Senja Bersamamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 15 July 2017

Senja mengingatkanku akan segalanya. Mengingatkan akan pertemuan tak sengaja di senja yang diiringi gemercik air hujan, perkenalannya, caranya memulai pendekatan dan semua tentangnya. Hingga fajar terbit di kemudian hari yang mengubah segalanya. Mengubahku menjadi gadis pendiam. Mengubahku kembali menjadi sosok yang tak tersentuh oleh siapapun. Aku benci pagi itu. Pagi yang biasanya aku sambut dengan bahagia kini berubah menjadi waktu yang tak pernah aku inginkan. Jika waktu bisa berhenti makan aku akan meminta kepada Tuhan untuk menghentikan waktu dimana aku dan lelaki itu tertawa bahagia di bawah langit senja.

Aku rindu kepada lelaki itu. Lelaki yang bisa dengan mudah meluluhkan hatiku. Lelaki yang membuatku tersenyum disaat ada seseorang yang membuatku menangis. Ingin rasanya aku memeluk kembali lelaki itu. Seperti yang biasa aku lakukan saat senja. Namun apa boleh buat? Satu minggu ini dia tak pernah menampakkan wajahnya di hadapanku. Saat aku pergi ke rumahnya pun bundanya berkata bahwa lelaki itu sedang beristirahat. Tapi rupanya lelaki itu pergi tanpa pamit di pagi hari.

Dia duduk di sebuah kursi roda yang didorong oleh bundanya. Dia hanya menoleh ke arahku saat hendak memasuki mobil yang akan membawanya entah ke mana. Mengapa dia menggunakan kursi roda sedangkan kedua kakinya masih mampu untuk berjalan? Apa salahnya pamit kepadaku terlebih dahulu? Apa sulit dia mendatangi rumahku yang hanya bersebelahan dengannya? Yang aku lihat terakhir kali adalah wajahnya yang pucat tak seperti biasanya dan sepucuk surat yang terjatuh saat mobil itu pergi. Begitu banyak pertanyaan yang menghampiri pikiranku. Jangan tanya seperti apa perasaanku. Air mataku berlomba-lomba untuk keluar dari tempatnya. Isi surat itu menjawab semua pertanyaan yang ada di otakku.

Untukmu.
Gadisku

Ingat saat kita pertama bertemu di senja itu? Ingat saat aku berkenalan denganmu? Ingat saat pertama aku memelukmu di bawah hujan? Dan ingat selalu tentang semua itu, tentang bagaimana kita melewati 150 hari itu. Satu bulan sebelum aku mengenalmu dan pindah rumah dari rumahku yang dulu, aku divonis mengalami kanker otak. Suatu keajaiban aku masih bertahan sampai detik ini. Setelah vonis itu, aku meminta ayah dan bundaku untuk pindah rumah. Dan beruntunglah aku mendapatkan rumah baru yang bersebelahan dengan rumahmu. Maaf jika aku melukai hatimu dengan surat ini atau dengan perkenalan kita. Tapi sungguh aku bahagia dapat mengenalmu. Kamu adalah salah satu alasan mengapa aku masih bisa bertahan hingga sejauh ini.

Jangan menangis, aku akan sedih jika kamu menangis. Sekali lagi maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk pergi tanpa pamit seperti pagi ini. Maafkan aku saat kau datang ke rumahku dan bundaku berkata bahwa aku sedang beristirahat. Tapi memang benar, aku sedang beristirahat. Aku tidak ingin kau melihatku selemah ini. Maafkan aku, Aura. Kau ingat saat satu minggu yang lalu aku memelukmu begitu erat disaat senja diguyur hujan? Itu adalah salam perpisahanku kepadamu. Entah kenapa aku rasa setelah itu aku akan sulit memelukmu lagi.

Maafkan aku karena tidak berani untuk mengucapkan sepatah kata perpisahan kepadamu. Aku takut kamu menangis saat aku mengucapkannya. Setelah hari itu, kepalaku begitu sakit, bahkan untuk membuka mata seklipun. Bunda memintaku untuk dirawat inap saja, tapi aku menolaknya karena aku rasa sakitnya akan berkurang di kemudian hari. Tapi aku salah, kanker di otakku semakin melemahkankanku, Aura. Hingga ayah dan bunda memaksaku untuk berobat di luar kota.

Maafkan aku, pagi ini aku harus pergi untuk berobat tanpa pamit kepadamu. Maafkan juga karena aku tak pernah memberimu kepastian akan hubungan kita. Tapi bukankah kita tak harus memiliki hubungan? Karena tanpa kita sadari kita memiliki hubungan yang terikat tanpa pernah aku ataupun kamu meminta. Sekali lagi maafkan aku. Aku mencintaimu. Sangat. Aku rasa aku tak harus mengatakan itu, karena aku yakin kau merasakannya. Bukankah begitu, aura? Do’akan aku agar bisa sembuh dari penyakit ini. Agar aku dapat memelukmu kembali. Aku tidak berjanji untuk itu, tapi aku akan berusaha semampuku. Jika dalam 3 bulan kedepan aku tidak kembali, berjanjilah kau akan bahagia tanpaku. Jangan menangis, karena itu akan membebaniku. Maaf banyak permintaanku kepadamu.
Sekali lagi aku mencintaimu, Laura Lawndowvsky.

Your love.
Zayid Arkana Smith.

Sakit rasanya setelah membaca surat itu. Air mataku semakin bersemangat untuk membentuk sungai kecil di pipiku. Tapi aku segera menyekanya. Hingga sebuah tangan nan lembut menarikku ke dalam pelukannya. “Menangislah sepuasmu, tapi berjanjilah kepada ibu, kamu tidak akan menangis lagi setelah ini.” ibuku berkata sedemikian lembutnya hingga aku kembali manangis dalam pelukan hangatnya. “Aku ingin Arkan sembuh, ibu. Dan aku berjanji untuk tidak akan menangis lagi.” Ibuku mengelus rambut panjangku dengan sayang dan mengecup puncak kepalaku. Dalam hati aku berdoa untuk kesembuhannya dan keselamatannya juga kebaikan untuknya. Aku berjanji akan menunggunya. Selalu.

Cerpen Karangan: Hilda Sicylia S
Facebook: Hilda Sicylia Sftr
ini adalah cerpen ke duaku, semoga anda suka 🙂 terimakasih.

Cerpen Senja Bersamamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Terlalu Kuat Untuk Kau Sakiti

Oleh:
Ada seseorang yang menyentuh pundaknya Karin, dia membalikkan badannya. Dan bertapa terkejutnya dia setelah mengetahui siapa yang menyentuh pundaknya. Seseorang yang dulu pernah menghiasi harinya, Rama. “Hay, apa kabar?”

Kutipan Cinta di Akhir Senja

Oleh:
Heningnya malam semakin hening, saat denting jam dinding seolah mengalun tanpa nada. Hembusan angin meniup sejuk, merayap membangunkan sosok wanita yang terbaring pulas. Mila. “Subhaanallah”, ucap Mila. Kemudian mengambil

My Love Story

Oleh:
Hai, namaku Monica. Definisiku: rambutku ikal coklat, kuncir dua. Kalian pasti sering melihatku di Universitas di London (namanya tidak disebutkan), karena aku sekolah disana. “Hei, Monica.. PR ini gimana

Maafkan Aku (Part 3)

Oleh:
Tak terasa 1 bulan sudah kami menjalin hubungan. Layaknya hubungan yang lainnya, perjalanan kami pun tak semulus yang kami dambakan. Hari ini, tepat 3 hari dimana Nada tidak memberikanku

Sepucuk Surat Jelita

Oleh:
Air hujan yang menetes, mulai membentuk bundaran-bundaran kecil yang semakin lama semakin besar pada danau tersebut. Masih terus menetes, membasahi keseluruhan yang ada di tempat itu. Tempat yang seharusnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *