Tak Terjelaskan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 5 September 2017

Ernita duduk dan menatap jendela-jendela kaca kelas. Ia selalu melakukan hal itu, karena biasanya Rudi muncul melewati kelas dan terlihat di kaca jendela, karena kelas mereka bersebelahan. Namun, tujuh hari sudah Ernita tak melihat Rudi. Setelah kejadian itu, Ernita tak pernah lagi melihat Rudi. Terlihat jelas kecemasan di raut wajahnya. Dia hanya bisa mengeluh dalam hatinya “ke mana dia? Kenapa dia tidak masuk-masuk kuliah? Ada apa dengan dia?”. Itu yang selalu ia gumamkan dalam hatinya.

Diam-diam ia menanyakan mengenai keberadaan Rudi kepada teman mahasisiwi sekelas Rudi. Namun tak ada satu pun yang mengetahui keberadaan pria itu. Ia pun merasa cemas, karena tak biasanya Rudi tidak masuk kuliah sampai selama ini.
Dihari selanjutnya Ernita memberanikan diri bertanya kepada teman mahasiswa, yaitu Imam. Imam merupakan mahasiswa yang selalu bersama Rudi ketika di kampus. Ya, setidaknya itu yang Ernita selalu lihat.

“Kak, Imam?”. Ernita memanggil Imam.
“Iya, ada apa?”
“Saya Ernita”
“Iya, saya tahu. Ada apa, ya?”.
“Hmm… Ada waktu, kak. Sebentar aja?”. Ernita terlihat memohon. Imam menghela nafas
“Iya ada. Sebaiknya kita duduk di sana?”. Lalu mereka pun duduk di sebuah kursi yang panjang yang terbuat dari tembok dengan alas keramik yang menempel pada dinding kelas.
“kak?”
“Iya”
“Kakak kenal dekat dengan kak Rudi, kan?”
“Iya. Kenapa?”.
“Hmmm… kakak tahu dia kemana? Maksudku, emm…”. Ernita terbata “Maksudku, kenapa dia sudah hampir dua minggu tidak masuk kuliah?”.
“Wah, kalau masalah itu, kakak juga kurang tahu. Meskipun kakak dekat dengan dia, tapi kalau mengenai kenapa kak Rudi tidak penah masuk akhir-akhir ini, kakak juga enggak tahu. Soalnya dia orangnya tertutup. Kenapa emang, Er?”.
“Nggak kenapa-napa kok, kak. Ernita cuma nanya aja”.
“Oh. Gimana kalau kamu datang ke rumahnya saja?”.
“Emang kakak tahu di mana rumahnya?”.
“Iya. Kaka pernah main sekali ke rumahnya. Tapi…”.
“Tapi apa, kak?”. Ernita penasaran
“Kakak nggak bisa nganter, ya?”.
“Iya. Nggak apa-apa kok, kak”.
“Sebentar aku tulis dulu alamat rumahnya”.
“Iya, kak”. Imam mengambil pulpen di sakunya, lalu mengambil sobekan kertas di bukunya.
Saat yang bersamaan Yuda pacar Ernita datang menghampiri mereka berdua dengan keadaan terengah-engah
“Hei. Aku cari kamu ke mana-mana, di sini rupanya”. Ernita hanya tersenyum lemah namun tetap manis
“Hei, Mam?”
“Hei, yud!”. Yuda dan Imam saling menyapa.
“Er, ayo kita pulang?”

Kemudian Imam memberikan secarik kertas yang telah dituliskan alamat yang diminta oleh Ernita tadi.
“Makasih ya, kak?”. Imam hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Duluan, Mam”. Yuda dan Ernita pun pergi. Imam mempehatikan mereka dari belakang bersama kerumunan mahasiswa-masiswi lain dan ia pun pergi.

Keesokan harinya. Setelah jam kuliah selesai, Ernita langsung meluncur menuju rumah Rudi yang ia sendiri pun tidak tahu. Yang ia tahu hanya secarik kertas yang ia terima dari Imam kemarin, kertas itu ia genggam.
Sementara Yuda kebingungan mendapati Ernita tidak ada di kelasnya.
“Sandra!”. Yuda memanggil Sandra teman sekelas Ernita.
“Iya, kak”
“kamu lihat Ernita?”
“Lihat, kak. Tadi dia di sini. Kenapa?”
“Nggak. Aku cari dia dari tadi nggak ketemu-temu. Di mana, ya?”
“Hmm, coba tanya Kiki. Aku tadi lihat dia sama Kiki”.
“Oh, ya. Makasih”
“Iya, kak. Sama-sama”
Yuda bergegas mencari Kiki. Kiki juga adalah teman sekelas Ernita.
“Ki!”. Yuda memanggil Kiki sambil berlari karena Kiki sudah berada di gerbang fakultas.
“Iya, kak. Ada apa?”
“Ernita mana?”. Yuda berbicara sambil terengah-engah
“Tadi si emang sama aku. Tapi dia bilang mau pergi duluan, kak”
“Kamu tahu ke mana?”. Yuda penasaran
“Nggak, kak. Tapi aku lihat tadi, dia sangat tergesa-gesa dan buru-buru”
“Oh gitu”
“Kenapa emang, kak?”
“Nggak. Makasih ya, Ki”.
“Sama-sama. Aku duluan ya, kak?”
“Iya”.
Karena Yuda merasa bingung dan kampus pun sudah mulai sepi, Yuda pun pergi dengan perasan aneh dan penuh dengan tanda Tanya dalam hatinya.

“Masih jauh nggak, bang?”. Ernita bertanya pada sopir angkot yang ia tumpangi.
“Bentar lagi, neng. Tuh di depan tempatnya”
“Ya udah di sini aja, bang”.

Ernita pun turun dari angkot setelah membayar ongkos kepada sopir sambil memperhatikan alamat rumah yang ia pegang. Ia berhenti tepat di sebuah jalan pertigaan dan jejeran rumah-rumah. Di sana ia melihat pangkalan ojek dan sebuah masjid yang cukup besar.

“Nyari siapa teh?”. Sapa tukang ojek
“Iya ni, bang. Aku lagi nyari alamat teman. Abang-abang kenal nggak?”
“Emang siapa yang neng cari?”
“Namanya Rudi. Dia temen kuliah aku, bang. Menurut alamat di kertas ini, alamatnya di sini”
“Coba abang lihat alamatnya”. Ernita menyerahkan secarik kertas yang Ia genggam sedari kampus.
“Euh, ini si rumahnya Rudi”
“Abang kenal?. Ernita merasa senang mendengar perkataan tukang ojek. Tampak kegundahan dalam hatinya sedikit terhibur pada saat itu
Setelah bercakap-cakap dengan tukang ojek, akhirnya Ernita pun langsung melangkahkan kakinya menuju rumah lelaki yang ia cari-cari, yaitu Rudi. Yang ternyata tidak jauh dari pangkalan ojek tadi.

Sambil terengah-engah ia berjalan dan sampailah ia di sebuah rumah. Ia memperhatikan satu pohon rambutan dan dua pohon palem kecil namun cukup tinggi yang tumbuh di depan rumah tersebut, ia pun berdiri di depan pintu
“Assalamualaikum”. Ernita mengucapkan salam dengan sopan
“Waalaikum salam”. Terdengar lembut suara di dalam rumah yang menjawab salam.
“Krek”. Tak lama pintu pun terbuka. Lalu munculah seorang wanita kira-kira berumur empat puluhan, terlihat beberapa uban di kepalanya
“Sore, bu!”. Ernita menyapa
“Sore juga”. Ibu tersebut membalas dengan ramah. “Maaf siapa, ya?”
“Saya Ernita, bu. Rudinya ada di rumah?”
“Rudi?”. Ibu tersebut kaget “Di sini nggak ada keluarga kami yang namanya Rudi, nak”
“Maaf, bu. Ini bukannya rumah teman saya, Rudi?”
“Maksudnya?”
“Iya, bu. Menurut alamat di kertas, ini rumanhnya Rudi. Dan menurut tukang ojek di depan juga seperti itu”
“Hmm, sebentar ibu panggil bapak dulu, ya? Mungkin dia tahu. Mari masuk, nak?”
“Iya, bu. Makasih. Saya di luar saja”
“Pak!”. Ibu itu memanggil suaminya sambil berjalan ke dalam. Sementara Ernita menunggu di luar sendiri sambil memperhatikan pohon rambutan yang tidak berbuah.

Tak lama ibu tadi muncul kembali
“De, Ernita?”
“Iya, bu”
“Jadi gini. Memang dulu rumah ini dimiliki atas nama Rahman, ayahnya Rudi. Tapi,”.
“Tapi apa, bu?”. Ernita memotong pembicaraan
“Tapi baru saja minggu kemarin kami membelinya dari pak Rahman”
“Jadi?”. Ernita penasaran
“Ya, jadi sekarang ini rumah kami”
“Ibu tahu di mana sekarang mereka tinggal?”
“Maaf ya, nak. Sepertinya Cuma itu yang ibu tahu”. Ernita hanya termangu mendengar kata-kata ibu tadi. Ia terlihat seperti memikirkan sesuatu, tapi apa yang ia pikirkan? Entahlah.
“Nak?”. Si ibu menyapa Ernita yang terlihat melamun. Sambil mengedipkan kedua mata dan menggelengkan kepalanya Ernita kaget
“Iya, bu”
“Ada apa?”
“Oh, nggak. Makasih. Maaf sudah menggaggu waktunya”

Ernita pun pergi dari rumah tersebut setelah terlebih dahulu berpamitan. Ia melangkah melewati gang-gang kecil yang dihimpit oleh rumah-rumah yang saling berhadapan. Saat ia serius berjalan, seseorang memanggilnya
“Hei, nona?”. Seorang pria memanggilnya. Entah itu sapaan atau godaan ia pun menghiraukan dan terus saja jalan. Namun,
“Apa kau mencari seseorang bernama Rudi?”. Mendengar pria tersebut mengucapakan nama seseorang yang ia cari, langkahnya pun terhenti lalu ia pun mengarahkan pandangannya pada pria tersebut
“Bagaimana kau tahu aku mencarinya?”
“Anda tidak perlu tahu bagaimana aku bisa mengetahuinya. Apakah saya benar?”.
“Ya. Apa yang kau ketahui mengenai dia?”. Ernita berbalik Tanya
“Apa kau menyukainya?”. Pria tersebut berbalik Tanya lagi. Sementara Ernita hanya diam.
“Jika anda memang benar menyukainya, tunggu dia. Karena dia layak untuk ditunggu”. Kemudian Ernita pun pergi tak berkata apa-apa.

Cerpen Karangan: Anharudini
Blog / Facebook: thebookanhar.wordpress.com / www.facebook.com/anhar.rudini

Cerpen Tak Terjelaskan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Sorry

Oleh:
Dia hanyalah seorang insan biasa yang berusaha mengejar cintanya. Namun salahkah bila dia mencintai seorang gadis sepertiku? Aku tak tahu jika dia sangat mencintaiku dengan penuh kasih sayang dan

Anakku Bukan Anakku (Part 2)

Oleh:
Akhirnya Will membawa Wina sendiri ke rumah sakit. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan akhirnya check up pun selesai. Will kemudian menghadap ke dokter membawa hasil pemeriksaan untuk mendapat penjelasan dari

Akhir Musim Gugur

Oleh:
“Tunggu kedatanganku empat tahun kemudian yah” Kalimat itulah yang membuatku tetap disini, entah semuanya nyata atau tidak nantinya tapi aku selalu percaya itu. mungkin memang tak seindah saat janji

At Least I Once Fought

Oleh:
Air berkejaran jatuh menghantam tanah dan dedaunan. Mengalir rapi di setiap sudut jalanan. Telingaku sedikit berdengung merdu ketika sekumpulan katak bernyanyi riang. Tapakku berlari cepat membekas di atas air

The Fault Number X

Oleh:
Senja baru saja datang. Gumpalan-gumpalan awan gelap yang tadi sibuk menutupi langit kotaku, perlahan-lahan mengundurkan diri, seolah mempersilahkan sang senja untuk memperlihatkan wujudnya. Aku menatap bola bulat yang tinggal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *