Sesal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 9 August 2017

I miss your tan skin, your sweet smile
So good to me, so right
And how you held me in your arms that september night
The first time you ever saw me cry
Maybe this is wishful thinking
Probably mindless dreaming
But if we loved again i swear i’d love you right
I’d go back in time and change it but I can’t
So if the chain is on your door, I understand.

Lagu Back to December mengalun, memutar pikiranku ke belakang, tentang aku dan dia yang tidak pernah menjadi kita, namun pernah saling cinta. Lagu Back to December dan ceritaku nyaris tak ada beda. Tentang sesal yang amat dalam.

“Di sana, jurusan bangunan ada berapa kelas?” tanya Dara.
Berbeda dengan waktu itu, yang lebih banyak bertanya adalah Rafa. Yang ingin lebih lama berbincang-bincang adalah Rafa. Yang sering mencari-cari bahan pembicaraan adalah Rafa. Waktu itu, Rafa tidak ingin kehilangan satu kata pun yang terucap dari bibir Dara. Entah, apakah hari ini masih sama.
“Ada tiga. Kamu?” Rafa balik bertanya.
“Sama.”

Bungkam. Mereka kembali diam. Hanya deru kendaraan dan tiupan angin yang bicara. Sebenarnya, dalam hati mereka ingin bercerita, mereka ingin tertawa lepas seperti dulu. Namun, keinginan itu terkurung oleh rasa yang tak hilang meski terhempas waktu. Rasa sesal Dara, juga rasa sakit dan rasa takut Rafa. Ya, Rafa takut Dara tidak menginginkan kehadirannya, Rafa takut Dara-yang kini berada di sampingnya, masih memiliki rasa yang sama seperti dulu. Rafa tak ingin jatuh di tempat yang sama.

“Aku paling gak suka ada bekas di kertas gambar, dan itu bikin sketch book cepet tipis.” maksud Dara, dia tidak suka jika saat menggambar atau menarik garis ada kesalahan, dia hapus, tapi garis tadi masih nampak. Dara tidak suka itu, maka dia mengganti kertasnya dengan yang baru. Sekarang Dara tengah sekolah jurusan arsitek.
“Sketch book itu mahal. Selama ini aku hampir gak pernah ganti kertas gambar, aku sengaja pake pensil tipis dulu. Kalo dihapus gak ninggalin bekas.” jelas Rafa membuat Dara bertambah kagum.
‘Kalo kamu itu 10.000 x 2b yang lama kelamaan jadi permanen. Pernah aku hapus kamu dari hidupku. Tapi meninggalkan banyak bekas. Luka, terlebih kenangan. Dan rindulah yang memaksaku menemuimu.’ Rafa bergumam. Tak mampu dia katakan itu pada Dara.

“Cuaca di sana gimana?” lagi-lagi, yang bertanya adalah Dara.
“Hampir setiap pagi hujan.”
“Kok sama ya?”
“Karena Di Bandung sama Di Malang sama-sama bulan september.”
Dara tertawa. Bukan karena keseluruhan kalimatnya. Tapi karena kalimat ini, “Di Bandung sama Di Malang.” Itulah Rafa. Dari dulu selalu mendahulukan Dara dibanding dirinya sendiri. Dia menyebut kota yang ditempati Dara terlebih dahulu. Kini hal kecil itu sangat dirindukan seorang Dara. Seorang Dara yang dulu tak menyadari bahwa dirinya sangat berarti bagi Rafa.

Wajah Dara semakin mendung. Bagaimana tidak, sebentar lagi mereka sampai di rumah kediaman Dara, dan Rafa akan pergi lagi ke Malang.
“Jalan raya kota Bandung masih ramai, tapi tidak dengan suasana hati ini. Hal-hal yang dulu dilakukan Rafa menimbulkan candu. Candu yang tak hilang meski terhempas waktu. Yang selalu melanda diri adalah rindu. Kucoba mencari yang lain tapi tak mampu. Seharusnya Rafa tahu itu. Menebak rasaku, membaca dan memahami pikiranku. Seperti yang selalu dia lakukan dulu. Kenapa semua itu hilang dari dirimu? Apa kau telah menemukan hati yang baru?” suara-suara hati Dara membuat dirinya semakin pilu. Pilu yang dibuat sendiri.

Dan tibalah mereka di depan rumah Dara. Rafa melangkah pergi setelah sebelumnya berucap: “Aku pulang,” seraya menatap bola mata Dara yang indah. ‘Mungkin jika kau memintaku untuk tetap di sini, maka akan kulakukan, karena aku masih ingin bersamamu. Menunggu senja tiba. Tapi sayang, itu tak mungkin kau katakan’ gumam Rafa.
“Rafa…” ucap Dara lirih.
Rafa langsung menghentikan langkahnya, menunggu ucapan apa lagi yang keluar dari mulut Dara.
“Hati-hati!” Dara masuk ke rumah setengah berlari, bersama air mata.

Hujan. Hujan deras mengguyur tubuh Rafa. Dia tak ingin berteduh untuk tubuhnya, dia hanya ingin Dara untuk hatinya. Dia rindu tatapan Dara yang tak jarang meneduhkan jiwanya.

“Dara..” ucap Rafa nyaris tak terdengar. Ditelan gemuruh air hujan.

Tak terasa, sebuah benda membuat Rafa tersadar dari lamunan.

“Rafa, aku mencintaimu, sungguh. Tapi jika kamu tak lagi menaruh rasa itu, aku mengerti.” ucap Dara yang ternyata keluar dari rumah bersama sebuah payung. Ya, hanya untuk Rafa.

But if we loved again i swear love you right
I’d go back in time and change, but i cant
So if you chain is on your door, i understand

Rafa berbalik badan lalu tersenyum simpul pada Dara. “Tidak, Dara. Rasaku masih sama.” ucap Rafa. Namun satu detik setelah itu, Rafa pergi. Bukan satu tahun, satu bulan, ataupun satu hari. Melainkan untuk selamanya. Dara tak tahu, selama di Jakarta, Rafa menjalani kemoteraphy. Rafa mengidap penyakit jantung. Dan dia tidak pernah memberi tahu itu pada siapa pun, apalagi Dara. Kedua orangtuanya telah meninggal, dan dia adalah anak tunggal. Rafa menemukan satu perempuan yang entah kenapa, membuat dirinya merasa damai. Dan perempuan itu adalah Dara. Dara yang terlambat menyadari bahwa sosok Rafa amat dicintainya, begitu juga sebaliknya. Kini hanya tangisan, tangisan dan tangisan. Dara terus mencoba membangunkan Rafa, meskipun dia tahu itu percuma. Dara terus teriakkan nama Rafa, meski dia tahu Rafa tak mungkin mendengarnya.

Cerpen Karangan: Indri Handayani
Facebook: Indri Handayani Apendi

Cerpen Sesal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mimpi Buruk dan Zombi

Oleh:
Cerita ini sesuai dengan mimpiku pada suatu malam. Jalan ceritanya hampir sama seperti halnya ‘HIGH SCHOOL OF THE DEAD’ jika kalian tahu atau setidaknya seperti ‘RESIDENT EVIL’ yang episode

Hilang

Oleh:
Sekarang aku sedang menginjak hamparan pasir putih. Diriku tak bosan-bosannya memandang lautan berwarna biru itu. Telah kucuba berbagai cara untuk menghapusnya dari pikiranku. Namun, kurasa usahaku itu sia-sia. Jika

Alasan Terakhirku

Oleh:
Hari ini aku bermimpi, bermimpi bisa selamanya bersama kamu. Aku sangat berharap kau mencintaiku setulus hatimu sama seperti aku yang mencintaimu sepenuh hatiku. Tapi ternyata kau pergi, pergi dengan

Bercanda Kok Gitu Sich

Oleh:
Ku saat ini takut… Mencari makna Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada Kau datang dan pergi, oh begitu saja Semua ku trima apa adanya… ( Letto ) Siang itu matahari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *