Setetes Harapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 13 November 2017

Kicauan merdu di ranting membawa sejuta mimpi dan impian, embun belum tersingkap jelas di pelupuk mata. Dua siswa berjalan dari arah yang sama, merangkai harapan dan cita-cita setinggi burung di angkasa dan bersatu di atas permasalahan yang semakin meruncing.

KBM belum begitu aktif di minggu pertama, Nirwan duduk di ujung kantin dengan segelas coklat hangat. “Bisa minta tolong nggak?” suara itu, “Ada apa?”, “Itu temanku tadi pesan makanan tapi nggak ada yang mau nunggu, bisa nitip sebentar?”, “Oh lama nggak?”, “Nggak juga, nanti aku kembali”, “Ok” siswi baru, tatapannya sendu tapi wajahnya ceria. “Kak, maaf lama?” Nirwan hanya tersenyum simpul, “Makasih”, “Iya” tiga langkah dari situ, Sartika berbalik, “Kak”, “Iya?”, “Boleh tahu namanya”, “Nirwan”, “Kelas?”, “3A” lagi-lagi ada senyum itu, “Makasih” Nirwan menggelengkan kepala melihat tingkah adik kelas yang baru ia lihat.

SMP ini bukan tempat orang biasa, meski terkadang banyak kabar miring tentang siswanya tapi tidak dipungkiri juga piala yang terpajang di kantor. “Jadi gabung?” tanya Kiki, “Jadi, ini formulirnya”, “Punyaku juga”, “Sekalian deh, Ka”, “Kalian ini, dimana tempat setornya”, “Itu di ujung”, “Okey” Sartika berjalan sendiri menuju ruangan bercat kuning. “Permisi” sepertinya hanya dua orang yang ada di dalam, “Iya”, “Dia lagi?” batin Sartika, “Ada apa, Ka?” tanya Rafil, “Oh ini mau kumpul formulir” Rafil menyikut lengan Nirwan, “Sini masuk saja”, “Nggak usah kak, di sini saja”, “Ambil, Nir”, “Kenapa nggak situ saja yang ambil”, “Kamu kan senior”, “Apa hubungannya”, “Kak, jangan berantem” ucapan Sartika membuat Nirwan dan Rafil tertawa. “Kenapa? Kenapa selalu dia?” pikiran itu melayang-layang tak jelas, Sartika belum paham mengapa ia begitu senang melihat kakak kelas yang baru kemarin ia temui. “Eh tapi tadi dia sama Rafil, mereka deket?”, “Ngobrol sama siapa, Ka?” tanya Mia heran, “Ah nggak ada”, “Kesambet bangunan kuning dia” sahut Kiki asal, “Ada cowok di situ?” mata Safira berbinar, “Masalah cowok nggak ada yang ngalahin kamu, Fir” yang ditegur hanya cengengesan.

Ekstrakulikuler yang tidak pernah hilang di setiap sekolah, bukan tugas ringan bagi anggota PMR mempertahankan eksistensinya. “Kak, ini bukannya sudah kemarin?” Sartika menunjukkan catatan yang kemarin ia dapat, “Sampai di mana?”, “Tugas”, “Oh iya, kemarin siapa yang isi?”, “Kak Andika”, “Oh, berarti lanjutannya sekarang”, “Iya” Sartika kembali ke tempatnya, “Ehm… hati-hati”, “Apa?”, “Itu” Rafil mengarahkan matanya ke tempat Sartika duduk, “Kenapa dia?”, “Kayaknya kamu yang tahu”, “Tahu apa?”, “Jangan macam-macam, dia temanku dari SD”, “Teman?”, “Iya”, “Perasaan kalian beda angkatan?”, “Iya, tapi tahu sendiri anak SD mainnya gimana”, “Oh” Nirwan hanya tersenyum, “Jadi, gimana?”, “Apa?”, “Nggak usah di tutupin deh, suka?” Rafil menyikut lengan Nirwan, “Nggak”, “Bohong, mau dibantuin?” Nirwan hanya menepuk pundak Rafil saat kakinya melangkah ke arah junior yang sedang berdiskusi. “Mau pulang?”, “Iya kak, tapi belum ada yang jemput”, “Di mana rumahnya?”, “Citra Pahlawan”, “Searah itu, mau bareng?”, “Boleh kak?”, “Eh ditanya malah nanya” Sartika tersenyum, tidak pernah ada dalam pikirannya bisa kembali melewati waktu dengan kakak kelas ini. “Jadi gimana, Nir?”, “Apa itu?”, “Anggota” Nirwan meletakkan kertas print out di meja, Rafil membaca nama-nama yang tertera. “Cuma 30?”, “Maunya berapa?”, “Nggak, tapi kenapa ini empat orang lolos semua?”, “Karena mereka bagus” Rafil melirik sahabatnya, “Bagus atau bagus?”, “Jangan cari gara-gara”, “Eh tapi empat orang ini boleh juga”, “Apa?”, “Acaraku minggu depan”, “Oh iya, ajak aja mereka biar rame”. Di kantin sekolah, “Air terjun?” Mia meletakkan gelasnya, “Iya, mau nggak?”, “Aku sih mau aja kalau ada cowok”, “Safira nggak usah ditanya, Ka”, “Jadi?”, “Berangkat” empat siswi itu tertawa, mereka selalu bisa meramaikan tempat seperti apapun.

“Tetep kayak gini ya, Fil” suara Sartika membuat semua mata tertuju padanya, “Maksudnya apa ini?” Kiki tak mengerti, “Aku maunya kita tetep sering bareng kayak gini, nggak cuma kalau ada acara aja”, “Setuju, persahabatan nambah dua anggota nih”, “Betul Mi, tapi ada bagusnya kalau persahabatan ini dinamain”, “Mau bikin partai?” Rafil mencoba berceloteh, “Aku setuju” Sartika mencoba mencari sesuatu, “Tapi apa kira-kira yang bagus” Nirwan angkat bicara, “Hexagone?”, “Apa itu?”, “Segi enam” Kiki tertawa sendiri, “Titanium”, “Mia korban iklan pasta gigi”, “Apa lagi?”, “Four Ray”, “Kenapa cuma empat?”, “Arah mata angin berapa?”, “Empat”, “Tapi kalau cuma begitu kayak aneh”, “Kenapa, Nir” Rafil yang hendak menyetujui usul Sartika protes, “Four Ray… Be Four Ray”, “Be Four Ray Heart”, “Nahhhh” empat orang selain Nirwan dan Sartika berteriak bersama, “Keren itu”, “Aku suka juga”, “Iya boleh”, “Tapi apa maksudnya” Safira yang tidak mudah memberi persetujuan. “Kalau Sartika hubungkan tadi tentang arah mata angin, mungkin terlalu jauh. Lihat saja kalian yang cewek berapa?”, “Empat”, “Kita bersahabat udah lama, kadang ada juga yang punya masalah sama pribadi masing-masing, tapi kita bisa bertahan nyatuin itu sampai hari ini” Sartika menatap Safira kemudian pandangannya beralih ke arah Nirwan, “Yups… ada betulnya juga yang dibilang Sartika, kalian beda tapi bisa nyatu, kayak gambar mata angin dalam peta” Safira mengerti, semua juga memahami penjelasan Nirwan dan Sartika. “Tapi kalian berdua kenapa bisa punya pikiran yang sama?” Rafil mencoba mengorek sesuatu, “Kebetulan” jawaban itu membuat tatapan Sartika berbeda.

Be Four Ray Heart, persahabatan yang tak pernah memandang perbedaan sebagai suatu masalah. enam orang itu juga yang kembali mengharumkan nama sekolah dengan kegiatan-kegiatan yang mereka susun di Organisasi. “Fil”, “Ha”, “Sartika temen dari SD”, “Iya, emang kenapa?”, “Nggak”, “Hati-hati, ada harimau di belakangnya itu”, “Maksud?”, “Masih ada cowoknya”, “Di mana, kenapa nggak pernah liat?”, “Tiap hari ketemu”, “Siapa?”, “Tuh permen karet” Nirwan terkejut, “Ujang?”, “Iya” entah rasa apa yang bisa menggambarkan keadaan ketika seluruh tulang terasa lepas dari tubuh. Nirwan tak pernah mengira orang yang selama ini mengganggunya ternyata memiliki malaikat berhati lembut, “Tuh permen karet datang” Nirwan melihat Ujang menghampiri Sartika, meski ia tak ingin melihat itu tapi sikap Ujang membuatnya resah.
“Apaan sih, gua belum mau pulang kenapa situ yang maksa?”, “Udah gua bilang nggak usah ikut yang beginian”, “Suka-suka donk, hidup gua kenapa lu yang ribut” tangan itu hampir melayang, dengan sigap Nirwan mencegahnya, “Jangan main kasar sama cewek” Ujang tersenyum sinis melihat orang yang mencegahnya, “Lu nggak ada kapok-kapoknya muncul depan gua”, “Gua nggak ada urusan sama lu, cuma ini acara gua punya dan lu nggak bisa nyakitin anggota gua”, “Urusan lu apa, cewek gua juga”, “Lu masih pacaran, belum ada apa-apa jadi lu nggak bisa kasar sama dia”, “Eh lu kalau mau ceramah di perempatan ujung sono, nggak ngaruh sama gua”, “Terserah, yang jelas gua nggak suka lu ganggu anggota gua, mending lu balik dah” Sartika hanya diam, Ujang meninggalkan tatapan tak menyenangkan sebelum melangkah pergi.

“Kamu nggak apa-apa?” Sartika menggeleng dan berbalik arah, “Ada yang mau aku bicarain” Nirwan tak mencegah tapi ucapannya mampu membuat Sartika kembali menatapnya. “Kamu ngerasa nyaman sama Ujang?”, ”Kenapa nanya gitu?”, “Nggak, aku nggak suka aja liat sikap dia ke kamu”, “Aku juga, tapi dari dulu dia nggak gitu, mungkin ada masalah yang buat dia berubah”, “Kamu sayang dia?” pertanyaan menyulitkan, “Aku memang pernah menyayanginya, tapi itu dulu sebelum dia merusak rasa ini. Dan sekarang rasa sayang itu ada sama kamu” ucap Sartika dalam hati, ia tak bisa berkata-kata hingga hanya air mata yang keluar. Nirwan bingung, ia tak tahu harus berbuat apa dan membiarkan Sartika menangis di bahunya. Kejadian itu tak sengaja dilihat Ujang, ia semakin benci dengan sosok Nirwan yang selama ini selalu membuat hidupnya tidak tenang.

Rasa ini mengekang, Nirwan tak bisa hanya memberikan perhatian karena rasa sayang itu tumbuh lebih jauh. Sartika menemui Ujang di kelasnya, “Kenapa lu?” cowok yang selama ini ia anggap baik dan penuh kelembutan berubah menjadi monster, “Gua cuma mau antar ini” kardus itu ia letakkan di depan Ujang, “Kita memang dulu pernah satu, tapi aku ngerasa kamu udah bukan yang dulu lagi” Sartika menahan air matanya, antara berat dan tak ingin lebih jauh tersakiti. Keputusan Sartika membuat Ujang kalap, ia mencari Nirwan di kelas tapi tidak menemukan batang hidung orang yang membuat hubungannya usai. Tapi sialnya Nirwan tak pernah punya tempat nyaman selain ruang PMR, “Woy… Sini lu” Nirwan heran kenapa Ujang tidak memanggilnya seperti biasa, ketika ia sampai di pintu sebuah tinju mendarat di pipi kirinya. “Gua emang benci sama lu, tapi gua nggak pernah nyangka lu bakal bikin orang yang gua sayang pergi” Ujang terus meluapkan emosinya hingga seluruh yang ada di ruangan itu keluar membantu Nirwan. “Udah cukup, dia nggak salah apa-apa” Sartika membela Nirwan, tapi Ujang tak bisa berkutik saat melihat air mata itu. “Gua nggak akan bikin lu nangis, sampai kapan pun gua akan bikin hidup lu seneng” janji Ujang, Sartika yang saat itu sedih kehilangan salah satu keluarganya merasa tenang. Ujang yang dulu adalah sosok penyayang, tapi akhir-akhir ini ia berbeda dan hal itu juga membuat Ujang menyesal. “Sorry Ka, bukan maksud gua bikin lu nangis” gumamnya ketika kembali ke kelas.

Sartika telah lepas dari hal yang selama ini membuat hatinya bimbang untuk memilih anta Ujang dan Nirwan, hubungan itu berjalan seiring berputarnya jarum jam, Nirwan tak pernah paham dengan sikap Sartika yang berubah-ubah tapi hal itu pula yang membuatnya semakin takut kehilangan. Malam pelepasan, bukan hanya kelas 3 saja yang harus di lepas tapi tahun juga harus melepaskan kenangan pahit masa lalu. Nirwan tidak fokus dengan acara, ia mencari mata yang selama ini selalu membuatnya tenang, “Ke mana dia?” tak ada satu pun yang tahu keberadaan Sartika, bahkan Mia, Kiki dan Safira juga tidak terlihat di mana-mana. Pesan dan jutaan panggilan tak terjawab, hal itu membuat Nirwan berpikiran mendatangi rumah Sartika. Rafil yang malam itu datang ikut penasaran, hingga mereka menuju ke arah yang sama dengan pertanyaan yang berbeda.

Jatuh sudah bunga itu, rangkaian yang selama ini Nirwan jaga untuk orang yang paling indah dalam hidupnya. Hal yang paling menakutkan adalah ketika hati harus siap melepas apa yang selama ini ia miliki. “Kapan dia pergi?”, “Baru tadi sore”, “Ke mana?” Kiki menggeleng, begitu pula yang terjadi ada Mia dan Safitri. Rafil juga tak mengerti mengapa Sartika tiba-tiba pergi begitu saja, tak ada kata atau sedikit saja salamnya pada orang yang paling dekat dengan hatinya. Nirwan tak bisa membaca mengapa mata ketiga sahabat ceweknya itu sembab, ia pulang dengan Rafil membawa perasaan yang tak menentu.

“Kamu ke mana?” gumamnya, ia juga tak bisa menghubungi nomor ponsel Sartika hingga ia merasa benar-benar dijatuhkan oleh kenyataan. Hari tak bisa di hentikan, Nirwan tetap harus melangkah meski kini tak ada tangan yang menggenggam mimpinya. “Mia ke mana?” Rafil melihat hanya ada Kiki dan Safira di ruang PMR, “Mia pindah”, “Ke mana?”, “Nggak tahu juga, abis dia nggak bilang tujuan cuma orangtuanya pindah tugas”, “Huuffttt” Rafil tak tahu harus berkata apa, “Kita tinggal tiga biji, nggak enak banget rasanya” Safira sedih, “Aku juga ngerasa ada yang kurang, tapi apa yang sebenarnya terjadi sama Sartika?”.

Rafil menemui Nirwan di SMA 97, “Apa?” Rafil tak bersuara, ia hanya memberikan lembaran itu pada sahabat yang selama ini selalu ada untuknya. Surat itu mungkin tak panjang, hanya Nirwa yang tahu isinya karena Rafil hanya mendengar cerita Kiki. “Sartika…” tangan itu menggantung lemah, surat itu adalah kabar yang di bawa angin pilu. “Kenapa baru bilang sekarang?”, “Aku juga baru tahu dari Kiki, mereka juga nggak pernah bilang apa-apa selama ini” Nirwan mengusap wajahnya, antara kecewa dan sedih melintas di otaknya.

Tahun berganti melepas sejuta rasa yang merobek luka, Rafil melanjutkan sekolah pelayaran di tempat yang cukup jauh. Tinggal Safira yang bertahan di PMR untuk mengembangkan dan menumbuhkan bibit-bibit baru, karena Kiki baru saja diambil SMA 05 menjadi siswi terbaiknya. Persahabatan itu terberai oleh waktu, kini kisah mereka mungkin telah menjadi sejarah kehidupan. Tanah terawat itu masih sama, Nirwan meletakkan rangkaian bunga di atasnya dan mulai mengulang apa yang selama ini kita lewati.

“Sejauh apapun angin akan membawaku nanti, aku harap kamu jangan pernah berubah menjadi orang lain” Sartika memainkan ilalang di tangannya, “Kenapa bicara begitu?”, “Aku takut jika nanti kita tidak selamanya seperti ini, kamu akan berubah menjadi orang lain dan aku tidak bisa mengenalinya”, “Aku bingung”, “Lupakan, tetap seperti ini sejauh apapun kaki melangkah”. Nirwan mengingat kata-kata itu saat ia masih ditimang kebahagiaan bersama gadis bermata sendu, “Aku nggak pernah berubah Ka, aku tetap sama dan selamanya akan sama” sesak itu kembali menyerang, uap air mungkin akan menjadi bendungan jika Nirwan tak mampu mengontrol hatinya.

Gundukan tanah yang tak lagi basah tetap Nirwan kunjungi setiap ada kesempatan, ia tak ingin kenangan indah ikut terkubur bersama gadisnya. Manusia tak akan paham jalan cerita yang telah di cetak untuknya, tapi manusia dapat memilih apa yang baik menurutnya untuk membuat cerita itu terukir indah.

Cerpen Karangan: Ni 71 Scm
Blog / Facebook: nirwanscm.bloggsport.com / Nirwan Scm
Nama Asli Nirwan dan nama penah Ni 71 Scm adalah seorang mahasiswa jurusan Ekonomi Manajemen angkatan tahun 2014 di STIE YPP MUJAHIDIN TOLITOLI, Sulawesi Tengah. Ia memiliki alamat e-mail nirwan.scm.7[-at-]gmail.com dan akun facebook Nirwan Scm. Dan salah satu kader HmI Cabang Tolitoli Komisariat STIE Mujahidin angkatan 6 ( Enam )

Cerpen Setetes Harapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


White Blue Love Story

Oleh:
Ku nikmati sepi malam ini, bagaikan di tengah hutan tanpa cahaya yang menerangi. Masih duduk di tempat yang sama, suasana yang sama hanya saja waktu yang membedakan. Kepala ini

Tersenyumlah

Oleh:
Ana tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya berserah diri pada yang kuasa dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Seperti layaknya istri pada umumnya, setiap pagi ia menyiapkan keperluan suaminya.

Mix Group

Oleh:
Penonton bertepuk tangan menyaksikan penampilan 7 personil ini. Bahkan ada yang berteriak-teriak memanggil nama mereka. Inilah MIX grup dengan 7 personil. 4 cowok dan 3 cewek. “Terima kasih semua”

Cukup Sekejap Mata

Oleh:
360 hari dalam setahun, 30 hari dalam sebulan, 7 hari dalam seminggu, dan 24 jam dalam sehari, selama itu aku hanya membutuhkan waktu sekejap saja untuk memandangmu, mencintaimu bukan

Hari ke-365

Oleh:
Rinjani berjalan menyusuri kegelapan malam. Rintik hujan menemani perjalanannya, payung transparan menjadi selimutnya. Hanya sendiri, sendiri dan sendiri, hanya rinai hujanlah yang menemani. Tubuh mungilnya mengigil kedinginan. Namun apakah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *