Senja Di Atas Bukit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 4 June 2016

Ku tebus malam dalam dingin yang menggigit pori-pori kulit. Ku kayuh langkah kaki yang kian menyusut oleh lelah yang tak terungkap. Seiring menghapus deru jejak yang memaksa diri merindukan sosok yang kusebut “dia”.
Aku masih mengingat saat terakhir kalinya… Kami mereguk senja bersama di atas bukit. Dinginnya angin tak teraba olehku, karena ada ‘dia’ yang melebur segalanya menjadi begitu hangat.

Kini, setahun berlalu melepas ‘dia’ bersama wanita pilihan orangtua yang berhak penuh atas kebahagiaannya. Tak terasa waktu terus berputar bersama sisa–sisa rindu yang masih membekas jelas. Aku kembali pada senja di atas bukit ini, namun tak lagi bersama ‘dia’. Lupakah ‘dia’ akanku. Bagaimana ‘dia’ yang sekarang. Sama kah dengan ‘dia’ yang dulu sebelumnya pernah bersamaku. Disaat yang bersamaan, kulihat seorang permuda berkulit gelap, memakai jaket kulit, dan bersepatu fantofel, tengah asyik memainkan selembar kertas ditangannya. Ku pandangi sosok pemuda itu, dengan penuh rasa penasaran. Tak sedikitpun ia menoleh ke arahku. Lalu, ku acuhkan pemuda tadi dan kembali dalam genangan rinduku pada seseorang yang kusebut ‘dia’.

“hai… Maaf, nona…” sapa pemuda itu tepat dari arah samping tubuhku.
“oh… ya.. Hai.. juga…” balasku atas sapaannya sambil tergugup.
“maaf, aku mengagetkanmu yah…” suara bassnya terdengar ramah di telinga.
“ah… Ya, sedikit…” aku tersenyum kecil.
“apakah, aku boleh duduk di sampingmu?” pemuda itu menatapku lekat.
“… Tentu, kenapa tidak… Silahkan saja…” pancaran matanya sangat menawan.

Pemuda itu, duduk tepat di samping kananku. Posisi dimana ‘dia’ dulu, sering duduk bersamaku saat melihat senja di atas bukit ini. Aku menghela nafas panjang. Tak banyak yang kami bicarakan, aku dan pemuda ini baru pertama kali bertemu, namun mengapa… Rasa yang aneh menyergapku begitu saja, seperti perasaan salah tingkah yang melanda. Aroma wangi parfum maskulinnya, terus hilir mudik di penciumanku. benar–benar pemuda yang memesona, ucap batinku.
“kau pernah kesini bersama seseorang…?” pemuda itu mengawali perbincangan.
“iya, sering bahkan” kataku dengan suara lirih.
“aku pun demikian, di suatu pagi yang tak biasa… kami sering berada disini hingga senja mulai Nampak…” ucapnya sendu.
“aku tidak ingat lagi, kapankah saat-saat yang kami habiskan di bukit ini bersama” ucapku.
“kenapa, lalu kemana seseorang itu…?” Tanya pemuda itu, dengan rasa penasaran.
“aku memanggilnya dengan sebutan… ‘dia’… Hmm, ‘dia’ menikah setahun ini bersama gadis pilihan orangtuanya” kataku, sambil menunduk.
“benarkah… lalu, kau melepasnya begitu saja… nona?” pemuda itu menangkap risauku.
“iya… karena, tak ada guna mempertahankan sesuatu hal yang bukan milik kita…” ucapku dengan datar.
“nasib kita hamper sama… nona, wanitaku bernama ‘ia’…” ucapannya sedikit bergemuruh.
“lalu, apa yang terjadi pada kalian berdua…?” Aku penasaran dengan cerita pemuda itu.
“…’ia’ mengakhiri hidupnya, karena masalah perjodohan yang tidak ‘ia’ perkenankan dengan pemuda lain… pilihan orangtuanya” ucapan pemuda itu menyentak bulu kuduk yang membuat merinding.
“ah, ya tuhan… ma, maafkan saya…” ucapku dengan nada menyesal.
“tidak mengapa nona… aku yakin, saat ini dia pasti tengah bahagia atas pilihannya sendiri…” nanar mata yang begitu sendu, menatap ke arah langit gelap.
“…” aku hanya terdiam, menanggapi kisahnya yang diluar dugaanku.

Pemuda itu, mengeluarkan sehelai kertas dari kantong jaketnya, dan menyodorkan kertas itu padaku. Aku yang masih di selimuti oleh kabut iba padanya, mencoba meraih kertas tersebut. Mungkin saja ada jejak yang oleh tertinggal untuk pemuda itu. Aku membacanya yang bertuliskan…

“kembalilah kebukit itu menemui senja yang meradang jingga
Meski waktu telah menenggelamkan kita.
Kembalilah ke bukit senja, dimana rinduku akan kau temui disana
Bersama cakrawala yang menyenandungkan kidungnya…
Hatimu bagai pelita yang membasuh remah mimpiku
Walau nantinya, kau akan kembali ke bukit itu, tak bersamaku lagi…”
Aku menutup lembaran itu dengan airmata yang membanjiri kelopakku. Sungguh wanita yang elok. Berkorban demi cinta. Seolah ‘ia’ tak ingin cintanya terpecah oleh dusta dan nista. Lamunanku kembali tertuju pada ‘dia’ yang memilih mengikuti pilihan yang bertentangan dengan hatinya.
Tak berapa lama, kulihat ke arah samping… Pemuda itu menghilang, kubalikkan badan ke arah belakang, kulihat langkah kakinya semakin menjauh pergi.Tegap tubuhnya membilurkan sejuta tanya pada hatiku, kemana pemuda itu akan melangkah. Ketempat apakah pemuda itu bersarang, ketika hujan mengguyur bumi.
Kehebatan luar biasa yang telah diberikan oleh seorang anak manusia yang mencoba memendam sendiri luka sayatan cinta, yang sampai mati harus terus tertanam pada lekukan hati merahnya.

dalam kecamuk rindu yang belukar

Lentera Kuning, 100312.

Cerpen Karangan: Aprilia W. Indarti
Facebook: Lily Putih

Cerpen Senja Di Atas Bukit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hari di Awal Ketiga

Oleh:
“kring.. kring.. kring” Suara jam beker kolot itu membangunkan tidur malamku yang kelam. Huh, suara nyaringnya membuat telingaku sakit, lalu reflek kubuang jam beker itu entah kemana dan bergegas

Bertahan

Oleh:
Sore itu, terlihat dari kaca mobil seorang anak kecil berumur 5 tahun duduk di dalam mobil dengan boneka kelincinya. Anak kecil itu terlihat begitu bahagia karena ia akan mengunjungi

Penantian Di Ayunan Waktu

Oleh:
“Ciee.. Hari ini ada yang mau ketemu sama pangerannya nih,” Raeka hanya tersenyum. Naina, terus saja menggodanya hari ini. Lagi pula, Naina berkata benar. Raeka lagi-lagi tersenyum mengingatnya. “Kamu

Kehidupan Yang Kedua

Oleh:
Kuterdiam dalam kegelapan, kuhidup dalam kesunyian dan kuberlari dalam angan, benda benda yang menempel di tubuhku taklagi dapat kurasakan. Kutapaki lorong panjang yang tiada ujung. Lelah rasanya menentukan langkah

Sang Belahan Jiwa

Oleh:
Di sebuah lapang rumput yang luas, aku duduk sendiri. Ditemani hembusan angin yang sejuk, siang itu aku duduk dengan santainya. Cuaca sedang cerah, nggak terlalu panas, nggak mendung, bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *