Senyuman Pertama dan Terakhir Fyan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 August 2014

Dengan nafas yang terengah-engah setelah berlari-lari untuk menuju musola untuk melaksanakan shalat zuhur dengan temanku. Aku terhenti saat ku melihat seseorang yang turun dari sebuah kendaraan beroda dua yang berwarna hitam, aku tak tau siapa dia. Wajahnya yang cukup ganteng dan alim. Membuatku seolah terdiam dan memandang senyuman manis itu dan dia ternyata memandang yang sama saat aku memperhatikanya.

Setelah selesai shalat, aku melihat dia sebagai imam untuk temannya. Dan aku bergegas untuk pulang ke rumah, sesampainya di rumah kedua orangtuaku ternyata sedang pergi ke luar, dan aku tak tau kemana orangtuaku pergi. Matahari terlihat sudah tidak ada lagi dan lalu terbenam, tiba-tiba terdengar suara azan magrib. Aku dan teman-temanku bersiap-siap ke musola untuk melaksanakan sholat magrib berjama’ah. Aku kaget saat aku bertemu kembali sama dia, seseorang bertemu aku di musolah tadi siang. Setelah selesai shalat, tanpa dipikir panjang dia tidak sengaja menjatuhkan sebuah mukena yang aku bawa, saat dia mengambil mukenaku, lalu tiba-tiba dia mengenalkan kata “Hai” kepadaku,
“Iya ada apa?” kataku sambil menatap mukena yang aku bawa.
“Aku boleh kenalan gak?” “Aku fyan” sambil mengulurkan tanganya. “Dan kamu siapa?”
“Aku chacha”.

Setelah berkenalan yang cukup lama, aku tidak tersadar waktu menepatkan pukul jam 21.00. Aku langsung berpamitan untuk pulang ke rumah. Langkah demi langkah mengawali perkenalanku dengan fyan. Membuat aku tersenyum sendiri saat melihat senyuman pertama fyan di musola.

Keesokan paginya aku bertemu fyan, ternyata aku satu sekolah dengan fyan. Rasanya itu seperti mimpi aku bisa bertemu dia lagi. Dan aku satu kelas lagi dan duduk di sampingnya, karena temanku yang dulu duduk denganku sudah pindah sekolah dari dua hari yang lalu. Ternyata fyan adalah siswi pindahan dari Jakarta, yang pindah karena kedua orangtuanya berkerja di Yogyakarta.

“Ttteeeeeet, bunyi bel menandakan kami melanjutkan ke pelajaran berikutnya, tapi guru yang mengajar tidak masuk dikarenakan gurunya ada keperluan mendadak. Tak lama kemudian kami pulang. Aku dan fyan pulang bersama karena aku satu arah dengannya.

Saat aku dibonjeng dengan sepeda, tiba tiba ada batu besar, saat aku melintasinya aku terjatuh dari sepeda fyan. Saat aku terjatuh fyan langsung menguluarkan tangannya untuk membantuku berdiri, tapi ternyata saat aku berdiri aku terjatuh lagi, dikerenakan luka di kaki yang cukup parah. Tampa basa basi fyan langsung mengendongku sampai ke rumah.

Setiba di rumah aku, Ibuku menayankan kejadian kenapa aku bisa terluka seperti ini. Dan fyan menjelaskan semuanya, setelah fyan menjelaskan semuanya fyan langsung pulang dan dia mengucapkan GWS untukku.

Esoknya aku berangkat sekolah dengan keadaan kakiku diperban dan berjalan pun lumayan agak sulit. Aku kaget saat tiba-tiba fyan berada berdiri di depan gerbang, dan ia langsung tersenyum, untuk aku masuk ke kelas. Setiba di kelas teman-temanku membicarakan liburan seminggu, untuk merencanakan pergi ke pantai. Kita semua libur seminggu dikerenakan kelas XII SMA sedang melaksanakan ujian.

Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi, rasanya aku tidak ingin berpisah dengan fyan, walaupun hanya sekejap mata, tapi mungkin ini hanya perasaanku saja. Berhubung sudah hampir pulang fyan memasukkan barang-barang ke dalam tas, setelah semua perlengkapan sekolahnya sudah dimasukkan di tas. Tiba-tiba Hp fyan berbunyi, dan terasa fyan sedang berbicara penting kepada seseorang itu.

Paginya, aku bergegas menyiapkan peralatan sekolah dan pergi ke sekolah. Dengan keadaan yang cukup senang karena kaki yang luka sudah sembuh. Sesampainya di gerbang aku tidak melihat senyuman fyan seseorang yang menurutku cukup ganteng dan alim, pagi ini terasa aneh untukku. Saat bel sekolah berbunyi, fyan tak kunjung datang di sekolah, bangku di sampingku terasa sepi tiada senyuman itu yang selalu bercanda denganku.

Hari demi hari, fyan sudah tidak terlihat di sekolahku. Dimana fyan ya allah? Hati ini seperti ayam kehilangan induknya. Saat fyan mendapatkan telpon yang mistrius itu fyan tak ada kabar. Menjelang sore aku ke rumah fyan, ternyata rumah fyan tidak ada orang saat aku mengetuk rumah fyan, ada sebuah surat tertempel di depan pintu yang teruntuk untukku. Saat ku buka surat itu ternyata ucapan selamat tinggal, karena fyan pergi untuk melanjutkan sekolah ke Australia dan juga karena orangtuanya bertugas disana. Aku terdiam saat melihat surat itu, air mata ini seolah keluar ternyata orang yang sudah hidup di hati ini akan pergi, dan senyuman di gerbang itu adalah senyuman terakhir dia.

Cerpen Karangan: Nurma Yulia
Facebook: Nurma Yulia Nugroho Ii

Twitter: @yulinnrm
Yahoo :nurmayulia01[-at-]yahoo.com
Salam Kenal, Dan Terima Kasih Sudah Membacanya

Cerpen Senyuman Pertama dan Terakhir Fyan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Titania’s Life (Part 2)

Oleh:
“Jangan pernah bermain-main dengan cinta, nanti sakitnya pasti akan terasa.” Titan sudah memasuki kelasnya, begitu juga dengan Daffa yang berjalan di belakang Titan. “Tan, kamu dari mana?” Kata Sarah.

Lelaki Kusut Pengunjung Stasiun

Oleh:
Entah apa yang membuatku terpikat dengan seorang lelaki yang duduk di dekat stasiun kereta api itu. Lelaki berambut acak-acakan itu duduk dengan kaos kusutnya yang dilapisi dengan kemeja merah

Love Takes A Hurt

Oleh:
Semburat cahaya jingga masuk melalui jendela kamarku yang berada di lantai dua. Senja. Senja telah tiba menyapaku yang sedang merebahkan badanku di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarku yang

Putri Bulan dan Dewa Laut

Oleh:
Dahulu terdapat sebuah kerajaan bulan dan kerajaan laut yang terjadi kisah cinta antara Putri bulan yang sangat cantik dan Dewa Laut yang sangat tampan yang mendapat pertentangan dari Orangtua

Menikam Hati (Part 1)

Oleh:
PROLOG Hujan terus berguyur di pukul 15:00. Azan ashar telah berkumandang. Dinginnya musim hujan membuatku menikmati kehangatan di tempat tidur dengan membenamkan diri di selimut. Di meja rak kecil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *