Senja Di Ujung Penghabisan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 10 November 2017

Sovi berdiri di trotoar jalan dan menatap sebuah Kafe yang dulu pernah membuat dia sakit hati dan sedih sampai saat ini. Entah apa yang kurang darinya sehingga membuat Frans berselingkuh dengan Fay sahabatnya. Sampai sekarang dia masih teringat akan kejadian tiga tahun lalu setiap dia melihat Kafe tersebut. Tanpa Sovi sadari, dia memejamkan matanya dan mulai membuka serta melihat semua kenangan dalam memorinya tentang Frans.

Sovi menunggu telepon dari Frans di kamarnya. Dia duduk di kursi belajar dan menyangga kepalanya dengan kepalan tangan kirinya. Serta tangan kanannya sibuk memutar-mutar handphonenya di meja. Entah mengapa akhir-akhir ini Frans berubah sikapnya 90% kepadanya. Frans yang tadinya setiap hari menghubungi Sovi dan menanyakan kabarnya, sekarang hanya satu minggu dua kali. Bahkan ketika Sovi hendak menelepon Frans, handphonenya terkadang tidak aktif sampai berjam-jam. “Sebenarnya apa yang dilakukan Fans di luar sana?” tanya Sovi dalam hatinya. Dia takut dan gelisah kalau Frans selingkuh di luar sana dengan wanita lain. Dengan cepat Sovi menepis dugaannya itu dan mencoba menghubungi Frans.

“Hallo, sayang,” ucap Sovi.
“Hallo,” jawab Frans dengan suara yang lemah.
“Kamu kenapa?” tanya Sovi dengan panik.
“Oh… aku enggak apa-apa. Cuma sedikit tidak enak badan,” jawab Frans.
“Kalau begitu kamu harus minum obat dan istirahat yang cukup. Biar besok bisa cepat sembuh,” ucap Sovi memberikan pesan kepada Frans.
“Ya udah, kalau begitu aku tutup teleponnya ya? Soalnya aku mau istirahat dulu,” jawab Frans.
“Em… ya udah. Semoga cepat sembuh ya sayang?!” ucap Sovi memberi semangat.
Akan tetapi telepon langsung ditutup oleh Frans tanpa mengatakan apa-apa lagi. Sovi menghela nafas. Ternyata dugaannya tidak benar dan sekarang dia sedikit lebih tenang.

Tepat ketika telepon dari Sovi ditutup oleh Frans, tiba-tiba Sinta menelepon.
“Hallo Sin, ada apa?” tanya Sovi dengan gugup. Biasanya Sinta akan memberitahukan sesuatu tentang Frans yang tidak mengenakkan hatinya.
“Sovi, lo sekarang juga harus pergi ke Kafe Capkin. Gue tadi melihat Frans sedang berduaan dengan Fay. Cepat Sov, gue tadi melihat mereka berdua di dalam Kafe,” jawab Sinta dari seberang telephon.
“Fay dengan Frans di Kafe Capkin? Enggak mungkin, Gue yakin lo pasti salah lihat. Tadi gue baru menghubungi Frans dan kata dia, dia sedang sakit sekarang,” ucap Sovi sedikit bingung.
“Sakit? Jelas-jelas dia sedang ada di sini bersama Fay. Dia tidak sakit Sov, dia sehat. Jangan-jangan dia bohong sama lo?” tanya Sinta menduga-duga.
“Enggak mungkin, Frans enggak pernah bohong sama gue. Dia selalu mengatakan dengan sejujurnya pada gue setiap apa yang dia kerjakan dan keadaan dia,” jawab Sovi yang sedikit marah.
“Tapi sepertinya, dia memang bohong sama lo. kalau lo enggak percaya, silahkan lo ke sini dan lihat apa yang dilakukan kekasih yang paling lo puja-puja itu selama ini,” ucap Sinta yang kemudian menutup teleponnya.

Sovi duduk dengan lemas di kursi belajarnya. Dia menutup mukanya menggunakan tangan. Memikirkan semua perkataan dari Sinta.
“Apakah itu benar yang dikatakan Sinta? Tapi gue enggak percaya kalau Frans berbohong sama gue? Tapi sepertinya Sinta memang tidak berbohong,” ucap Sovi dalam hatinya.
Sovi menghela nafas. Setelah beberapa saat, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Kafe Capkin memastikan apakah benar atau tidak apa yang dikatakan Sinta. Sovi mengganti pakaiannya secepat mungkin dan langsung pergi dengan sebuah taksi.

Sovi turun di sebuah trotoar jalan. Dia memandang ke papan yang bertuliskan Capkin dengan hiasan lampu yang berkerlap kerlip indah. Kebetulan hari ini senja mulai turun, sehingga seluruh lampu di sepanjang jalan maupun di tempat-tempat nongkrong seperti Kafe Capkin, menyala dengan terang. Sovi mulai menyeberang jalan dan dari luar saja dia sudah melihat dua orang manusia yang Sovi kenal. Dia adalah Frans kekasihnya dan Fay sahabatnya yang selalu setia mendengar curhatan dari Sovi ketika dia mendapat masalah.

Ternyata semua yang diucapkan Sinta tentang Frans benar. Dia sedang bermesraan dengan Fay sahabatnya. Sovi mengambil handphonenya dan menelepon Frans. Dia menelepon sambil melangkahkan kakinya memasuki Kafe.
“Hallo, ada apa lagi si, sayang?” tanya Frans yang marah karena dia diganggu oleh telepon dari Sovi. “Bukankah aku sudah bilang, kalau aku sedang sakit dan membutuhkan istirahat, jadi tolong jangan ganggu aku.”
“Sayang, apa benar kamu sedang sakit?” tanya Sovi. Air matanya sudah menetes dengan deras, membuat sebuah sungai kecil di pipinya.
“Tentu saja aku sedang sakit, jadi tolong jangan ganggu aku sekarang.” Frans menutup telepon dari Sovi.
Sovi yang sudah berada di belakang mereka dengan air mata yang terus mengalir di pipinya tidak menyangka akan perbuatan kekasih dan sahabatnya yang sudah mengkhianatinya.

“Ternyata selama ini kamu memang cowok yang tak berguna.”
Frans menoleh dan mendapati Sovi yang sudah berdiri di belakangnya. Dia berdiri dengan kaget.
“Sov… Sovi…” ucap Frans tergagap.
“Kenapa? Lo kaget karena gue ada di sini?” tanya Sovi.
“Sov… ini enggak seperti apa yang lo lihat. Gue bisa jelasin semua ini,” ucap Frans yang akan memegang tangan Sovi. Akan tetapi langsung ditepis oleh Sovi dan dia berlari meninggalkan Kafe.
Di belakangnya dia melihat Frans mengejarnya. Dia terus memanggil-manggil Sovi, akan tetapi dia tetap berlari dan tidak menengok ke belakang. Ketika Sovi sampai di trotoar jalan, tiba-tiba dia mendengar Frans berteriak dan mendapati Frans sudah terbaring di jalan dan melihat darah yang mengalir dari kepalanya.
“Fransssssss…!” teriak Sovi dan langsung berlari kembali ke arah Frans yang masih terbaring di jalan raya dan bersimbah darah. Sovi duduk di samping Frans dan mengangkat kepalanya di pangkuan Sovi.

“Sov, maafin gue ya? Gue yang udah mengkhianati lo selama ini. Padahal gue tau kalau lo adalah cewek yang benar-benar mencintai gue. Tapi bodohnya gue, gue lebih memilih cewek lain dan melukai hati lo,” ucap Frans dengan lemah.
“Kenapa lo baru sadar sekarang?” tanya Sovi sambil menangis terisak. “Kenapa Frans? Kenapa?”
“Karena selama ini gue berpikir bahwa cewek sebaik dan secantik lo tidak pantas mendapat cowok seperti gue yang playboy dan suka mempermainkan perasaan wanita.”
“Tapi gue enggak peduli itu. Karena gue benar-benar cinta sama lo,” ucap Sovi.
“Terimakasih ya Sov, lo udah mau mencintai cowok seperti gue, tapi gue…” belum selesai Frans berbicara tiba-tiba Frans pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit, akan tetapi nyawanya sudah tidak bisa tertolong lagi. Sovi menangis terisak-isak dan memeluk jenazah Frans yang sudah terbujur kaku tak bergerak.

Sang fajar mulai tenggelam dan meninggalkan semburat merah keemasan yang sangat indah, Sovi membuka matanya dan menghela nafas. Dia memandang senja yang sudah tampak. Sepertinya hari ini dan detik ini dia harus merelakan Frans yang sudah pergi untuk selama-lamanya. Dan menyimpan semua kenangan serta memori tentang Frans dalam lubuk hatinya tanpa membuka dan melihat kembali semua kenangan dan memori itu. Karena sekarang dia harus membuka kehidupan baru bersama Klay sebagai pasangan pengantin.

SELESAI

Cerpen Karangan: Irmayul Afiah
Facebook: Irmayul AL

Cerpen Senja Di Ujung Penghabisan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Atau Sahabaku

Oleh:
Kadang kita sering terbengkalai atau termenung mendengar kata CINTA, Apa itu Cinta?, mungkin semua orang mengetahui apa arti Cinta. Cinta memang harus dimiliki oleh semua makhluk tuhan di dunia,

Sang Fajar Dari Kota Biru

Oleh:
Aku Susan. Setidaknya begitulah teman-temanku sering menyapaku. Aku duduk di bangku SMP kelas 1, alias kelas VII. Aku sangat senang menulis. Baik itu karya-karya fiksi, ataupun kayra ilmiah. Yah,

Pertemuan Singkat

Oleh:
Namaku Danisa Putri, panggil saja namaku ica. Kini, aku sekolah kelas 2 SMA di salah satu SMA di Kota Bandung. Aku tinggal di keluarga yang sederhana. Aku anak kedua

Lafadz Cinta di Negeri Sunyi

Oleh:
Coffee maker di pantry itu menggemuruh. Sebentar lagi cappuccino kesukaan Rio akan siap. Selanjutnya, dia akan menuangkannya ke dalam cangkir. Kemudian menaburi bagian atasnya dengan coklat granula dan sedikit

Fajar Dan Kenangannya

Oleh:
Suasana pagi ini tak seperti biasanya. Kali ini, kuhabiskan pagi di hari minggu untuk pergi jogging bersama alin, sahabatku, di alun-alun kota kami. Sengaja kami keluar rumah sebelum matahari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *