Something In Her Smile

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 26 September 2017

19 tahun sudah Bima hidup dan menjajakkan kakinya di bumi ini. Pria kelahiran Jogjakarta itu kini sudah memasuki semester 5 di Jurusan Ilmu Politik UI. Nama kampusnya yang terkenal dengan mahasiswa yang intelek tak membuat tampilannya menjadi seperti kutu buku. Bima cuek saja dengan rambut gondrongnya, kulit sawo matangnya, serta motor antiknya yang membuat dirinya menjadi nyentrik di kalangan mahasiswa UI. Ia sama sekali tak peduli dengan style pakaian mahasiswa yang kekinian, walaupun orangtuanya bisa dibilang orang kaya yang memiliki 3 mobil dan 4 motor, serta rumah yang halamannya sangat megah dan cocok untuk mengadakan pesta, dandanannya sama sekali tidak neko-neko seperti mahasiswa yang kekinian. Mungkin karena sejak umur 3 tahun, bapaknya sudah mengenalkan ia dengan lagu lagu The Beatles, dan mempertontonkan gambar-gambar John Lennon.

Sudah 2,5 tahun Bima kuliah di UI, selama 2,5 tahun pula ia tak memiliki pacar setelah lulus SMA. Wanita cantik yang menjadi pacar terakhir Bima meninggal dunia karena overdosis. Sejak saat itu, Bima tak pernah sekalipun menyentuh lagi narkotika yang dulu menjadi teman hidupnya. Kenakalan Bima saat ini hanya sampai minuman alkohol.

Siang itu, 16 Oktober 2016, Bima baru membuka matanya setelah ia mabuk bersama teman-temannya untuk merayakan ulang tahun yang ke 19. Ia menoleh ke meja belajarnya, yang tersisa hanya 2 botol V*dka. Seingat dia, masih ada 3 botol lagi yang tersisa semalam. Ia bangun dari tempat tidurnya, memutar lagu Come Together-nya John Lennon, menyulut rok*k, dan merapihkan rambut gondrongnya dengan bando pemberian Vania, mantan pacarnya yang meninggal karena overdosis. Bima menatap bando hitam itu dan ia teringat yang dikatakan Vania saat itu, saat rambutnya masih pendek.

“Nih buat kamu” “Kok kamu kasih aku bando?” “Kan katanya kamu mau gondrong kayak John Lennon, makanya aku kasih ini.” “Kan rambut aku masih pendek gini.” “Ya kan gak ada yang tau kedepan kayak gimana. Belum tentu juga pas kamu udah gondrong, kita masih bareng-bareng. Makanya aku kasih sekarang.”

Ia keluar kamar dan menuruni tangga. Hanya ada pembantu rumah tangga, Mbak Narsih yang sedang menyetrika pakaian. Setelah basa-basi dengan mbak Narsih, Ia mendapat info bahwa Pakde Yanto yang mengambil botol V*dka. Saat itu, Bima sedang sangat pulas, hingga Pakdenya itu tak tega untuk membangunkannya, begitu kata mbak Narsih.

Sebelum ashar, Bima sudah terlihat rapih. Sambil memanaskan Vespa warisan Eyangnya, ia menyulut rok*k terlebih dulu. Sore ini, Bima akan hunting foto bersama teman-temannya. Setelah semua dirasa sudah siap, Ia memacu Vespa-nya dengan diiringi lagu lagu The Beatles yang ia putar lewat headset.

Tiba di tujuan, tak ada tema yang ditentukan untuk memotret. Dan seperti biasa, Bima berjalan berkeliling Taman Lembah Gurame, Depok, mencari model untuk menjadi target fotonya. Banyak sekali abg yang nongkrong di tempat itu, namun Bima masih saja terus berjalan dan langkahnya terhenti saat kedua matanya terfokus pada satu wanita yang duduk di pendopo, dengan celana jeans panjang, rambut hitam sepundak, dan kaos hitam dengan gambar wajah George Harrison di bagian depan. Sejenak ia melihat baju yang sedang dia pakai, hitam dengan gambar wajah Ringo Starr yang sedang tersenyum.

“Suka The Beatles juga?” tanya Bima. Wanita itu hanya tersenyum. “Bb, bbo, bboleh kke kkena kenalan?” Tanya Bima dengan terbata-bata. Wanita itu sambil mengulurkan tangan dan berkata dengan merdu, “Vidya.” “Bima.” Jawab Bima sambil tersenyum. Lalu mereka berdua saling ngobrol ngalor-ngidul hingga adzan maghrib membuat Vidya celingukan. “Eh, maaf ya, aku harus pulang duluan. Bye.” Kata Vidya sambil melangkah terburu-buru. Bima hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil menunjukkan raut wajah yang bingung. Akhirnya Bima mengenakan headset-nya, memutar lagu A Day In The Life-nya John Lennon, dan memutuskan untuk pulang juga setelah berpamitan dengan temannya.

Malam itu, entah mengapa Bima sulit untuk memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya sejak lulus SMA, Bima membuka hatinya untuk seorang wanita. Dan untuk kali pertama sejak lulus SMA pula, malam itu ia menulis puisi dan ia mencari nada dengan gitarnya untuk menjadikan puisi tersebut menjadi sebuah lagu.

Keesokan paginya, pukul 8, Bima sudah membuka matanya, merapihkan rambut, dan seperti biasa sarapan sebatang rok*k, segelas kopi, sambil memutar lagu Something-nya George Harrison. “Lho, wis tangi to le?” tanya Bapaknya dari depan kamar. Kamar Bima tidak pernah dikunci, karena apa yang ia lakukan selalu diketahui orangtuanya. “Sampun, Pak.” Jawab Bima dihiasi senyum kecil di wajahnya. “Kayaknya, kamu udah lama deh gak nyetel lagu ini?” Tanya Bapaknya heran. “Iya pak, memang sudah ndak pernah. Lha, wong terakhir kali aku nyetel lagu ini pas pemakaman’e Vania kok. Kangen aja pak sama lagu ini hehehe” Jawab Bima sambil cengengesan. Bapak masuk ke kamar Bima dan mengelus-elus kepala anak sulungnya itu. “Le, bapak ngerti perasaan kamu. Tapi ya sudahlah le, mau kamu ratapi sedalam apapun, Vania ndak akan hidup lagi. Gini, Bapak tau kamu udah bisa jatuh cinta ‘lagi’ kan? Bapak udah baca notesmu semalem. Kalo kamu bisa bikin dia jatuh cinta, jangan bikin dia nangis. Tapi kalo kamu gak bisa bikin dia sayang sama kamu, jangan bikin dia ngerasa terganggu.” Lalu Bapaknya keluar kamar sambil mengelus kepala Bima.

“HADIRILAH!! ACCOUSTIC NIGHT BERSAMA ‘INGKAR JANJI’, SABTU, 20 OKTOBER 2016 PUKUL 19.00-SELESAI DI TAMAN LEMBAH GURAME, DEPOK JAYA.
UNTUK KAMU YANG BISA MAIN GITAR DAN INGIN JOIN MENJADI PERSONIL ‘INGKAR JANJI’ DIPERSILAHKAN UNTUK TAMPIL DENGAN MENGHUBUNGI 085777988***.”

Setelah membaca broadcast pesan tersebut, ia langsung menghubungi nomor yang tersedia dan mendaftarkan diri. Bima kembali ke masa lalunya, dimana apa yang ia rasakan, ia ungkapkan lewat sebuah lagu, puisi, atau lukisan. Dia tak perduli apakah Vidya hadir atau tidak malam minggu besok, yang jelas ia hanya ingin menguak semua isi hatinya lewat lagu.

Tanpa memikirkan style anak muda yang akan hadir malam itu, Bima berangkat dengan dandanannya, kaos The Beatles, celana jeans sobek sobek, rambut gondrong, dan jaket Levi’s yang di beberapa bagian sudah ditambal.

Pukul 20.30, Ia sedang santai di backstage dan MC pun bilang, “Dan untuk pelengkap hiburan malam ini, langsung saja kita panggilkan, BIMA WICAKSONO!!!”
“Malem semua, wah rame banget ya, dateng pada bawa pasangannya hehe.” Lalu mata Bima secepat kilat menatap Vidya yang tersenyum ke arahnya. “Gue bakal bawain satu lagu, lagu lama, dan lagu ini gua nyanyikan untuk seorang cewek, dan kebetulan cewek itu ada di antara kalian. Okay, langsung aja ya.”

‘Something in the way, she moves, attracts me like no other lover. Something in the way, she woos me. I don’t want to leave her now, you know i believe and how. You’re asking me will my love grow? I dont know! I dont know! You stick arround and it may show, I don’t know! I don’t know! … ” (George Harrison – Something)

Saat turun panggung, acara belum selesai dan ia mencari Vidya. Di tengah keramaian itu, Bima dengan semangatnya ingin bertemu sepasang mata yang menjadi alasan dia untuk naik ke panggung tadi. Sementara itu, Ingkar Janji sedang membawakan lagu The Beatles – Girl. Lalu, apa yang dicari Bima pun dapat ia temukan. Sayangnya, Bima hanya menatap Vidya yang sedang dirangkul oleh seorang pria dengan dandanan casual dan potongan kekinian. Ia terus menatap Vidya bersama lelaki itu. Vidya tak melihat Bima, namun lelaki itu menatap tajam mata Bima, lalu mencium bibir Vidya di depan Bima sambil tangannya mengacungkan jari tengah ke arah Bima. Mata Bima seketika lesu karena apa yang barusan ia lihat.

‘Andai saja bulan dapat berharap, andai saja bintang dapat berlari, andai saja matahari dapat menangis. Ya, merekalah saksi yang aku miliki bahwa mungkin saat ini aku mencintaimu. Kau mau bukti? Panggung itu adalah buktinya.’

SELESAI

Cerpen Karangan: Yoseph Krishna Tirto Luhur WN.
Blog / Facebook: cumanmiripkrishna.wordpress.com / facebook.com/yosephkrishnaTLWN
Yoseph Krishna Tirto Luhur Wicaksono Narastradi, lahir di Depok tanggal 6 April 1998, sekarang kuliah di Prodi Penerbitan (Jurnalistik) Politeknik Negeri Jakarta setelah sebelumnya bersekolah di SD Santa Theresia Depok, SMP Santa Theresia Depok, dan SMA Negeri 6 Depok.

Cerpen Something In Her Smile merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dalam Takdir-Nya

Oleh:
“Aisyah..” panggil seseorang yang suranya sudah tak asing lagi bagiku. Akupun menoleh ke belakang dengan senyuman hangat yang ku persembahkan hanya untuknya. “Kamu kapan kembali lagi kesini?” tanya lelaki

Takdir Hati

Oleh:
Tidak harus ia mengerti! Cukup aku saja. Aku akan terus dalam posisiku, tak akan mencoba merubah segalanya. Karena aku memang tidak bisa mendahului takdir tuhan untuk masalah ini: hati.

Kisah Cinta

Oleh:
Rintik hujan mengguyur area pemakaman, bulir-bulir air mata mengiringi kepergiannya, seseorang yang sudah tenang bersemayam di balik gundukan tanah merah dengan taburan mawar putih, iringan doa mengantarkannya ke gerbang

Problema Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Jangankan menyapanya, melihatnya saja rasanya aku sudah enggan. Entah kenapa perasaan yang dulunya berbunga-bunga ini, tiba-tiba berubah menjadi batu yang sulit untuk dipecahkan. “hei, yang lagi ngelamun. Hayo, ngelamunin

Sketsa Lamaran

Oleh:
Pohon-pohon begitu rindang, toleh kanan dan kiri masih tetap saja pohon. Di depan malah lubang besar menunggu bus Cahaya Bone, untuk masuk sebentar. Sumpang Labbu nama cebolan besar itu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *