Sesak Terakhir Untuk Eropa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 18 June 2015

“Jarak sepertinya akan cukup membantu untuk fase melupakan dan menghiraukan, namun tidak terjadi padaku…”

Sutra kuning serta corak motif bunga menguntai pipih pada balutan tubuh, hari ini hari terakhirku bertemu dengannya, geraian rambut disapu angin semilir, maklum halte trem yang ku duduki kali ini diriuhkan oleh angin bak gerombolan pendemonstrasi di kawasan mampang.
“aku akan datang 15 menit lagi” -Feroz mengirim pesan. Hampir 11 bulan aku tak jumpa lagi dengannya, seusai acara penyematan piagam dan jas berwarna abu-nya kala itu.
Aku dan Feroz bak dua insan manusia yang terjebak pada aliran narasi Tuhan, ia mencintaiku dulu, namun hubungan kami hanya sebatas sahabat belaka, ia mencintaiku pada waktu yang tak tepat, saat hati dan perhatianku terpusat pada “dia” seseorang yang menyia-nyiakan ku.
“aku akan selalu membantumu, melindungimu dari jauh, memastikan dirimu baik-baik saja, namun jika kau telah bahagia, aku akan lenyap bagai buih”.

Trem datang terlambat, entah kesalahan pada jadwal keberangkatan, aku tergesa-gesa kala ku dapati pesan Feroz “Viki”, ku dapati sinyal, ia mungkin sudah sampai dan lelah menungguku. Aku berjalan keluar trem sembari melepas ikatan rambut.

“sudah lama menunggu?” tanyaku, Feroz terus memandang ke arah lapangan dengan tatapan kosong, ia menganggut.
“maaf” kataku sekali lagi, namun tak ada balasan apapun dari mulutnya. Feroz yang ku kenali memang tidak berubah, lelaki kaku dan dingin, yang hanya akan berbicara bila benar-benar diperlukan, banyak orang yang tak menyukainya, karena sifat dan sikapnya yang angkuh dan kaku, namun tidak bagiku, Feroz tetaplah seorang yang baik hatinya, lucu dan akan marah bila diusik, sama seperti manusia normal lainnya.

Langit pendar di atas gedung seakan menjadi saksi pertemuan 2 insan yang akan berpisah, warna oranye langit kala itu menjadi, penghias pertemuan kami. Pertemuan yang mengeheningkan, kami duduk berdampingan, namun kami duduk bagai sendiri, tak ada kata yang terucap dari mulut Feroz, lirikan matanya sesekali melirik jam tangan.
“kamu masih menyebalkan seperti dahulu” aku mulai membuka percakapan, mulai mengalah demi membaikkan keadaan dan pertemuan kita yang sangat dingin.
Feroz menggoyangkan kakinya, melekukkan kedua tangannya di dadanya tanpa membalas ucapanku. Aku tersenyum, “kamu masih sama” kataku sekali lagi, ku lihat ada guratan kerut di keningnya.
Bukan hal yang mudah untuk memahami karakter Feroz dan butuh kesabaran penuh untuk memahami semua itu, pantas saja ia banyak dikata makhluk aneh dan saiko, karena sebagian dari sifatnya menggambarkan seperti itu.
“aku menghormatimu, menyayangimu sama seperti aku menghormati dan menyayangi orang lain, namun untukmu, ku sisakan lebih” kataku
“lusa, aku akan pergi” Feroz lugas berbicara padaku tanpa menatap arah wajahku.
“secepat itu kah? Lalu?” aku menjawab ucapannya
“ya” Feroz cepat membungkam pertanyaanku, tanpa membalas pertanyaan yang lagi ku ajukan
Aku menghela nafas, entah sejak dua tahun lalu kala aku berpisah dengan orang yang menyia-nyiakan ku dulu. Aku mulai merasakan bahwa kehadiran Feroz kala itu memang kehadiran yang luar biasa, parahnya, baru ku sadari setelah aku kehilangan sosok hangat dari Feroz.
Setelah jawaban singkat itu, kita berdiam hampir 30 menit, kita sibuk dengan pandangan kita masing-masing. Entah apa yang ada di pikiran Feroz kala itu, sehingga ia betah berlama-lama berdiam diri mengunci mulutnya rapat-rapat padahal ia tahu di sampingnya ada aku, atau mungkin sepertinya ia tak menyadari.
Terngiang di telingaku ucapan Feroz yang menyatakan ia akan pergi esok lusa, muncul bayang di otakku, aku akan terbebas dari sikap mau tak maunya, aku akan terbebas dari rasa yang membelungguku, rasa sayang. Aku mulai mencintainya sedari dari 2 tahun lalu, saat sapa lembutnya mulai mengusik hari-hari ku yang dahulu penuh air mata dan ku tahu kini, aku mencintainya sebegitu mendalam, sebegitu tulus tanpa aku mencintaiku juga.

Teringat di ingatanku saat Feroz membentakku, dan mengatakan bahwa aku tidak berhak mencintainya dan menyuruhku menghentikan perasaan yang ku miliki, lalu pergi menjauh. Namun yang ku lakukan sampai detik ini, aku terus menyimpan cinta-kasih yang ku miliki. Cinta-kasih yang ku miliki ku kira sama seperti pecinta yang lainnya, yang yang mudah berlalu begitu cepat, namun nyatanya, aku bukan mereka, bukan seperti mereka, “aku tulus mencintai tanpa harus dicintai karena mencintai adalah surga bagiku”.

Aku mulai terbawa terbang bersama hal-hal yang paling menyakitkan yang pernah aku alami, ucapan-ucapan perih yang Feroz sering tunjukkan padaku. Ia lelaki manis berkepala besar, rambutnya selalu disisir rapi, ia sosok dingin, keras dan angkuh, namun aku menyukainya. Tak jarang aku menangis karena ucapan Feroz yang sungguh menyakitkan, namun seperti yang diketahui, aku tak berhenti mencinta, tak berhenti merindukan sapa hangatnya sebelum aku tertidur.
“kau boleh membenciku, mengatakan hal yang paling, menyakitkan untukku, namun harus kau tahu, semua itu takkan memudarkan apa yang lelah ku miliki”. Suara datar Feroz cukup membuatku terhentak, “aku akan kembali ke Indonesia 6 tahun lagi, saat study ku selesai” Feroz berkata dengan posisi yang masih sama, kaku namun diiringi dengan ia menengguk secangkir kopi. “6 tahun bukan waktu yang cepat” aku menimpali dengan suara pelan. “lalu?” ia menyergapku, “tidak!” langsung ku jawab. Ku lihat ia menyunggingkan bibir kanan atasnya kala aku berkata tidak, sepertinya ia tak suka dengan jawabanku. Lalu kita kembali mematung.

45 menit kemudian, aku merasakan ada sesuatu yang tidak bisa aku tahan, rasa sesak kini menghinggap di dadaku, entah karena aku terlalu lelah atau terlalu memfokuskan pikiranku bahwa kenyataan yang akan ku hadapi akan begitu sulit, aku akan kehilangan.
“saat kau tersenyum kalau kau mendengar cerita tentangnya maupun bersamanya, namun kau gubris tirakatmu, lalu kau merasakan sesak yang berlebih saat kau tahu kau akan kehilangannya, maka jangan lepaskan ia”
“sisi terbaik dari sebuah pertemuan adalah tidak menyia-nyiakan kesempatan”
“harus berapa kali ku katakan, hidup tak melulu soal cinta” Feroz berkata sembari menyangkutkan headset ke telinganya.
Aku kehabisan cara, aku ambil tas dan bergegas pergi, namun Feroz menarik lenganku menghentikan langkahku. “duduklah kembali” minta Feroz
Aku cukup terkejut dengan perilaku Feroz kala itu, bukankah ia anti memegang seorang wanita?. Ia mengubah posisi duduknya.
“masa depan kita masih panjang, hidup bukan melulu soal cinta, kau cantik, kau baik, mana ada laki-laki yang akan mengecewakanmu kelak kecuali dia” Feroz berujar
“dia? Kau?”, “ya aku”, Feroz sedikit mengekerut
“hari ini, hari terakhir kita bertemu, apa kita harus bertengkar seperti biasanya di hari penghujung kita?” Feroz serius. “tapi kau…” “aku tak ingin” Feroz menyergap
“aku sudah tahu jawabannya”. “yang kau kira salah, bukan begitu”, Feroz berargumen “lalu?”, “entah” feroz menjawab.
Aku kembali menghela nafas, Feroz memang selalu seperti itu, ia tak lugas menjawab apa yang kutanyakan, entah karena ia kehabisan kata atau memang ia malas untuk menyampaikan.
“sosok dingin seperti kau, selalu membuatku hangat namun menggigil”
“If you’re not the one, why I’m so glad today?” lantunan syair lagu romance David melantun indah sesaat kami rasakan saat itu.
“sesuatu yang berubah akan selalu dirindukan dan pertemuan merupakan titik temu baginya”.
Kami mematung sealur dengan lagu yang dilantunkan, lirik dan birama yang disampaikan seakan menjadi wakil yang sangat kuat.
“what a pity, you like a bitch!” kata-kata pecundang yang sering mesongsong di dalam otak ku,
“today, the last I can meet you, seing urface, seing your cold face, hear your cold voice, an everything that you have”. Feroz melirik jam tangannya, ku ambil ponsel ku, mungkin ini akhir. “10 menit lagi aku harus pergi, aku harus ambil visa” Feroz lugas
“roz…” aku menyebut namanya dengan suara perlahan, “ya…” Feroz menyahut
“jangan pergi” ucapku lirih. Seketika itu feroz menghentikan langkah kaki nya, dia diam sejenak tanpa berbalik ke arah ku. Namun saat itu kemudian feroz kembali melangkah dan air mata yang sedari tadi ku tahan jatuh.
Aku mematung sendirian, suasana cafe begitu senyap seketika, baru ku alami orang yang benar-benar ku sayangi pergi di depan mataku tanpa pernah bisa aku mencegahnya. Ponsel ku berdering, ternyata pesan dari feroz –“jaga baik-baik dirimu, bye”- . tangis yang tertahan makin tak bisa terbendung. Aku bergerak cepat seperti kilat menuju keluar kafe dan mondar-mandir mencari taxi.
“jika kebahagiaan mu perlahan lepas, kejar lah, ikatkan kembali dengan simpul yang kuat, namun jika sudah tak bisa, ucapkan saja kalimat termanis, agar ia tahu betapa berartinya ia.”
“aku harus menemui nya, untuk terakhir kali nya” pikiran seperti itulah yang terus menghinggap di pikiran ku. Setibanya aku di bandara, ku cari terminal keberangkatan eropa dan setelah ku temukan ku lihat feroz masuk ke dalam terminal keberangkatan, waktu ku sudah habis.

“penyesalan memang selalu datang di akhir, kala itu bahagia mu hilang, kau tercekik oleh batin mu sendiri, sesak yang dirasa tak ada guna, yang harus kau laku kan adalah mengikhlaskan”-

“Sie sind die Menschen, die ich liebe, nachdem Gott und meinen Eltern, aber man weiß nie, was ich fühle Takan in diesem Moment sind wir mehr als Freunde, ihr hochmütigen Haltung nie löschen, was ich damals fühlte, die gute Pflege von euch dort, hoffentlich wir uns wiedersehen, ich liebe dich.”

Cerpen Karangan: Ridzki Pratama Hakim
Facebook: Ridzki Pratama Hakim

Cerpen Sesak Terakhir Untuk Eropa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Goodbye My Love

Oleh:
Hari ini adalah hari pementasan drama di sekolahku. Hari yang sangat aku nantikan, aku mendapat sebuah peran dalam pementasan ini, yah walau hanya segelintir peran kecil di antara peran

Hujan Kenangan

Oleh:
Sore hari suasana di lingkungan SMA permata sudah tampak sepi. Tidak ada lagi siswa ataupun guru yang berlalu lalang di lantai 3 gedung sekolah ini. Semua sudah kembali ke

Bukan Untukku (Part 1)

Oleh:
Seperti kebiasaanku setiap minggu. Aku selalu meluangkan waktuku di sini. Aku duduk dengan membawa serangkaian bunga untuk kekasihku. Kubelai nisannya, bahkan sering kukecup nisannya di sini. Aku sangat menyayanginya.

Kehilangan

Oleh:
Pernah nggak kalian merasa kehilangan seseorang yang kalian sayang untuk selamanya? Mau itu ibu, ayah, sanak saudara, sahabat atau orang-orang yang kalian sayang. Yap, kehilangan itu memang menyedihkan dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sesak Terakhir Untuk Eropa”

  1. Fitri says:

    Cerpennya bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *