Sepucuk Harapan yang Sirna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 July 2014

“Kamu kok belum pulang Rik?” seru Fian temanku kepadaku saat pulang sekolah.
“Iya, aku masih harus nunggu Okta” balasku padanya.
“Ya udah kalo gitu aku duluan Rik.”

Saat seluruh murid di kelasku sudah pulang, aku masih harus menunggu seorang wanita, ya dia bukan wanita sembarangan. Dia pacarku, namanya Okta. Setiap hari aku harus menunggu dia sampai ke luar kelas hanya demi menuruti permintaanya untuk aku antar pulang. Okta memang 1 kelas lebih rendah dariku, mungkin karena itu dia selalu manja padaku.

“Udah nunggu lama ya? Aduh maaf” seorang wanita berbicara padaku.
“Iya gak papa kok Ok, udah siap pulang?” tanyaku pada wanita tadi yang tak lain adalah pacarku.
“Udah kok, yuk!” dia menarik tanganku menuju tempat parkir.
“Gimana tadi pelajaranya?” aku bertanya padanya sambil memasang helmku.
“Lancar kok, cuma tadi pas pelajaran kimia aku gak bisa.” Jawabnya sambil menaiki motorku, padahal aku pun belum naik motor.
“Makanya sering-sering belajar!” seruku padanya sambil mulai menjalankan motorku.

Di perjalanan kami berdua mengobrol panjang lebar tentang Okta maupun tentangku sendiri. Dan di tengah perbincangan tiba-tiba dia menanyakan sesuatu padaku. Pertanyaan yang tak mau kujawab, bahkan pertanyaan yang aku harapkan tidak pernah keluar daari mulutnya.
“Kalau semisal suatu hari aku diharuskan berpisah sama kamu, perasaan kamu gimana? Terus kamu rela gak?” tanyanya padaku.
Aku hanya bisa terdiam dan tak ada satu niatan pun untuk menjawab pertanyaanya sampai ketika aku telah sampai di rumahnya. Kemudian dia turun dari motorku hingga dia masuk rumahnya, dan saat itu tak ada satu pun ucapan darinya, semua menjadi dingin dan kaku. Dan saat aku mulai melajukan motorku untuk pulang…
“Aku tunggu jawabanmu sayang, sampai tanggal 15 maret!!” suara Okta terdengar meski dia berada di dalam rumahnya.

Aku tiba di rumah saat jam tanganku menunjukkan jam 5 lebih 15 menit, segera aku masuk ke rumah dan melepas pakaianku hendak menuju kamar mandi. Usai mandi aku memenuhi kewajibanku sebagai pemeluk agama yakni sholat. Setelah sholat aku keluar menuju ruang tengah, dan saat itu telah ada kedua orangtuaku yang terlihat sedang duduk bersantai sambil melihat televisi.
“Nganterin Okta lagi ya Rik?” tanya Ayahku segera saat dia mengetahui aku ada disitu.
“Iya yah..” jawabku sembari berjalan menuju arah mereka berdua.
“Ya udah deh, sini dulu duduk di samping Ayah” ajaknya.
Aku pun mendekat ke tempat dimana Ayahku duduk bersama Ibu, Ibu terlihat diam tidak berkata apapun sejak tadi. Aku pun telah duduk di samping Ayahku, dan saat itu suasana pun mulai hangat. Ibu tak lagi terdiam, kami mulai mengobrol kesana kemari, tentang apapun yang kami bahas. Hingga terdengar sayup-sayup suara adzan maghrib, dan seketika itu pun Ayah dan Ibuku mengajakku untuk sholat berjaa’ah.

Keluargaku memang keluarga yang taat beragama, bahkan jika memungkinkan, Ayah dan Ibuku akan mengajakku untuk berpuasa senin kamis tiap hari senin dan hari kamis. Meskipun Ayah dan Ibuku masing-masing mempunyai pekerjaan yang menyibukkan, tetap saja mereka tak lupa akan kewajibanya untuk beribadah.

Usai bersalaman dan mencium tangan kedua orangtuaku sesaat setelah sholat magrib. Aku beranjak ke kamarku hendak belajar,
“Riko…!!” ibuku memanggilku dari tempat duduknya saat sholat.
“Iya bu?” jawabku.
“Belajar yang serius ya? Jangan Okta aja yang dipikirin, hehe” serunya padaku.
“iya bu”
Tawa buatan ibuku itu terdengar lagi, aku tahu tawa itu adalah wujud dari rasa kekhawatiran bercampur rasa kekecewaanya padaku. Khawatir karena aku yang terlalu banyak memikirkan pacarku, kecewa juga karena aku yang selalu saja memiirkan si Okta pacarku itu. Aku tak tahu kenapa aku selalu saja memikirkan pacarku itu, mungkin karena sebelum itu aku belum pernah berpacaran. Ya, dalam arti lain Okta adalah pacar pertamaku, ya meskipun aku bukanlah pacar pertama Okta.

Oh ya, sejenak aku teringat. Tanggal 15, pada saat itulah aku harus memberi jawaban dari pertanyaan Okta. Sekarang tanggal 13, 2 hari lagi aku harus siap untuk memberi jawabanku kepada Okta. Apapun itu, aku harus bisa menjawabnya.

“Aku duluan ya Rik” seru temanku sepulang sekolah.
“Oh ya” jawabku.

Seperti biasa, pulang sekolah kali ini aku harus menunggu Okta lagi. Ya, kelasnya memang agak lama daripada kelasku, dan itu terjadi tiap hari. Jarum jam taganku menunjuk ke arah dimana antara angka 1 dan angka 2. Tepat, sekarang sudahlah jam setengah 2, dan ini sudahlah waktunya untuk pulang. Tapi berbeda dengan kelasnya Okta, selalu saja saat jam setengah 2 lebih 5 menit barulah kelasnya keluar.

“Sayang…” seseorang memanggilku.
“Oh, kok tumben pulangnya jam setengah 2?”.
“Iya sayang, soalnya kelasku tadi nggak ada tugas”.
“Tugas?” tanyaku keheranan.
“Iya, kan tiap hari kelasku dapat tugas melulu, terus tugasnya dikerjain bareng-bareng pas pulang sekolah. Jadi dari dulu sebenernya aku mau bilang alasan itu ke kamu biar kamu ngerti sayang…” ucapnya dengan senyum khas miliknya itu.
“Oh, ya udah kalo gitu, yuk pulang!” ajakku padanya sambil menuju ke tempat parkir.
“Kamu gak lupa kan sayang?” tanyanya saat sudah berada di tempat parkir.
“Lupa apa sayang?” tanyaku balik.
“Kan sekarang tanggal 15”.
Astaga, aku lupa jika hari ini sudah tanggal 15. Aku sama sekali belum bisa menjawab pertanyaanya itu, entah kenapa. Padahal sesaat terlihat itu hanyalah pertanyaan kecil, tapi apapun itu aku sangat susah untuk menjawabnya. Jika saja aku jawab iya, mungkinkah dia sedih? Atau malah bahagia. Jika aku jawab tidak, mungkinkah dia akan bahagia? Atau malah sebaliknya sedih.
“Sayang, gimana?” tanyanya lagi, dan yang sekarang ini terdengar nadanya agak mendesak.
“Aku udah bisa jawab kok sayang, nanti kalo udah di depan rumahmu aja ya?” jawabku padanya.
“Owalah, iya”

Suasana hati kamu berdua mungkin masih merasakan kebingungan, entah bingung karena apa. Perjalanan dari gerbang sekolah hingga rumah Okta terasa hambar. Tak satu pun dari kami yang memulai pembicaraan, hingga aku pun mulai berbicara tentang apapun padanya. Tapi jawabnya hanya singkat, dan itu makin membuat suasana perjalanan pulang hari itu semakin hambar.
“Kamu beneran ya nanti bakalan jawab pertanyaanku itu?” dia tiba-tiba berbicara kepadaku.
“Iya kok, beneran” jawabku hanya itu, karena hatiku pun rasanya hambar jika mau berbicara lama lagi.

Rumah beratap kuning pun terlihat, ya itulah rumah Okta. Tepat di depan rumahnya itu, motorku kuhentikan agar Okta bisa turun dengan mudah. Tapi dia tak kunjung turun, entah kenapa.
“Ini udah sampe rumahmu say” seruku padanya
“Aku gak mau turun sampai kamu kasih jawaban pertanyaanku” nadanya terdengar agak kesal.
Apalah lagi ini, dia sungguh menyudutkanku. Aku tak ada pilihan lagi selain menjawab pertanyaanya itu agar dia mau turun. Tapi aku bingung, aku harus menjawab apa, andai saja aku tak punya hati, pasti aku tak aka terlalu memikirkan ini dan akan dengan mudah menjawab pertanyaan itu. Akhirnya kuputuskan untuk bicara pada Okta kalau jawabanku itu akan datang saat aku di rumah nanti.
“Iya sayang, nanti kalau aku dah di rumah aku jawab lewat telfon”
“Beneran ya?” tanyanya sambil mau turun dari motorku
“Iya, emang apa pentingnya sih sayang?” tanyaku agak mendesaknya
“Pokoknya penting, kalau emang kamu gak jawab, berarti kamu gak sayang aku”
“Iya, oke deh”
“Awas kalau gak jawab lagi” ancamnya padaku
Kemudian aku berpamitan denganya dan segera pulang ke rumah.

“Rik, kita besok akan pindah”
Aku tersentak kaget mendengar kata-kata itu, bagaimana bisa? Aku pasti akan sangat rindu dengan suasana disini.
“Beneran yah?” tanyaku pada ayah untuk memastikan
“Iya, sebenarnya Ayah sudah ada rencana pindah sejak seminggu lalu, tapi Ayah masih belum berani bicara sama kamu, Ayah takut nanti kamu gak bisa ninggalin Okta.”
“Aku udah putus sama Okta yah, iya aku ikut pindah gak apa-apa.” jawabku sambil mengingat kejadian sekitar 1 jam yang lalu.
“Maaf ya Rik, sebenarnya Ayah yang nyuruh Okta biar mau putus sama kamu, Ayah minta maaf Rik.” ucapnya sambil nadanya memelan
Aku tertegun mendengar kata-kata ayahku, kenapa dia menyuruh Okta untuk memutuskanku? Setega itukah ayahku padaku? Atau mungkin ini sebuah tindak kebijaksanaan Ayahku? Aku tak tahu apa arti semua ini, akhirnya Aku pun memutuskan untuk membuat mulut Ayahku tersenyum.
“Iya Yah, gak apa-apa kok Yah. Riko juga pengen nggak pacaran lagi.” sambil aku tersenyum padanya. Dan kemudian dia membalas senyumanku itu dengan senyuman yang sangat berarti, ditambah lagi dengan pelukan hangatnya.

Cerpen Karangan: Fahmi Saifuddin
Facebook: https://www.facebook.com/fahmi.sealoverz

Cerpen Sepucuk Harapan yang Sirna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kupu Kupu Senja Hari

Oleh:
Kepalaku menengadah. Menatap langit yang berwarna jingga. Kupu kupu indah dengan sayap biru cerah terbang melintas di depanku. Kuangkat jemariku. Kupu kupu itu terbang mendekat, terdiam di ujung jemariku.

Pengorbanan Cinta

Oleh:
Di sebuah sekolah ada seorang murid baru bernama Tia. Waktu Tia mau ke kelas tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang cowok bernama Gilang hingga ia jatuh dan memarahinya. “Kalau

Lost Friends Because Of Love

Oleh:
Hari ini hari yang begitu indah, karena rumah pohon yang aku dan sahabat sahabatku buat telah selesai. Namaku Kayla aku punya 4 sahabat, namanya Tessa, Tina, Andi dan Deran.

Sahabat Pertama dan Terakhirku

Oleh:
Hai kenalin nama aku Eka. Kali ini aku mau bercerita tentang persahabatanku bersama teman-temanku. Aku punya sahabat yang sangat menyayangiku, mereka adalah Iluh, Candra dan Vian. Kami berjanji untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *