Tanya Fauzan

Melihat wajah pucat dan panik Fauzan bibi itu langsung menjawab pertanyaan Fauzan. Seketika itu juga ia berlari tak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya. Kenapa… kenapa harus sekarang? Padahal akhirnya aku kembali, walaupun untuk waktu yang singkat, setidaknya aku ingin melihat wajah itu lagi. Pikirnya. Senyum lebar Syifa sewaktu kecil masih sangat jelas dalam pikirannya. Ia berlari sekuat tenaga. Tanpa sadar ada air yang mengalir membasahi pipinya. Namun awan mendung hari itu seakan ingin menyembunyikan rasa sedihnya. Air matanya dan air hujan bercampur menjadi satu tak ada yang bisa membedakan.

“Syifa, sudah waktunya minum obat” Seorang wanita berbalut seragam perawat datang dengan obat-obatan dan segelas air di atas nampan yang ia bawa. Ia melihat Syifa sedang memandangi air hujan yang turun di balik jendela. “Apa kau menyukai hujan?” Perawat itu melihat Syifa tersentak. “Ah, kau benar-benar serius memandangi hujan sampai-sampai tidak menyadari aku sudah ada di sebelahmu.” Perawat itu tersenyum pada Syifa.

“Aku… benci hujan.” Syifa menundukkan wajahnya lalu kembali memandang ke luar jendela. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan mendekati jendela hingga kedua telapak tangannya dapat menyentuhnya. “Aku sangat membenci hujan.” Ia menyentuhkan keningnya pada permukaan kaca jendela yang dingin, air matanya menetes.

Matanya terbelalak saat melihat laki-laki berseragam sekolah melambaikan tangannya dengan senyum mengembang di wajahnya. Senyum yang sama seperti Sembilan tahun yang lalu dengan tubuh basah kuyup diguyur air hujan. Dari lantai tiga rumah sakit ia bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki itu dan akhirnya ia tahu siapa. Rasa senang, sedih dan kesal bercampur aduk di dalam hatinya. Ia tidak tau harus berbuat apa lagi selain menangis.

“Sampai kapan akan terus menangis?” Fauzan meletakkan telapak tangannya yang basah di atas kepala Syifa. Sekarang lelaki yang melambaikan tangannya di tengah hujan beberapa menit yang lalu ada di hadapannya dengan baju yang kering.
Syifa mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Tiba-tiba saja tamparan mendarat di pipi kiri Fauzan. Ia tak bisa berkata apa-apa selain memandang Syifa.

“Kau! Sudah delapan tahun, kenapa baru datang sekarang? Karena kau orang pertama yang kuanggap teman, aku tidak bisa melupakanmu. Meski begitu, kau pikir bisa datang dan pergi sesuka hatimu? Aku benar-benar membencimu!” Ia meluapkan semua kekesalannya dan menatap tajam ke mata Fauzan. Tatapan itu tak lama bertahan. Syifa menurunkan pandangannya, ia tersenyumdan berkata “Tapi, entah kenapa aku merasa sangat bahagia bertemu denganmu lagi” akhirnya Syifa pun tumbang. Sebelum kesadarannya habis ia merasakan lengan yang hangat menopang tubuhnya agar tidak jatuh.

Malam itu Syifa kembali membuka matanya. Ia tidak melihat seorangpun di kamarnya. Ia melihat ke luar jendela. Langit malam itu sangat bersih, tak ada awan sedikitpun. Hari itu, kota bermandikan cahaya bulan dan bintang-bintang bersinar dengan sinarnya yang gemerlap. Langit yang indah pikirnya.

“Sudah sadar?” wajah laki-laki yang tak asing itu berjalan ke arahnya. Syifa tersenyum kepadanya dan kembali menatap langit. Fauzan duduk di sebelahnya. “Mana yang lebih kau suka? Langit cerah atau hujan?” Syifa terdiam mendengar ucapan Fauzan. Matanya tetap tertuju pada langit malam.
“Hmmm… mungkin langit yang cerah. Karena aku belum pernah merasakan terkena hujan” Syifa kemudian menatap Fauzan “Hei teman, aku punya satu permintaan. Mau dengar?” Syifa tersenyum.
“Katakan saja.” Fauzan tersenyum. Syifa menyampaikan permohonannya kepada Fauzan. Fauzan sedikit kaget dengan permohonan Syifa.

Beberapa lama ia terdiam dan berpikir. “Oke, tapi aku juga punya permintaan. Berjanjilah akan memenuhinya kalau aku sudah memenuhi permintaanmu!” Ketika Syifa menayakan permintaan Fauzan ia hanya berkata “Setelah permintaanmu kupenuhi akan aku beritahukan.” Fauzan pun tersenyum.
“Hei Fauzan, apa kau akan datang ke sini setiap hari meskipun hujan tidak turun?” Tanya Syifa. Melihat Fauzan mengangguk sambil tersenyum hatinya terasa lega. “Yah, setidaknya aku tidak kesepian sampai akhir.” Lanjut Syifa.

Biasanya setiap hari Fauzan mengunjungi Syifa meski tidak dalam waktu yang lama. Namun beberapa hari ini Fauzan sama sekali tidak datang. Susan pun menyadari akhir-akhir ini Fauzan tidak seperti biasanya. Wajahnya terlihat begitu lelah dan penuh keragu-raguan. Terkadang ia berhenti sejenak sebelum masuk ke ruang rawat Syifa. Tidak ada yang tau apa yang sedang dipikirkan Fauzan.

“Tante Susan, apa aku terlalu membebaninya? Aku menyuruhnya datang setiap hari agar aku tidak kesepian. Tapi sepertinya akhir-akhir ini ia Nampak lelah dan tidak banyak bicara. Dan juga sepertinya banyak yang ia pikirkan. Meski begitu ia tetap tersenyum padaku dan berkata kalau dirinya baik-baik saja. Aku takut, mungkin saja dia sudah lelah menemuiku setiap hari dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti.” Tangan Syifa menggenggam erat selimut yang menutupi kakinya.

Melihat keponakannya memasang wajah seduhnya ia menggenggam erat kedua tangan Syifa dan berkata “Percayalah padanya, karena kepercayaanmu akan membuatnya tetap di sisimu” Susan tersenyum memberi semangat kepada Syifa. Hatinya lega setelah melihat Syifa mengangguk sambil tersenyum.

Malam itu kondisi Syifa memburuk, dia mengalami gagal jantung. Untung saja dokter masih sanggup menolongnya. “Waktunya sudah tidak banyak, kita harussegera menemukan donor” tentu saja perkataan dokter tersebut merupakan pukulan besar bagi keluarga Syifa.

Syifa tersadar di pagi hari. Ia melihat ibunya sedang menangis di samping tempat tidunya. Syifa segera mengusap air mata ibunya dan tersenyum “Semua akan baik-baik saja”. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Syifa, membuat ibunya berhenti menangis dan tersenyum padanya. “Mama, aku ingin bertemu Fauzan. Dia sudah berjanji mau memenuhi permintaanku” lanjut Syifa.

Sore itu awan mendung menyelimuti langit dan hujan turun tak lama kemudian. Syifa hanya bisa memandang hujan di luar jendela dari tempat tidurnya hingga ia mendengar suara seseorang membuka pintu. Ya, pada akhirnya orang yang ditunggu akhirnya datang juga. Fauzan masuk dengan mendorong sebuah kursi roda. Dia menyodorkan tangan kanannya kepada Syifa. “Baiklah tuan putri, hari ini permintaanmu akan menjadi kenyataan” Fauzan membantu Syifa naik ke atas kursi roda. Mereka naik lift dan tiba di lantai teratas. Fauzan berhenti, ia berjongkok di depan Syifa seraya memunggunginya. “Naiklah!” ujar Fauzan. Tanpa berkata apapun Syifa menuruti kemauan Fauzan. Suara derasnya hujan semakin terasa dekat di telinga mereka. Fauzan menggendong Syifa menaiki tangga hingga lantai teratas. Ia membuka pintu angin menerpa wajah mereka. “Kau sudah siap?” Tanya Fauzan sambil menurunkan Syifa dari punggungnya.

Fauzan masuk ke dalam hujan. Sekarang tubuhnya basah kuyup. Syifa menadahkan kedua tangannya membiarkan air hujan memenuhinya. Ia bisa merasakan dinginnya tetesan air hujan, hal yang belum pernah ia rasakan sejak kecil. Syifa terkejut ketika Fauzan menarik tangannya agar seluruh tubuhnya masuk ke dalam hujan. Awalnya ia memejamkan mata, merasakan air hujan menetes di seluruh tubuhnya. Begitu ia membuka matanya, Fauzan tersenyum. Saat itu Syifa merasakan kebahagiaan yang sangat besar. Ia tertawa lepas sambil berputar putar di tengah hujan dengan tangannya yang direntangkan.

Lima belas menit kemudian, hujan pun berhenti dan berubah jadi gerimis. “Lihat!” Fauzan menunjuk ke arah lengkungan setengah lingkaran berwarna-warni. “Waah… pelangi” mata Syifa berbinar. “Itu bonus” kata Fauzan sambil tertawa. “Dan satu lagi” lanjut Fauzan. Ia menarik tangan Syifa ke sisi berlawanan. Pemandangan matahari terbenam menanti mereka. Sinarnya yang kemerahan benar-benar sebuah pemandangan yang indah. “Terima kasih untuk segalanya” Syifa tersenyum pada Fauzan dengan senyuman yang manis. “Syukurlah, sampai akhir aku masih bisa melihatmu tertawa dan tersenyum seperti ini.” Fauzan tersenyum kepada Syifa. “Aku… ingin hidup” air mata Syifa jatuh saat mengatakannya. “Kalau begitu berjuanglah untuk hidup, demi dirimu sendiri bukan demi orang lain” Fauzan menyemangati dengan senyum. Lagi-lagi senyum itu membuat semangat juang Syifa bangkit. Senyum yang tak pernah berubah selama Sembilan tahun, senyum yang selalu ia tunggu.
“Ayo kembali ke kamar” ajak Syifa. Fauzan baru menyadari Syifa memegangi dada kirinya sejak tadi. “Tenang, aku baik-baik saja cuma sakit sedikit.” Ujar Syifa sambil tersenyum.

Saat ia berbalik seseorang muncul di pintu atap. Itu ibu Syifa dan tantenya disusul oleh dokter yang merawat Syifa. “Kau bisa berjalan kan? Pergilah, mereka mengkhawatirkanmu.” Setelah mengatakannya Fauzan mendorong Syifa agar ia berjalan. Ibu dan tantenya berlari menghampiri Syifa. Pada akhirnya Syifa meminta maaf karena telah membuat mereka khawatir.

Bruk… terdengar suara di belakangnya. Suara itu membuatnya ketakutan apalagi saat dokter yang ada di belakang ibunya berlari ke arah datangnya suara. Ia berbalik dan melihat Fauzan sudah tak sadarkan diri. Ia ingin menghampirinya namun dadanya terasa sakit. Lebih sakit dari sebelumnya namun ia berusaha untuk tetap melangkah hingga pandangannya menjadi gelap.

Satu minggu setelahnya Syifa sadarkan diri dan mereka bilang mereka mendapatkan donor yang sesuai. Syifa merasakan detakan jantung barunya. Detakannya terasa hangat membuatnya ingin menangis. “Mama dan tante akan bicara pada dokter sebentar, kau akan baik-baik saja sendirian?” Tanya ibu Syifa. Melihat syifa mengangguk ibunya tersenyum lalu keluar dariruang rawat.

Sepucuk surat tergeletak di meja samping tempat tidur Syifa bertuliskan untuk Syifa di bagian luarnya. Ia duduk dan mengambil surat itu lalu membacanya.

Untuk Syifa,
Sejak dulu aku menyukai hujan karena hujan selalu menyembunyikan air mataku. Saat hujan aku bisa puas menangis tanpa rasa takut. Sampai akhirnya hujan mempertemukan kita. Seorang gadis kecil dengan tatapan sedihnya melihat tetes demi tetes air hujan yang jatuh dari langit.

Aku ingin mengenalnya, aku ingin tau tentangnya. Lalu aku mencari tau tentang dirinya, tentang rasa sakitnya, tentang rasa kesepiannya. Akhirnya aku berani menyapanya, melambaikan tangan kepadanya, setiap kali hujan turun. Ia mulai tersenyum, senyumnya sangat manis dan ia membalas lambaian tanganku Lalu aku memutuskan, aku ingin bicara dengannya
Namun takdir tidak memutuskan demikian. Sembilan tahun akhirnya harapanku jadi kenyataan namun hal pertama yang aku katakana telah menyakiti hatinya, Maaf. Maaf telah membuatmu merasa terkhianati, maaf telah membuatmu kesepian dan kehilangan senyuman. Tapi aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Setidaknya itu hal terakhir yang bisa aku lakukan.

Ah… mengapa aku begitu peduli dengan gadis ini? Aku mulai berpikir demikian. Mungkin karena kita berbagi nasib yang sama. Namun akhirnya aku menyadari bahwa aku menyayanginya. Bahwa senyumnya adalah hal yang berharga.

Aku hanyalah tetesan air hujan yang akan segera menguap tak bersisa ketika mentari kembali bersinar. Terima kasih karena sudah membiarkanku menyirami tanah yang tandus agar bunga-bunga yang indah dapat tumbuh dan bermekaran di atasnya.

Karena sudah mengabulkan permohonanmu, aku akan memintanya sekarang. Maaf tidak bisa mengatakannya secara langsung. Tapi kau punya kewajiban memenuhinya. Permintaanku sangat sederhana. Syifa, hiduplah dengan penuh keceriaan. Bukan demi orang lain, tapi demi dirimu sendiri. Jangan pernah kehilangan senyumanmu lagi. Aku yakin kau tidak akan pernah merasa kesepian lagi.

Fauzan.

Syifa memeluk erat surat di tangannya, air matanya tak terbendung lagi.

TAMAT

Cerpen Karangan: Tyas
Blog: aninvisiblemeaning.blogspot.com

Cerpen Senandung Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Al-Qur’an Cokelat

Oleh:
Ku langkahkan kaki yang berbalut sepatu kets kesayanganku ke luar rumahku dengan mantap. Semilir angin pagi dan kicauan burung menambah sempurna pagi pada hari jum’at indah itu. Namun, cuaca

Cinta Sejatiku

Oleh:
Izinkanlah diri ini mengungkapkan isi hati dimana kisah cinta sejati dari sepasang kekasih. Tiada henti memang sebuah jalinan kisah cinta suci dalam menerima setiap ujianNYA. Namun inilah kesetiaan cinta

Alasan Terakhirku

Oleh:
Hari ini aku bermimpi, bermimpi bisa selamanya bersama kamu. Aku sangat berharap kau mencintaiku setulus hatimu sama seperti aku yang mencintaimu sepenuh hatiku. Tapi ternyata kau pergi, pergi dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *