Tak Semestinya (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 10 June 2017

Saat Laila berhasil melahirkan bayinya tanpa sepengetahuan siapapun, Membersihkan tubuhnya dari bercak-bercak darah akibat proses kelahiran. Laila membuang bayinya ke sebuah jalan yang terletak di pinggir sebuah warung makan. Beruntung bayi itu tak sedikitpun mengeluarkan suara. Laila sendiri heran karena saat bayinya lahir ke dunia sama sekali tidak menangis.

Laila adalah gadis yang masih berusia 17 tahun. Tinggal di sebuah rumah mewah, Hanya laila yang tinggal di rumah sebesar itu. Kedua orangtuanya bekerja di luar negeri dan meninggalkannya sendirian. Setiap malam laila hanya terpaku sendirian dan kesepian. Para pembantunya datang setiap pagi dan pulang petang.

“Non, Bangun! Apakah si non sudah bangun toh?” Tanya si mbok. si mbok adalah pembantu rumah tangga yang sudah lama bekerja dengan keluarga laila. si mboklah yang mengurus laila hingga tumbuh dewasa. “Eummzz, Iya mbok. Laila sudah bangun kok”, “Yo wes, Sarapan dulu toh sebelum berangkat ke sekolah” Sekali lagi si mbok mengetuk pintu kamar laila. “Iya, Taruh saja di meja”, “Kenapa toh selalu saja taruh di meja? Yo si non bukalah pintunya. Sudah sebulan ini si non tidak keluar kamar. Lalu menaruh meja ini di dekat pintu dan suruh si mbok menaruh makanannya di sini. Ono opo toh ndo?” Tanya si mbok sembari keheranan. “Sudahlah mbo, Turuti saja apa yang aku suruh. Kenapa si mbok jadi ikut campur urusanku” Jawab laila kesal.

Tiga bulan terakhir, Sikap laila menjadi berubah setelah ia tahu bahwa dirinya tengah mengandung. Laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab terhadapnya. Laila harus menanggung kesalahannya sendiri. Melahirkan bayi yang tak seharusnya terlahir. Bayi yang tak pernah diinginkannya. Bayi yang seharusnya adalah buah hati yang memberinya kebahagiaan namun semuanya mengubah pikiran laila, Menurutnya bayi itulah pembawa sial untuknya. Merelakan masa depannya, Sekolah dan kehidupannya.

“Arggghhhhhh, Sial. Perut aku makin besar aja. Gimana coba? Aborsi! Mungkin itu yang baik buat aku. Aku gak bisa selamanya nyembunyiin ini. 4 bulan, Apa bisa aku ngelakuin ini? Sigit brengsek, aku kaya gini karena dia dan dia malah asyik-asyikan di luar sana. Aku bales kamu nanti”

“Non, si mbok ada kabar baik buat si non”, “Ada apa mbo? Laila sedang tidak ingin dengar apapun. Sebaiknya si mbok cepat pulang. Bukankah anak si mbok sedang sakit. Laila tidak ingin diganggu mbo” Ucapnya, “Tapi non, si mbok mau bilang kalau minggu depan mama dan papa non akan pulang”. “Apa? Kenapa mereka pulang tiba-tiba? Setelah dua tahun pergi lalu mereka akan kembali. Apa mereka baru ingat sama laila mbo?” Tanyanya, “Mereka mengkhawatirkan si non dan..”, “Arghh sudahlah si mbok sebaikanya cepat pulang”, “Tap,” Sebelum si mbok melanjutkan perkataannya, laila melemparkan barang ke arah pintu hingga membuat suara hantaman keras. si mbok terkejut dan berpamit pulang. “Ya sudah, si mbok pulang dulu. si non jaga diri baik-baik di rumah. Di bawah ada parmin yang menjaga”, “iya iya, Sudah pergi sana”.

“Bagaimana bisa mereka pulang dengan keadaan aku yang seperti ini! Aku harus cepat-cepat menggugurkan kandungan ini, Tapi ini bayiku. Aku tidak mungkin, Sudahlah laila, Tak ada yang peduli denganmu dan juga bayi ini”

Laila mengendap-endap turun ke bawah seperti perampok yang siap menerkam mangsanya. Tangga demi tangga ia selusuri dengan kaki mungilnya. Di rumahnya sendiri laila seperti orang asing yang takut ketahuan penghuni rumah. Di bawah sana ada parmin si penjaga rumah saat malam tiba. Berbekal tas laila sembunyikan perutnya yang mulai membesar. “Non, Non mau ke mana?” Tanya parmin seraya menepak bahu laila. “Ahh i, itu kakakamu ngangetin aja! Aku mau pergi dulu, Jaga rumah baik-baik”, “Tapi non ini sudah malam”, “Sudahlah, Jangan banyak bicara. Diam dan aku akan tetap pergi” Lalu laila pergi dengan mengendarai mobil pribadinya. Di tengah jalan laila melihat seseorang yang tak asing lagi baginya. “Itu, itukan sigit. Si brengsek itu, pasti dia sedang mabuk lagi. Aku habisi kamu sigit” Laila melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hendak menabrak sigit yang sedang berjalan dengan langkah gontai. “Chiiiitttttt” Bunyi derit rem mobil terdengar dengan jelas. Sigit tergeletak bersimbah darah. Lalu laila meninggalkannya begitu saja.

Setelah berhasil menabrak sigit, Laila pergi ke sebuah dukun beranak. “Baiklah, aku akan berusaha menggugurkan kandungannya. Tapi usia kandungannya sudah 4 bulan dan aku tidak yakin akan berhasil. Jika ini gagal, aku tidak mau bertanggung jawab dan kamu juga masih muda, Anak jaman sekarang hobinya seperti ini” Kata dukun itu “Diamlah, Aku akan bayar berapapun. Lakukanlah, Aku sudah siap dengan resikonya. Walau nyawa taruhannya, yang penting aku sudah membalaskan perbuatannya” Kata laila tersenyum sinis. “Baiklah, Minum ini. Ini jamu yang akan membuat kamu kuat”, “Aaaaaa, Jamu apa ini? Rasanya pahit, Aku tidak suka”, “Jangan banyak bicara, Minum saja jika kamu ingin cepat-cepat” Kata dukun itu lagi. Setelah meminum jamu itu, Laila merasakan sakit di bagian perutnya. “Hahahahaha, Rasakan itu. Anak jaman sekarang, tidak mau bersyukur. Jamu itu adalah balasan untuk perbuatanmu. Aku tidak butuh uangmu, Aku hanya ingin melihat kamu menyesal” Tawa dukun itu menggema bersamaan dengan rasa sakit yang dirasakan laila. Laila lari bergegas masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya dengan sakit yang ia rasakan. Sesampainya di rumah, Laila merebahkan tubuhnya diatas kasur menahan sakit. Tubuhnya terguncang dan ia menggigil ketakutan. Rupanya jamu itu memberikan efek cemas dan gelisah.

Sejak kejadian itu, Laila menjadi sangat murung dan menyembunyikan tubuhnya di balik pintu kamarnya. Laila enggan berbicara pada siapapun dan memutuskan berhenti bersekolah.

“Bu, Sejak kematian ayah seminggu yang lalu. Ibu selalu diam saja. Bicaralah bu” Kata irwan pada ibunya. “Irwan, ibu sangat mencintai ayahmu walaupun dia selalu menyakiti hati ibu. Bermain perempuan, berj*di dan mabuk-mabukkan. Ibu mencintainya, ibu tidak akan memaafkan orang yang telah menabrak ayahmu dan juga perempuan-perempuan itu”, “Sudahlah bu, Irwan muak mendengar kata itu lagi. Ayah itu bukan ayah yang baik. Irwan benci ayah. Irwan sudah dewasa bu, Sekarang irwan sudah 17 tahun. Lihat irwan bu, Ibu selalu memperhatikan ayah daripada irwan. Bahkan mungkin ayah di neraka sekalipun ibu akan menyusulnya” Kata irwan memarahi ibunya. “Plaaakkk” Tamparan mendarat di pipu irwan, Irwan pergi membawa kekesalannya.

Keesokan paginya, Irwan membantu ibunya membereskan warung makan milik mereka. Setiap hari sebelum berangkat sekolah. Irwan melupakan kejadian tadi malam dan membiarkan ibunya diam tak bicara. Irwan tahu ibunya sangat mencintai ayahnya daripada irwan sendiri, irwan kini tak peduli lagi.

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Tak Semestinya (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Liliput (Part 3)

Oleh:
Morning world.. seneng deh, satu persatu kebaikan Lili mulai kelihatan. Usahaku ngerubah dia selama ini rupanya nggak sia-sia. “Senyum-senyum neng? Udah mulai naksir nih sama musuh bebuyutan?” sindir Alvin

Sebuah Cinta

Oleh:
Namaku Assyifa. Hidup bagiku adalah sebuah bahagia. Itu bukan karena aku seorang putri, melainkan aku memiliki cinta. Cinta yang menjelma dalam sosok Alif, seorang yang menemaniku beberapa tahun ini.

Mawar Merah Ternoda

Oleh:
Kamar kosong dengan laptop menyala lagu padi -kasih tak sampai ku biarkan mengiringi kepedihan hatiku, entah apa yang ku rasakan kini, entah apa yang ku gores dengan penah di

Cinta Tak Bicara

Oleh:
Jam kuliah akhirnya selesai juga, saatnya untuk Pram tancap gas motornya dan segera pulang. Namun ketika ban motornya lewat depan gerbang kampus dia melihat seorang gadis cantik dengan jilbab

Terima Kasih Karel

Oleh:
“Luna udah jadian sama Karel, Nes!” Berulangkali kata-kata itu terus terngiang dalam otakku. Aku masih belum bisa mencerna sepenuhnya kata-kata itu. Semuanya terjadi begitu indah, tiba-tiba saja semua itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *