Sesosok Matahari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 April 2014

Matahari mulai meninggi. Namun sorak-sorai penonton masih menggema di lapangan. Semua sibuk menyoraki dan mendukung tim basket yang sedang bertanding. Aku berdiri menyandarkan badanku pada tiang penyangga di lantai dua. Menyaksikan soseorang yang selama ini mengusik jiwaku. Entah mengapa tiap kali aku melihatnya hatiku berdebar. Lututku bahkan terasa lemas saat dia beada di dekatku.

Kulihat permainan basketnya cukup bagus. Walaupun tak sebagus pemain lainnya. Ia hanya pemain cadangan. Tapi aku tetap kagum dan memperhatikan setiap gerak-geriknya. Mengapa baru sekarang aku merasakan perasaan seperti ini. Padahal ketika kelas satu dulu aku sekelas dengannya dan sama sekali tak ada debaran aneh saat aku bersamanya.

Kini sosoknya sudah berubah. Bukan cowok culun dan pendek lagi yang sering bermain denganku. Dia menjadi laki-laki tampan dengan postur tubuh yang tinggi serta populer di kalangan adik-adik kelas. Ah, kenapa aku baru menyadarinya saat aku tak sekelas lagi dengannya.

Namun belakangan ini aku merasa dia menjauhiku. Dia tak pernah menyapaku lagi seperti sebelumnya. Ketika aku sedang menatapnya dia membuang muka. Mungkin ini karena dia membenciku. Karena sikapku yang keterlaluan.
Teman-temanku memang tahu aku menyukainya. Mereka seringkali mengejekku ketika dia lewat. Aku pun sering mengikuti kemana pun dia pergi. Ketika dia ke kantin, ke perpustakaan, kemanapun aku selalu ingin berada di dekatnya. Aku juga sangat sering menatapnya dengan tatapan kagum. Mungkin karena sikapku inilah yang membuatnya takut. Aku jadi seperti seorang penguntit.
Tapi dia tidak harus menjauhiku juga kan. Aku kan bukan virus yang menyebarkan penyakit. Aku hanya ingin dia melihatku dan menyadari keberadaanku. Apakah ini salah. Pikiranku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu kujawab.

“Vay” seru salah seoang temanku Nia. “Kok ngelamun? Liat tuh matahari lo udah selesai main. Waah banyak banget cewek yang gandrungin. Ih liat deh sok-sok tebar pesona gitu”

Aku melihat dia sedang berjalan ke pinggir lapangan. Beberapa anak perempuan menghampirinya. Mencoba menarik segala perhatian dengan segala cara. Aku kesal melihatnya. Bukan karena sainganku yang bertambah banyak, dan bukan karena banyak perempuan yang menghampirinya. Namun kaena sikapnya terhadap perempuan-perempuan itu yang membuatku kesal. Ia meladeni mereka dengan wajah berbinar seolah-olah bangga karena banyak perempuan cantik yang menggodanya. Aku membalikan badan, muak melihat pemandangan seperti itu.
“Duuh Vay, sabar ya! Dia emang begitu, giliran cewek cakep aja diladenin. Masa lo yang manis begini dicuekin sih? Huh biar aja nanti dia nyesel Vay!” Nia mencoba menghiburku dengan kata-katanya. “Iya Ni, gak papa. Resiko gue juga suka cowok kayak gitu”
“Lagian gue kira dia juga gak bakal kayak gini Vay, padahal dulu Rey kan gak gini, dia kan temen main lo. Deket banget padahal sama lo. Tapi semenjak jadi ganteng banyak gaya banget. Susah sih ya anak gaul,” kata-kata Nia membuatku semakin sakit. Ya. Padahal dulu kami teman yang cukup dekat, tapi kenapa sekarang dia begitu jauh?
“Ya udah lah Vay, tetep semangat! Lagian masa lagi ulang tahun gini malah bergalau ria. Mending lo traktir gue deh, ya kan? Hahaha” kata-kata Nia membuatku tersadar. Aku sampai lupa kalau sekarang sedang berulang tahun. “Ya udah yuk ke kantin” ajakku. “Lo mau naktir gue kan?” tanya Nia matanya mengerling ke arahku. Aku pun hanya mengangguk mengiyakan. Ah, andai saja tak ada sahabatku aku pasti melewatkan ulang tahunku dengan kesedihan.

Aku dan Nia berjalan menyusuri lorong dengan tertawa-tawa. Tiba-tiba Rey keluar dari pintu kelasnya. Aku berpapasan dengannya, sedetik kami bertatapan. Namun sedetik kemudian dia memalingkan wajahnya. Nia dengan suara lantang memanggil Rey.
“Rey, hari ini kan Vaya ulang tahun. Gak ngucapin?” aku melotot pada Nia. Kaget dengan apa yang dilakukannya. Aku gugup dan tak berani menoleh padanya.
“Oh Selamat ulang tahun deh,” hanya itu. Bahkan wajahnya hanya sekilas menoleh padaku. Bukannya senang hatiku malah terasa sakit. Mengapa sampai seperti itu. Apa dia begitu membenciku. Apa sikapku sangat mengganggunya. Lebih baik dia tak mengucapkan sepatah kata pun, daripada dia mengucapkannya dengan nada yang seperti itu.

Aku menahan air mataku. Tak ingin menangis dan menarik perhatian. Kulihat ia berjalan menjauh. “Ni anterin ke toilet yuk” ajakku lirih pada Nia.
Sesampainya di toilet aku menangis sesunggukan. Bahkan hari ulang tahun ku pun menyedihkan. Nia mengusap-ngusap punggungku sambil meminta maaf karena seharusnya tidak memanggilnya dan menyuruhkan mengucapkan selamat padaku.
Ah, aku ini memang bodoh. Bodoh karena masih menyukainya padahal jelas-jelas dia tak menyukaiku. Bodoh karena masih berharap ada sedikit harapan untukku.
Sudah terlalu banyak air mata yang kukeluarkan untuknya. Setiap malam aku menangis. Menangisi mengapa dia tak pernah menoleh padaku. Mengapa dia mengabaikanku. Dan seiap malam pula aku mencoba untuk menyerah. Menyerah pada cinta yang hanya menyakitiku.
Tapi aku tak bisa. Setiap kali aku ingin menyerah aku tak pernah bisa. Dia terlalu istimewa di hatiku. Dia bagaikan matahari yang menyinari setiap relung hatiku. Dan jika matahari itu kupadamkan akan sangat gelap dan hampa.
Biarlah cintaku yang bodoh ini tak padam. Biarlah aku tetap mengejar matahari yang tak akan bisa kukejar. Karena aku berharap suatu saat nanti dia akan memalingkan wajahnya padaku. Karena aku berharap suatu saat nanti dia bisa menatapku. Karena hanya harapan itu yang bisa kupegang satu-satunya.
Apapun yang kau lakukan padaku, aku selalu mencintaimu… Matahariku. Karena kau cinta pertamaku. Karena kau yang mengajariku cara untuk bertahan. Karena kau pulalah aku menjadi seperti ini. Jika suatu saat nanti cahayamu pun redup, yakinilah kau tak pernah padam di hatiku. Karena cahayamu selalu tersimpan di sudut hatiku.

Cerpen Karangan: Nandya Fadjriani
Facebook: Nandya Fadjriani

Cerpen Sesosok Matahari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Sesaat

Oleh:
“Raja… Raja.. Raja..,” Kesya tiada hentinya berteriak memanggil sang pujaan hatinya ‘Raja’, seorang most wanted di SMAN 01 Bandung. Sementara Raja terus berjalan memasuki koridor sekolah tanpa menengok sedikitpun.

You’re My Destiny

Oleh:
Seorang anak tunggal yang dimanja dan sangat disayang oleh kedua orangtuanya ya, itu aku. Tapi bukan berarti aku selalu meminta dan meminta segala yang aku ingini, aku orang yang

Hijrah (Part 2)

Oleh:
Aku berharap ini hanyalah mimpi. Mimpi buruk dan aku akan terbangun. Depresiku memuncak. Aku tenggelam dalam air mata hingga terlelap karena kelelahan. Paginya, aku berharap tidak ke sekolah. Tapi,

The Last White Rose

Oleh:
Kupandangi mawar putih yang berada di dalam vas transparan di atas meja riasku. Mawar itu selalu kurawat sehingga terlihat indah saat kupandang. Di samping mawar putih itu ada sebuah

Tears

Oleh:
Bening embun di daun itu meneteskan butir-butir kesejukan di hatiku. Gemerisik daun bambu yang tertiup angin adalah getar rinduku kepadamu. Lama sudah ku tak menatap wajahmu Ikhsan, rinduku mengingat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *