Tabir Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 11 December 2016

Senja merah di langit kini sudah menghilang, bergantikan bulan dan bintang sebagai penghias malam, kuasa Allah menciptakan itu semua, Kuasa Allah juga yang mempergilirkan malam dan siang tanpa pernah siang mendahului malam ataupun malam mendahului siang, tiada yang bisa melakukan semua itu kecuali Allah Pencipta makhluk di seluruh alam semesta.

Fira bersama teman-temannya sedang menantikan ustad Huda yang tak kunjung tiba. Matanya mulai tak tertahankan. Ia menyenderkan kepalanya ke meja kemudian perlahan-lahan matanya mulai terpejam.

“Eh si Mei ternyata surat-suratan sama si Ahmad santi putra itu” ucap Ike berlagak meyakinkan kepada temannya bahwa ucapannya adalah benar
“Ah masa si? Kayanya Mei pendiem gitu deh” jawab Lina tidak percaya
“jangan menilai orang dari luarnya aja kita kan gak tau dalemnya” ucap lke dengan wajah ketusnya.
Mei yang sedang sibuk menyalin tulisan di kitabnya tak menyadari ada seseorang yang telah menggosipkannya.

Begitulah santri, bukan makhluk mulia. Ia pun seperti orang biasanya, bisa saja berbuat dosa. Ghibah, membicarakan kejelekan seseorang sudah lumrah dilakukannya. Siapapun dapat berbuat dosa walau itu makhluk yang bernama santri sekalipun.

Braaakk..
Suara gebrakan meja terdengar ke semua santri yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Fira yang sedang tidur terbangun. Matanya yang masih ngantuk dipaksakannya untuk terbuka. Fira kaget, hatinya berdegup kencang mendengar gebrakan dari mudabbir.

“Tolong semuanya jangan ribut” ucap Rini nama salah satu mudabbir itu.
Emosinya kian memuncak melihat santri yang susah diatur.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ustad Huda yang telah dinantikan tak kunjung tiba juga. Wajah Fira mulai kelelahan, lesu, sama sekali tak bergairah.

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh” ucap suara itu.

Semua santri langsung menoleh mencari dari mana sumber suara itu.
Mereka terkejut, matanya berbinar-binar. Wajah yang lesu kini menjadi wajah yang ceria. Semua mata tertuju padanya, si pemilik suara itu.
Mereka terpesona akan indahnya ciptaan Allah.

“Saya disini menggantikan Ustad Huda sementara, karena ustad Huda sedang ada keperluan” ucapnya suara itu lagi.

Fira sama sekali tak menghiraukan asal suara itu, matanya ingin sekali terpejamkan.
Terpaksa Fira menoleh ke depan untuk memperhatikan Ustad pengganti itu. Sontak Ia langsung terkejut ketika menoleh ke depan ada seseorang di hadapannya.

“Zamzam?” Ucapnya lirih.
Fira langsung menunduk mengalihkan pandangannya.

“Sampai di mana kitab fiqihnya” Zamzam menghampiri santri di depannya. Lalu mengambil kitab milik santri itu.

“Ukhti.. Sampai di mana?” ucapnya sekali lagi.
Perempuan yang sedang di tanya oleh Zamzam tak merespon ucapannya.

“Hmm.. Azza, sampai mana?” Senyumnya mengembang dari bibir tipis Zamzam

“Apa?” Fira kaget, spontan ia menatap Zamzam. Rupanya Ia yang sedang memanggil dirinya. Tapi, kenapa memanggil dengan panggilan azza? panggilan yang berbeda dari lainnya.

“Syafira Azza Nabila”

Zamzam memanggil nama tengahnya. Mungkin itu panggilan kesayangan yang dikhususkan kepadanya. Entahlah, hanya Zamzam yang tahu akan hal itu.

“Eh anu.. Emm halaman dua puluh tiga” Fira menyodorkan kitabnya. Perasaannya mulai tak menentu, jantungnya berdetak lebih keras.

Zamzam mengamat-ngamati kitab yang yang diberikannya. Lalu menoleh ke arah Fira sambil tersenyum. Fira yang mendapati senyuman dari Zamzam langsung tertunduk malu, wajahnya memerah. Berharap Zamzam tak melihat wajahnya itu.
Lalu Ia mengembalikan kitab itu kepada pemiliknya.

Fira terkejut, kaget. Tenyata di halaman dua puluh empat ada tulisan nama dia AHMAD ZAMZAM ZAINAL MUTTAQIN.
Ia lupa sama sekali. Ia pernah mencorat-coret kitabnya. Lalu menuliskan nama Dia di dalamnya. Mungkin ini alasan Zamzam tersenyum.

“Ya allah.. kenapa ini harus terjadi?” Desisnya dalam hati. Fira memejamkan matanya. Ia semakin malu, tertunduk, tak berani menatap Zamzam yang sedang menerangkannya.

Ia tertunduk untuk beberapa lama, sesekali Ia mencoba menoleh ke depan mencermati apa yang diucapkan olehnya. Fira melihat sebentar wajah Zamzam. Saat itu juga Zamzam melihat Fira. kini, tatapannya saling berpandangan satu sama lain. Cukup lama. Wajah tampan Zamzam serta mata elang di balik kacamatanya sangat jelas terlihat.
Fira langsung menunduk saat dirinya sadar telah bertatapan dengannya. Rasanya ia tengah kehabisan oksigen, susah bernapas setiap kali melihat Zamzam di hadapannya.

Lulu tengah sibuk dengan tugas matematika yang diberikan Pak Hasan. Tatapannya serius mengamati deretan angka di depannya. Sudah ketiga kali ia mencoba namun tak juga menemukan hasilnya.

“Arrgh!! Apa aku bilang matematika itu susah, sudah aku hitung berkali-kali namun tak ada hasilnya” gerutu Lulu melempar bolpoinnya ke lantai, ia benar-benar sangat kesal sekali.
Pelajaran matematika membuat ia hari berpikir berulang kali

“Pahamilah sedikit-sedikit! Maka akan terasa mudah. Dan kau dengan cepat akan tahu cara menyelesaikannya.” Fira yang sedang mengerjakan tugas yang sama menimpali perkataan Lulu.
Dengan rinci Fira mengamati buku Lulu yang sudah ada di genggamannya. Kemudian terlihat menuliskan sesuatu. Lulu mengamati tulisan itu. Tulisan yang bahkan lebih rapi dari tulisannya. Dan ia tersenyum melihat gaya Fira saat sedang menulis. ‘terlihat lebih keren’ batinnya.

“Hidup itu seperti pelajaran. Sesulit apapun pelajaran itu, jika kita mencoba memahaminya, maka semuanya akan terasa mudah. Begitupun hidup. Jika kita memahami hidup Kita, maka kesulitan yang kita dapatkan akan terasa mudah.”

Lulu tertegun. Sahabat di sampingnya ini selalu terlihat bijak dan dewasa. Dan ia suka dengan sikap Fira itu.
Baginya masalah yang ada di hidupnya adalah sesuatu yang kecil, yang bisa diselesaikannya dengan mudah. Semudah satu tambah satu. Kepintarannya membuat siapapun bertepuk tangan bangga.
Kecantikannya tak kalah dengan para public figure di dunia pertelevisian. Ia sempurna bukan karena Tuhan menciptakan kesempurnaan untuknya. Tapi karena dialah yang menciptakan kesempurnaan untuk dirinya sendiri.

“Kesempurnaan seperti apapun yang mereka dambakan tidak akan mereka dapatkan. Karena sesungguhnya manusia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang mereka miliki. Percayalah! Kita akan merasakan kesempurnaan yang nyata saat kita mampu mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan.”

Kalimat itulah yang pertama kali Fira lontarkan kepada Lulu. Kemudian Fira melanjutkan tulisannya.

“Ahh, tidak! Aku hanya berfikir, matematika itu membuat hidup ini penuh dengan perhitungan. Terlebih perhitungan yang jauh dari kata adil.” Ujar Lulu.

Fira tersenyum. Dan senyumannya sukses membuat tanda minus di hati Lulu. Mengurangi angka-angka kegelisahan itu.

“Tanpa perhitungan, hidup ini akan terasa sia-sia. Yang perlu kamu tahu, perhitungan Tuhan itu tidak akan salah. Meski ia tidak menggunakan matrik dan logaritma dalam perhitungannya.”

Lulu kembali tertegun mendengar kata-kata bijak Fira. Ia beruntung mempunyai sahabat sehebat Dia.

Zamzam yang sedang mengerjakan soal matematika mendengarkan pembicaraan Fira. Terdengar sangat lirih suaranya dari bangku belakang. namun Ia dapat menangkap suara yang pelan itu. Ia mendengarkan dengan seksama sambil tersenyum.

“Cie.. senyum-senyum sendiri” Adnan memergoki Zamzam yang sedang tersenyum tanpa sebab itu.

“Nggak papa” Zamzam lalu melanjutkan tugas matematikanya. Ia sedikit acuh menanggapi pertanyaan Adnan

“Fira ya” Tebaknya lagi.

Tangan Zamzam yang sedang menulis seketika terhenti. Terdiam sejenak. Lalu melanjutkan menulis lagi. Ia menghiraukan lagi pertanyaan Adnan.

“Ayolah jujur” Adnan kembali bertanya. Zamzam hanya diam saja. Sama sekali tak mau menjawabnya. Ia mendengus kesal, lagi-lagi pertanyaannya tak dijawab olehnya.

“Ya sudahlah”

Kalamunaa lafdum mufiidun kas taqim
Wasmun wafi’lun tsumma harful kalim
Wahiduhu kalimatun wal qoulu am
Wa kalmatum bihaa kalamun qod yum
Bil jarri wattanwiini wannidaa wa al
Wa musnadin li asmitamyiizun hashol

Nadzom Alfiyah secara serempak mengalun indah di bibir para santri membuat kedamaian hati semakin terasa. Alunannya terdengar menembus gerbang pesantren. Bait-bait yang sangat mempesona, Lagam nada yang khas tercipta sangat indah. Sungguh hebat Ibnu Malik menciptakan syair yang menakjubkan itu.

Mereka menyebutnya Taqror, pembacaan nadzon secara bersama-sama.

Bita fa’alta wa atat wa yaf’ali
Wa nuuni akbilanna fi’lun yanjali

Dengan nada pelan Fira membaca nadzom Alfiyah, berkali-kali ia memegang kepalanya. Rasa sakit itu kini mulai menyerang tubuhnya. Tetapi Ia tetap saja memaksakan dirinya melanjutkan lagi.

“Kamu kenapa Fir” ucap Ina menghentikan bacaanya. Ia melihat Fira tampak kurang sehat
“Aku nggak apa-apa kok, udah tenang aja”
Fira menghibur Ina agar ia tidak cemas. Tapi kebohongan itu tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya. Terlihat jelas ada sesuatu yang aneh di matanya.
“Beneran nih?” ina menatap Fira meyakinkan bahwa Fira tidak apa-apa

Fira mengangguk lalu meneruskan melafalkan nadzomnya dengan mengumpulkan semua tenaganya.
Energi dalam tubuhnya ia keluarkan semuanya. Tiba tiba tubuhnya oleng ke depan mengenai badan Ina.
Semua mata tersentak kaget dan menghentikan aktivitasnya. kini, mereka hanya fokus pada Fira.

“Apa yang terjadi?” I’ip bertanya-tanya.

Tak ada yang bisa menjawab. mereka hanya terdiam melihat kejadian itu. Ina dan temannya mengangkat Fira yang tak sadarkan diri membawanya ke kamarnya.

Langkahnya tergopoh-gopoh menyusuri lorong-lorong kamar. Beruntung Fira kamarnya berada di lantai bawah sehingga tak kesusahan mereka naik tangga. Lulu teman baiknya juga ikut cemas melihat Fira. Akhir-akhir ini ia sering sekali melihat Fira pingsan.
Beberapa santri sedang berkumpul di dalam kamarnya.
Fira seolah-olah sekarang menjadi tontonan bagi mereka.

“Fira bangun.. Fira bangun..” Lulu sangat cemas. Di tepuk pipinya berkali-kali namun tak ada respon darinya.

Manda, ketua mudabbir itu langsung bergagas menelepon keluarganya.

Setelah menunggu lima belas menit, sebuah mobil parkir di depan gerbang pesantren.
Kerumunan santri masih sesak memadati kamar Fira, mereka belum ada yang tertidur padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Seperti ada pertunjukan seru untuk di tonton mereka tak ingin melewatkannya.

Ayahnya lalu mengangkat Fira membawanya ke mobil. Ia sedikit kesusahan membawanya karena masih banyak santri berkerumun.

“Minggir.. minggir”

Ayahnya berhasil menerobos melewati kerumunan itu dan membawanya masuk ke dalam mobil. Ibunya juga turut masuk ke dalam. Fira diizinkan pulang ke rumahnya melihat kondisinya semakin memburuk.

Cinta, perasaan yang selalu ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Hanya tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, maka ia akan tumbuh sebagai pendusta, penipu dan hal lain yang tercela. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, di sana ia akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia dan budi pekerti yang tinggi serta perangai lainnya yang terpuji. Terkadang cinta itu membuat semua orang jadi bahagia, sengsara, atau bahkan cinta bisa membuat seorang menjadi tak berdaya, tetapi banyak sekali dari diri kita yang salah menentukan arah tujuan dari pada cinta. Semua orang pasti memiliki perasaan cinta, karena hal itu merupakan tabi’at dari manusia itu sendiri.

“Lulu..” Tak sampai beberapa langkah seseorang memanggilnya. Ia berhentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.
“Kenapa Zam?”
“Azza gak berangkat ya..?” Tanya Zamzam sedikit cemas
“Fira pulang ke rumah”
“Kenapa?”
“Dia.. dia tadi malam pulang di jemput orangtuanya, Fira pingsan waktu taqror”
“Ya Allah Tuhan dari semua manusia, hilangkan segala penyakit, sembuhkanlah, hanya Engkau yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali dari padaMu, sembuh yang tidak dihinggapi penyakit lagi. Aamiin” Zamzam mencoba untuk tegar, walau hatinya ingin sekali menangis. Tak terasa ada butiran air mata jatuh mengenai pipinya, ia segera menghapusnya agar tak terlihat oleh Lulu.

“Zamzam” rintih Fira mulai tersadar.
Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ruangan VIP dengan cat berwarna putih serta selang infus tertancap di tanggannya, Ia tahu, kini sedang berada di rumah sakit. Fira sedikit menggerakkan badannya namun masih terasa sakit.
Ia lalu memejamkan matanya, Ia teringat Zamzam. Ia rindu dengannya.
Bagi Fira, Zamzam adalah sebuah lukisan yang amat indah di atas sana, walau hanya dapat memandangnya, tapi Ia bahagia, karena mengagumi sesuatu yang indah dan berarti, seperti Zamzam.
Ia sadar, dirinya tak pantas bersanding dengan anak seorang kyai itu, dirinya hanyalah manusia biasa saja yang tak sekufu dengannya.

“Alhamdulillah.. kamu sudah sadar nak” ucap Ummi Sri bahagia. Ia menghapus air matanya. Wajahnya berubah menjadi ceria.
“Sakit ummi” erangnya mencoba menahan sakitnya
“Sakit itu jembatan untuk menuju kemuliaan asal orang yang sakit itu ikhlas. Bagaimana orang itu bisa ikhlas? Yang terutama, orang harus berprasangka baik kepada Allah, Sabar ya nak.. semoga Allah memuliakan derajatmu di sisinya”
Nasihat Ummi samar samar terdengar dari telinganya. Tubuhnya sudah tak berdaya untuk membalas ucapannya.

“Asyhadu alla ilaa haillallah wa asyhadu anna muhammadarrosuulallah” Desisnya pelan. Matanya perlahan lahan mulai terpejamkan.

Melihat itu, Ummi Sri seketika mimik wajahnya berubah sedih. Butiran air matanya menetes dengan derasnya. Ia menggoncang goncangkan tubuhnya, tak ada respon darinya kemudian Ummi Sri memeriksa urat nadi di tangannya. Terhenti. Tak ada denyutan sama sekali

Innalillahi wainna ilaihi rojiun..
Malaikat Izrail telah membawa ruhnya.

Abah Faiz yang baru saja selesai sholat langsung menghampiri Ummi Sri menenangkannya.

Zamzam bangun pukul setengah tiga. Tiba-tiba perasaan gelisah menyelinap masuk ke dalam hatinya. Zamzam teringat akan mimpinya. Ia melihat dalam mimpinya, Fira berjalan mendekatinya. Saat itu Fira tersenyum padanya, Zamzam berusaha menanyainya. Tapi sebelum mengeluarkan satu kata pun, dia telah lenyap bagai debu yang terbang mengikuti arah angin.
Perasaan khawatir tentangnya muncul dalam benaknya.
Dugaannya semakin terlihat nyata, ketika ia tahu di pesantren putri banyak teman-teman berkumpul. Zamzam terjang keberadaan mereka. Hari itu juga adalah dimana Ash shidiqiyah banjir air mata.

“Ada apa?” tanyanya penuh harap semoga tak terjadi apa-apa pada diri Fira.
“Abinya Fira menelepon ke Ash-Shidiqiyah dan mengabarkan bahwa Fira telah tiada” ucap Lulu sambil menangis.

Zamzam sungguh tak percaya Fira telah pergi. Semua santri Ash shidiqiyah pergi menuju ke rumah Fira dalam keadaan yang berlinang air mata. Semua mata sembab. Tangisan membahana mengiringi doa yang dibaca oleh Ustadz Huda.
Sejenak Zamzam bagai raga tanpa nyawa.

Ummi Sri yang melihat jenazah anak semata wayangnya itu tak kuasa untuk meluapkan tangisnya.

“ibu, katakan apa yang terjadi pada Azza Bu..” Zamzam terus saja penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
“Fira.. Terkena hepatitis B Nak”
“Apa..?” Zamzam menyeka air matanya. Ia tak tahan mendengar deraian tangis dari keluarganya.
Zamzam juga pergi mengiringinya ke tempat peristirahatan terakhirnya.

“Tak semenit pun namamu akan lepas dari ingatan kepalaku Za. Namamu akan terus terukir dalam sejarah hidupku. Kaulah gadis pertama yang kukenal di Ash Shidiqiyah. Walaupun sekarang kau telah pergi tapi kau dan aku tetaplah menjadi cinta pertamaku” ujar Zamzam bersandar pada nisan di mana nama Fira terukir jelas.

Sekaranga Ia harus menjalani hari-harinya di Ash Shidiqiyah tanpa ada dirinya. Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir. Zamzam tak akan pernah lagi melihat Fira karena dirinya telah pergi. Dia tak akan pernah kembali dalam hidupnya. Tapi Fira tetaplah cinta pertama Zamzam, cinta pertama yang telah menjadi bagian hidupnya.

“Aku akan selalu berdoa untukmu. Selamat tinggal cinta. Selamat jalan sahabat cintaku, kenanganmu akan selalu terukir dalam hatiku yang paling dalam. Di hati kami semua, santri Ash Shidiqiyah. Tak akan pernah Aku lupakan semua kebaikan yang telah kau berikan. Aku pun akan berusaha mangikhlaskan kepergianmu. Selamat tinggal, semoga kau bahagia di sisi-Nya untuk selamanya.”

Bagian tersulit dari perpisahan bukanlah saat melangkah pergi namun saat sadar bahwa kenangan selalu ada. Tuhan menciptakan perpisahan semata agar kenangan mendapat haknya. Dan misi utama kenangan adalah menjadikan kita pernah merasa ada. Kenangan akan selalu hidup.

Cerpen Karangan: Nikmun Fathilah
Facebook: imun

Cerpen Tabir Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentang kita

Oleh:
Dewasa adalah ketika kamu mampu menghargai apapun yang menjadi milikmu saat ini Dewasa adalah ketika kamu mampu memahami mana yang benar dan mana yang salah Dewasa adalah ketika kamu

Bagaimana Mencintai Tanpa Bertele Tele

Oleh:
Sebait kisah sedih yang aku yakin sekali bahkan tidak pernah ada yang tahu semenyakitkan apa rasanya ditinggalkan dengan cara yang tidak pernah kaubayangkan sebelumnya. Baru-baru ini, aku berkenalan dengan

Zafran

Oleh:
“tagihan listrik, tagihan kartu kredit, surat penerbit, surat dari papa, undangan reunian, brosur kosmetik, brosur ayam goreng” semua itu surat yang kuterima hari ini dari pak pos. Aku menghela

Habis Cinta Terbitlah Lupa

Oleh:
Awal gue masuk di Smp Muhammadiyah 1 Denpasar saya belum kenal dengan semua anak-anak itu tapi gue yakin suatu saat gue kenal dengan anak-anak itu gak terlalu lama bebrapa

Penyesalan Dikemudian Hari

Oleh:
“hai Aina, sendirian aja, Vera kemana?” tanya Reno. “hai juga, iya nih Vera sedang di kelas” jawab Aina. Aina memang dekat dengan Reno. Reno mencintai Aina, tapi Aina tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *