Separating Twice

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 8 August 2016

“Kenapa bisa sampai telat sayang?” Georgy datang sambil menyodorkan minuman dingin yang mungkin habis ia beli di kantin barulah ia kemari,
“Aku hanya terlambat 1 menit, mungkin satpamnya lagi sensi”, jawabku kesal, bagaimana tidak dari pagi hingga siang ini aku dijemur di lapangan karena telat sedikit,
“Ya udah ayo ikut aku” Georgy menggenggam tanganku dan menarikku ke sebuah tempat di belakang sekolah yang memang tempat favorit aku dan Georgy, sebuah danau kecil yang cukup indah dan menenangkan, kicauan burung seakan menggoda kami berdua. Kami berteduh di bawah pohon rindang, terasa nyaman sekali.
“Lain kali jangan telat lagi ya, kita sudah mau lulus jadi harus jaga-jaga agar tidak masuk sidang besok”, Georgy bicara sambil melihat hamparan danau itu, tidak kujawab nasihatnya, aku hanya terpana pada pemandangan favoritku yang satu ini, memperhatikan Georgy bicara dengan satu tatapan pasti, seperti yang sering ia lakukan padaku, terlihat menenangkan dengan tatapannya yang penuh arti. Georgy mengalihkan pandangannya melihatku “heh, denger gak sih” tanyanya padaku dengan nada tinggi. Aku tersadar “Kamu sih nasihatin aku tapi lihatnya ke depan aja” timpalku. Georgy tersenyum dan kembali menatap hamparan danau itu, pembawaan yang tenang pada dirinya, kusandarkan kepalaku di bahunya “Kenapa kamu selalu bersikap dingin dengan orang lain kecuali aku sih Gi” tanyaku penasaran karena memang dia yang selalu dingin, entah karena dia tidak memerlukan orang lain atau karena dia memang pintar dan selalu serius sampai-sampai peringkatku saja jauh dibawahnya, dia selalu juara umum, sedangkan aku 3 besar saja susah, selama 1 tahun 5 bulan kami bersama, pertanyaan itulah yang selalu kupendam dan baru sekarang berani untuk kutanyakan,
“Kamu tidak merasa bangga? Aku hanya memperhatikanmu Tere, seharusnya kamu tidak perlu menanyakan itu sayang, bagiku, duniaku hanya kamu dan keluargaku saat ini, tapi entah bagaimana besok” jawab Georgy,
“Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu tidak ingin mempertahankanku?” Tanyaku ketus, kutegakkan kepalaku dan menatapnya penuh pertanyaan, dia hanya merangkulku dan tertawa kecil “Tetaplah seperti ini sayang”, Georgy menenangkanku.

“Sore ini pulang sama aku ya Re” ajak Georgy,
“Tapi, papa udah jemput aku Gi, besok aja yah”, aku menjawab dari kejauhan sambil berlari menghampiri Papaku dengan Mercedess Benz-nya, kulihat Georgy hanya tersenyum dan melambaikan tangannya saja. Sejauh ini aku terlalu nyaman dengan Georgy, entah bagaimana kalau nanti aku dan dia terpisah, “ya ampun, fikiranku kemana-mana” rutukku.
“Kapan mulai ujian re?, tanya Papa,
“Emmm belum tau si pa, kok udah ngomongin ujian aja ni Papa,” jawabku,
“Georgy mau lanjut kemana?” Tanya Papa lagi,
“Entah Pa, dia belum beri tahu Tere!” Jawabku lagi, Papa tidak menjawab, Papaku memang sudah tahu lama tentang Georgy, dan juga tentang latar belakangnya yang bagus dan menarik, sehingga Papa tenang menitipkan aku pada Georgy, ditambah lagi aku sudah hampir dewasa, mungkin Papa sudah perkirakan. Begitu juga dengan Ibunya Georgy yang juga sudah mengetahui tentang latar belakang keluargaku, dia yang hanya tinggal memiliki seorang Ibu dan Ayahnya sudah lama meninggal.
“Kita mau ke makam Mama ya Pa?” Tanyaku melihat Papa membawaku ke arah yang lain dari biasanya,
“Iyaa re, sudah seminggu kita tidak lihat makam Mama” Jawab Papa,
Aku tidak menjawab dan hanya sekedar mengangguk setuju, Mamaku sudah 2 tahun lalu meninggal karena kecelakaan bersama Papa di Bandung dulu, syukurlah Papa selamat, tapi aku kehilangan sosok Mama, ya, Mamaku tidak bisa diselamatkan. Saat Mama pergi, aku berpikir akan kurang kasih sayang, ternyata tidak sama sekali, Papa bisa menggantikan posisi Mama di hidupku, bayangkan betapa hebatnya Papa yang bisa sekaligus berperan sebagai Mama.
“Papa kenapa nangis” tanyaku,
Papa memelukku “Seharusnya Papa yang pergi, bukan Mama”,
“Papa gak boleh bilang begitu, Papa sangat berarti buatku”, air mataku ikut jatuh mendengar pernyataan Papa. Aku dan Papa mengirim Do’a untuk Mama, dari kejauhan kulihat ada seorang ibu yang sedang memperhatikan aku dan Papa, saat ingin kutunjukan pada Papa, wanita itu segera pergi.
“Ada apa Re?”, Papa memperhatikanku,
“Emm, enggak Pa”, jawabku.
“Ayo kita pulang Re, sudah sore” ajak Papa, aku hanya mengangguk setuju.

Aku dan Papa hanya tinggal bertiga di rumah, bersama Bi Wiwin, untunglah ada Bi Wiwin yang selalu membersihkan rumah, jadi aku dan Papa bisa melakukan kegiatan lain, tetapi disamping itu aku sering merasa kesepian di rumah, sejak Mama pergi, aku selalu sendiri di rumah jika Bi Wiwin pulang kampung seperti ini, dan Papa yang sering meeting di luar kota. “Dreeet.. Dreet” handphone ku bergetar, ternyata ada SMS dari Georgy,

Selamat malam sayang, jangan lupa makan lalu belajar ya, tidur jangan terlalu larut

Iyaa sayang, kamu juga

I Love You Tere

I love you too Gi

Setiap malam Georgy selalu memperhatikanku, aku bersyukur memilikinya, yang selalu mencintaiku.

Alarm selalu rutin sebagai pengganti Mama setiap pagi, kulirik Led Blackberryku berkedip menandakan ada SMS masuk

Happy nice day sayang

Senyumku mengembang saat kubaca SMS dari Georgy, terlihat Papa di pintu kamarku,
“Selamat pagi sayang, ayo mandi, nanti Papa antar ya”, suruh Papaku,
“Oke Pa”, timpalku.
Seragamku sudah rapih, sambil menggendong tas aku turun dari tangga, menuju meja makan untuk sarapan bersama Papa yang sudah disiapkan Bi Wiwin. Setelah sarapan aku dan Papa langsung memecah padatnya Kota Jakarta.
“Belajar yang betul Re” kata Papa,
“Siap boss” jawabku sambil salim pada Papa.

Pagi ini aku berangkat awal, aku menunggu Georgy di parkiran, dia selalu tepat waktu jika berangkat sekolah, tidak pernah telat.
Dari belakang ada yang menutup mataku, ternyata Earl dan teman-temannya yang menjahiliku, mereka memang sering menggangguku, karena dulu Earl pernah menyukaiku tetapi aku lebih memilih Georgy. Sehingga Earl selalu menggangguku, tetapi kami sudah seperti sahabat, Earl orang yang baik, dia mengikhlaskan aku bersama dengan Georgy walaupun Georgy bukan gengnya.
“Georgy di gerbang tuh Re, samperin sana” suruh Earl, aku langsung berlari menghampiri Georgy, dia tersenyum saat aku berlari dengan tangan kirinya disaku celananya dan melambaikan tangan kanannya padaku.
“Pagi sayang”, sapaku,
“Pagi juga sayang, ayo” jawab Georgy, sambil merangkulku menuju kelas.
Terlihat adik kelas semua memperhatikan Georgy, mungkin karena dia cowok yang lumayan populer disini ditambah pringkat yang sering didapatnya sehingga dia banyak menarik perhatian wanita di sekolah ini.
“Re nanti pulang sama aku ya?” Ajaknya,
“Iyaa sayang, kan kemarin aku sudah janji”, jawabku, dan rangkulannya semakin erat saat Earl tersenyum padaku, sepertinya Georgy tidak ingin aku menyapa atau membalas sapaan Earl, aku mengerti tindakan Georgy.
Bel sudah berbunyi, aku dan Georgy masing-masing menuju kelas,
“Belajar yang serius Re”, kata Georgy, sambil tangannya mengacak rambutku.
“Iyaa sayang, dada” aku langsung berlari.

Kulihat Georgy sudah menungguku di Gerbang dengan Vespa kesayangannya,
“Kita ke danau dulu gak?” Tanya Georgy meminta persetujuanku,
“Boleh”, jawabku.

Sesampainya kami di danau, aku dan Georgy duduk di bawah pohon seperti biasanya, dia menarikku untuk menyandarkan kepalaku pada pundaknya, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, lama sekali dia tidak membuka pembicaraan, hanya kicau burung dan suara dedaunan yang terhempas karena silirnya angin,
“Kamu kenapa Gi?” Tanyaku,
“Kalau nanti aku pergi kamu gimana?” Tanya Georgy balik,
“Kenapa kamu bilang gitu? Aku bakal nunggu kamu Gi”, jawabku setenang mungkin, padahal hatiku terasa tertusuk duri halus saat mendengar pertanyaannya. Georgy menggenggam tanganku,
“Aku terlalu menyayangimu Re, sekalipun aku pergi jauh, aku pasti tetap bersamamu”,
Mendengar pernyataannya, hatiku terasa hancur, fikiranku kemana-mana dan tanpa kusadari air mataku menetes, mungkin karena kita sudah mau lulus saja mangkannya aku seperti ini. Kulihat Georgy, dia hanya menatap kosong hamparan danau. Semakin sesak saat kulihat tatapannya yang kosong.
“Ayo pulang sayang” ajaknya, aku hanya mengangguk setuju.

Di perjalanan Georgy tampak sangat kencang mengendarai skuternya, dan di persimpangan saat lampu merah dari arah kanan, ada satu mobil yang terlihat terburu-buru dan langsung menabrak kami, kurasakan tubuhku melayang dan terbanting, begitu juga dengan Georgy, sesaat aku terpejam, dan saat membuka mata, air mataku mengalir deras, kulihat Georgy seperti mati, darahnya bercucuran, kuraih tangannya.

Mataku terbuka, aku hanya meliat Papa di hadapanku, terdengar Papa berteriak memanggil Dokter,
“Papa” panggilku pada Papa,
“Iyaa nak, ini Papa sayang” Papaku mengalirkan air matanya, Aku diperiksa oleh Dokter dan kurasakan bagian dadaku terasa nyeri, kulihat Papa sedang membicarakan hal yang penting dan entah apa itu, aku kembali memejamkan mataku.
Kulihat Georgy di dalam pejaman mataku, Georgy memanggilku, tetapi kenapa dia sangat jauh dariku, biasanya dia selalu merangkulku erat, aku mengejar Georgy, tapi dia semakin lama semakin jauh.
Aku membuka mataku, terlihat Papa menangis,
“Syukurlah nak, setelah 2 bulan kamu kritis akhirnya kamu sadar”, terlihat Papa sangat bahagia setelah aku sadar, tetapi dimana Georgy,
“Georgy dimana Pa?, tanyaku,
“Georgy bilang pada Papa, kalau setelah kamu sadar, dia akan selalu berada bersamamu” jawab Papa menangis, Aku tersenyum bahagia mendengar pernyataan Papa.

Hari ini waktunya aku pulang, menjalani hari-hariku seperti biasa, sesampai di rumah aku ganti baju, kulihat ada bekas jahitan di dadaku, ingin kutanyakan pada Papa, tetapi aku urungkan niat itu.
“Re”, terdengar suara teriakan dari luar jendela, ternyata itu Georgy, aku tersenyum saat membuka jendela dan melambaikan tangan kepadanya, aku langsung turun dan menghampirinya, tetapi dia tidak memelukku seperti biasa.
“Mau kemana kita hari ini Gi?”, tanyaku antusias,
“Sudah 2 bulan kita tidak ke danau, ayo” ajak Georgy,
Aku melihat Georgy menggenggam tanganku, tetapi tidak ada rasa sama sekali, tidak kufikirkan perasaanku yang aneh itu aku dan Georgy langsung berlari,
“Kemana skutermu Gi, aku capek nih”, keluhku,
“Masih di bengkel, maaf ya aku gak bisa gendong kamu”, tidak kutanyakan kenapa, mungkin dia capai, tidak lama aku dan Georgy sampai di danau, terlihat damai sekali hanya aku dan Georgy disana. Dia memetik setangkai bunga, dan menaruh bunga itu di bagian atas telingaku,
“Gardenia, bunga yang cantik untuk orang yang cantik” Georgy memujiku, aku tertawa mendengar kata-katanya,
“Belajar dimana kamu kata-kata seperti itu, biasanya aja serius banget”, ejekku, dia hanya mengacak rambutku.
“Sini aku peluk”, Georgy menarikku untuk duduk dan bersandar padanya, sama seperti saat dia menggenggam tanganku, tidak terasa ada dia,
“Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini kok aneh”, tanyaku penasaran,
“Aku berusaha untuk selalu ada di dekatmu Re, sekalipun aku hanya tinggal bayangan”, jawabnya, aku masih belum mengerti dengan jawaban aneh Georgy, kupejamkan mataku, terasa tenang dan nyaman.

“Sudah masuk sana, nanti dimarah Papa kamu pulang kesorean” suruhnya, aku dan Georgy memang pulang terlalu sore, malah sudah hampir maghrib.
“Dadaa” langkahku meninggalkannya, rasanya seperti Georgy yang meninggalkanku, aku merasa dia semakin jauh, aku langsung menutup pintu.
“Papaaa”, panggilku,
“Dari mana kamu nak, dari tadi Papa cariin”, tanya Papa,
“Maaf ya Pa tadi gak bilang, tadi abis dari danau”, tidak ku ceritakan kalau aku pergi bersama Georgy, kupikir Papa sudah paham.

Malam ini terasa sunyi, aku masih bertanya-tanya, kenapa dadaku ada bekas jahitan aku segera berlari untuk bertanya pada Papa, saat aku berteriak-teriak memanggil Papa, Bi Wiwin menghentikan teriakanku,
“Bapak sedang keluar Non?”, kata Bi Wiwin,
“Kemana Bi?, tanyaku,
“Kurang tahu Non, permisi”, pamit Bi Wiwin,
“Yahh, ternyata Papa pergi, kapan-kapan sajalah, mungkin saat kemarin kecelakaan ada sobek sedikit.”, pikirku berlalu.

Aku ke luar mencari angin, kelihat seperti ada Georgy di gerbang, hanya samar-samar terlihat, “mana mungkin Georgy malam-malam ke rumahku, dia pasti sedang belajar, ini cuma halusinasi”, pikirku. Aku langsung masuk ke dalam tanpa mempedulikan apa yang kurasakan tadi.

Sudah hampir jam 11 malam, Georgy belum SMS aku, biasanya setiap jam 8 dia pasti mengingatkanku untuk makan dan belajar, aku menunggu sampai tertidur.

Pagi-pagi seperti biasa, alarm pengganti Mama membangunkanku, kulihat Blackberry ku tidak berkedip, aku langsung mandi dan bersiap-siap ke sekolah, sesekali kulirik Blackberryku juga masih belum ada tanda-tanda SMS dari Georgy, aku sudah hampir telat, tidak sempat sarapan, lalu langsung mengajak Papa untuk cepat mengantarku.

Sesampai di gerbang, seperti biasa aku berpamitan dengan Papa, dan kali ini tidak menunggu Georgy karena bell sudah berbunyi sebelum aku keluar mobil, kupikir Georgy sudah di kelas terlebih dahulu.

Bell pulang sudah berbunyi, aku pulang bersama Papa, kulihat mobil Papa sudah menungguku jadi aku segera berlari menghampiri Papa.
“Papa sudah lama ya?” Tanyaku seraya menutup pintu mobil,
“Baru aja Papa dateng nak”, jawabnya.

Sampai di rumah aku merasa badanku lelah sekali, tersadar dari pagi aku belum melihat Georgy, kulihat Blackberryku juga tidak ada SMS darinya, “kemana dia”, pikirku. Aku langsung tertidur karena capai sekali rasanya. Terasa seperti ada yang membangunkan aku, kulihat ke jendela, ada Georgy melambai kepadaku dengan senyumannya. Aku segera raup dan merapihkan rambutku lalu menuju ke luar rumah,
“Ayo ke danau Re,” ajak Georgy, entah kenapa rasa lelahku hilang segera mengekori Georgy berlari,
“Giii, aku capai, pelan dong, emang skutermu masih di bengkel ya?” Tanyaku,
“Ini belum seberapa sayang, kamu tidak tahu aku harus berjalan lebih dari ini besok” jawab Georgy,
“Maksud kamu apa sih Gi, gak ngerti ah”, jawabku kesal, Georgy hanya menarik tanganku, dan masih sama seperti biasanya, tidak terasa tanganku digenggam olehnya.

Sampai kami di danau, Georgy duduk di dekatku, dan kali ini dia meneteskan air mata, jujur saja aku belum pernah melihatnya meneteskan air mata,
“Kenapa nangis Gi?” Tanyaku, sesegera dia mengusap air matanya,
“Aku ingin selalu bersamamu Re”, jawabnya, aku melihat Georgy, kali ini tatapannya tertuju padaku,
“Kamu kenapa bicara seperti itu,” tanyaku,
Georgy langsung mendekapku, dan air mataku jatuh tanpa aba-aba. Terasa seperti hanya ada aku disana, sendiri.

“Aku pergi dulu ya Re, dadaa sayaang,” terlihat wajah Georgy pias, dan berlalu seperti sangat cepat, kali ini aku benar-benar melihat Georgy pergi. Aku meneteskan air mata dan langsung kuusap, segera aku masuk ke dalam, hatiku terasa retak dan berserakan seiring langkahku yang entah mengapa jadi lemas, aku merasa hanya sendiri.

“Re, hari ini ikut Papa ke makam Mama ya, kamu libur saja dulu satu hari,” ajak Papa,
“Iyaa deh Pa,” jawabku, aku langsung mengirim SMS pada Georgy,

Gi, aku hari ini enggak sekolah, mau ke makam Mama, jangan nakal, I Love You

Aku langsung pergi bersama Papa, menuju makam Mama. Terlihat sepi disana, hanya ada beberapa orang saja. Aku dan Papa segera duduk dan Berdo’a, setelah berdo’a kulihat tidak jauh di sebelah kananku ada Bu Tiska, Ibunya Georgy, kulihat disana sepertinya dia juga sedang ziarah, tapi di makam siapa, apa mungkin Ayahnya Georgy, tapi Georgy tidak pernah mengajakku ziarah ke makam Ayahnya selama aku bersamanya, aku semakin penasaran, dan minta izin pada Papa untuk mendatangi Bu Tiska, Papa menghentikanku, seperti terlihat dia berpikir lalu melepaskan tanganku.
“Pergilah nak”, jawabnya memberi izin.
Aku langsung berlari dan berhenti tepat di depan makam yang terdapat Ibunya Georgy, kulihat nama pada nisan tersebut terlulis nama “Georgy Dare”, wafat pada tanggal 3 Januari 2014, dan lahir pada tanggal 23 Juni, nama yang sama dengan kekasihku, tanggal wafat saat sehari setelah kecelakaanku dengan Georgy dan tanggal lahir yang sama dengan Georgy, kuyakin ini semua bukan kebetulan, air mataku jatuh, hatiku terasa semakin hancur, tubuhku gontai, senggukanku menyadarkan Bu Tiska yang memang sudah mengenalku, dan langsung memelukku untuk menenangkanku,
“Maafkan Ibu Re, Georgy tidak mengizinkan ibu memberi tahumu jika dia sudah tiada nak”, tangisan Bu Tiska pecah bersama tangisanku, kulihat Papa mengelus pundakku. Duniaku terasa hancur, semua seperti sihir, Georgy tidak mungkin meninggalkan aku.
“Maafkan Papa nak, bagian dari Georgy berada pada tubuhmu nak, Georgy memberikan hatinya padamu saat kamu tidak bisa tertolong, dia tidak ingin kamu pergi meninggalkannya” jelas Papa padaku.

Bu Tiska dan Papa sudah pulang, tinggalah aku bersama dengan Georgy saat ini, tangisanku pecah, duniaku sudah hancur, ternyata dalam kenyataan aku sudah terpisah dengan Georgy, dan sekarang, takdir juga mengambil bayang-bayang Georgy, aku terpisah lagi dengan Georgy, kenapa kamu ninggalin aku Gi, kamu sudah berjanji untuk tidak meninggalkan aku tolong kembali atau jemput aku.

Seandainya semudah saat bersandar di bahumu aku melupakan semua kenangan bersamamu yang selalu menghantuiku, sekarang aku kehilanganmu sebelum aku merasa memilikimu, saat ini aku ingin kau yang ada di sisiku, tenangkan hatiku, teduhkan jiwaku, rangkul setiap sisi dari hidupku, dan hanya tinggalah kenyataan yang membunuhku, melihatmu pergi tanpa tau kapan kau akan kembali, sekarang aku mengiklashkanmu pergi, dan bertahan sendiri disini menjaga hati yang telah kau beri, tidak saat ini, mungkin saat aku kembali ke pelukanmu nanti, kita benar-benar abadi.

Cerpen Karangan: Hayka Novita Sari
Facebook: Hayka Novita Sari

Cerpen Separating Twice merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Terakhir (Part 2)

Oleh:
Siang ini setelah pelajaran aku segera keluar kelas dan mencari Alsa, ternyata dia belum keluar kelas, akupun kekantin dulu untuk membelikannya minum, dan menunggunya di depan kelasnya. Setelah dia

5 Hari Untuk Rania

Oleh:
Sudah 5 tahun aku mengembara di negara yang sebesar ini untuk mengejar sebuah mimpi besar yang sangat aku impikan. Ingin sekali rasanya aku pulang, tapi mimpi yang memaksaku untuk

Hujan, Jangan Ambil Belahan Jiwaku

Oleh:
Tak ada seorang pun di sini. Tolong aku! Aku ingin pulang. Aku terjebak di tengah-tengah hujan yang lebat. Di mana semua orang? Guru-guru? Teman-teman? Dimana mereka? Tolong aku, aku

Nayla dan Naya

Oleh:
Semua ini berawal dari pertemuan singkatku dengan Arya. Arya adalah seorang lelaki yang berperawakan tinggi, putih, mancung, pokoknya perfect. Waktu itu Arya tak sengaja menyenggol belanjaanku saat aku sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *