Tak Harus Memiliki

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 21 March 2016

Satu yang aku tahu. Aku tak pernah suka tempat ini. Tempat di mana kakiku sedang berpijak saat ini. Entah mengapa kesan buruk selalu terlintas di pikiranku saat aku mendengar kata itu. Tapi apa dayaku? Kini aku harus berdiri di sini, di tempat yang sangat aku benci. Rumah sakit, ya terkadang hanya dengan mendengar namanya saja tubuhku bergidik ngeri. Tempat yang selalu diselimuti bau khas obat dan sibuknya lalu lalang perawat selalu berhasil membuat hatiku berselimut kabut. Kini kabut itu kian pekat hingga membuatku tak sanggup melihat. Tapi apa yang ku bisa? hendak menolak pun aku tak kuasa. Yang ku yakini mungkin inilah jalannya.

Kau tahu bagaimana beratnya langkah kakiku menelusuri koridor ruang sepatu. Koridor yang nantinya akan membawaku ke ruangan tempat kau berada saat ini. Tempat di mana ibumu bilang kau sedang menungguku. Dengan ditemani ibumu dan guru BK kelasku, aku mencoba memaksa kakiku yang enggan sekali melangkah maju. Dingin. Rasanya jemariku menjadi beku. Hanya dengan memikirkan bagaimana keadaanmu tubuhku terasa kaku. Yang aku tahu dari cerita ibumu, kondisimu jauh dari kata baik. Belum ada perkembangan signifikan dari keadaanmu semenjak kecelakaan itu. Meski ibumu tak bilang padaku, tapi rona kesedihan dan gurat kecemasan terlukis jelas di wajahnya. Aku merasa dalam beberapa hari ini ibumu bertambah tua. Keriput yang menggores wajahnya seakan ingin menceritakan beban batin yang kini dideritanya, ditambah lingkaran hitam dan bengkak di bawah matanya membuatnya terlihat jauh lebih tua dari umurnya yang seharusnya.

Jujur, ini kali pertama aku melihat sosok wanita yang begitu kau sayangi tampak kalut seperti ini. Padahal yang aku tahu ibumu wanita kuat berhati lembut. Buktinya ibumu bisa menghidupi dan membesarkanmu sendiri tanpa ayahmu sejak kau kelas 4 di madrasah ibtidaiyahmu dulu. Kau harus tahu, jika bukan karena bujukan dan tatapan pengharapan ibumu mungkin sekarang kau tak akan melihatku ada di tempat ini. Masih terekam jelas di memoriku tatkala hari selasa lalu, dimana Bu Iva guru BK-ku berdiri di ambang pintu kelasku. Saat itu aku tak tahu pasti kapan jamnya, tapi seingatku hari masih pagi bahkan pelajaran jam kedua pun baru dimulai. Bu Iva mengucap salam lalu berjalan mendekati meja guru. Aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Bu Iva pada guru Bahasa Indonesiaku, hanya saja aku melihat Bu Risma, guru Bahasa Indonesiaku mengangguk setuju. Bu Iva maju beberapa langkah lalu mulai mengamati kami satu per satu. Baru setelah beberapa saat Bu Iva berkata, “Lu’lu’ul, bisa ikut ibu ke ruang BK sebentar.”

Kalimat yang singkat memang, tapi sudah cukup membuat hatiku berdebar. Sontak setelah mendengar kalimat itu semua mata langsung menatapku seolah sedang mencari jawaban dari raut wajahku. Aku tahu mereka pasti sedang bertanya-tanya apakah kejadian yang menimpaku, gerangan apa sampai guru BK memanggilku. Jangankan mereka aku pun juga memiliki tanda tanya besar yang sedang menari di otakku menanyakan hal yang sama. Aku beranjak pergi meninggalkan kursi. Ku langkahkan kakiku mendekati pintu. Aku terdiam memikirkan kesalahan apa yang aku perbuat hingga membuatku harus berurusan dengan guru BK sekolahku. Aku putar lagi ingatanku, seingatku aku tak berbuat kesalahan fatal. Apa jangan-jangan tanpa aku sadari ada kata atau perbuatanku yang membuat hati guru di sini tersinggung? Aku belum tahu pasti.

Belum habis keterkejutanku dipanggil Bu Iva menghadap ke ruang BK, aku sudah disambut dengan pemandangan yang membuat hatiku kembali tersentak. Ya, kelasku yang berada di atas memberikanku keleluasaan untuk memandang halaman bawah. Aku melihat ibumu duduk di salah satu kursi di sudut ruang BK. Ingatanku kembali melayang tatkala kemarin teman-temanku sedang hangat-hangatnya membicarakanmu. Membicarakan musibah kecelakaan yang baru menimpamu di hari minggu. Aku sendiri tak tahu pasti bagaimana kejadiannya. Yang aku tahu kecelakaan itu melibatkanmu dengan mobil sedan warna biru.

Memang kemarin aku begitu terkejut hingga aku sendiri bingung harus berkata apa. Aku hanya diam sembari merasakan ada buliran air yang menggenang di mataku siap tumpah saat itu. Parah. Begitu teman-temanku menggambarkan keadaanmu. Aku tak tahu bagaimana definisi parah yang dimaksudkan teman-temanku. Apakah keadaan lemah dengan bersimbah darah, aku kurang mengerti. Tapi dalam bayanganku pasti rumah sakit yang akan menjumpaimu. “Ayo Nak, jangan melamun terus.” Suara Bu Iva memecahkan lamunanku. Aku mulai menuruni anak tangga satu per satu dengan perasaan tak menentu. Hingga sampailah aku di depan pintu ruangaan itu, ruangan yang kini rasanya begitu menakutkan untukku.

Enggan sekali rasanya aku masuk di situ. Tapi bagaimana lagi, aku terlanjur berdiri di depan pintu. Aku akhirnya mengikuti Bu Iva masuk ke ruangan itu. Hatiku bergetar saat mataku beradu pandang dengan mata ibumu. Mata yang biasanya menatapmu hangat kini berubah sendu. Dari yang aku lihat ibumu tampak sangat tertekan. Raut wajahnya yang biasanya tampak riang kini terlihat bimbang. Lama Ibumu menatapku, seakan sedang mencari-cari sesuatu. Ibumu lalu tersenyum kepadaku, senyuman yang ku rasa begitu terpaksa. Aku bingung harus bagaimana, akhirnya aku putuskan membalas dengan senyuman ala kadarnya.

Bu Iva mempersilakanku duduk di samping ibumu. Dengan sedikit ragu aku duduk di situ. Hening. Tiada kata yang terucap saat itu. Sampai-sampai aku bisa dengan jelas mendengar degup jantungku dan suara jam di belakangku. Aku melirik sekilas ke arah ibumu. Ibumu tampak melamun dan menerawang ke alam yang tak bisa aku jangkau. Mungkin ibumu sedang memikirkanmu. Bu Iva menggeser posisi duduknya, dengan lembut Bu Iva menatapku lekat-lekat. Aku merasa begitu kecil dalam tatapan Bu Iva. Aku berpikir lagi sudah pasti ini ada hubungannya denganmu. Bayangan tentangmu terasa memenuhi setiap ruang di otakku. “Nak apa kamu kenal dengan Affat?” tanya Bu Iva sedikit ragu.

Benar bukan, tidak salah lagi. Semua ini ada hubungannya denganmu, aku bisa pahami itu. Tapi apa hubungannya denganku? ini sungguh membingungkan. Aku bingung dan tak mengerti. Apa Bu Iva dan ibumu tahu tentang perasaanku untukmu dan mereka menentangku. Memang apa yang ku lakukan padamu hingga mereka menentangku? Bukankah kita jarang sekali bertemu apalagi berkomunikasi? Aku merasa selama ini aku tak pernah mengganggumu, aku tak pernah berkirim pesan denganmu. Bahkan hanya untuk di dunia maya apalagi di dunia nyata. Lantas mengapa Bu Iva menanyakan hal itu padaku?

Aku tahu meski aku sedikit jahil tapi aku tidak pernah aneh-aneh. Di kelas pasti teman-teman mengenalku sebagai pribadi yang menjaga jarak dengan teman laki-lakiku. Bahkan untuk duduk berdampingan aku akui aku sama sekali tak berani. Saat sekarang aku mulai memiliki perasaan yang berbeda dari seorang perempuan pada laki-laki apa itu salah? Apa Bu Iva sebagai koordinator Guru BK sekaligus guru BK kelasku akan menyalahkanku akan hal ini sampai memanggil ibumu? Apakah salah jika aku punya perasaan untukmu bukankah rasa ini fitrah dari Tuhan untuk manusia? Bukankah ini hal yang wajar? Bermacam pertanyaan itu berkecamuk di otakku.

“Nak apa kamu kenal dengan Affat?” tanya Bu Iva sekali lagi.
“Affat, Muhammad Al Fatih maksud Ibu?”
“Ya, Apa kalian saling mengenal?”
“Ya, kami memang saling mengenal. Kami bergabung pada organisasi yang sama.”
“Apa kamu tahu bagaimana keadaannya?”
“Dari yang saya tahu kondisinya kurang baik Bu.” Jawabku dengan suara lirih.
“Memang tidak baik Nak, Affat sekarang sedang koma.” Mata ibumu terus meneteskan air.

Koma? Apa aku tidak salah dengar. Perlahan namun pasti, sungai kecil terbentuk dari mataku. Aku berusaha menahannya tapi pertahananku pun akhirnya runtuh juga. Kenangan tentangmu berkelebat. Air mataku kian deras mengingat serpihan masa indah yang pernah ku lalui bersamamu. Masih tersimpan apik di otakku saat kita pertama kali berbincang, memang kini sudah beberapa kali bertemu namun baru saat itu kau mulai mengajakku bicara. Tak bisa dipungkiri memang, aku menyukaimu. Menyukai segala tentangmu. Kebiasaanmu, tingkahmu, senyummu aku suka semua itu. Memang jika dilihat dari fisik tak ada yang benar-benar istimewa darimu. Kau tampak sama dengan teman-temanmu lainnya. Berperawakan sedang dan tidak terlalu tinggi. Dihias rambut berponi yang tidak pernah kau sisir dari kiri. Dari yang aku perhatikan kau tidak pernah suka warna kuning, kau pasti akan menghindari semua ornamen yang berbau kuning.

Aku suka memperhatikanmu. Diam-diam mencari informasi tentang kehidupanmu. Mulai dari keluargamu dan orang yang dekat denganmu. Bukankah setahuku kau dekat dengan teman sekelasmu? Emm, kalau tidak salah Hanifa namanya. Gadis cantik yang mahir dalam kesenian dan olah raga. Sungguh kontras denganku yang acapkali mendapat nilai yang kurang memuaskan di kedua mata pelajaran itu. Kembali aku teringat mengapa Bu Iva memanggilku, aku beranikan diri, mengajukan pertanyaan. “Koma, separah itukah keadaannya Bu? saya turut bersedih. Maaf Bu, kalau boleh tahu apa hubungannya dengan saya dipanggil ke sini Bu?” tanyaku hati-hati.

Aku terkejut tiba-tiba ibumu menggenggam tanganku seakan benar-benar tak ingin melepaskannya lagi. Beliau menatapku layaknya seorang ibu yang menatap putrinya sendiri. Aku sendiri pun bingung, ada apa sebenarnya ini? Ibumu memelukku, setelah memelukku lama Ibumu berkata, “Hanifa sudah menceritakan semuanya Nak, tentang perasaan Affat yang belum tersampaikan terhadap gadis yang kini berhasil memenuhi ruang hatinya. Setelah Ibu tanya siapa orangnya dia memberitahukan Ibu sebuah nama, Lu’lu’ul Fauziyah. Itulah yang membawa Ibu pergi ke sini. Kau harus tahu Nak, dokter berkata kondisi Affat sudah terlalu buruk. Sangat tipis harapannya untuk dia kembali pulih.” Ibumu terdiam air mata terus membanjiri pipinya.

“Dokter berkata mungkin ada seseorang yang ditunggunya, bukannya Ibu mau kita cepat kehilangannya tapi Ibu tak ingin dia harus tersiksa oleh rasa sakit yang lama. Ibu memintamu Nak bukan sebagai Ibu temanmu tapi memintamu sebagai Ibu yang ingin semua yang terbaik untuk anaknya, temuilah dia, karena Ibu rasa ini yang terbaik untuk kita.” wajah ibumu memerah, Ibumu menangis aku melihat bahunya berguncang karena menahan isakan.

Allah Ya Rabb, di satu sisi bagaimana mungkin aku menolak permohonan seorang ibu yang tulus untuk anaknya, tapi di sisi lain bagaimana dengan perasaanku yang masih ingin bersamanya? Ya Rabb, diagnosis dokter mungkin salah karena aku tahu dokter hanya manusia yang sangat wajar salah. Tapi bagaimana jika ini memang garis takdir-Mu yang telah kau tetapkan? Ya Rabb akankah secepat ini kau panggil Affat untuk menghadap-Mu?

“Bu mengapa Ibu begitu sedih seperti ini, dokter bukan Tuhan karena itu diagnosisnya bisa juga salah.”
“Karena Ibu tahu dokter bukan Tuhan pemilik kehidupan maka dari itu Ibu masih berharap. Berharap agar Affat kembali menjalani hidup ini. Tapi jika ini sudah kehendak Tuhan dan telah tertulis dalam garis takdir, tentu kita tidak bisa menolaknya. Aluk, sekali pun nanti diagnosis dokter salah dan semoga saja memang salah tetap temuilah Affat, mungkin dia butuh dukungan.” Kata ibumu meyakinkanku, sungguh aku tak mengalihkan pandangan dari matanya.

Aku diam, mencoba berpikir realistis dan tenang. Ya Rabb beri aku hidayah-Mu agar benar langkah yang nantinya aku tuju. Aku tekan semua ego dan perasaanku. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bersikap bodoh dan egois. Jika memang ini yang terbaik untuk kita semua baiklah aku akan menjalaninya.
“Bagaimanapun keputusanmu Nak, semoga langkah terbaik yang kau ambil.” Bu Iva menasihatiku.
“Jika memang ini yang terbaik, baiklah akan saya coba.” Aku tarik napas panjang untuk memantapkan hati.

Bu Iva menyenggol bahuku dan kembalilah kesadaranku, aku terkejut entah berapa lama aku melamun. Mungkin sejak perjalanan menuju Ruang rawatmu.
“Nak ayo segera ambil baju steril dan segera masuk ke ruang UGD, karena kapasitas penjenguk dibatasi maafkan Ibu tidak bisa menemanimu ke dalam, kami akan menunggumu di luar.” Bu Iva menjelaskan.

Aku hanya menurutinya. Setelah menjalani serangkaian prosedur yang ada, aku melangkahkan kaki mendekati ruanganmu. Walau dengan langkah berat dan ragu aku meyakinkan diriku memasuki ruangan itu. Jujur, itu adalah ruangan yang membuat gundah hatiku. Aku mantapkan hatiku, bahkan hanya untuk menggenggam gagang pintu. Gagang itu terasa amat berat dan beku, atau mungkin justru tanganku sendiri yang terlalu dingin. Aku tak terlalu peduli. Hanya kondisimu yang memenuhi setiap sudut pikiranku. Aku berlalu masuk ke dalam. Berdiri memaku dan terdiam. Memandangmu yang terbujur lemah di kasur itu.

Sungguh aku akui, ini kali pertama aku tak suka melihatmu. Bingung. Aku tak tahu harus bagaimana, hanya berdiri mematung memandangmu di ruangan putih yang didominasi benda bernuansa biru. Aku menyesap udara sebanyak aku mampu, sesak dada ini begitu melihatmu. Mengapa kau hanya diam, tak beraksi apa pun ditemani berbagai alat medis yang bahkan namanya aku tak tahu. Di sini begitu hening bahkan sampai aku bisa mendengar bunyi debaran jantungku sendiri. Aku mendekati kursi di samping tempat tidurmu. Aku mencari kata yang tepat untuk memulai berbicara padamu. Meski aku tahu matamu sedang terpejam dan sekarang kau tak bisa melihatku, tapi aku yakin kau masih bisa mendengarku.

“Assalamualiakum, Affat, apa kabarmu? Semoga kebaikanlah yang selalu menyertaimu. Affat walau mungkin sekarang kau tak mampu melihatku, tapi aku harap kau masih bisa merasakan kehadiranku dan masih bisa mendengarkan suaraku. Affat apa kamu tak bosan? Apa masih kurang puas kamu tidur? Affat ayolah bangun apa kamu tak tahu bagaimana Ibumu begitu rindu ingin mendengar suaramu dan melihat senyum di wajahmu. Affat bukan hanya Ibumu, kami semua masih mengharapkanmu kembali. Affat, jujur aku tak suka melihatmu begini, aku tak suka melihatmu seperti ini.” Air mataku menetes seiring tetesan infus yang masuk ke tubuhmu.

“Affat ayolah bangun, kau tahu, sebelum aku ke sini aku sudah menanyai teman-temanku tentang Mesult Ozil tokoh kesukaanmu, kau tahu kata teman-temanku, kemarin Mesult Ozilmu itu mencetak gol kemenangan saat bertanding dengan klub sepak bola lainnya kalau tidak salah dengan Barcelona. Tapi maaf aku lupa menanyakan skor akhirnya. Oh ya Affat kata temanku lusa Ozilmu itu juga akan bertanding lagi. Apa kamu tak ingin melihatnya menggiring bola dan memenangkan pertandingannya.” kataku sambil berusaha menguasai keadaan.

“Affat, ayolah bangun aku ingin melihat bagaimana ekspresimu saat menggebu-gebu menceritakan soal sepak bola itu. Tentang nama-nama si artis lapangan hijau yang sebenarnya sama sekali aku tak tahu. Affat meski aku tak paham alur cerita sepak bolamu itu, aku pasti berusaha menjadi pendengar yang baik untukmu. Aku lebih suka kau bercerita tak jelas tentang ini itu daripada harus melihatmu terbaring di sini. Affat ayolah bangun, yang aku tahu kau begitu menyayangi Ibumu, tapi kenapa sekarang kau biarkan Ibumu menangis seorang diri?”

“Affat yang aku kenal bukan seperti ini. Affat, ayolah bangun ayo hapus air mata ibumu yang telah menggenang sejak beberapa hari yang lalu. Bukankah Affat yang aku kenal tak pernah ingin membuat Ibunya menangis? Affat aku percaya kamu kuat, kamu pasti bisa melewati masa sulit ini. Affat kau tahu teman-teman pun merindukanmu. Kami semua masih di sini menunggumu, Affat kami mengharapkan kebaikan untukmu.” Air mataku akhirnya tumpah juga.

Aku terkejut melihat ada air yang mengalir dari sudut matamu, aku tahu itu artinya kau masih bisa mendengarkanku. “Affat, apa pun hasilnya nanti, aku akan berusaha menerimanya. Affat maaf tapi aku ingin kau tahu bahwa sebenarnya aku menyayangimu. Affat aku tahu keputusan Allah ialah yang terbaik. Aku percaya itu. Affat, jika ini memang yang terbaik untuk kita semua… Insya Allah aku ikhlas.” kataku seraya berlari meninggalkanmu. Setelah aku ke luar dari pintu ruanganmu, aku disambut pelukan ibumu. Aku mendengar ibumu mengucapkan terima kasih dengan lirih, tapi tidak terlampau lirih untukku dengar.

Hari ini aku bangun dengan mata sembab. Bagaimana tidak sejak kemarin setelah Bu Iva meneleponku dan memberitahuku tentang keadaanmu rasanya air mata ini tak mau berhenti mengalir dari mataku. Tapi aku mencoba kuat, mungkin Allah ingin segera bertemu denganmu hingga secepat ini memanggilmu. Ketika aku sudah sampai di sekolah Bu Iva segera mengajakku untuk pergi ke rumahmu. Awalnya aku tak mau, tapi akhirnya ku sadari inilah kesempatan terakhirku untuk melihatmu. Ketika kami sudah sampai di rumahmu entah apa yang ada di pikiranku. Sungguh saat ini aku sendiri tak mengerti. Harus bagaimana aku, rasanya sendi-sendiku tak mau menurutiku. Tubuhku lesu. Rasanya kemelut pikiranku sudah terlalu kacau. Bendera putih di depan rumahmu seakan melambai ke arahku. Ketika ku memasuki pelataran rumahmu, banyak orang berlalu lalang di situ. Samar-samar aku mulai mendengar pecahnya suara tangisan di rumahmu.

Yang ku harapkan kini hanya satu, yang ku lihat ini hanyalah mimpi. Ya aku harap ini hanyalah mimpi. Aku belum siap jika hal ini terjadi. Tapi aku bisa apa? Siap tidak siap inilah jalan hidup yang harus ku jalani. Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri. Bukankah kemarin saat di rumah sakit aku sudah berkata aku mengikhlaskanmu, tapi rasanya berat sekali kata itu. Ikhlas, ya aku memang harus ikhlas. Aku harus ikhlas menerima semua takdir dari Sang Penguasa Jagad raya. Aku menarik napas dalam–dalam seakan ingin ku penuhi paru-paruku yang terasa sesak oleh seluruh oksigen di sekelilingku. Allah ya Rabb… beri hambamu yang rapuh ini kekuatan. Beri hambamu yang lemah ini kesabaran.

Ya Rabb, kuatkanlah tabahkanlah hanya kepadaMulah hamba meminta. Ku langkahkan kakiku maju menyusuri halaman rumahmu. Hingga kini aku sudah berdiri di ambang pintu. Bisa apa aku, jika Allah sudah berkehendak tak mungkin sanggup aku menolak. Betapa rasanya hilang semua tumpuanku. Kakiku bahkan terlalu lemah untuk menopang tubuhku. Aku terduduk tepat di depan tubuhmu yang kini telah terbujur kaku. Aku bingung harus bagaimana. Belum hilang rasanya lemah kakiku saat melihat bendera putih di depan rumahmu, kini aku harus menyaksikan tubuhmu yang telah terbungkus kain putih. Kain putih, kain putih ini yang aku tahu akan menjadi pakaian terakhirmu.

Aku hampir-hampir tak percaya itu dirimu. Wajahmu, wajah yang biasanya ku lihat penuh penuh semangat kini memucat. Raut wajahmu yang biasanya dihiasi senyum hangat, kini tak terlihat. Aku bisa melihat ibumu yang begitu kacau terduduk di sebelahmu. Affat kemarin aku masih melihatmu mengalirkan air mata dari sudut matamu, mengapa kini aku harus melihatmu terbujur kaku dengan kain kaffan yang kini telah membungkus tubuhmu? Mana dirimu yang dulu yang ku lihat satu bulan yang lalu, yang aku lihat begitu gembira bermain bola dengan teman-temannya bagaikan seorang anak kecil yang baru dibelikan mainan oleh ayahnya? Affat secepat inikah kau harus pergi?

Affat aku masih di sini masih menyimpan semua kenangan tentangmu, tentang Mesult Ozil sang artis lapangan hijau yang pernah kau ceritakan padaku. Tentang cita-cita keduamu menyaksikan langsung Mesult Ozil menggiring si kulit bundar bersama ibumu. Affat, maafkan aku yang terdiam oleh bungkam. Maaf karena diamku aku harus merelakan semua rasaku padamu terpendam. Affat denganmu kini aku memahami antara cinta dan rasa ingin memiliki itu tidaklah sama. Affat, sekali pun kau pergi bias kenangan tentangmu tak pernah terganti.

Ibumu menghampiriku, beliau menggenggam tanganku dan memelukku. Aku merasakan ibumu menangis terisak di sisimu. Aku sungguh tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibumu yang harus rela kehilangan dua lelaki yang berarti dalam hidupnya dengan cara yang sama. Affat biarkan aku menangis tapi tak akan meratapi kepergianmu karena aku tahu itu justru akan memberatkanmu. Affat masih ku coba tersenyum saat ini. Meski hatiku teriris dengan keadaan yang miris. Aku tahu ini sakit dan pahit tapi aku coba untuk tidak terlalu menangis. Affat percayalah kau pasti masih punya tempat di hati ini, meski kini kau sudah pergi dan tak di sini. Affat, denganmu aku belajar bahwa cinta tak harus memiliki seperti kisah cinta sahabat Nabi, Salman Al-Farisi. Affat kenanganmu tak akan terlupa meski kini, dunia kita tak lagi sama.

Cerpen Karangan: Nada Nisrina

Cerpen Tak Harus Memiliki merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bahagialah Untukku

Oleh:
Aku seorang pengawai negeri yang bertugas jauh di pedalaman papua, saat ini aku sedang menjalani hubungan jarak jauh (LDR) dengan seorang cowok yang berada di kota pare pare, salah

Tetap Di Dalam Jiwa

Oleh:
2 tahun lebih aku menjalani asmaraku dengan orang yang sangat aku sayangi kita melalui hari-hari yang indah bahkan aku menjadi tempat bersandar di saat dia terpuruk rapuh. Dia begitu

Desperate Like This (Part 2)

Oleh:
Layaknya keajaiban, memilikimu sebagai malaikatku adalah sebuah anugerah. — “Lit, kamu belum tidur?” Ucap Ratna memasuki bilik kamar Lita. Lita hanya menoleh sebentar lalu kembali memandang langit malam. Ia

Diary Abangku

Oleh:
Ini aku tulis untuk menjadi kenangan bagi kalian yang membaca ini karena perjalananku tidak akan panjang lagi, garis akhirku terasa semakin dekat. Aku tidak tahu darimana semuanya ini berawal.

Pergi Yang Tak Pernah Kembali

Oleh:
Hidup bagimu seperti sebuah labirin yang kau harus berjalan di dalamnya, meskipun lelah kau harus tetap berjalan untuk bisa keluar dari labirin itu agar kau dapat bertahan hidup. Tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *