Senja Menangis di Alun-alun Kota

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 10 July 2013

Tahun ini sudah bulan Nopember, musim penghujan telah tiba, tidak pagi, tidak siang, tidak sore atau malam sekalipun, hujan tiba-tiba saja menyambangi bumi.

Alun-alun kota bandung selalu basah, daun-daun basah, tanah yang di pijak basah, bahkan bangku yang selalu kau duduki pun basah.

Tapi kau tak peduli, setiap hari kau selalu kesana, duduk di bangku yang sama, lalu berlama-lama kau termenung disana.

Kau sedang menunggu..

Ini sudah bulan yang ke lima kamu selalu setia duduk di sana, setiap senja tiba karena kau hanya ingat janjinya yang akan menemuimu di sana, di alun-alun kota bandung saat senja tiba dia akan menjemputmu.
Dan kau masih yakin dia akan datang menemuimu, kau yakin dia tak akan melupakan janjinya.

Kau akan setia menunggu..

Sore ini kau basah, gaun merahmu semuanya basah karena kau terlupa membawa payung, kau tergesa pergi kesana, karena tadi kau terlambat dua menit dari rumah, kau terburu berlari kesana karena kau takut yang kau tunggu datang saat kau tidak ada di sana.

Namun sepertinya kau masih harus tetap menunggu..

Lelaki itu tergopoh menghampirimu, memayungi dirimu yang telah kuyup dengan air hujan, dia menatap dirimu yang mengigil kedinginan, sorot matanya penuh iba, kesedihan menjalar ke seluk-seluk hati lelaki itu, menatap tubuh kurusmu yang merapuh berbalut gaun kusam yang sama berbulan-bulan.
Setetes air mata membelai pipinya dan lalu jatuh menyatu dengan air hujan yang menggenang di tanah yang kamu pijak.

“Pulanglah, mungkin sore ini dia tak akan datang Anissah, kembalilah lagi esok, mari kita pulang..” Lelaki itu berbisik di dekat telingamu, dia nampak sangat perhatian dan lembut memperlakukan dirimu.
Dia sangat menyayangi dirimu.

Tapi kau menatap tidak suka pada lelaki itu, dia telah mengganggumu, namun tanpa suara kau berdiri, kau hanya manut saat lelaki itu menuntun mu pulang, walau hatimu masih ingin tetap di sana.

Menunggu dia yang kau tunggu..

“Sepertinya dia demam, berilah obat..” Lelaki itu berkata pada perempuan muda yang juga menatapmu terenyuh di depan rumahmu.

Dia Salamah kakak perempuanmu, yang segera merangkulmu, mengeringkan rambutmu yang basah dengan handuk yang sudah di persiapkannya, sedari tadi dia menunggumu dengan cemas sejak hujan mulai turun dan kakak lelakimu Ikbal pergi untuk menjemputmu.

Namun kau hanya terpaku dengan tatapan hampa, tidak kah kau mengenali mereka?
Tidak! Karena hatimu hanya mengingat dirinya yang sedang kau tunggu.
Hanya dirinya.

“Kapan orang pintar yang di carikan Uwa itu akan datang Kang..?” Salamah bertanya, dia semakin mengkhawatirkan keadaanmu yang tak jua berubah, padahal sudah kemana-mana kau di obati.

Tapi mereka salah, mereka tidak tahu jika kamu tak perlu di obati untuk sembuh, kau hanya perlu bertemu dirinya yang kau rindukan, yang kau tunggu!

“Sebaiknya kita bawa dia ke RSJ saja, hanya itu yang terbaik..” Balas Ikbal kakakmu, matanya menerawang gelisah, sudah berbulan-bulan dia gelisah sejak dirimu selalu terdiam membeku, tanpa gairah lagi dengan tatapan kosong.

“Aku tak tega melihatnya di sana kang..” Salamah kembali bergumam, hatinya perih tak terkira.
Jemarinya berusaha membuka gaunmu yang basah, Salamah khawatir kau masuk angin.

Namun tiba-tiba tanganmu mencengkram lengan Salamah, sangat kuat hingga membuat Salamah Tetehmu meringis kesakitan, matamu mendelik mengamuk pada Salamah.
Tetehmu meminta maaf dengan hati pilu, dia tak jadi melepas gaunmu, dan kau pun melepas cengkramanmu.

Matamu kembali layu dan hampa.

Kamu tak suka dia mau melepas gaunmu, gaun kesayanganmu, gaun indah untuk hadiah ulang tahunmu dulu, hadiah paling istimewa dari dia yang selalu kau tunggu.

Malam menyeruak di keheningan, asap rok*k yang di sulut kakakmu Ikbal mengepul ke udara, memendar lalu sirna terbawa angin yang melewatinya.
Dia setia menungguimu.

Kau masih terpaku di jendela, menatap langit yang hitam tanpa rembulan, angin memburai-burai rambutmu hingga masai, disana kau melihat wajahnya sedang tersenyum kepadamu, dan kau pun tersenyum, ada sedikit cahaya di matamu.
Namun tetesan embun hangat merambati pipimu yang lesi.

Namun Salamah Tetehmu menggugah lamunanmu tentang dia, kau lagi-lagi marah lewat sorot matamu kepada Salamah.
Salamah dengan lembut menuntunmu untuk segera tidur, namun kau bergeming, setiap malampun kau enggan untuk tertidur, kau takut, yah kau sangat takut saat kau tertidur dirinya datang mencarimu dan kau tak tahu.

Sekuat tenaga kau akan menahan kantuk agar kau tak tertidur, lihat saja garis hitam di sekeliling matamu begitu tebal.
Tapi kau tak peduli apapun.

Bahkan kau tak peduli pada Ikbal dan Salamah kedua kakakmu yang jadi pengganti orang tuamu yang telah tiada, mereka sangat menyangimu adik bungsu mereka yang dulu sangat cantik dan periang ibarat mawar yang baru mekar.

Mereka tak pernah mengeluh merawatmu yang kini bagai mayat hidup, mati tidak hiduppun seakan enggan.
Bergantian mereka menjagamu yang enggan memejam mata.

Tahukah kau, jika mereka juga takut, mereka sangat ketakutan kau akan menghilang di tengah malam seperti malam waktu itu, saat kau mendengar suara dirinya yang kau tunggu, memanggil-manggil dirimu.

Lalu kau mereka temukan di alun-alun kota, sedang terpekur di kesunyian di bangku itu.
Kau sangat menyedihkan kala itu!

Hari yang sangat cerah di waktu beberapa bulan yang telah berlalu, hari yang hampir menjelang senja.

Saat itu kau begitu ceria mematut dirimu, wajah cantikmu terlihat bercahaya di penuhi bunga-bunga asmara, kuas memulas pipi halusmu dengan setabur bedak yang membuatmu semakin bercahaya, tak lupa kau juga memoles gincu merah muda di bibir ranum milik mu, ini warna kesukaanmu, yang membuat bibirmu semakin ranum dan segar.

Perlahan kau menyisir rambut panjangmu yang hitam berkilau, kau sisipkan sebuah pita cantik di sana, aih kau melihat bidadari cantik di cermin itu.
Wajahmu memerah, namun senyum bangga sedikit menyusup di dadamu.

Terakhir kau raih gaun malam merah itu, gaun kesayangan dari orang tersayang, begitu pas di tubuhmu membuat dirimu semakin berkilau nan anggun.

Tak sabar kau bertemu dengannya, memamerkan kecantikanmu yang penuh pesona karena gaun malam darinya.

Senja ini kau janjian bertemu di alun-alun kota sebelum kalian pergi makan malam merayakan ulang tahun mu, kau dan dirinya memang selalu ingin kesana karena di sana awal kau bertemu dan berkenalan dengannya, di sana bunga asmara mulai mekar.

Saat itu kau dan dirinya sama-sama usai melaksanakan shalat Ashar di Mesjid Agung dekat Alun-alun sana, entah kenapa kau ingin sekali duduk di bangku itu, dan tanpa sengaja pandangan kalian bertemu, ada hasrat di matamu, ada kagum menyeruak di hatimu, kau terpesona pada sosok gagah pemilik kulit sawo matang itu.

Dan tanganmu tak harus bertepuk sebelah, hatimu tak harus merana, karena sang pangeran gagah memiliki hati yang sama untukmu.
Dia menyambangimu bagai kumbang yang menyunting putik sang bunga.
Cinta mekar begitu saja pada satu senja di alun-alun kota Bandung.
Kota kebanggaanmu.

Kau berjalan lincah dari kamarmu, berputar perlahan memamerkan gaun indahmu pada Salamah.
Wajah sumringah di senja cerah, wajahmu kembali memerah saat Salamah menggodamu.

Namun kehendak Gusti Allah tak bisa di bantah saat langit cerah berganti deras hujan, kau mendesah resah.
Dan saat itu Ikbal kakak lelakimu terlihat berlari dari kejauhan menembus hujan, dia menatapmu beku saat tiba di hadapmu, ada mendung di wajahnya, kau was-was, kau gelisah.

“Yang tabah Anissah adikku sayang, Ramlan kekasihmu mendapat kecelakaan, dia tak bisa di selamatkan..” Perlahan dengan getar-getar luka yang dalam bibir Kakakmu berucap.

Sejenak kau terpana, tak percaya, tak ingin percaya, namun anggukan kakakmu membelah hatimu, menghancurkan jiwamu.
Dan kau menjerit, kau meraung, meratap lalu kau jatuh tak sadarkan diri hingga sepanjang senja.

Saat kau tersadar semuanya berubah, segalanya berbeda, kau sudah tak memiliki semangat hidupmu lagi, mata ceriamu selalu mengembun, wajah cerahmu tersaput mendung.

Kau hanya menunggu senja tiba dan lalu memaksa diri ke alun-alun, duduk di bangku itu dengan setia, kau tetap menunggu kekasih hatimu di sana, kau selalu yakin kekasihmu akan menepati janjinya, menjemputmu di sana di alun-alun kota yang penuh kenangan.

Entah sampai kapan kau akan menunggu Anissah!
Karena yang kau tunggu takan pernah datang.

– Tamat –

Cerpen Karangan: Cay Cuy
Facebook: achay.tea[-at-]facebook.com

Cerpen Senja Menangis di Alun-alun Kota merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menunggu Pelangi

Oleh:
Seorang gadis berketurunan Indo Jerman sedang duduk sendiri di tepi danau. Dia sedang memainkan kuas dengan warna pastel kesukaannya di atas kanvas. Sesekali dia membenarkan rambutnya yang tertiup nakal

Goyah

Oleh:
Sakittt! Itulah rasa yang menghiasi jiwaku saat ini. “Aku tahu ini berat, sangat berat malah, namun kita juga tidak bisa egois karena cinta, mungkin aku harus pergi saat ini

Kata Terakhir Yang Indah Dari Mu

Oleh:
Pertemuan kami sesuatu yang tidak disengaja, walawpun kami satu kampus tapi berbeda jurusan dan kami pun tidak saling mengenal, awal perkenalan kami pada acara pentas seni di kampus yang

Cerita Khayalan Basah Hujan

Oleh:
Karena semua berhak mendapat kesempatan kedua. Hujan sudah lama turun dan sudah lama pula pikiran terlarung dalam kenangan. Hujan masih tetap sama, masih tetap dingin. Dingin yang mengembun di

Mimpi dan Firasat

Oleh:
Selamat pagi Sang Surya, sinarmu hangat menembus sela kamar tidurku, entah kenapa mataku masih enggan untuk terbuka, Aku masih larut dalam mimpiku yang samar. Alarmku pun berbunyi menunjukkan sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *