Tak Semestinya (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 10 June 2017

Seminggu sudah berlalu, Laila memberanikan diri membuka pintu kamarnya. Kedua orangtuanya akan tiba satu jam lagi. Laila sangat bahagia namun juga sedih. “Ini tidak terlihat, Sebaiknya aku memakai baju ini”, “Wah si non cantik sekali” Puji si mbok, “Tapi kok, si non sepertinya gendutan. si mbok pikir si non sakit dan sedang diet karena makanan di meja selalu masih terlihat utuh” Kata si mbok, “Sudahlah mbok, Jangan bicara terus. Laila pusing!”, “Ah si non sedang sakit? Pantas saja wajah si non pucat”, “Pergi, Pergi dari kamarku mbok. Cepat” Laila terlihat marah dan membanting pintu kamarnya. Sepertinya laila terganggu oleh perkataan si mbok yang memecahkan kepercayaan dirinya.

Sejam berlalu, bukan kabar bahagia yang laila dapat. Tapi duka yang amat perih. Cobaan yang telah menimpanya saat ini sangat membuat laila terpukul. Bukan ini yang laila inginkan, laila memang tak mau mama dan papanya tahu keadaan putrinya. Putri yang selama ini merindukan kasih sayang kedua orangtuanya. Putri yang menantikan pelukan mereka. Kini semuanya telah berakhir. Pesawat yang ditumpangi kedua orangtua laila mengalami kecelakaan, Jatuh di antara pegunungan. Jasad mereka ditemukan tak bernyawa. Hanya jasad yang sudah tiada yang dapat laila pandangi. Wajah yang selalu dirindukannya.

Setelah kematian kedua orangtuanya, laila memutuskan untuk memberhentikan si mbok dari pekerjaannya. Laila juga berniat melahirkan bayinya namun tidak untuk membesarkannya. Kini laila tak perlu lagi sembunyi, Laila ingin hidup sebagaimana yang lain tanpa satupun orang yang menemaninya. Laila pikul beban itu sendiri. Meskipun si mbok menolak dan rela tidak dibayar, Tapi laila bersikeras melawannya dan akhirnya si mbok harus pergi dari rumah itu. si mbok tidak pernah benar-benar pergi. si mbok selalu memperhatikan laila dari jauh.

Si mbok selalu mengikuti ke mana laila pergi. Berbekal keberanian dan ketulusan. Bagi si mbok, Laila sudah seperti anaknya sendiri. si mbok mengerti dan mengetahui apapun yang terjadi pada laila. Hingga pada saat laila melahirkan bayinya. Dengan bermodal seadanya, Laila mengeluarkan seluruh keringatnya. Demi bertahan hidup.

Enam tahun kemudian…
“Mas, Mas…” Rani terbangun dari mimpinya. “Mas, irwan sudah besar dan juga sudah mulai bekerja. Hari ini aku akan mengantar sasi bersekolah” Kata rani sambil memandang foto almarhum suaminya.

“Sasi, cepat nak”, “Iiii aa” Sasi sudah berumur 6tahun dan ini hari pertama ia masuk ke sekolah dasar. Saat sampai di depan pintu pagar sekolah. “Aduh, Maafkan saya bu. Saya tadi sedang melamun dan tidak memperhatikan jalan” Katanya, “Oh iya tidak apa-apa. Ibu siapa ya?” Tanya rani “Saya laila, Guru kelas 1 di sekolah ini”, “Oh kebetulan, Saya boleh menitipkan anak saya sama ibu laila. Dia baru saja masuk ke sekolah ini dan…”, “Oh tentu, Saya akan menjaga anak ibu dengan baik” Katanya, “Terimakasih bu laila, Sasi cepat berterimakasih pada ibu”, “Te ima tatih u” Kata sasi, “Maaf bu, Anak saya memang punya kelainan. Dia tidak bisa berbicara normal, Sejak bayi dia sudah seperti ini. Dia tidak pernah menangis dan bersuara, Saya lalu membawanya ke dokter dan dokter bilang kemungkinan sasi bisu. Tapi syukurlah sasi masih bisa berbicara meskipun tidak normal” Jelas rani, laila teringat akan bayinya dulu. Tapi tidak mungkin kalau sasi adalah anaknya meskipun mereka seumuran karena menurut laila bayinya mungkin telah tiada. “Ah, Iya bu. Tak apa, Ayo sasi ikut dengan ibu. Mari bu, Oh iya siapa nama ibu?” Tanya laila “Rani, Nama saya rani”. “Rani?” Laila seakan teringat sesuat. “Apa? Kamu hamil? Itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin menikahimu laila, Atau mungkin saja itu bukan anakku”, “Tega sekali kau sigit, Aku hanya melakukan itu denganmu. Meskipun perbedaan umur di antara kita cukup jauh tapi aku mencintaimu. Kamu sosok yang selalu kurindukan, Kau pengganti papa bagiku” Kata laila, “Aku mempunyai seorang istri dan juga anak laila, Rani tidak akan suka dengan ini. Gugurkan saja kandunganmu” Sepintas masa lalu itu menghampiri benak laila. “Bu, Kenapa ibu melamun?” Tanya rani, “Berapa umur ibu sekarang?” laila berbalik bertanya, “40 tahun, Memangnya kenapa?”, “Ah tidak”.

Setelah berhasil mendapatkan studynya kembali, Laila memutuskan untuk menjadi seorang guru di sebuah sekolah dasar Negeri 2 Rengasdengklok. Satu tahun laila mengajar di sana, Melupakan segala kenangan dan kehidupannya yang kelam.

Saat pulang sekolah…
Seorang pria menunggu di depan gerbang. Menantikan seorang anak kecil yang menyapanya. “A. Ba”, “Sasi, Hey adikku yang manis sudah selesai belajarnya”, “Kau siapa?” Tanya laila “Aku irwan, Abangnya sasi. Kau siapa?”, “Oh kau anaknya ibu rani! Aku laila, Gurunya sasi sekaligus orang yang akan menjaga sasi di sini”, “Oh betulkah? Terimakasih ibu guru yang cantik”. Kata irwan. “Sudahlah cepet pulang sana”.

Hari demi hari berlalu, Setiap hari mereka bertemu. Laila dan irwan terlihat seperti sedang jatuh cinta. Mereka dilanda api asmara. Hubungan mereka semakin dekat. Rani menyetujui hubungan mereka.

Satu tahun berlalu…
“Ah, Sasi sudah besar sekarang. Ibu tidak bisa lagi mengajari sasi. Tapi tenanglah, ibu akan terus menjaga sasi. Meskipun sasi sudah naik kelas, harus belajar dengan rajin ya nak”, “I a u gulu, a si sayan u gulu”.

“Laila, Aku sangat mencintai kamu. Satu tahun kita telah bersama, Aku ingin mengatakan sesuatu”, “Apa itu irwan?” Tanya laila, “Aku tidak ingin kehilangan kamu. Maukah kau menikah denganku?”, “Sungguh? Aku juga mencintai kamu. Apapun itu, aku mau”. Akhirnya laila dan irwan akan melangsungkan pernikahan bulan mendatang.

Satu bulan kemudian..
Pernikahan berlangsung di gedung mahkota. Semua tamu sudah datang kecuali rani, Saat akan berlangsungnya akad. Rani datang membawa pisau dan tanah. “Diam semuanya, Biar kalian saksikan ini”, “Ibu maksud ibu apa?” Tanya irwan ketakutan. “Diam irwan, perempuan ini menjijikkan. Dia tak pantas untukmu. Dia perempuan kotor, Kau pantas menerima ini” Rani menancapkan pisaunya tepat di jantung laila. “A a apa maksudmu?” Tanya laila yang telah tergeletak bersimbah darah. “Aku sudah tahu semuanya, Kau hanya akan menjebak anakku. Kau gila”, “Ibu, apa yang ibu lakukan. Ibu hanya akan membunuh laila”, “Diam irwan, Kau tidak tahu, Perempuan ini adalah selingkuhan ayahmu dulu. Dia pula yang telah membunuh ayahmu. Perempuan tidak tahu malu. Belum cukup kau hancurkan aku lalu kau hancurkan anakku. Lihat anak itu, Anak cacat itu. Semua karma dari tuhan, Tidak sudi aku membesarkan anak haram. Anak hasil hubungan gelap kau dengan suamiku. Kau buang dia! Atas dasar apa? Berdosakah dia padamu, Itu kesalahanmu karena tak punya harga diri. Aku yang harus menanggung semuanya. Biar kau lihat ini” Rani juga menancapkan pisau di jantung sasi. “Ini yang kau mau, Kematiannya laila. Ini sebabnya kau buang dia di pinggir warung makanku. Cobaan apa yang tuhan berikan padaku?”.

Semua orang di sana hanya terpaku. si mbok datang dan merangkul laila, “Non, Sadarlah. Semua ini salah si mbok. Andaikan saja si mbok berhati-hati bicara. Non tidak akan seperti ini”, “Sim..” Laila menghembuskan nafas terakhirnya begitupun juga sasi. Mereka berdua telah menjemput ajalnya. Irwan mengambil pisau yang berada di tubuh sasi lalu menancapkan pisau itu ke jantung ibunya. “Irwan, Apa yang kau lakukan?”. Tanya rani, “Menjadi seorang pembunuh sepertimu. Mengapa kau lakukan ini kepadaku? Karena cinta kau menjadi buta. Kini aku sama sepertimu. Aku mencintai laila daripada kamu, Aku mencintai ia apa adanya. Laki-laki yang kau cintai, Dia lebih busuk dari apapun di dunia ini. Meninggalkan derita untuk kau dan juga laila, Kau hanya memikirkan perasaanmu dan dia hanya laki-laki pengecut. Kalian memang serasi. Kau tahu, Menikah dengannya adalah impianku. Lagi-lagi kau menghancurkannya bu. Bahkan aku tak lagi melihat dirimu sebagai seorang ibu. Kau pikir kau yang membesarkan sasi? Aku yang merawatnya selama ini. Kau hanya bersikap baik padanya saat ada aku. Aku memimpikan hidup tanpa dirimu”. Kata irwan, Rani menangis tanpa bersuara. “Sudah irwan, Semua sudah terjadi. si mbok pun menyesal, Tapi semua ini salah. Laila berjuang hidup, Itu yang dilakukannya. Dia tega membuang bayinya agar dapat diterima di lingkungannya. Begitu sudah mendapatkan itu, Ia kembali mencari anaknya. Tapi kalian sudah tak lagi berjualan. Kau juga salah nak, Walau bagaimanapun ia adalah ibumu. Dia yang telah melahirkanmu. Menerima kesakitan dan penderitaan. Kau harus membahagiakannya untuk mendapatkan surgamu”. si mbok akhirnya berbicara dan irwan menangis sambil merangkul ibunya. Namun kini ibunya telah tiada. Menyesal takkan pernah mengubah sesuatu.

The End

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Tak Semestinya (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Separuh Coklat Hati

Oleh:
Aku terlelap dalam mimpi indah ku yang mampu membawa ku dalam ketenangan. Entah sampai kapan laki-laki separuh baya ini masih menemani di sampingku. Setelah aku sadar kehadiran laki-laki ini

Entah

Oleh:
Isak tangis mewarnai pemakaman siang itu. Di samping kuburan baru itu, berdiri seorang pria tanpa isak tangis yang mempengaruhinya. Saat semua orang berlalu dari hadapannya tinggalah dia seorang diri.

Dear Friend, Forgive Me (Part 2)

Oleh:
Suasana sore hari yang indah. Di kota, sedang ada karnaval yang ramai dipadati orang-orang. Doni dan Luna berjalan jalan dengan bahagia di sana. Melihat-lihat kemeriahan dan euforia yang menghangatkan

Pergilah Kasih

Oleh:
Siang ini terasa begitu redup bagiku, meskipun ku tau matahari telah sepenuh hati menyinari dunia ini… Tapi, aku harus rela cahayaku terhalang oleh ribuan pertanyaan di benakku… Mengapa dia

Senja Terakhir

Oleh:
Di sini. Di tempat ini kisah pedih itu berakhir. Tak banyak yang berubah. Masih sama seperti empat tahun lalu. Saat dia memutuskan hubungan di antara kami. Ya, hari itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *