Shila ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 16 August 2013

Namaku Bian, ini kisahku dengan satu-satunya wanita yang ku sayang bertahun-tahun hingga saat ini, saat ku mengenangnya bersama semua rasa kecewaku… Dia cinta pertamaku, sekaligus cinta monyetku karena aku menyukainya sejak duduk di kelas 5 SD. Kami tak sekelas, sekolah kami pun tak sama, dia hanya anak pindahan yang rumahnya searah dengan tempat ngajiku. Jadi aku mengenalnya sejak melihatnya bermain di rumahnya, dan tau namanya semenjak dia ikut mengaji di tempat yang sama denganku..

Namanya Shila, nama yang lucu sama seperti orangnya. Shila sangat unik, senyumnya beda dengan anak perempuan yang lainnya, hanya senyumnya yang bisa menarik perhatianku. Aku suka melihatnya tersenyum, begitu pula teman-temanku yang lain, mereka menyukai sifat Shila yang mudah bergaul dan ramah. Kadang aku cemburu karena itu.

Sudah 6 tahun aku dan dia tak pernah bertemu dan berkomunikasi sejak dia pindah rumah lagi. Aku kembali mengenalnya setelah temanku memberitahu bahwa dia menemukan akun sebuah jejaring sosial miliknya. Temanku chatting dengannya, aku hanya menyimak memastikan bahwa itu benar-benar Shila-ku… Dari percakapan mereka ku rasa dia tak berubah… Dia masih Shila yang dulu, Shila yang manja, kekanak-kanakan, ramah, dan fotonya tersenyum manis, senyum yang hanya dimiliki Shila saja. Dia Shila-ku, satu-satunya yang ku sayang…

Aku dan dia kembali berteman di dunia maya, dia banyak bercerita. Shila sudah kelas 3 SMA, sedangkan aku masih di kelas 2 SMK. Kami memang terpaut usia 1 tahun, tapi tak salah kan kalau aku menyukainya? Bukankah cinta tak mengenal usia? Bukankah umur tak mempengaruhi tingkat kedewasaan? Shila yang sudah kelas 3 saja sifatnya masih kekanakan, tapi memang itu yang ku sukai darinya..

Kami sempat bertemu, sebentar memang, aku sengaja pulang lebih awal dari sekolahku hanya untuk menemuinya. Aku masih ingat, dia saat itu masih menggunakan seragam putih abu-abunya menungguku di lapangan. Selama bertemu dengannya, aku ingat dia tak bisa diam, banyak bergerak, sangat cerewet, suka meledekku, bahkan dia sempat menggeledah tasku dan mengeluarkan semua isinya.. Benar-benar Shila yang jail.. Aku senang bisa bertemu dengannya, nyaman didekatnya, dan aku sadar selama ini aku mencintainya..
Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku, aku ingin dia tau, dan berharap dia mau menerima cintaku. Aku mulai cari tau tentangnya, tentang statusnya. Setelah aku tau bahwa dia tak mempunyai pacar, aku menyiapkan nyaliku untuk menyatakan perasaanku walaupun tak bertemu langsung dengannya.
“Shila, aku senang kau mau menerimaku…”
Mungkin dihidupku tak ada hari yang lebih bahagia selain hari ini. Kami resmi berpacaran. Aku tak bertanya apa alasannya menerimaku, bagiku itu tak penting lah. Intinya, Shila pacarku…

Selama kami pacaran, aku tak pernah menemuinya dan dia juga tak pernah menemuiku karena aku yang tak mengijinkannya karena aku orang yang pemalu. Shila tak pernah mau meributkannya, dia menerimaku dan keadaanku yang terbatas ini. Sejujurnya aku bisa menemaninya pulang sekolah, mengantarnya sampai rumah, atau sekedar bertemu dengannya saja, tapi saat itu aku tak mau repot, toh dia tak memaksaku juga.. Aku sangat yakin dia bisa mengerti..

Shila tak pernah bohong padaku, dia selalu terbuka dan berkata jujur, pernah dia mengaku padaku kalau dia pulang diantar kenalannya, dan itu cowok. Aku sangat kesal padanya, dia sudah menjelaskan kalau saat itu dia terpaksa ikut. Aku tak menerima alasannya, aku memarahinya. Shila minta maaf padaku dan berkata, “Kalau aku bisa mengandalkanmu pasti aku hanya meminta tolong padamu bukan orang lain.. Tapi kau…” Ya, aku tak pernah bisa, dan tak pernah ada untuknya.. Saat itu aku terpaksa menerima alasannya karena itu juga salahku..

Semenjak saat itu, aku banyak melarangnya, aku membatasinya dengan benteng perlindungan sebisaku.. Aku memintanya untuk selalu izin padaku jika ingin sesuatu.. Aku terlampau protektif padanya, karena aku tak mau seseorang mengambilnya dariku.. Tak kusangka perlakuanku malah membuat hubungan kami berakhir, siang itu, Shila meneleponku, dia berkata, “Bi, lebih baik kita temenan aja ya, Shila capek gini terus”. Aku tak bisa berkata apa-apa, aku diam, sekitarku serasa berputar, ku pejamkan mataku, aku berharap ini mimpi, aku bertanya padanya, “Kamu bilang apa barusan, Shil?” “Kita udahan aja..” jawabnya pelan, barangkali dia takut melukai perasaanku ya? Memang aku sudah terluka… Aku terdiam, berpikir, “Aku punya harga diri”. Aku mengiyakan keputusannya, kata terakhir yang ku dengar darinya hanya “Maaf”. Aku menutup teleponnya, dan tak pernah berkomunikasi lagi dengannya.

Aku kehilangannya, kehilangan Shila-ku yang selalu manja padaku. Iseng, ku buka akun jejaring sosialnya, rasanya langitku runtuh seketika melihat seseorang berkata mesra dengannya, sepertinya dia pacar baru Shila… Aku menarik napasku panjang, dadaku sesak, dan air mataku mulai menetes.. “Aku rapuh tanpamu, Shila.. Kenapa kamu tega?” ucapku lirih. Percuma, Shila takkan mendengarku bukan? Peduli apa dia denganku? Sepertinya dia bahagia tanpaku… Biarlah…

Aku mengenal seseorang, yang sepertinya tertarik padaku. Wulan namanya, tak ada yang menarik perhatianku, mungkin karena aku masih sangat menyayangi Shila.. Wulan rajin mengirimkan sms untukku, dia sangat perhatian padaku, dan entah darimana asalnya dia mengaku kalau kami pacaran. Bertemu dengannya saja belum pernah.. Biarlah, aku tak mau ambil pusing toh Shila juga sudah memiliki penggantiku, walaupun aku yakin dia masih menyayangiku seperti aku yang tak pernah bisa berhenti menyayanginya.. Mungkin aku terdengar jahat pada Wulan ya? Tapi bukannya aku punya hak untuk tetap bertahan dengan perasaanku dan tak membuka hatiku untuk yang lain?

Ku dengar Shila putus dari pacarnya, tak tau kenapa.. Aku tak peduli, yang penting Shila sendiri, dan aku punya kesempatan balikan dengannya. Shila sempat bertanya tentang statusku dengan Wulan, aku menjelaskannya, ku bilang aku tak pernah jadian dengan Wulan. Dan saat itu juga tanpa sepengetahuan Shila, aku memutuskan Wulan karena dia menganggapku pacarnya sedangkan aku tak mencintainya, menyukai saja tidak. Jahat? Bodoh? Entahlah, aku hanya mencoba berkata jujur, agar Wulan tak sakit lebih jauh lagi..

1 Februari 2011. Aku berhasil mengajak Shila balikan. Aku tak mau mengulang kesalahanku dulu. Aku berusaha selalu ada untuknya, main ke rumahnya untuk sekedar mengobrol dengannya atau main game bersamanya. Bulan ketiga pacaran dengannya, Shila bilang padaku bahwa orang tuanya tak menyukai sifatku yang over protektif pada Shila. Aku memang terkadang kesal dan memarahi Shila karena melakukan sesuatu tanpa seizinku, bukannya aku ini pacarnya? Shila memilih mempertahankanku dan hubungan kami. Dia mulai terbiasa dengan keegoisanku, tapi tidak dengan keluarganya. Keluarga Shila, terutama Mamanya, menentang keras hubungan kami, saking tak setujunya sampai mengadakan sidang kecil di keluarga mereka dan hasilnya Shila kalah, mau tak mau harus memutuskan hubungan kami. Aku tak mau berpisah dengannya, aku amat menyayanginya, tapi tak ada pilihan yang lain baginya. Saat itu Shila bilang padaku, “Bi, janji ya sama Shila kalau Bian akan berubah, jadi lebih dewasa lagi.. Buktiin Bi sama Mama aku kalau kamu bisa jadi orang yang sukses..” Ku dengar suara Shila yang terisak, Shila menangis, dan aku pun menangis bersamanya. Aku tau tak bisa menawar lagi padanya. Keegoisanku dan sifat cemburuku ternyata malah berdampak sangat buruk bagiku dan bagi Shila, wanita yang amat ku sayang.

Setahun setelah kejadian itu, aku kembali berkomunikasi dengannya. Berharap dia kembali padaku, harapan yang masih mendapat jawaban “Belum bisa..” darinya. Menurutnya, aku masih belum berubah. Masih terlalu over padanya, bahkan walaupun dia bukan pacarku.. “Shila, andai kamu tau cuma dengan cara inilah aku menjaga kamu, cuma dengan ini aku membuktikan perhatianku, cuma dengam cemburu ini aku pengen kamu tau kalau rasa sayangku besar buat kamu, Shil…”
Hari ini, aku mengenangnya, mendatangi kediamannya setelah ku dapatkan pesan dari nomornya, pesan singkat yang membuatku kecewa, sedih, dan miris…

“Innalillahi wa Inna Illahi Roji’un, telah meninggal anak kami tersayang, ananda Shilania Februari, hari ini, Jumat, 19 Juni 2013, pkl. 09. 35. Mohon do’a agar anak kami, Shila diterima di sisi-Nya, aamiin ya Rabbal Alaamiin”

– Shila, ternyata kamu menyembunyikannya selama ini, kamu menyembunyikannya dariku, menyembunyikan penyakit ganas itu dariku.. Aku kecewa denganmu, Shila.. Kau tak lagi terbuka dan jujur padaku.. Shila, diperistirahatanmu yang terakhir ini, berjanjilah kau akan tentram disana… Aku akan menunggumu disini dengan harapanku, dan hidup dengan cinta kita yang tersisa… –

Cerpen Karangan: Triesya Ernawan
Facebook: Triesya Augustien Ernawan
Newbie here… Smoga suka ya..Comments or critics, send to my facebook- m.facebook.com/triesyaernawan, thank you..

Cerpen Shila ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku, Pujaan Hatiku

Oleh:
Hari itu ada ulangan Matematika, aku kurang suka sama pelajaran yang satu ini nih. Aku jarang dapat nilai bagus, aku orangnya gak jago ngitung “Hei, ngelamun aja, non! Ntar

Kata Terakhir Untukmu

Oleh:
Ketika pagi mulai datang, sang mentari perlahan menunjukan sinarnya. Membangunkanku dari tidur lelapku “Astaga, gue kesiangan” aku langsung bangun dan berlari kecil menuju kamar mandi. Setelah mandi, aku buru-buru

Surat Terakhir

Oleh:
Dan Seterusnya Rasa Ini Selelu Terjadi… Dan Tak Pernah Berkurang… Hatiku Hanya Untuk Dirimu… Aku Bahagia Hanya Bila Kamu Bahagia… Cinta Cinta Cinta… Aku Jatuh Cinta… Prok… prok… prok…

Playgirl Tobat

Oleh:
“Kita putus..” Kata-kata itu masih terngiang dalam benakku. Begitu mudahnya Cindy mengatakan itu padaku. Tanpa rasa bersalah dia mengucapkan kalimat itu. Aku begitu menyayanginya, tapi dia begitu tega padaku.

Arti Cinta Karena Allah

Oleh:
Hari ini begitu indah, mungkin karena cuaca atau memang ada sesuatu yang mempengaruhi sehingga hari ini begitu indah. Sepoy anginya pagi ini dan pancaran mentari pagi entah kenapa begitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *