Sepenggal Kisah Dalam Rinai Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 4 December 2013

Saat kereta api meninggalkan dengungannya, saat asap kendaraan menyatu dengan udara malam, saat rembulan mengalami hal sama yang dialami dua insan yang tengah berlalu di sepanjang jalan ini.

Sepanjang jalan meninggalkan jejak cerita yang ditinggalkan oleh dua insan yang tengah meradang hatinya. Ini menjadi cerita bagiku, cerita yang kau torehkan beberapa waktu lalu saat kita berlalu melewati jalanan malam dalam rinai hujan untuk mengantarkanku pulang. Sepanjang jalan yang kita lalui meninggalkan bekas licin karena rinai hujan yang begitu derasnya, di sepanjang jalan pula dingin terasa begitu menusuk tulang, jarum-jarum hujan membasahi kain yang kita kenakan, dinginya begitu menembus tulang. Tapi dingin itu sudah tak terasa bagiku.

Di sepanjang jalan pula kereta api berlalu meninggalkan dengungannya, membuat ocehan yang kutujukan padamu tersamarkan, saat asap kendaraan menyatu dengan udara malam membuat udara terasa sesak, saat rembulan mengalami hal sama yang dialami dua insan yang tengah berlalu di sepanjang jalan ini, meradang hingga tak berani menunjukkan sinarnya. Saat bintang juga tengah gundah hingga ikut tak memancarkan sinar kemilaunya. Yah, sepertinya suasana malam ini sama dengan perasaan yang tengah aku rasakan. Gundah. Awan hitam pekat tengah menyelimuti malam ini, dan mega mendung tengah menyelimuti perasaanku.

Memang terkadang alam bersahabat dengan manusia. Buktinya bulan dan bintang tengah bersahabat dengan hatiku saat ini, guratan sinarnya tampak tak begitu jelas. Hanya remang-remang saja. Seperti tersenyum, tapi kecut senyumnya. Tak jelas apa maknanya. Kadang muncul, kadang hilang. Muncul saja hanya beberapa saat, tak lama lagi setelah itu menghilang lagi.

Ingin rasanya mulutku berkata tetaplah disini bersamaku dan menjadi raja di singgasana hatiku. Biarkan dinginnya malam ini semakin menambah suasana tenang hatiku saat berada di dekatmu. Walau terkadang tetes air mata ini jatuh bergulir membasahi pipiku lalu turun ke pundakmu dan membasahi t-shirt beludru yang kau kenakan. Tapi, apa kau merasakan itu? Rasa hangat atau dinginnya buliran air mataku. Air mata yang menginginkan jawaban dari sebuah penantian yang terasa amat membosankan. Sebab hati dan mata ini telah lelah karena kerap kali meneteskan buliran air mata dan menahan rasa sabar.

Katamu aku seperti anak kecil, manja dan egois. Tapi memang itulah aku, aku masih perlu dirimu untuk membimbingku melewati masa yang penuh liku ini. Membiarkanmu berada di dekatku selalu akan menghalau jatuhnya buliran air mata ini.
Setidaknya begitu!

Cerpen Karangan: Yeni Ayu Wulandari
Blog: www.blogmenulisyeni.blogspot.com

Cerpen Sepenggal Kisah Dalam Rinai Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengorbanan Cinta Sejati

Oleh:
Aku termenung di kamarku. Menangisi keadaanku saat ini. Bagaimana tidak, seorang yang aku cintai pergi meninggalkanku. Aku mengambil sebuah figura dan ku lihat foto di dalamnya. Aku mengingat bagaimana

Cintaku Tak Berlisan

Oleh:
Senja menyapa, Mentari elok segera sirna dari peraduannya. Sore seakan berganti malam yang berhias bintang. Bersama sinar rembulan yang menawan cinta yang menyatukan insan sesuai titah Tuhan. Cinta entah

Akhir Musim Gugur

Oleh:
“Tunggu kedatanganku empat tahun kemudian yah” Kalimat itulah yang membuatku tetap disini, entah semuanya nyata atau tidak nantinya tapi aku selalu percaya itu. mungkin memang tak seindah saat janji

Hati Yang Tersakiti

Oleh:
Pada suatu malam yang indah sama halnya dengan hatiku yang juga lagi indah, aku berkenalan dengan seorang pria tampan, pria itu adalah teman dari pacar temanku. Seorang pria yang

Penantian Tak Berujung

Oleh:
“Beib bolehkah aku besok pergi ke Jakarta untuk menggantikan posisi Ayahku di perusahaannya?” ucap Dimas kekasih Mya. “Emm, kenapa secara mendadak begini?” ucap Mya. “Maafkan aku sayang, tapi Ayahku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *