Senja Yang Menghilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 11 December 2017

Salah satu hal yang selalu kau antisipasi dalam hidup adalah tidak lain kau berubah pikiran oleh karena terpengaruh orang lain, dan sepertinya itu amat berlaku untuk berbagai hal yang dialami terutama untuk yang namanya hubungan yang selalu menuntut istilah kepercayaan. Setahuku begitu, kau tak bisa menyalahkan mereka (Yaitu orang-orang yang mengenalmu) untuk berhenti menghasutmu agar menghilangkan sebuah kepercayaan itu, karena mereka bertindak begitu dengan tujuan untuk kebaikanmu walau sebetulnya mereka tidak pernah tahu pasti karena lebih dari itu, hanya dirimu sendirilah yang mengenalmu dan tahu jelas sampai batas mana kemampuanmu untuk mempercayai seseorang dalam sebuah hubungan. Maka itu yakinilah dan jangan beralih karena kehilangan bisa datang kapan saja.

Kau paham istilah rindu?
Sebelumnya aku tak bisa memahami jelas arti kata itu sampai pada akhirnya aku sendiri harus merasakannya, Rindu, begitulah, pemahaman yang akhirnya aku pahami maknanya setelah merasakan dan menyilami sendunya untuk waktu yang lama.

Sebenarnya tak ada yang menginginkan itu, percayalah. Rindu hanya sebuah perasaan tabu yang hanya cukup bagus dalam sebuah kata, tapi tak pernah bagus untuk dirasa bahkan termasuk jika kau merasakannya dalam sudut paling indah. Sejenak yang diketahui rindu itu satu perasaan sendu yang bisa dinikmati dalam sebuah senja dengan teman lagu merdu milik Payung Teduh, jika kau sempat berpikir begitu, kau sama sepertiku, lalu apa kemudian kau jua sepemikiran denganku bahwa sebenarnya itu salah, yang ada ketika itu kau malah semakin sendu karena rindunya semakin masuk ke dalam aura tubuhmu.

Sampai sekarang aku masih berteman dengan itu, malah aku dibuat semakin dewasa olehnya. Kuhitung sekarang aku sudah 13 bulan tidak bertemu dengan dia, satu perempuan yang terdefinisi sebagai seseorang yang aku sebut kekasih. Jarakku dengannya bisa dibilang sangat jauh, aku masih tetap tinggal di Indonesia, sedang dia berada di Jerman untuk melanjutkan kuliahnya.

“Mungkin aku akan tinggal di Jerman untuk waktu yang lama” Ucap pacarku di bandara sesaat sebelum ia harus pergi.
“Satu tahun?”
“Malah mungkin dua tahun aku baru bisa pulang ke Indonesia”
“Aku tahu itu waktu yang lama, cuma aku rasa aku hanya perlu satu kalimat untuk mengatasi itu”
“Apa?”
“Aku percaya kamu”

Dan aku masih ingat setelah jawaban itu, waktu itu dia memberiku satu pelukan hangat, yang sentuhan jarinya bahkan terasa langsung ke jemari, sedikit ada juga air mata yang jatuh menyirami bahuku. “Aku itu sebenarnya gak mau jauh dari kamu”, dengan sendu ia bicara dalam peluk itu.
“Hey” Aku alihkan wajahnya dari bahuku untuk bisa ku tatapnya “Aku senang kamu sudah bisa mewujudkan salah satu harapan terbesarmu”.
Jawabanku menyoroti pada dia yang memang pernah bilang padaku bahwa sangat berharap bisa berkuliah di University of Berlin, yang akhirnya sekarang bisa ia wujudkan.
“Jangan sia-siakan itu ya, berjuanglah untuk mimpi kamu, sama seperti kepercayaanku yang akan terus aku perjuangin buat kamu”
“…”
“Makasih.., Aku sayang kamu, Za”
“Bahkan aku lebih sayang kamu, Ve”

Waktu terus berlalu sebagaimana semestinya, dan yang terjadi tak ada yang istimewa kurasa, di titik awal aku masih cukup bisa memaklumi rindu dengan tetap merasakan dan menyilaminya, setiap hari kami selalu menyempatkan waktu untuk berface time dan bergantian mengorbankan rasa kantuk kami karena perbedaan siang-malam antara Indonesia dan Jerman, diawal itu semua terasa mengasyikan karena kami merasa punya hal baru dalam hubungan, bahkan kau tahu aku sempat merasa tidak peduli ketika harus merogoh kocek dalam untuk membeli kuota internet setiap harinya.
Mungkin benar berhadapan dengan seseorang yang kita suka bisa membuat IQ manusia turun 10%.

Berinjak di titik satu semester hubungan jarak jauhku dengannya, aku mulai didatangi oleh penggoda yang menghampiri dengan berbagai bentuk, mulai dari kesibukan yang membuat kami jadi jarang berface time atau bertelepon, hingga bahkan penggoda yang hadir dalam bentuk hasutan teman-teman yang seakan mencoba mengalihkan aku.

“Broo, di Jerman itu banyak lah cowok-cowok yang keren, dan sulit banget dipercaya kalau gak ada satu pun yang bikin si Ve tertarik”
“Enggak lah dia gak gitu, men” Aku masih mencoba membela pacarku.
“Udah lah lu malam ini ikut sama kita aja main, ada si Nabila juga lho dia ikut”
Nabila adalah teman satu kampusku juga, yang kata teman-temanku yang lain dia itu suka padaku, dan mungkin aku bisa percaya jika melihat dia yang memang sering memberi gerik mendekatiku.
“Ehmmm, kayaknya enggak deh, broo” Jawabku menolak ajakan.
“Ayolah Reza, si Verni gak bakal tahu juga kan”
“Ya tapi tetep gak deh broo, ada acara juga soalnya”.
Kau tahu itu hanya alasanku untuk setidaknya membuat teman-temanku itu memaklumi saat aku memang tidak bisa ikut. Saat itu aku masih teguh untuk memberi jawaban begitu.
“Serius nih gak akan? Ya sudah deh, tapi awas saja kalau berubah pikiran”

Nampak memang terasa ambigu, senyap untuk membuat diri tetap teguh untuk bertahan di bawah apa yang memayunginya, kau tahu beberapa kali aku berpikir payung saja bisa rusak jika sudah terlalu sering menahan derasnya air hujan, lalu apa mungkin bisa saja hal yang sama terjadi pada kepercayaan, aku memang masih percaya pada Verni tapi Jerman tak pernah memberi jaminan bahwa di sana Verni merasa baik baik saja dengan hubungan jarak jauh.

Aku masih tahu bahwa senja adalah jeda waktu yang paling Verni suka, katanya senja itu anugerah dan punya banyak keajaiban, di persinggahan waktu yang singkat itu manusia bisa banyak mendapatkan keindahan sebelum mereka dihadapkan dengan sebuah malam yang mencekam, katanya juga senja itu punya tersiat karena untuk apa yang kau perbuat perubahan besar bisa terjadi menyikapinya.

Lantas sekarang bersama satu senja di Kota Jakarta dan sebuah layungan yang mengekuk di atas kepala, aku mencoba lebih menikmatinya dengan memasang sepasang earphone di telinga, kau tahu aku merasa cocok jika sekarang kudengar lagu-lagu sendu Payung Teduh, setidaknya alunanannya benar meneduhkan, walau kutahu tak ada jaminan untuk mengobati rindu.

“Emang enak banget sih sore-sore diam di sini”
“Huh?” Aku berbalik menyamping “Nabila?” Aku kaget ketika ia tiba-tiba sudah duduk di sampingku.
“Sudah lama di sini?”
“Hah?” Aku lepaskan earphone dari telinga.
“Sudah lama di sini?”
“Ehmm, baru kok, eh kamu kok di sini bukannya sama anak-anak mau ke…?”
“Iya nanti malam, cuma gak tahu juga sih jadi tidaknya”
“Oh…”
“Eh aku gak apa-apa ini ikut gabung duduk di sini”
“Oh iya gak apa, bareng aja”

Nampaknya akan ada yang berubah, aku akan membiarkan Nabila untuk tetap di sini, dan mungkin juga untuk pertama kalinya aku akan merasa biasa saja ketika harus berdampingan untuk waktu yang lama bersama perempuan selain Verni.
Memang sepintas ini akan membuatku seperti melanggar aturan kepercayaan, sedikitnya ini juga akan membuatku menyakiti Verni diam-diam, aku tak tahu ini wajar atau tidak tapi ketahuilah rindu itu terlalu dalam, baik itu rindu pada Verni atau mungkin juga rindu berdampingan dengan perempuan.

“Bil, kamu mau nemenin aku gak sekarang?”
“Ke mana?”
“Ya main aja, gimana?”
“Oh gitu, ayo aku mau kok”

Begitulah aku kini, tak jelas alasannya mengapa, tapi aku seperti sedang diiringi kewajaran sekarang, tak ayalnya aku merasa jua bahwa mungkin di Jerman sana, Verni sama sepertiku mulai tersiksa dengan hubungan jarak jauh, dan tak ayalnya jua mungkin di sana sekarang dia sama, sedang bersama laki-laki lain.
“Yuk, Pakai motor aku aja ya, Bil”

Di ujung Senja bersama Nabila aku berada di depan untuk melindunginya dari sergahan angin senja yang kencang, di motor ini kau tahu, yaitu motor yang dibeli lima tahun lalu menjadikannya merasa lagi untuk pertama kali jok belakang diduduki oleh perempuan sejak terakhir kali diduduki oleh Verni, 13 bulan lalu. Aku bisa merasakan ada yang berbeda.

“Eh Za” Di atas motor Nabila mengajakku bicara “Kamu udah baca Line Today belum sekarang?”
“Ada apa memangnya, Bil?”
“Ini ada berita pesawat jatuh”
“Pesawat apa?”
“Gak tahu cuma di sini mah deskripsi beritanya pesawat dari Berlin tujuan ke Indonesia, jatuh tadi pagi di daerah Kalimantan”
“Oh ya serem ya ih sekarang mah naik pesawat itu”
“Iya makanya kan kalau gak penting-penting banget mah males orang berpegian jauh terus naik pesawat”

Entah dengan niat tujuan yang memang belum jelas aku memutuskan untuk melajur ke jalur jalan Jendral Sudirman, rasanya faktor karena ingin saja aku lewat sana, dan Iya aku juga jelas tahu jika itu adalah jalan dimana rumah Orang tua Verni berinjak, makanya mungkin ada rasa yang berbeda ketika aku melewat ke sana.

“Eh ini mah bukannya jalan yang mau ke rumah si Verni ya” Bicara Nabila, dia memang tahu karena dia juga berteman dengan Verni.
“Iya, di depan sana kan itu rumahnya”

Lalu di waktu ini, yaitu 20 menit selepas jam 6, di lingkungan Blok C, terutama di area depan rumah itu, kulihat banyak orang yang ada di sana, entah untuk apa tapi di sekitarnya sana banyak kendaraan yang diparkir dan kursi-kursi kecil yang diletak berjajaran, jelas itu membuat rasa penasaranku berkecamuk untuk ingin tahu.

“Itu ada apa ya di depan rumah Verni, kok banyak orang gitu?” Sahut Nabila.
“Iya, bentar ya, BIl. Aku lihat ke sana dulu” Jawabku untuk langsung pergi menuju kesana.

Mendekatinya, aku merasa makin heran, maksudku mengapa pula tubuhku justru mendadak merinding, terutama ketika mendengar dua bapak-bapak di sana terdengar bicara, “Gak nyangka ya”.
Lalu ketika sampai di teras rumah itu aku segera menghampiri Kak Renal, yaitu kakaknya Verni yang sama seperti yang lainnya terlihat merasa sendu.
“Kak Renal” Panggilku “Ini ada apa ya?”
“Reza…”.
Kudengar sapaan Kak Renal itu lesu, ia mengajakku untuk duduk seperti merasa perlu begitu untuk memberitahunya.
“Kak Renal ini ada apa sih kok ramai gini?” Aku mengulang pertanyaanku.
“Za, kemarin Verni ngasih kabar ke sini kalau dia dapat libur 4 hari di kampusnya”
Kau tahu wajahku memperhatikan serius apa yang Kak Renal katakan itu.
“Dan dia bilang” Kak Renal melanjutkan “Malamnya dia akan langsung pulang ke Indonesia, dan kamu tahu alasan dia kenapa menyempatkan pulang?”
“Apa Kak?”
“Katanya dia rindu, ingin ketemu kamu”
“Iyakah?” mendengarnya, sedikit ada kaca-kaca yang terbercik di mataku
“Iya Za, tapi tadi pagi pesawat yang ditumpangi Verni jatuh, Dan…”
Kau tahu aku shock mendengarnya, sejenak aku teringat dengan apa yang dikatakan oleh Nabila di motor tadi.
“Dan apa kaaakk…” Aku mulai takut dengan kelanjutan jawabannya.
“Dan, Verni jadi salah satu korban yang tidak selamat”

Dummm, jantungku seolah terguncang, merasa berhenti bertugas sejenak, apa yang aku dengar barusan seolah menjadi berita paling buruk yang telingaku dengar, atau juga menjadi kenyataan terburuk bagi raga di jiwa ini.
“Hah…?” Aku lesu, jiwaku tertunduk berkecamuk dengan perasaan tidak percaya.
Selantasnya ketika Kak Renal menceritakan semua apa yang terjadi aku semakin tak kuasa untuk meruntuhkan air mata, bersamanya aku merasa buruk masih sulit untuk menerima kenapa ini harus terjadi.
“Jenazah Verni sudah teridentifikasi, mungkin malam ini atau besok pagi sudah sampai di rumah”. Tutup Kak Reza.

Perlahan aku meninggalkan tempat duduk, beralih untuk mengasingkan diri dari banyaknya orang yang ada. Malam ini terasa lebih gelap bahkan lebih gelap dari satu malam paling mencekam. Mataku serasa kosong tak mampu melihat apa-apa, buyar semuanya. Jemariku tertikam oleh perasaan benci pada diri sendiri, kondisiku sulit untuk harus segera tegap, aku benci kenyataan ini.

“Za?”. Nabila tiba-tiba ada di belakangku.
Aku berbalik karena masih mampu mendengarnya.
“Ehmm.., yang sabar ya, Za”. Kuterka Nabila sudah tahu kabar ini, Jua tahu alasan mengapa diriku bermurung.
Dan kau tahu aku dingin untuk itu, mataku masih tetap kosong menghias lingkaran wajah yang datar, tak ada yang membaik karena kutahu kehilangan adalah hal paling menyakitkan apalagi jika itu berharga dan selamanya.

Aku masih terdiam di area samping rumahnya, bersama angin-angin yang sudah mau masuk tengah malam ini aku masih tetap mengasingkan diri karena kau tahu, rasa bersalah mengabdi di antara sendu kehilangan ini.

Tak hentinya aku berpikir betapa sangat bersalahnya diriku, membunuh berbagai asa hanya untuk satu pikiran yang salah, ketika Verni rela mengasihkan sela waktunya yang sebentar hanya untuk ingin bertemu denganku aku justru malah mencoba memalingkan diri dengan perempuan lain. Mungkin aku sedikit benar untuk pikiran bahwa Verni sama sepertiku merasa tidak baik dengan hubungan jarak jauh, sayangnya aku menilai salah untuk responnya. Untuk apa yang dilakukannya yang begitu istimewa aku malah menodainya dengan hal yang salah, aku ingin menyesal tapi itu tidak cukup untuk mengembalikan dirinya.

Dan Senja tadi, bukan senja yang aku maksud, bukan senja yang malah bersalah karena tingkahku, aku telah merusak sebuah waktu yang menjadi favoritnya, Aku bersalah karena merusak apa yang dikatanya indah. Tak seharusnya di senja tadi aku bersama perempuan lain ketika di tempat lain mungkin ia sedang berdoa agar usahanya untuk pulang tak sia-sia.

Maafkan aku Verni, kutahu itu tak akan pernah cukup tapi kutahu kau mampu mendengarnya, terima kasih untuk perjuangan yang sudah kau niatkan dan maafkan untuk kesalahanku yang tak kau ketahui.

Sekarang hanya jasadmu yang mampu kutatap tapi aku percaya jiwamu ada di antara sekeliling tubuhku ini, mungkin kau tersenyum atau mungkin kecewa, aku tak bisa melihatmu, tapi Verni perlu kau tahu sesungguhnya aku masih akan tetap cinta kamu lebih dari seumur hidup, dan walau berdebu tapi biarlah di liang yang lain aku akan rela untuk ada di sebelahmu.

Terima Kasih dan Bertenanglah.

Cerpen Karangan: Ridwan Handani
Blog: bacasatutangandani.blogspot.co.id

Cerpen Senja Yang Menghilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Kenangan

Oleh:
Sore hari suasana di lingkungan SMA permata sudah tampak sepi. Tidak ada lagi siswa ataupun guru yang berlalu lalang di lantai 3 gedung sekolah ini. Semua sudah kembali ke

I Love You

Oleh:
Pluk! Dia melempar bola basketnya ke arahku. Dengan sengaja, mungkin. Kemudian sambil tertawa kecil, ia menghampiriku. “Sakit, ya? Maaf… maaf…” Ucapnya. Tawanya itu selalu menjadi penyemangat hidupku selama ini.

Mimpi

Oleh:
Derap langkahku yang berlari tergesa memecah kesunyian lorong rumah sakit yang tampak muram. “pulanglah Cleo. Papa sakit,” ucapan mamaku di telepon siang tadi masih terngiang di telingaku. Aku memang

Surat Terakhir Mu

Oleh:
Perjumpaan pertamaku mengawali senja dengan guratan permata jingga, terdiam di atas hamparan bebatuan dengan dihiasi gemericik air yang berjatuhan. Ilyas namaku, seorang musafir muda dari tanah jawa. Mencoba mencari

Melebihi Siksaan Siti Nurbaya (Part 1)

Oleh:
“Saat semua orang mulai menepis kebahagiaanku, dan saat takdir sudah memaksaku untuk meninggalkan semuanya. Disaat itulah aku mulai berhenti berharap. Untuk apa aku melawan badai yang kian meronta? Toh,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *