Seperti Yang Kau Minta (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 5 August 2017

Hujan hari itu turun dengan derasnya, berwarna hitam pun memayungi setiap sudut kota, tampak seorang wanita muda yang nekat berjalan menerobos derasnya hujan sambil menggendong bayi
“Maafkan Ibu ya nak, Ibu harus membawa kamu pergi, Ibu nggak mau kamu disia-siakan sama Ayahmu.”
Wanita itu berhenti di depan sebuah rumah mewah, dia menekan bel rumah
“Iya… Tunggu sebentar.” Terdengar suara sang pemilik rumah
“Kok nggak ada orang sih? perasaan tadi ada yang nekan bel, apa Cuma perasaan saya aja kali ya.”
Kemudian terdengar suara bayi, wanita pemilik rumah itu pun mencari suara bayi itu, dia terbelalak kaget, di depan pintu rumahnya ada seorang bayi yang masih merah, dibawanya bayi itu masuk ke rumahnya
“Kasihan banget kamu nak, siapa yang tega membuang kamu? tapi kamu jangan khawatir sayang… saya akan merawat kamu.”
Bayi itu masih terus menangis
“Iya sayang, kamu pasti haus, sebentar ya, mama akan buatin kamu susu.”
Wanita itu merawat bayi yang ditemukannya dengan penuh kasih sayang
“Minum yang banyak ya nak, biar kamu cepat besar.”

Tahun demi tahun berlalu, bayi mungil itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan
“Kamu yakin mau merahasiakan tentang penyakitmu dari orangtuamu?”
“Iya Dok, saya nggak mau menjadi beban pikirannya mama, saya ingin mama merasa tenang, dan saya juga nggak mau bikin mama sedih.”
“Rain… penyakit kamu ini bukan penyakit biasa, harusnya kamu dirawat di Rumah Sakit dan melakukan kemoterapi.”
“Maaf Dok, bukannya saya nggak mau menuruti saran Dokter, tapi… buat saya melakukan kemoterapi itu sama aja dengan saya menyakiti diri sendiri.” Jawab Rain
“Ya sudah, kalau itu memang menjadi keinginanmu, saya juga nggak bisa melarangnya, sekarang saya buatkan resep obat aja.” Kata Dokter
Rain memang benar-benar pemuda yang keras kepala, sudah berkali-kali Dokter menyarankan agar dia dirawat di Rumah Sakit, tapi Rain nggak pernah nurut.

Saat tengah mengemudikan mobil, seorang cewek muncul dan berlari di depan mobil Rain
“Mau lari ke mana lo? percuma aja lo lari.”
“Tolong jangan apa-apain saya.”
“Wah, kayanya tuh cewek lagi dikejar preman, gue harus tolongin dia.” Rain membuka pintu mobilnya
“Woy, kalau berani lawan gue, cemen lo… beraninya sama cewek.”
“Hei bocah, siapa sih lo? jangan sok berani nantang kita, nyali kecil aja coba-coba mau nantang kita.”
“Nggak usah banyak omong deh, kalau emang lo berani, sini maju satu- satu.” Tantang Rain

Ternyata kedua preman itu kalah sama Rain
“Ampun Bang, ampun, kita janji nggak akan bikin onar di tempat ini lagi.” Kedua preman itu lari terbirit-birit
“Kamu nggak apa-apa kan?” Rain menghampiri cewek itu
“Aku nggak apa-apa kok.”
“Lain kali jangan jalan sendirian di tempat kaya gini, di sini banyak premannya, gimana kalau kita ngobrol-ngobrol sebentar, kamu nggak lagi buru-buru kan?” Tanya Rain
Hmm… nggak kok, aku nggak lagi buru-buru kok, kebetulan juga hari ini aku lagi libur kerja.”
“Oh iya, namaku Rain, kalau kamu?” Tanya Rain
“Aku Callista, eemh.. keren juga ya nama kamu, pasti kamu lahirnya pas lagi hujan, jadi… mamamu ngasih nama Rain.” Kata Callista
“Iya, aku lahir waktu hujan deras dan… nggak tahu kenapa waktu kecil aku tuh suka banget sama yang namanya hujan.” Jawab Rain
“Rain, kayanya aku harus pulang dulu, orang-orang rumah udah nungguin aku.”
“Iya Callista, aku anterin ya.”
“Hmm… nggak usah Rain, aku bisa pulang sendiri kok, ntar malah ngerepotin kamu… terus ntar cewekmu marah lagi.” Kata Callista
“Nggak kok Cal, tenang aja, aku lagi jomblo sekarang.”

Setelah mengantar Callista, Rain menuju rumahnya
“Kamu dari mana aja Rain? tadi Maya telepon, katanya besok pagi ada pemotretan model.” Kata Mamanya
“Iya ma.” Kata Rain
Rain menuju ke kamarnya, dia membuka laci meja kamarnya, di situ ada bermacam –macam obat, obat itu lah yang harus diminumnya
“Sampai kapan gue harus minum obat-obat ini?” Pikir Rain sambil menenggak beberapa obat

Pagi itu matahari bersinar dengan begitu cerah, semua orang bersiap untuk melakukan aktifitas
“Pagi ma.” Sapa Rain
“Pagi juga sayang, ayo sarapan dulu, mama udah siapin roti nih.”
“Hmm… nggak deh ma, Rain buru-buru soalnya.” Rain bersiap menuju kantornya

Sampai di kantor seorang gadis cantik menghampiri Rain
“Rain, ini daftar model yang harus kamu foto hari ini.”
“Oke… makasih ya May.”
Rain adalah seorang model dan fotografer, karena profesinya ini dia selalu dikelilingi wanita-wanita cantik
“Gimana bro? udah ada yang sip belum?” Tanya Rendy, sahabat Rain, ketika Rain melihat hasil fotonya
“Nggak ada yang sip Ren, biasa semua.” Kata Rain
“Masa sih? satupun nggak ada yang menarik perhatian lo sama sekali atau… lo belum bisa move on ya dari Maya?”
Rain hanya tersenyum

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Callista, Rain sepertinya mulai jatuh cinta sama Callista, Rain ingin menyatakan cintanya pada gadis pujaannya itu, dia mengajak Callista ke suatu tempat
“Kamu mau ngajak aku ke mana sih Rain, kok pakai acara tutup mata segala, jangan ngajak aku ke rumah hantu ya.” Ancam Callista
“Iya… udah kamu tenang aja, aku akan ngajak kamu ke tempat yang romantis kok, aku akan buka penutup mata kamu, kamu siap-siap ya.”
Setelah penutup matanya dibuka, Callista kaget, dia berada di dekat kolam yang di atasnya ada lilin berbentuk hati
“Udah lama banget aku merindukan seseorang untuk menemani kesendirianku selama ini, berkali-kali aku menjalin cinta, semuanya kandas di tengah jalan, tapi… semuanya berbeda waktu aku ketemu kamu Callista.” Kata Rain
“Maksud kamu apa Rain? aku nggak ngerti.” Callista bingung dengan kata-kata Rain
“Aku pengen kamu tahu isi hatiku, kamu adalah belahan jiwa yang selama ini aku cari, kamu adalah bidadari yang tercipta buat aku, aku jatuh cinta sama kamu Lis, tolong kamu terima cintaku.” Pinta Rain
“Aku terima cinta kamu Rain.” Kata Callista
“Aku pengen tempat ini jadi saksi cinta kita, aku janji… aku nggak akan ninggalin kamu, seluruh cintaku, seluruh hidupku cuma buat kamu, dan… aku rela mati buat kamu.”

Keesokan harinya, tanpa diketahui oleh Rain, Callista berkunjung ke kantor Rain, alih-alih ingin memberikan kejutan ke Rain, justru Callista yang terkejut saat melihat Rain jalan berdua dengan Maya, mantannya, Rain melihat Callista
“Sayang… kamu ke kantor aku kok nggak bilang-bilang sih?” Tanya Rain
“Nggak usah panggil aku sayang, sekarang kamu jujur aja sama aku, kamu masih cinta kan sama Maya… mantan kamu itu?” Tanya Callista dengan nada tinggi
“Aku udah nggak ada apa-apa sama Maya, kita udah lama putus, sekarang aku Cuma ngganggap Maya sebagai sahabat, nggak lebih dari itu.”
“Kamu nggak usah bohong Rain… aku nggak bisa kamu bohongi, aku minta putus sekarang juga!!!” Bentak Callista
“Tapi sayang…” Rain bermaksud mengejar Callista, namun kepalanya terasa sangat sakit, pandangan matanya juga terasa kabur
“Rainn!!!” Teriak Maya. “udah biar aku yang ngejar Callista.” Maya membawa Rain masuk
Di dalam ruangan, Rain menenggak obat untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya
“Lo nggak apa-apa kan Rain?” Tanya Rendy
“Gue nggak apa-apa Ren.”

Sementara itu Maya mengejar Callista
“Callista… tunggu!!!” Teriak Maya
“Lo ngapain ngejar gue??? udah lo lanjutin aja jalan-jalan sama Rain, gue ikhlas kok kalau kalian balikan lagi.” Kata Callista
“Lo kenapa ngomong gitu Lis? gue udah nggak ada apa-apa sama Rain, hubungan kita sekarang Cuma sekedar temen deket aja, nggak lebih daripada itu, lo percaya sama gue deh.” Maya berusaha meyakinkan Callista
“Hahaha… nggak mungkin kalau lo nggak balikan sama Rain, sekalipun seratus kali lo meyakinkan gue… sampai kapanpun gue nggak akan pernah percaya sama lo.” Callista berjalan pergi

“Lo beneran nggak apa-apa? muka lo pucat banget Rain, gue antar lo pulang sekarang.” Kata Rendy
“Tapi Ren… gue…” Kilah Rain
“Udah lo nggak usah nolak, gue tahu kalau lo itu sakit Rain, mending lo pulang, lo istirahat di rumah.” Jawab Rendy
“Udah Ren, sampai sini aja, gue bisa jalan sendiri kok.” Kata Rain begitu dia sampai di depan rumahnya
Dengan tertatih-tatih Rain berusaha berjalan ke depan pintu, dia membuka pintu ruang tamu
“Ya ampun kamu kenapa sayang? muka kamu pucat banget nak,mama ambilkan obat dulu ya.” Kata Mamanya
Rain berjalan menuju kamarnya, belum sempat dia menaiki tangga kamarnya, Rain jatuh pingsan dengan hidung yang mengeluarkan darah
“Rainnn!!! bangun sayang, kamu kenapa nak.” Mamanya memeluk Rain dan segera menelepon ambulance.

Di tengah perjalanan ke Rumah Sakit, mama Rain menelepon Maya
“Halo Tante… ada apa kok tiba-tiba nelpon Maya?”
“Maya… Rain tiba-tiba pingsan, Tante juga nggak tahu kenapa, sekarang Tante sedang ada di perjalanan menuju Rumah Sakit Bintang, kamu cepat ke sini ya.” Mama Rain menutup teleponnya
“Kenapa May?” Tanya Rendy
“Rain nggak sadarkan diri Ren, kita harus ke Rumah Sakit Bintang sekarang.”

Rendy dan Maya tiba di Rumah Sakit, mereka bertemu mama Rain
“Rain di mana Tante?” Tanya Rendy
“Rain masih ditangani sama Dokter.” Jawab Mama Rain
Dokter yang memeriksa Rain keluar dari ruangan
“Anak saya sakit apa Dok?” Tanya Mama Rain
“Rain menderita kanker otak stadium akhir, selain itu dia juga mempunyai penyakit kelainan darah yang mengakibatkan adanya penggumpalan darah di otaknya.”
“Astaga Rain, kenapa kamu nggak pernah cerita ke mama tentang penyakitmu, dan sekarang penyakitmu sudah separah itu.”

Di dalam ruang ICU, Rain berada dalam kondisi koma, mama Rain masih menunggui putranya yang tergolek lemah tak berdaya dan menggantungkan hidupnya pada alat-alat di ruangan itu
“Ma… ma…ma.” Panggil Rain lirih
“Iya sayang… ini mama nak, mama ada di sini Rain.”
“Ca…lis…ta, Ca… lis…ta.” Rain memanggil nama Callista
“May, cepat lo hubungi Callista, kasihan Rain, dia pengen ketemu Callista.” Kata Rendy
“Nggak bisa Ren, dari tadi gue udah berusaha buat menghubungi Callista, tapi nggak bisa terus, atau gue jemput dia aja di rumahnya.” Kata Maya
Maya menyalakan mesin mobilnya, dan menuju ke rumah Callista

“Permisi.” Maya mengetuk pintu rumah Callista
“Maya… angin apa yang membawa lo ke sini?” Callista membuka pintu
“Cal, gue ke sini mau ngasih tahu ke lo tentang Rain, dia masuk Rumah Sakit.” Kata Maya
“Udahlah May, gue udah nggak mau denger lagi berita yang ada kaitannya sama Rain, masih banyak pekerjaan yang harus gue kerjakan.” Kata Callista
“Oke, kalau mau lo gitu, gue Cuma mau ngasih tahu ke lo… Rain kena kanker otak stadium akhir, dan sekarang dia koma di Rumah Sakit.” Jelas Maya
Callista kaget setengah mati, hatinya terasa seperti tersambar petir
“Rain koma?? lo nggak bohong kan May?” Tanya Callista
“Gue serius Lis, mending sekarang lo ikut gue ke Rumah Sakit.”

Sampai di Rumah Sakit, Callista histeris melihat Rain terbaring tak berdaya di ranjang ruang ICU dengan alat-alat yang terpasang di tubuhnya
“Rain… maafin aku, aku yang udah bikin kamu jadi kaya gini, seandainya aja waktu itu aku nggak membentak kamu, ini semua nggak akan terjadi.” Isak Callista
“Ca… lis… ta…” Panggil Rain
“Iya sayang… aku di sini… aku nggak akan ninggalin kamu sayang, kamu harus sembuh, kamu harus bangun sayang.” Kata Callista
“Ca… lis… ta…” Airmata mengalir dari mata Rain, Callista menghapus airmata Rain
“Kamu harus berusaha buat bertahan hidup sayang, demi aku dan orang-orang yang sayang sama kamu.” Callista mencium kening Rain
Tanpa sengaja Maya melihat kejadian itu, Maya masih menaruh cemburu, karena sejujurnya dia masih mencintai Rain, Maya berusaha menyembunyikan perasaannya
“Cepat sembuh ya Rain, sebenarnya aku masih sayang sama kamu, tapi… kamu lebih mencintai Callista daripada aku.” Maya membelai rambut Rain
Maya melihat suasana di luar ruangan dari kaca jendela, hujan tengah turun dengan lebat di luar
“Rain… di luar hujan, kamu masih ingat nggak? kamu pernah ngajak aku hujan-hujanan, dan kamu bilang kalau kamu suka sama suasana kaya gini.”
Rain tidak bergeming sedikitpun, cowok bermata indah itu masih terlelap dalam komanya

Tak terasa, tiga bulan sudah Rain dirawat di Rumah Sakit
“Sampai kapan kamu tidur terus Rain? aku kangen suaramu, senyumanmu, kangen bercanda sama kamu, aku kangen semua tentang kamu.” Kata Maya
Maya teringat waktu dia masih pacaran sama Rain
“May, aku punya sesuatu buat kamu, ini aku buat sendiri, khusus buat bidadariku yang cantik ini.” Kata Rain
Rain memakaikan sebuah mahkota yang terbuat dari bunga di kepala Maya
“Wah, bagus banget, aku suka… makasih ya Rain.” Maya senang sekali
Airmata mengalir di pipi Maya, dan kondisi Rain pun semakin menurun, tubuh kekarnya kini menjadi sangat kurus, tak ada asupan makanan yang masuk, Rain hanya bergantung pada cairan infus yang tertancap di tangannya

“Maya…” Sapa Callista
“Eh lo Cal.” Maya menghapus airmatanya
“Gue nggak tega lihat kondisi Rain Lis, kecil kemungkinan Rain untuk tetap bertahan hidup, sel kanker udah menyebar ke seluruh tubuh Rain.” Kata Maya
“Jangan bilang gitu May, pasti ada keajaiban buat Rain, dia akan sembuh kok.”
Callista memegang tangan Rain yang terkulai lemah, ditempelkannya tangan Rain ke pipinya
Pikiran Callista melayang ke saat dia menemani Rain main futsal
“Semangat ya Rainku, jangan sampai kalah!!!” Teriak Callista
“Iya Callistaku sayang, kalau ada kamu aku pasti semangat mainnya, karena kamu itu penyemangat di hidup aku.” Rain mengacak-acak rambut Callista
“Iih… kamu nih, rambutku jadi berantakan tahu, eh hidung kamu berdarah sayang” Callista melihat darah keluar dari hidung Rain
“Masa sih?” Rain menempelkan tangannya ke hidung,ada darah di punggung telapak tangannya
“Aduh, jangan sampai Callista tahu tentang penyakit gue.” Pikir Rain
“Kamu nggak apa-apa kan? mending kita balik aja ya, aku khawatir kamu kenapa-napa sayang.” Callista membersihkan darah di hidung Rain dengan tissue
“Kamu nggak usah khawatir sayang, aku nggak apa-apa kok, kamu tenang aja ya.” Rain menenangkan Callista
“Tapi sayang… kamu tuh.” Belum sempat Callista bicara, Rain udah berlari ke lapangan
“Kamu itu keras kepala banget sayang, kamu nggak pernah nurut kalau aku kasih tahu, itu kan buat kebaikan kamu juga.” Callista membelai rambut Rain

Hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin Dokter, Dokter membuka sebagian kancing baju Rain, lalu menempelkan stetoskop di dada Rain dan memeriksa pupil mata Rain
“Gimana kondisi Rain Dok?” Tanya mamanya
“Kondisinya masih tetap seperti yang kemarin, masih belum ada tanda kalau Rain akan segera sadar.” Kata Dokter
“Semoga Rain cepat sadar ya Tante.” Kata Maya
“Iya Maya, Tante juga berharap seperti itu, kasihan Rain, Tante nggak bisa membayangkan kalau Ibu kandungnya melihat kondisi Rain sekarang.”
“Ibu Kandung?” pikir Callista
“Jadi Rain bukan anak kandung Tante?” Tanya Callista
“Iya Callista, Rain memang bukan anak kandung Tante, waktu itu ada seseorang yang meletakkan bayi di depan rumah Tante, Tante merawat dan mengadopsi bayi itu jadi anak Tante, bayi itu Tante beri nama Rain.”

Rendy tampak duduk termenung di taman Rumah Sakit, Callista dan Maya menghampirinya
“Hai Ren, kenapa lo? kok bengong aja?” Tanya Callista
“Tadi gue nggak sengaja lewat di depan ruangan Dokter, gue denger, kalau Rain kondisi Rain nggak kunjung membaik, maka alat-alat penopang hidup itu akan segera dilepas.” Kata Rendy
“Lo… lo nggak bohong kan Ren?” Tanya Maya
“Gue serius May, selama ini Rain bisa bertahan hidup karena alat-alat itu, dan nyokapnya juga udah tahu kok.” Jawab Rendy
“Terus gimana respon nyokapnya Ren?” Tanya Callista
“Nyokapnya udah pasrah Lis, keadaan Rain juga nggak kunjung membaik, justru malah semakin memburuk.” Ujar Rendy
“Gue masih belum siap kalau harus kehilangan dia, gue masih belum bisa bikin dia bahagia, gue belum siap ditinggal Rain.” Isak Callista
“Gue tahu perasaan lo Lis, tapi lo juga harus ngerti, kasihan kan Rain, kalau dia harus menderita terus.” Kata Maya
“Maya bener Cal, gue juga nggak tega kalau lihat kondisi Rain.”

Cerpen Karangan: Cicilia Wulan
Blog / Facebook: wulancicilia.blogspot.co.id / ciellz mygeisha

Cerpen Seperti Yang Kau Minta (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan

Oleh:
Langit sudah menjadi kelabu, angin pun sudah mulai menyeruak, hari telah berganti sore seiring matahari yang tenggelam. Namun, aku masih di sini. Masih duduk dengan tenang di kursi panjang

Embun di Hati Arya

Oleh:
Siapa yang tidak mengenal “Arya” cowok ganteng, pintar, tajir, baik plus tenar pula. Perfect! Nggak ada satu cewekpun yang tidak tertarik bila melihatnya, terlebih jika mengenalnya, dijamin bakalan klepek-klepek

Pria Itu Aku

Oleh:
Sore itu, Kirana meneleponku. Ia memintaku untuk menjemputnya di tempat kursus. Kebetulan saat itu mentari ditutupi oleh awan mendung dan hujan turun disertai angin kencang. Aku tak tega membuat

Stasiun Balapan (Part 2)

Oleh:
Helaan nafas seakan sesak, Rahma melangkah dengan penuh kesibukan yang akhir-akhir ini membuatnya tak bisa bernafas lega. “Ma, kamu mau mudik lebaran ini?”, “Pengennya sih gitu Dit, tapi nggak

Sesal

Oleh:
I miss your tan skin, your sweet smile So good to me, so right And how you held me in your arms that september night The first time you

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *