Senja Terakhir: Aku dan Hidupku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 24 May 2022

Aku tahu, tidak akan ada pemakaman yang layak bagi seorang pembunuh. Aku tahu, tidak akan ada yang menginginkan aku hidup. Aku tahu, aku tidak pantas untuk hidup. Aku sudah kalah, aku sudah menyerah.

“Riyan, bagaimana ini? Apa yang sudah kulakukan? Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi disaat seperti ini. Hanya kamu yang bisa kupercaya. Aku harus bagaimana?”
“Arin, apa yang sedang terjadi?” Tiba-tiba saja, Arin meneleponku dengan penuh kepanikan. “Kamu dimana? Aku akan segera ke sana.”

Aku bergegas menuju ke alamat sebuah apartemen yang disebutkan Arin, dan melihat Reno, pacar Arin, sudah tergeletak di lantai bersimbah darah. Aku segera mengecek pergelangan nadi dan napas Reno, berharap masih ada sedikit keajaiban yang tersisa.

“Reno sudah meninggal,” kataku lemas. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Arin mulai menangis dan menjelaskannya. “Riyan, kamu tahu, kan? Aku sangat sangat menyayangi Reno, bahkan aku sudah mengorbankan banyak hal untuk bisa bersama dengannya. Namun, dia … dia ternyata memiliki wanita lain. Aku kalap, langsung datang ke apartemennya, dan … dan aku menusuknya,” kata Arin terbata. “Bagaimana ini, Riyan? Lebih baik aku mati saja. Aku takut, aku pasti masuk penjara. Ayah dan Ibu pasti akan kecewa padaku. Apalagi, Ayah sudah sakit-sakitan. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mereka. Masa depanku sudah berakhir, Riyan.” Arin semakin menangis histeris.

Aku terdiam. Namun, tiba-tiba Arin mengambil pisau yang berada di lantai dan mengacungkannya ke dagu.
“Maafkan aku, Riyan, sudah melibatkanmu sampai seperti ini.” Tangan Arin terlihat bergetar hebat.
Hanya sepersekian detik, tanpa berpikir panjang, aku berhasil menggenggam pisau Arin. “Kumohon, jangan lakukan itu, Arin.” Lalu, aku merebut pisau itu dan membuangnya jauh. Aku sampai tidak sadar jika darah mulai menetes dari tanganku.

“Riyan, aku harus bagaimana?”
Aku memeluknya, berusaha menenangkannya. “Segera lapor polisi dan bilang ke polisi jika aku lah yang membunuh Reno. Itu satu-satunya jalan, Arin. Lalu, jangan sampai goyah, jangan pernah mengakui apapun, dan jangan pernah merasa kasihan kepadaku sedetikpun.”
Arin terdiam sesaat. “Terima kasih, Riyan. Aku tidak akan pernah melupakanmu selamanya.”

Reka ulang perkara.
Untuk mengetahui kronologis tewasnya Reno, polisi melakukan rekonstruksi di lokasi tempat kejadian perkara, dan itu berarti aku harus kembali ke apartemen Reno lagi, tempat aku merelakan hidupku menghilang seutuhnya. Setidaknya, di gedung tertutup seperti ini, tidak banyak orang yang datang untuk melihat.

“Ya, Pak. Saya terluka saat sedang berkelahi dengan Reno. Jadi, Arin menelepon saya dan kemudian bilang Reno akan memukulinya. Dia berhasil mengunci pintu kamar mandi untuk melindungi dirinya. Saya yang sedang kalap segera datang ke rumah Reno, kemudian mengambil pisau di meja makan dan menikamnya. Ya, benar, saya menyayangi Arin sejak kecil, dan tidak ingin dia menderita.”

Adegan demi adegan, pertanyaan demi pertanyaan dapat kujawab dengan lancar. Bahkan, semua orang percaya bahwa aku lah yang membunuh Reno. Untunglah, Arin hanya dipanggil sebagai saksi.

Akan tetapi, di antara seluruh kejadian ini, aku tidak bisa melupakan tatapan kebencian dari orangtua Reno. Ibu Reno tidak henti-hentinya menangis meraung-raung dan memukuliku dengan tangan kosong.
“Tenang, Bu. Mohon jangan mengganggu jalannya penyelidikan,” kata seorang polisi menghalangi beliau.
“Bagaimana saya bisa tenang melihat pembunuh Reno masih hidup? Kenapa harus Reno? Kenapa tidak kamu saja yang mati?”
Aku diam tidak menjawab. Aku sungguh mengerti, pasti masih lebih sakit hatinya dibandingkan dengan tangan beliau ketika memukulku. Sementara, kulihat Ayah Reno hanya diam membeku, mematung tidak mengatakan apapun. Ya, aku sungguh mengerti apa yang mereka rasakan. Kehilangan orang terdekat menjadi luka pukulan berat yang sulit untuk disembuhkan.

Di penjara. Kunjungan pertama.
“Keluar! Ada yang menjenguk!” teriak sipir galak.
Aku yang sedang meringkuk kedinginan di pojok ruangan, sendirian, segera bangun dan mengikuti sipir tersebut. Siapa? Apakah Arin? Sudah beberapa bulan aku di sini, dan selama ini tidak pernah ada seorang pun yang datang.

“Riyan!” dan dia segera memelukku. Aku merasakan kehangatan mulai menerobos masuk ke dalam tubuhku, juga hatiku.
“Kamu baik-baik saja, Al?”
“Iya,” jawabnya pendek. Suaranya terdengar prihatin melihat kondisiku.
“Hei, jangan memandangku dengan wajah kasihan begitu. Aku sungguh baik-baik saja, kok.”
“Riyan, maafkan aku baru bisa datang sekarang. Sampai saat ini, aku masih berusaha mencari cara untuk membebaskanmu, dan sepertinya aku sudah menemukan titik terang.” Dan, kemudian, dia menggenggam tanganku sesaat.

Aldi menghela napas panjang. “Kenapa kamu harus mengorbankan hidupmu sampai seperti ini?”
“Maksudnya?”
“Jangan berpura-pura lagi. Aku sudah tahu, bukan kamu pembunuh Reno, tetapi Arin.”
Jantungku seketika berhenti berdetak.

“Tenang! Aku punya koneksi di kepolisian. Pokoknya, aku akan meminta bantuan mereka untuk menyelidiki kembali kasus ini. Aku sudah tidak tahan melihat sahabatku menanggung kesalahan yang tidak diperbuatnya,” lanjut Aldi.
“Jangan! Kumohon, jangan katakan apapun!” Aku setengah berteriak panik.
“Astaga! Apa aku salah dengar?”
Aku menggeleng.
“Gila! Riyan, kamu benar-benar sudah gila! Kamu menderita di sini sementara Arin di luar sana hidup bahagia.” Dengan penuh emosi, tangan Aldi menggebrak meja sebelum dapat kucegah. Suaranya cukup kencang, tetapi tidak ada sipir yang datang. Ya, aku tahu sekarang, uang dan kekuasaan semakin lama memang bisa membutakan hati banyak orang.
“Al, jangan membuat tanganmu terluka demi aku yang seperti ini.”
Hening sesaat.

“Ya, seperti yang kamu katakan, aku memang sudah gila. Selama aku hidup, apakah aku pernah mendapatkan apa yang kuinginkan? Lalu, apakah hidupku pernah berjalan sesuai dengan keinginanku? Tidak pernah, dan aku akan menyerah sekarang. Hanya dengan mengorbankan hidupku seperti ini, setidaknya aku bisa melihat Arin melanjutkan hidupnya. Mungkin saja, nanti Tuhan punya rencana sendiri untukku. Jadi, kumohon, jika kamu ingin membantuku, jangan katakan apapun. Aku percaya padamu. Biarkan seperti ini saja.”

“Riyan, apakah selama ini Arin pernah menjengukmu? Atau setidaknya merasa bersalah kepadamu?” Nada Aldi semakin meninggi.
“Tidak,” jawabku pelan.

“Sumpah, kamu sudah benar-benar gila! Di otakmu itu hanya ada nama Arin Arin Arin! Arin sudah benar-benar mencuci otakmu yang pintar itu sampai jadi idiot seperti sekarang! Ya sudah, kalau begitu, aku tidak mau ikut campur lagi! Terserah! Ternyata, kamu lebih memilih menjadi buta karena cinta dibandingkan dengan mempedulikan hidupmu sendiri dan sahabatmu. Aku pamit!”

Aku memandang punggung Aldi perlahan yang semakin menjauh.
“Maafkan aku. Terima kasih, Al.”

Cerpen Karangan: Tiara Citra Septiana

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 24 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Senja Terakhir: Aku dan Hidupku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kopi Pahit Dalam Kenangan

Oleh:
Lagi-lagi pria itu duduk dalam keadaan bermenung di atas dipan bambu di beranda tua dengan secangkir kopi yang mengaromakan kenikmatan luar biasa serta bisa juga sengaja diramu untuk obat

Love In Class

Oleh: ,
Di pagi hari yang cerah tria berjalan bersama temannya yaitu Eva dan Nisa, mereka bersahabat dari kecil, mereka begitu dekat, ketika di perjalanan mereka bertemu dengan 2 orang cowok

Tentang Rasa

Oleh:
Nama gue Geisha Adhyaksa, anak bungsu dari 2 bersaudara. Mereka biasa manggil gue dengan sebutan Gege. Entahlah, sedikit aneh, tapi katanya panggilan kesayangan untuk putri satu satunya. Gue punya

The Unspoken Words

Oleh:
Albert kembali melihat Angelica duduk menangis di atap sekolah sendirian. Sudah seminggu berlalu sejak kepergiannya dari dunia ini. Tapi, gadis itu masih saja tidak bisa menerima kenyataan pahit itu.

Puisi Terakhir

Oleh:
Suatu hari di waktu senja terlihat seorang anak laki-laki berjalan gontai menuju arah pulang, begitu sepi sore itu tak ada kendaraan yang melintas hanya angan dan hayalan temani dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *