Tak Akan Pernah Sama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 September 2017

Bulan ke-4 aku bersekolah di sini, di SMP baruku. Aku baru saja lulus dari SD dan sekarang berada di bangku Sekolah Menengah Pertama. Namaku Amita Rahmawati, murid baru SMP. Teman akrabku tidak terlalu banyak, mengingat aku memang orang yang pendiam dan tak banyak orang yang cocok denganku. Tapi, aku sudah cukup mengenal teman-teman sekelasku.
Di kelas, entah kenapa aku sering memerhatikan seorang laki-laki. Namanya Reza. Akhir-akhir ini aku cukup sering bertanya tentangnya. Tapi aku belum menyadari sepenuhnya kalau aku menyukainya.

Aku baru menyadarinya 1 bulan kemudian. Saat ada temanku yang mengatakan kalau dia menyukaiku. Jantungku berdebar sangat kencang, dan saat itulah, aku menyadari bahwa aku sedang mengalami yang mereka sebut-sebut sebagai pubertas. Karena temanku mengatakan itu, tumbuhlah harapan di hatiku. Aku tak menghiraukan apakah temanku itu hanya bercanda atau tidak.

Reza adalah anak yang pintar. Paling pintar di antara semua laki-laki. Waktu itu juga, dia meraih ranking 2 di kelasku. Lalu, siapa ranking 1? Itulah aku. Perempuan yang pintar namun pemalu kata teman-temanku. Memang benar apa yang mereka katakan. Aku memang pemalu dan kadang tidak percaya diri. Tapi itulah diriku. Dan aku menyukai diriku apa adanya.

Kenapa aku menyukai Reza? Terlepas dari dia yang memiliki paras tampan karena ayahnya bule. Tapi, aku menyukainya karena dia baik dan memberikan perhatian kepadaku. Entah itu hanya perasaanku saja, atau memang dia baik ke semua orang. Tapi yang jelas, aku menyukainya karena itu.

Sudah berbulan-bulan aku terus menyimpan perasaan itu tanpa ada yang curiga. Aku menyimpan perasaanku karena pengalaman pribadiku yang mengajarkan untuk tidak pernah memberitahu rahasiaku lagi kepada siapapun di kelas. Waktu SD, aku pernah menyukai seseorang dan saat aku memberitahu rahasia itu pada sahabatku, rahasia itu langsung tersebarluaskan. Dan aku tidak ingin hal yang sama terjadi lagi padaku.

Reza sering meminjam pulpen padaku. Mungkin pulpennya habis dan dia belum sempat membeli yang baru. Tapi apapun alasannya, aku selalu meminjamkannya meskipun pulpen yang kupunya adalah pulpen satu-satunya. Aku tidak ingin dia menganggapku pelit meskipun itulah yang dipikirkan teman-teman laki-laki yang lain tentangku. Bukan apa-apa, tapi para laki-laki yang lain seringkali tidak mengembalikan barang yang dipinjamnya.

Bulan Januari, aku harus masuk sekolah lagi setelah libur panjang yang menyenangkan. Aku benar-benar malas bangun dari tempat tidurku. Tapi sisi baiknya, aku bisa bertemu dengan Reza lagi. Itu adalah satu-satunya penyemangatku kembali ke sekolah. Dan benar saja, saat aku datang ke sekolah, dia ada di sana. Duduk di bangku luar kelas bersama teman-temannya. Seperti biasa, aku hanya memerhatikannya dari jauh.

Hari-hari berlangsung seperti biasanya. Tapi pada suatu saat, hal yang tak diduga-duga terjadi. Sahabat dekatku, Fifi tidak sengaja melihat isi diaryku. Sekarang, dia tahu aku menyukai Reza. Tapi, aku cukup percaya padanya untuk tidak membocorkan rahasiaku karena dia sangat dekat denganku.
Tapi kenyataan tak seindah yang dibayangkan. Fifi membocorkan rahasiaku kepada Hera dan Hera membocorkan rahasiaku kepada seluruh perempuan di kelas. Ini pertanda buruk. Aku yakin Reza akan segera tahu kalau seperti ini.

Beberapa hari selanjutnya, Reza masih meminjam pulpen padaku. Malah kali ini, dia mengajakku bekerja sama mengerjakan tugas IPA. Ini sungguh sebuah kemajuan. Dan itu berarti, kemungkinan besar dia belum mengetahui tentang bagaimana aku menganggapnya selama ini. Itu kabar baik. Setidaknya, untuk saat ini.

Waktu terus berjalan, Reza tak lagi meminjam pulpenku. Dia meminjam pulpen dari temanku yang lain. Prasangka buruk terus menghantuiku. “Apakah dia tahu?” pikirku. Tapi aku masih belum yakin, dan masih ada secercah harapan kalau dia masih belum mengetahuinya.

Senin, 24 Januari semuanya menjadi jelas. Sangat jelas. Tak ada lagi keraguan dalam hatiku. Kini aku yakin dia telah mengetahuinya. Reni meneriakkan rahasiaku di depan seisi kelas dan juga wali kelasku. Reza hanya menunduk saat mendengarnya. Aku pun merasa tidak enak padanya. Aku tidak ingin dia merasa dipermalukan hanya karena aku.

Hari berikutnya, aku hanya diam di kursiku. Berbicara seperlunya tanpa ada canda tawa seperti hari-hari biasanya. Hanya ada keheningan. “Berakhirlah semuanya” pikirku. Setelah dia tahu, aku yakin dia akan menjauhiku. Pertemanan kami tidak akan pernah sama seperti dulu. Dan benar saja, dia menjauhiku, tak jauh dari perkiraanku. Bahkan, dia menghapus kontak BBM-ku. Tak terasa, air mata pun menetes. Dunia terasa hening untuk sesaat. “Oh Tuhan, aku menyesal. Jika saja hari Fifi tidak melihat diaryku, maka semua tidak akan terjadi” pikirku.

Kenapa ini semua harus terjadi? Yang aku inginkan hanyalah berteman dengannya tapi bahkan itu pun tidak boleh. Dia benar-benar jauh dariku sejak saat itu. Dan akupun juga memutuskan untuk menjauhinya karena merasa malu dan sakit hati. Sejak saat itu, aku menjadi lebih pendiam dari biasanya. Terkadang berdiam diri membayangkan masa lalu saat Reza belum mengetahui rahasiaku. Kadang aku juga melihat Reza sedang bercanda dengan teman-teman perempuannya, yang membuatku berharap aku bisa menjadi seperti mereka, kalau saja Reza tidak tahu tentang hal itu. Yang jelas, semua hal tak akan pernah sama seperti dulu.

Cerpen Karangan: Amanda F. R

Cerpen Tak Akan Pernah Sama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


This Love

Oleh:
Namaku Amanda Manopo. aku sudah terbiasa hidup tanpa cinta karena dia yang membuatku tak bisa lupa atas peristiwa itu. aku saat ini sedang membersihkan kamarku yang sudah berantakan dan

The Culprit

Oleh:
Dunia ini tidak bisa berhenti menangis. Mengapa tangisan itu tak kunjung reda hingga akhirnya kami terpaksa menunggu di sekolah? Ada apa dunia. Mengapa kau menangis tersedu-sedu tanpa henti hingga

Salah Ngasih Bikin Jatuh Hati

Oleh:
Pagi yang cerah memberi mentari sinar yang menyengat. sinar mentari yang membuatmu bersinar di tengah lapangan. tawamu seakan menghusir kesepian yang kurasa. namun kau hanya kutatap dari luar jendela

Senja Di Ujung Penghabisan

Oleh:
Sovi berdiri di trotoar jalan dan menatap sebuah Kafe yang dulu pernah membuat dia sakit hati dan sedih sampai saat ini. Entah apa yang kurang darinya sehingga membuat Frans

If You Know

Oleh:
Rishta Denia Tatapannya nanar, nafasnya terasa berat seketika. Berdiri tegak dengan pelengkap kerapuhan untuk kemudian berusaha ditutupinya. Perlahan, air matanya memanas, tetapi sekuat tenaga ia tahan hingga dadanya terasa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *