Senyum Terindah dan Terkahir Untuk Riko

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 2 February 2014

“Viaa..” Panggil seseorang dari belakang. sebut saja Riko

Riko adalah sahabat sekaligus pacar Via. Ganteng, cool, dan mungkin yang membuat seluruh cewek tertarik adalah rambutnya yang JIPRAK, dia juga tinggi, putih and PINTAR. Via adalah anak dari pengusaha kaya. Via adalah pacar Riko. Dia sedikit tomboy, dengan rambut pendeknya, dia juga sama dengan Riko, tinggi dan putih.

“eh kamu rik, ada apa kangen ya?” Godaku.
“ihh, Ge-eR banget sih kamu” kata Riko pura-pura cuek
“oh, jadi gak kangen ya sama aku?” balasku, dengan murung
“ya kangen lah, siapa sih yang gak kangen sama kamu” kata Riko, sambil mencubit kedua pipiku
“aww, sakit tau!!” kataku sedikit kesakitan dan memegang kedua pipiku yang merah akibat cubitan Riko
“wkwkwk, kamu sih gemesin” balas Riko tertawa melihat ekspresiku yang menurutnya LUCU
“auu ahh” kataku sedikit ALAY

Tiba-tiba saja pandanganku kabur. aku tak sadarkan diri.

“Via.. vi, kamu kenapa? vi, bangun vi!” kata Riko sambil menggoyang-goyangkan tubuhku yang tergeletak lemah di tempat tidur UKS.

Via, ya. dia mempunyai suatu penyakit yang tak ada seorang pun yang tahu, kecuali ibunya. Bahkan ayah dan Riko pun tak tahu tentang penyakit Via. Via sering jatuh pingsan dan mimisan.

Aku berusaha sedikit membuka mata, dan akhirnya aku berhasil.

“Vi, kamu udah siuman?” Kata Riko sambil menggenggam tanganku erat. tampaknya dia sangat khawatir dengan keadaanku.
“Aku dimana ko?” tanyaku
“kamu di UKS, kamu pingsan tiba-tiba saat kita berjalan tadi” kata Riko menjelaskan.

Aku berusaha mengingat apa yang terjadi, namun NIHIL, kepalaku sakit untuk mengingat semua itu.

“ko, maafin aku ya, udah buat kamu repot” kataku membalas genggaman tangan Riko
“engga vi, itu semua udah tugas aku sebagai pacar kamu” kata Riko sambil menatapku serius
“aku sudah membaik, sebaiknya kita pulang” ajakku pada Riko
“kamu yakin ingin pulang?” tanya Riko meyakinkan
“iya” aku mengangguk
“baiklah” kata Riko sambil membantuku bangun dari tempat tidur menyebalkan itu.

Hari ini, adalah hari Minggu, aku dan Riko sudah berjanji untuk pergi ke taman.
Tinn.. Tin… bunyi klakson sepeda motor Riko sudah berbunyi. Sepertinya dia sudah datang. aku sengaja menyuruhnya untuk naik motor, karena aku lagi BM (bad mood) untuk naik mobil. aku segera turun dan menghampiri PANGERAN’ku itu.
“Pagi bidadari cantik” sapanya
“Pagi pangeran kece” balasku sambil mengedipkan sebelah mataku padanya
“Sudah siap untuk hari ini?” tanyanya lagi dengan membalas kedipan mataku.
“Siap dong, Lets GO” kataku sambil menaiki motor besarnya itu. Ku harap sesuatu buruk tak terjadi.
“Yuhuuuiii…” Soraknya seru!

“Vi, kita cari tempat duduk aja yuk” ajak Riko, saat dia selesai memarkir motornya.
“ayo deh.” kataku, mengiyakan ajakannya

Setelah menemukan tempat duduk yang tepat, aku dan Riko pun memulai pembicaraan. Walaupun sudah lama pacaran aku dan Riko masih belum handal untuk memulai suatu pembicaraan. Waktu santai lebih banyak kami habiskan dengan berdiam diri, saling menatap, dan menggenggam satu sama lain.
“eh ada ice cream tuh” kata Riko, menunjuk ke tempat penjual ice cream itu berada. Nampaknya dia mulai bosan dengan keadaan yang bungkam ini.
“ehm terserah kamu aja deh ko” Jawabku
“ya udah yuk!” ajak Riko. Dia segera menggandeng tanganku dan menarikku ke tempat penjual ice cream itu.

Aku dan Riko berjalan menuju penjual ice cream itu. Kami berdua memang suka sekali makan ice cream, setelah membeli 2 ice cream, kami berdua kembali ke tempat duduk.
“enak ya ice creamnya” kata Riko, sambil tersenyum padaku.
“iya enak banget” jawabku, sambil membalas senyumannya.
“Vii…” kata Riko menatapku serius.
“ada apa ko?” tanyaku heran
“kamu sakit?” tanyanya tiba tiba, yang sontak membuatku kaget!
“haa? e.. eng.. enggak kok” Jawabku sedikit berbohong, tak mau orang yang di depanku ini ikut merasakan betapa perihnya sakit ini. Cukup aku yang tau ya! begitu pemikiranku.
“emm, emang ada apa?” sambungku
“darah… hidung” katanya sambil menunjuk hidungnya sendiri.
Ku lihat dia segera mengambil tisu di dalam tasnya dan mengelap darah yang keluar itu dengan sangat hati-hati.
“Vii, tolong ya, jujur sama aku, kamu sakit apa?” tanyanya mengulang pertanyaan yang tadi.
“ko, mungkin aku cuma kecapekan aja, kamu lihat sendiri kan, akhir-akhir ini tugasku menumpuk, ya jadi mungkin faktor kecapean aja” Jawabku meyakinkan Riko
“ehmm, udah deh ko, kamu gak usah terlalu banyak mikir. Aku gak papa kok, kalau aku sakit aku pasti bilang sama kamu. udah, jangan khawatir lagi ya..” kataku lagi, sambil memegang kedua pipi pria yang ada di depanku ini.
Ku lihat raut wajah khawatir yang tak dapat disembunyikannya itu.
“Hhh.. ya udah lah, kalo kamu sakit bilang aku ya..” katanya.
“pasti.” jawabku singkat sambil mengacungkan kedua jempolku.
“pulang yuk,” ajaknya tiba-tiba
“loh? kok mendadak gini sih, jalan-jalannya gimana?”
“kapan-kapan aja ya, lagi gak enak badan nih,”
“yaelahh, ya udahlah, Yuk,” ajakku menarik tangannya dan segera pergi.
‘aku yakin via, kamu pasti sakit’ batin Riko
“hey jangan ngelamun aja dong!. yuk pulang” kataku membuyarkan lamunannya. aku tahu dia pasti memikirkanku,
‘maafin aku ko, aku belum bisa jujur sama kamu saat ini’ batinku
“iya sayang”

Motor besarnya pun kembali melaju. Aku merangkul pinggangnya, ku sandarkan kepalaku di pundaknya. Aku ingin membahagiakannya saat ini, sebelum bumi menelanku.

Sesampainya di depan rumahku, dia mengecup keningku dan langsung melaju pergi begitu saja. TANPA SATU KATA PUN. Aku segera berlari menuju kamarku, tak kuhiraukan suara Ibu yang berteriak memanggilku. Segera kututup pintu itu, ku kunci, dan mengambil buku diary kecil dalam laci belajarku.

Dear diary,
apakah aku jahat?
sejahat apakah diriku ini?
orang sebaik Riko pun aku bohongi
aku yakin, hanya aku orang paling jahat di dunia ini

Aku menghentikan untuk menulis diary dan segera mengambil kertas untuk menuliskan sebuah surat untuk Riko. Entah sampai kapan aku akan menyembunyikan ini darinya.

Esoknya…
“Viaa..” suara itu lagi, suara hangat yang selalu ingin kudengar. Riko. orang itulah yang mempunyai suara hangat ini.
“hay ko, gimana tugasnya? udah selesai?, kalau belum sini aku bantuin”
“udah kok vi, makasih. Tapi vii.. kamu sakit? kok wajah kamu pucat gitu?” Tanya Riko heran
“sakit? egak kok, aku baik-baik aja. Mungkin aku make bedaknya kebanyakan. Hehehe” candaku
“egak vi, aku tahu kok bedak itu gimana, dan ini sama sekali bukan warna bedak. Kamu kan juga pernah bilang ke aku, kalo kamu gak pernah pake bedak.” Katanya yang langsung membuatku bungkam.
“tuh kan Riko, kamu itu berlebihan tau gak?, aku gak papa ko, kamu dari kemarin curiga banget sih. Udah yuk ke kelas.” ajakku untuk mengalihkan perhatiannya.
“Vii, pliis, kamu jujur sama aku, kamu sakit apa? parah? sampai kamu gak mau bilang ke aku.” Katanya menghentikan langkahku, dia memegang pundakku dan menatapku tajam, seolah aku tak bisa bohong lagi. Aku mengalihkan tatapanku darinya, aku benar-benar tak tahu apa lagi yang harus kulakukan sekarang.
“Koo, plis, cepat atau lambat kamu akan tau semuanya” jawabku berlari menuju kelas dan meninggalkannya sendiri yang masih mencerna kata-kataku

“apaaa? viaa masuk rumah sakit? Iya tante, Riko segera kesana. Baik tan” Riko langsung menancap gasnya ke rumah sakit yang disebutkan oleh Tante Nia, ibu Via.

Sesampainya di rumah sakit, Riko sedikit berlari menuju kamar 203 yang dismskan oleh tante Nia.
“gimana tan? Via udah siuman?” Tanya Riko menghampiri Tante Nia yang sedang duduk diluar.
“hiikkss… penyakit Via udah stadium 5 ko, tante gak tau lagi mau gimana. Kata dokter, umur Via udah gak panjang lagi, dan yang paling tante sedihkan, umur Via udah gak sampai 24 jam ko.” Tangis tante Nia semakin menjadi-jadi. Riko heran, stadium 5? apa maksudnya? Via kan gak sakit.
“tunggu tan, Riko mau tanya, sebenarnya Via sakit apa?” tanya Riko
“jadi Via belum bilang kekamu?” tanya tante Nia heran. Beliau kemudian menghapus air matanya dengan punggung tangannya dan mengalihkan pandangan tajamnya menuju Riko
“bilang? bilang apa tan?, Via gak pernah bilang apa-apa kok ke Riko” kata Riko heran.
“jadi.. Via menderita kanker otak. Dia menyembunyikan penyakit ini dari kamu dan papanya. Tapi beberapa hari yang lalu, tante udah nyuruh Via buat bilang ke kalian berdua, dan tante pikir kamu sudah tau Riko..” kata tante Nia. Air matanya kembali membasahi pipi mulus pemiliknya.
“jadiii…?” gumam Riko panjang.

“Rikoo.. Via sadarrr..” teriak seorang ibu dari dalam ruang inap itu. Yang dipanggil pun segera masuk dan memeluk mesra seseorang yang bernama Via itu.
“Vii, kenapa sih kamu nyembunyiin ini dari aku.. kenapa kamu gak bilang ke aku dari awal Vi?” todong Riko pada Via yang saat ini tergeletak lemah di atas kasur menyebalkan menurutnya.
“aku cuman gak mau buat kamu repot ko, aku gak mau buat kamu sedih. Cukup aku yang merasakan ini semua.” Kata Via lemas.
“tapi vii, aku gak sanggup buat kehilangan kamu. Jangan tinggalin aku ya vi” pinta Riko. Via tidak menjawabnya. Via langsung menoleh pada ibunya.
“maaa, Via ke taman dulu ya sama Riko.” Pinta Via pada ibunya.
“tapi vi, kondisi kamu lagi gak baik.” Kata tante Nia, cemas.
“pliss ma, bentaar aja.” Kata via lagi.
“baiklah, ko hati-ati ya..” kata tante Nia pada Riko
“baik tante” jawab Riko

“kenapa sih kamu minta kita ke taman?, kondisi kamu kan masi belum membaik vi.” Kata Riko saat mereka telah berada di taman.
“aku hanya ingin meninggalkan dunia di tempat terindah dan bersama orang yang kusayang..” kata Via, menatap Riko. Riko pun berjongkok menjajarkan dirinya dengan kursi roda Via.
“Vi, apapun yang terjadi itu udah takdir Allah, kita gak bisa ngerubah segalanya. Aku tahu vii, kamu pasti kuat.” Kata Riko menyemangati Via.
“Ko, aku udah gak kuat ko, hidupku di dunia udah cukup ngebuat orang di sekelilingku susah. Aku kasihan sama mereka ko.” Kata Via, air mata pun mengalir dari kelopak mata indah milik Via.
“vii, udah dong, kamu gak usah nangis. Kamu gak cengeng kan. Kamu kuat vii..” sahut Riko.
“koo, tolong sebutin permintaan yang kamu mau dari aku sebelum aku pergi.” Kata Via
“Sstt, jangan ngomong gitu dong vi.”
“koo, plis sebutin aja..” pinta Via, memelas pada Riko yang telah menggenggam erat tangannya..
“hhh…” Riko menghela nafas lalu menuruti apa yang diperintahkan Via.
“aku gak mau apa-apa vi dari kamu. Aku Cuma butuh senyum terindah dari kamu itu aja” kata Riko.
“aku akan ko, aku akan senyum seindah mungkin.” Kata Via, menangis dan menunjukkan senyum terindah yang dimilikinya. Beberapa menit kemudian, Via sudah tidak ada. Riko menangis dan berteriak meneriakkan nama Via..

END

Cerpen Karangan: Dian Eka Pratiwi
Facebook : Dian Pratiwi

Cerpen Senyum Terindah dan Terkahir Untuk Riko merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pesan Kesedihan

Oleh:
Jam sekolah sudah selesai. Pasukan siswa keluar ramai ramai penuh suka cita, Bak semut pohon keluar dari sarangnya. Hari ini aku males banget pulang ke rumah, entah apa yang

I’m Not a Monster

Oleh:
Satu tetes air mata pria itu terjatuh. Rasanya menatap orang yang sangat kita cintai dari jauh adalah hal yang paling menyakitkan. Apalagi menatapnya sedang sendirian. Itu adalah hal yang

Tears

Oleh:
Bening embun di daun itu meneteskan butir-butir kesejukan di hatiku. Gemerisik daun bambu yang tertiup angin adalah getar rinduku kepadamu. Lama sudah ku tak menatap wajahmu Ikhsan, rinduku mengingat

Peluklah Hatiku

Oleh:
Aku tak tahu dengan apa yang terjadi pada hidupku sekarang, yang jelas sekarang aku bahagia dengan seseorang yang aku cintai. Aku memang belum beruntung untuk mendapatkan hatimu. Entah sampai

Putus

Oleh:
Ketika aku melihat mendung ada satu hal yang aku ingat, yaitu berakhirnya hubungan kita. Aku teringat bagaimana sedihnya dirimu. Engkau meneteskan air mata di hadapanku. Tersayat hatiku ketika aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *