Tak Terjelaskan (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 5 September 2017

Tujuh tahun kemudian. Seorang wanita sedang memilah-milah buku di rak buku, Ia sedang berada di sebuah gedung pusat perbelanjaan ternama di kota Bogor. Ia tampak serius melihat judul-judul buku yang terlihat dari sampulnya. Dan ia tak sendiri, tampak ada seorang anak kecil kira-kira berumur empat tahunan yang ia tuntun setiap saat. Anak tersebut tampak akrab dan mirip sekali dengan dia. Siapakah dia? Entahlah.

“Rudi?”. Seorang editor dari sebuah perusahaan percetakan memanggil Rudi.
“Iya, pak Adi”. Rudi membalas
“Sepertinya tulisan-tulisan anda sudah mulai banyak peminatnya.”
“Saya rasa juga begitu, pak ”
“Gimana perasaanya?”
“Lumayan panjang penantian saya, pak. Setelah hampir lima tahun akhirnya, huh”. Rudi menghela nafas.
“Selamat, ya?”
“Terimakasih, pak”.
“Hoam,”. Rudi tampak ngantuk setelah ia menulis novel yang belum ia selesaikan malam itu. Ia memiliki ambisi dalam dalam novel tersebut, karena ia menganggap, bahwa novel yang ia sedang tulis sangat berbeda dengan novel-novel ataupun cerpen yang ia tulis sebelumnya. Meski ia belum menjadi penulis populer, tapi buku-buku yang ia karang mulai diminati banyak pembaca terutama anak-anak remaja tidak terkecuali mahasiswi-mahasiswi terutama perempuan. Ia pun terlelap tidur di kursi yang ia duduki dengan sebuah laptop yang masih menyala di depannya.

Tak terasa hari sudah pagi, ayam di luar sudah terdengar berkokok. Tak seperti biasa, saat itu Rudi bangun pagi sekali. Biasanya ia bangun pukul Sembilan pagi, itu pun sudah terlalu pagi bagi dia. Tapi pagi itu ia melihat jam di dinding pukul lima tiga puluh. Karena merasa tanggung karena sudah terbangun, ia pun langsung pergi ke halaman luar. Terasa udara yang begitu sejuk yang menerpa tubuhnya yang hangat, bagai terbangun di sebuah savana yang luas, pagi itu ia merasakan ketenangan yang begitu murni dan segar yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah melakukan lari-lari kecil serta jogging di sekitar halaman rumahnya, ia pun mandi karena merasa gerah dan berkeringat.

Tak terasa ia pun telah rapih dengan dengan kemeja berwarna cokelat yang tidak ia kancingkan, serta di dalamnya ia pakai kaos polos berwarna putih dan jeans yang berwarna biru, ia memikirkan sesuatu.
“Sepertinya kalau hari ini aku pergi ke suatu tempat yang sejuk namun tetap dekat dengan pusat keramaian oke, ni”. Rudi berkata sendiri dalam hatinya.

Setelah beres membuat simpul terakhir pada sepatunya, ia pun bergegas pergi meniggalkan rumahnya.
“Bu, aku pergu dulu”.
“Mau ke mana kamu, nak?”
“Biasa, kerja”
“Iya. Hati-hati, nak”
“Iya”.

Setelah hampir satu jam mengelilingi kota Bogor, akhirnya ia melihat sebuah taman, yaitu kebun Raya Bogor. Ia pun menghentikan angkot yang ia naiki lalu kemudian masuk setelah ia membayar karcis. Namun harga karcis saat itu cukup mahal, mungkin karena hari itu hari minggu.

Di dalam, ia banyak melihat hal, terutama pohon-pohon yang besar dan tinggi menjulang serta bunga-bunga langka dan sepertinya tidak ada di tempat ia tinggal. Sebelum ia masuk, Ia pikir akan sepi di dalam sana atau setidaknya sedikit orang, tapi malah beda, banyak sekali orang-orang selain dia yang mungkin berpikiran sama ketika hendak masuk ke Kebun Raya Bogor. Namun ia sudah terlanjur membeli tiket dan masuk, jadi nikmati saja apa yang ada di dalam sana.

Tidak sampai setengah ia mengelilingi taman itu, sepertinya ia sudah mulai kelelahan. Tampak keringat yang bercucuran di wajahnya. Ia pun memutuskan untuk berhenti dan duduk di sebuah gonngo yang ada antara dua pohon besar dan sebuah danau kecil buatan. Ia pun mengeluarkan air mineral yang ia simpan dari tas kecilnya yang ia beli dari luar. Tak lupa sepotong roti lapis berisi slai kacang untuk mengganjal perut. Sambil memandang orang-orang yang ada di seberang danau kecil, ia mengunyah roti itu dengan nikmat.

“Kak, Rudi?”. Terdengar seseorang wanita memanggil Rudi. Namun ia belum sadar bahwa ada seseorang yang menaggilnya ia pun terus mengunyah dan tampak nikmat sekali.
“Kak, Rudi?”. Seseorang tersebut memanggil lagi namun terasa dekat dan keras mebuat rudi kaget.
“Ukhu!”. Rudi pun tersedak karena kaget mendengar seseorang yang memanggil namanya dari belakang. Seseorang yang memanggil Rudi pun reflek langsung memukul leher belakang Rudi pelan dan memberikan sebotol air mineral yang kebetulan ia bawa juga.
“Tidak perlu, saya membawa air sendiri. Terimakasih”. Rudi pun meneguk air mineralnya sendiri. Sampai pada saat itu, Rudi belum sadar terhadap siapakah orang tersebut yang membuat dirinya tersedak dan ia pun tampak cuek. Tapi,
“Wow, siapa yang aku temui di sini?”. Rudi kaget ia pun memiringkan kepalanya dan termangu
“Hai”. Ernita menyapa dengan lembut. Ternyata orang yang yang tersebut adalah Ernita.
“Hai juga”. Rudi membalas, namun ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi pada saat itu.
“Apakah ini benar kamu, Ernita?”
“Iya. Kakak lupa?”
“Tidak. Hanya saja adik, eu… Kamu, eu…”. Rudi terbata “terlihat cantik sekali saat ini”.
“Benarkahkah, kak?”
“Iya. Maksud kakak, nggak. Maksudnya, ya”. Rudi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hmmm”. Keadan pada saat itu tampak begitu canggung, terlihat keduanya begitu hati-hati untuk megeluarkan dan merangkai kata demi kata. Namun tampak jelas pancaran dari mata mereka, bahwa sebenarnya pada saat itu mereka ingin menggengam dan saling memeluk karena sudah hampir tujuh mereka tidak saling bertemu kemudian berteriak “Aku rindu sama kamu. Aku rindu”.

“Ibu!”. Tak lama seorang bocah laki-laki muncul sambil berlari dan memanggil Ernita dengan panggilan ibu. Bocah tersebut langsung memegang kaki Ernita dan merengek.
Keadaan tersebut sontak membuat Rudi kaget, di kepalanya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan mengenai anak tersebut. “Siapa anak kecil yang memanggil Ernita dengan panggilan ibu ini?”. Saat itu pun Rudi hanya bisa menduga-menduga dan ia pun tidak mau memikirkan hal yang maca-macam.
“Siapa ini, Er?”. Rudi penasaran
“Ini Ahsan. Ahsan Rudi tepatnya”.
“Adikmu?”
“Tidak, ini anakku”. Awalnya Rudi tak percaya.
“Ah, kamu becanda ya, Er?”
“Tidak. Aku serius, kak. Ini memang anakku”. Mendengar penegasan dari Ernita bahwa bocah tersebut adalah anaknya, Rudi pun diam tak berkata sedikit pun. Mulutnya terkunci. Ia pun merasa seolah sedang berada di suatu tempat yang luas dan ramai serta dikelilingi oleh banyak orang, namun ia sendiri tak tahu di mana dan hal it terus putar, berputar dan berputar dalam kepalanya seolah tak mau henti, kemudian ada sekilas bayangan wajah yang tak asing di kepalanya.

“Kak? Kak Rudi?”. Ernita melambaikan tangannya di depan wajah Rudi yang tiba-tiba diam. “Ada apa, kak?”
“Oh. Maaf, Er. Kakak bengong ya? Maaf, ya?”.
“Nggak apa-apa, kak. Mungkin kakak kecapean”
“Iya kali.”. Rudi menjawab lemas. “Tujuh tahun tak bertemu besar sekali perubahan yang terjadi”
“Iya, kak. Beginilah memang yang telah terjadi”
“Sepertinya kakak banyak sekali ketinggalan info mengenai kamu, dik”.
“Hehe, kakak bisa aja. Aku kan bukan artis”.

Kemudian setelah pertemuan yang tak sengaja dan mengecewakan bagi Rudi, tampak ada sebuah permasalahan baru dari keduanya. Meski Rudi tahu sekarang Ernita sudah memiliki status yang berbeda, tapi sepertinya hatinya tidak bisa dibohingi bahwa ia masih memendam rasa pada dia, terlebih semenjak pertemuan itu. Bahkan ia selalu menduga-duga bahwa anak yang ia bawa pada saat itu bukanlah anak dia. Sementara Ernita pun sama, tapi satu hal dari Ernita, ia tak pernah-pernah benar bercerita mengenai apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Dan semenjak kejadian itu, tampak komunikasi mereka lewat telepon menjadi semakin intens. Namun Rudi masih bertanya-tanya mengenai status Ernita.

“Asti!”. Rudi memanggil asistennya
‘Iya, bos”
“Gimana perencanaan untuk acara hari minggu nanti?”
“Sedang dikerjakan, bos. Ya, sekitar dua puluh lima persen lagi”.
“Bagus. Makasih ya, Ti”
“Tidak masalah, bos”
“Kamu gimana, Fer?”
“Masalah sewa gedung semua beres, bos. Tinggal promo, lagi dijalankan sama Agus”.
“Oh iya, di mana dia sekarang, Fer?”.
“Siapa bos, Feri?”
“Iya”
“Dia lagi sibuk promo”.
“Jangan lupa sebar juga sama pengguna sosial media, temen-temen kalian, atau siapa aja yang kalian kenal”
“Beres, bos. Itumah sudah pasti”. Feri tersenyum. Sementara Asti sedang sibuk menghitung biaya yang akan dikeluarkan untuk acara nanti di depan laptopnya.

“Kring, kring…”. suara telepon berdering dari saku Rudi.
“Fer, Asti, lanjutin ya? Aku mau ngangkat telepon dulu”
“Siap, bos”.
“Ngomong-ngomong telepon dari siapa, bos? Ciye,”. Feri menggoda.
“Ehem,”. Asti pun ikut menggoda
“Ah, bisa aja kalian. Sstttt, jangan berisik ah”. Rudi tersenyum senang karena seorang yang menelponnya Ernita
“Hallo”. Ernita mengawali percakapan
“Hallo. Maaf Er, agak lama ngangkatnya, maklum lagi sibuk-sibuknya”
“Lagi sibuk, ya? Yaudah aku nanti aja nelponnya”
“Nggak apa-apa, Er. Lagian udah beres, kok. Kan ada asisten, hehe”. Rudi menyeringai
“Gimana kabarnya kamu, Er?”
“Aku baik-baik saja, Kak. Kok nanyain kabar sih, bukannya kemarin bahkan tadi pagi kita sms-an?”
“Hehe, habis aku bingung harus ngomong apa, Er?”
“Oh iya, Kak. Lusa depan kita bisa ketemuan, nggak?”
“Emangnya ada apa, Er?”.
“Nggak, aku pengen ngobrol aja. Kakak nggak bisa, ya?”
“Oh, nggak kok, Er. Kakak nggak sibuk”
“Kalo emang nggak bisa nggak apa-apa kok,kak”
“Beneran nggak, Er. Lagian aku juga pengen ngomong sesuatu sama kamu”.
“Terus, harinya kapan, Er?”
“Ya, sekitar dua harian lagi”
“Berarti hari kamis?”
“Iya”.
“Ketemuanya di mana, Er?”
“Entar aku kasih tahu lagi”
“Iya, Er”. Kemudian sejenak keadaan menjadi sunyi dan canggung, tampak keduanya kehabisan kata-kata serta bahasan untuk diobrolkan. Angin pun berhembus melewati sela-sela jendela kantor serta sedikit menggoyangkan rambut Rudi yang keirng seolah menggambarkan situasi canggung pada saat itu. Entah dari mana asal angin itu. Mengingat Rudi sedang berada di sebuah ruangan. Sementara telepon masih dalam keadaan tersambung. Lalu…

“Kak?”
“Iya, Er”. Rudi menggelengkan kepalanya
“Udah dulu, ya?”
“Oh iya, Er”. Sesaat sebelum Ernita menutup telepon
“Er?”. Tiba-tiba Rudi memanggil kembali
“Iya, kak”
“Boleh nggak aku minta sesuatu sama kamu?”
“Apa itu, kak?”
“Bisa nggak, mulai saat ini kamu jangan panggil aku kakak, yah?”. Rudi memohon
“Iya, kak. Maksudku Rudi”. Rudi tersenyum, sementara Ernita pun mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Rudi. Karena memang mereka sebenarnya sudah berada dalam sebuah perahu dan samudera yang sama. Perahu tersebut mereka kayuh bersama dengan lembut dan penuh dengan rasa. Gelombang besar yang sempat menerpa perahu mereka pun perlahan mulai surut. Dan sepertinya daratan hijau yang penuh dengan bunga-bunga yang berwarna dan beranekaragam sudah mulai nampak terlihat di ujung perahu mereka, sementara mereka berdiri di atasnya, kemudian mereka tinggal turunkan jangkarnya.
Pukul empat sore, tak seperti biasa Rudi sudah tiba di rumah. Banyak sekali barang ia bawa, tampaknya ia membawa oleh-oleh untuk kemudian ia bagikan kepada adik-adiknya di rumah. Ia terlihat gembira sekali di tengah persiapan untuk launching buku pertamanya minggu nanti.

“Hmmm, sudah lama juga aku nggak ngasih hadiah sama adik-adikku”. Rudi bicara sendiri di depan pintu.
“Ida! Ida!”. Rudi memanggil adiknya yang paling buncit. Ida merupakan satu-satunya adik perempuan yang ia miliki. “Lihat kakak bawa apa”.
‘Krek”. Pintu pun terbuka
“Ba’”. Rudi mengejutkan Ida yang muncul di balik pintu yang ditemani oleh ibu. Rudi salim pada ibunya. Sementara Ida tanpa basa-basi langsung mengangkut semua bawaan yang dibawa Rudi
“Ka, Luthfi. Lihat aku bawa mainan sama makanan”. Ida langsung mengakui semua miliknya. Tak lama ke-tiga adik Rudi yang lain pun muncul lalu kemudian saling berebut
“Aku mau yang ini”. Ujar Ida kekeh
“Aku juga”. Luthfi dan Jabar ikut-ikutan.
“Ka, aku mau dua ya mainannya?”. Mohon Luthfi pada Rudi
“Iya, terserah. Kakak sudah beliin semua buat kalian. Bagi-bagi aja”. Sementara Darus, adik rudi yang paling besar cuek saja karena sedang belajar di kamarnya.
“kamu keliatannya lagi seneng hari ini, nak?”. Tanya ibu pada Rudi
“Aku biasa saja, bu. Aku mandi dulu, bu”. Ia pun lekas pergi mandi.

Malam harinya Rudi meneruskan tulisannya. Namu sepertinya malam itu ia tak bergitu serius, tampak ia lebih banyak melamun dan tersenyum sendiri, entah apa yang ia bayangkan malam itu?

Pukul empat sore di kantor. Rudi tampak sibuk. Ia bersama timnya akan melakukan rapat penting untuk acara nanti. Sementara Rudi merasa gelisah dan berkeringat kering, karena hari itu ia sudah memiliki janji dengan seseorang, yaitu Ernita dan seharusnya ia sudah bersama Ernita di suatu tempat yang telah ditentukan Ernita. Layar ponsel Rudi pun menjukan lima pesan dan lima belas panggilan tak terjawab dari Ernita. Rudi bisa saja mengangkat ponselnya, namun pada saat itu hadir pula Pak Adi, ia adalah orang di balik smua rencana. Ia yang mebiayai anggaran serta orang yang percaya terhadap karya-karya Rudi sehingga membuat rudi tidak enak untuk meninggalkan rapat, bahkan hanya untuk membalas sms ataupun mengangkat telepon.

“Bos, bisa kita mulai sekarang?”. Tanya Feri pada Rudi.
“Iya, kenapa Fer?”. Rudi mebalas kaget
“Bisa kita mulai?”
“Iya. Silahkan”. Rudi mebalas cemas

Sementara itu di tempat yang lain di sebuah cafe kecil Ernita duduk termangu sendiri sambil mememgang hp yang tak pernah berdering. Ia menatapi bunga-bunga hiasan yang terletak di atas mejanya dan di meja yang lain. Mereka berdua berjanji akan bertemu di sana. Namun sepertinya itu hanya berlaku pada satu pihak saja.
“Mbak, mau pesan sekarang?”. Seorang pelayan menawarkan pesanan, karena ia melihat Ernita sudah datang dan duduk begitu lama namun tak memesan apa-apa.

Tak terasa tiga jam sudah ia menuggu, namun tampak Rudi belum menampakkan batang hidungnya. Jangankan melihat Rudi, hp digenggamannya pun tak berdering, mengingat ia sudah memberi beberapa pesan lewat hpnya. Dan itu pun tak Rudi balas. Ia mulai merasa bosan dan gusar. Akhirnya karena penantiannya sepertinya sia-sia ia pun pergi meniggalkan cafe tersebut dengan perasaan penuh dengan kekecewaan.

Selang tiga puluh menit, Rudi selesai rapatnya. Tanpa basa-basi ia langsung menuju tempat Ernita. Tak lama ia sampai, namun ia tak menemukan Ernita di sana. Ia pun merasakan sebuah firasat yang kurang baik dalam hatinya.
“Mbak, apa anda melihat seorang wanita. Dia memesan meja no. 5?”. Tanya Rudi kepada pelayan di sana
“Oh, wanita itu. Ia tadi ada di sini”
“Lalu ia ke mana?”.
“Sudah pergi sekitar stengah jam yang lalu”.
“Ah…”. rudi geram. “Seharusnya aku tadi bisa saja beralasan untuk tidak mengikuti rapat segala. Sial”. Rudi berteriak. Sementara orang-orang di cafe menadanginya aneh. “betapa bodohnya aku”. Ia mengumpat.

Ia pun mencoba menghubungi Ernita lewat telepon, namun tak ada jawaban. Dan sepertinya itu merupakan sebuah jawaban.
Dikesunyian malam dan gelap ia berjalan dengan kepala yang tertunduk. Langkahnya lesu dan tertatih. Sorotan lampu malam mengirngi dirinya, seolah ia satu-satunya manusia di dunia yang merasakan ketidak beruntungan malam itu. Bunyi klakson mobil dan motor tak ia hiraukan, ia terus saja berjalan melangkahkan kakinya di atas trotoar yang tak berujung. Malam itu terasa dingin, dingin sekali.

Cerpen Karangan: Anharudini
Blog / Facebook: thebookanhar.wordpress.com / www.facebook.com/anhar.rudini

Cerpen Tak Terjelaskan (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Growing Pains

Oleh:
Cinta tak pernah mengenal kata lelah, tak pernah ada keingin untuk mendapatkan imbalan karena cinta tak pernah mengenal kata pamrih. Cinta sangat hangat saat kita mampu meresakan betapa lembut

Inikah Cinta? Tapi Mengapa?

Oleh:
Kenalin saja nama ku raya adinata masih duduk di kelas 2 sma, kehidupanku? Yah sama seperti kalian, aku yang memang dari awal menginjak masa remaja tidak pernah ngerasain yang

Kau Telah Pergi, Pulsamu Habis

Oleh:
Aku sedang mendengarkan lagu Coldplay ‘A sky full of stars’ sambil mengingatmu memang sangat menyenangkan. Kau lucu, selalu membuatku merindu. Wajahmu yang lembut, bibirmu yang suka terlihat basah, semua

Pelangi Kecil

Oleh:
Sang mentari tersenyum indah memandang bumi dari ufuk timur yang mengingatkanku pada masa kecil dulu. Masa-masa indah sebelum ku mengenal arti kehidupan, belum mengenal arti cinta dan perasaan, yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *