Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 21 September 2015

Kini aku hanya bisa terdiam dalam tidurku dan menyaksikan mimpi yang begitu aneh ini. Suara ayam jago pun membangunkanku, Seolah ia ingin menghentikan mimpiku.
“ahh ternyata sudah pagi.” Ucapku sambil membuka tirai jendela pagi itu. Lalu, ku dengar burung-burung bernyanyi tanpa henti di dekat jendela kamarku. Kelihatannya mereka sedang bahagia. Sudahlah.. tak akan ku ganggu mereka.

Aku pun beranjak kembali ke tempat tidur. Tapi, bukan untuk kembali tidur melainkan untuk membereskannya. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk membereskan kamar tidurku yang lumayan kecil itu. Setelah semua selesai, aku pun meninggalkan kamar dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dan kebetulan hari itu hari minggu. Jadi, aku tidak cepat-cepat mandi. Setelah selesai dari kamar mandi, ku sapa Ibuku yang sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan.

“selamat pagi bu? Hmm wangi sekali aromanya membuat cacing-cacing di perut ini meminta diisi.” Ucapku menggoda Ibu.
“kamu bisa saja. Ya sudah bawakan sarapan ini ke meja makan. Ayah sudah lama menunggu di sana” ucap Ibu menyuruhku.
“siap bu. Hmm.. yummi” ucapku lagi karena lidah ini sudah tergoda dan ingin cepat-cepat melahap nasi goreng buatan Ibu.
“breakfast is ready, dad!” ucapku ketika sudah sampai di meja makan dan menghidangkan nasi goreng itu kepada Ayah.

Dan kebetulan di rumah ini hanya kami bertiga tak ada lagi orang selain kami. Kami kadang kesepian sekali tinggal di rumah ini. Ya walaupun di rumah ini ada media penghibur seperti tv tapi itu tidak sering membuat kami merasa ramai. Sudahlah.. mungkin ini takdir yang sudah diberikan Tuhan kepada kami. Tak lama, kami selesai menghabiskan sarapan itu dengan sekejap. Aku dan Ibu membereskan kembali meja makan itu dan Ayah beranjak pergi untuk sejenak membaca koran di depan rumah. Setelah itu, kami pun pergi untuk melakukan aktivitas masing-masing.

Dan kini, aku pun kembali ke kamar untuk melihat pemandangan dan langit dari jendela kamarku.
“bagaimana dengan senjaku yang sudah lama ini tak terlihat elok?” ucapku dalam hati. Lalu, tak sadar butiran-butiran bening dari mataku terjatuh dengan perlahan dan secepatnya ku usap kembali.

Dan pada saat itu akhirnya aku jujur dan mengakui segala hal yang ada dalam diri ini. Aku pun mengutarakan semua yang aku tahan selama ini tanpa orang lain tahu. Bahkan, diriku saja tidak mengerti apa yang sedang ku alami selama ini.
“untukmu senja.. aku ingin sekali melihatmu indah kembali. Dengan warna yang membuatku bersemangat dan cahaya yang membuatku merasa berarti dalam hidup ini. Tapi, semua itu sudah lama tak nampak. Dan seakan hidup ini tak indah dan bersemangat lagi. Hilang sudah anganku untuk selalu menapakimu senja…” ucapku lirih seakan burung-burung yang sedang bernyanyi pun tahu dan mengerti apa yang aku katakan.

Terkadang, setiap hidup seseorang itu berbeda-beda. Dan semuanya berputar tak diam. Maka ketika kita bahagia di sanalah kekecewaan menanti. Dan ini yang ku alami bersama senjaku. Kini ia menghilangkan keindahannya agar aku tahu. Bahwa semuanya tak akan indah namun suatu saat keindahan itu pasti akan kembali sempurna dan abadi.

Cerpen Karangan: Dewi Nurjanah
Blog: http://dewi21091996.blogspot.com
Nama: Dewi Nurjanah
Alamat: Nyalindung, sukabumi
Sekolah: MA BINA CENDEKIA
Kela : XII-bahasa

Cerpen Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tangis di Ufuk Barat

Oleh:
Matahari perlahan terbenam di ufuk barat. Suara azan bersamaan dengan itu bergema di seluruh penjuru dunia. Seorang wanita berkepala empat menaiki tangga menuju lantai tiga rumahnya. Dari tangga lantai

I Will Love You (Part 3)

Oleh:
Louis mulai berjalan dan memeluk mamanya. “Happy birthday ma, maaf kalo Louis selama ini sering cuekin mama, sering enggak peduli sama mama. Maaf Louis enggak bisa ngasih kado apa-apa.”

Menanti Karel

Oleh:
Weekend.. yeay! gak ada yang spesial juga sih buat gue, mau weekend, weekday sama aja. Sabtu ini bingung gue mau ngapain dan ke mana. Berhubung kemaren gue kesel sama

Penghujung Hari

Oleh:
Berjalan bersama harapan dan mimpi, mengikuti lekuk jalan meninggalkan jejak keraguan dan kecemasan. Tersamar setitik memori saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah ini. Terik menyengat, deru debu yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *