Tak Terjelaskan (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 5 September 2017

Beberapa hari kemudian. Terdengar suara kicauan burung gereja di pagi hari. Tampak keadaan sudah kembali berjalan normal seolah tak pernah terjadi apa-apa dan ia tak pernah bertemu lagi dengan Ernita. Ia pun kembali menyibukan diri dengan kerjaan yang menumpuk. Dan memang itu yang selalu ia lakukan sebelumnya. Ia pun kembali melakukan hal-hal yang tak ia lakukan selama beberapa hari terakhir. Ia mencoba mencoba melupakan beberapa hal, dan sepertinya ia berhasil. Namun ada perbedaan yang nampak jelas pada dirinya. Ya, sepertinya ada yang berbeda pada dirinya. Tapi apa yang berbeda? Entahlah.

“Bos, apa kau baik-baik saja?”. Tanya Asti
“Ya. Aku baik-baik saja. Kenapa?”
“Apa kau yakin, bos?”
“Ya, ya. Aku yakin”
“Kau terlihat pucat, bos”
“Benarkah?”
“Ya”
“Mungkin aku kurang tidur”
“Sebaiknya kau pergi ke dokter, bos?”
“Tidak, tidak. Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Percayalah”
“Baiklah, bos. Terserah kau saja”
“makasih, Ti”
“Tidak masalah, bos”
Dua hari menjelang hari-H
“Bu!”. Rudi memanggilnya ibunya dari kamar
“Iya, nak. Ada apa?”
“Tolong telepon Feri atau Asti, hari ini aku nggak ke kantor. Aku agak kurang enak badan”.
“Iya, nanti ibu kasih tahu mereka. Coba aku pegang kening kamu, nak? Ibu panggil bapak dulu ya, biar kamu dibawa ke rumah sakit”.
“Nggak usah, bu. Aku nggak apa-apa, Cuma panas aja”
“Tapi, nak”
“Percaya, bu”
“Ya udah kalau emang itu mau kamu. Tapi ibu kompres mau, ya?”
“Iya, bu”. Ibu Rudi pun pergi ke dapur untuk segera memasak air serta menyiapkan baskom kecil dan kain untuk mengompresnya.

Terik matahari pagi menyengat dan menyinari setiap hamparan yang ia senari. Namun terasa segar oleh angin yang berhembus menembus kemeja putih yang Rudi kenakan. Tampaknya ia sudah sembuh dari sakitnya, namun terkadang masih terasa sakit jika ia terlalu keras dalam berpikir. Ia pun berangkat menuju kantor.

Di kantor tak banyak yang ia lakukan, hanya memeriksa keadaan rekannya Asti dan Feri, sementara Agus selalu ada di luar.
“Aku duluan”
“Iya, bos. Hati-hati”

Adi pulang menaiki angkutan umum, ia duduk di kursi paling ujung dan berhimpitan bersama penumpang lain. Dalam angkutan, ia memandangi mobil-mobil lain serta ruko-ruko di pinggir jalan yang terlihat seperti berjalan sendiri melewati mobil yang ia tumpangi. Sementara banyak pula pohon serta orang-orang. Namun, tak diduga ia melihat seorang wanita di trotoar. Terlihat ia sedang menuyun seorang anak laki-laki. Awalnya Rudi tak menyadari, namun setelah agak jauh, ia sadar bahwa wanita tersebut adalah Ernita. Ia pun spontan menghentikan angkutan yang ia naiki.
“Kiri-kiri”. Setelah mebaayar uang pas pada sopir angkot, ia pun langsung bergegas berlari menuju Ernita. Terengah-engah Rudi menghampiri Ernita

“Hei”. Rudi menyapa ragu. Ernita tak bergeming mendapati Rudi yang menyapanya. Ia hanya memandang wajah Rudi sesaat lalu memalingkannya. Ia pun menggendong anaknya lalu berjalan tergesa-gesa menghindari Rudi. Ia pun mengerti dengan sikap Ernita padanya. Ia sadar diri dengan apa yang telah ia lakukan padanya.
“Er”. Rudi kembali memanggil Ernita. Sementara Ernita terus saja berjalan tak mempedulikannya dan Ia mencoba mengimbangi Ernita. “Er. Tolong dengarkan aku”. Ernita terus saja jalan “Er. Ayolah. Ucapkan sesuatu. Kumohon”. Rudi memohon. Tak disangka oleh Rudi, Ernita menghentikan langkahnya begitupun Rudi. sambil memangku anaknya di pinggang, Ernita bereaksi
“Kamu ingin aku bicara! Kamu ingin aku ngomong! Kamu mau aku ngomong apa? Dan apa yang ingin kamu dengar dariku? Sebuah kekecewaan. Apa itu maksudmu? Dan kau senang akan hal itu? Kau tahu berapa lama aku menunggu di sana. Lalu tatapan orang-orang di sana, apa kau tahu? Tapi bukan itu yang aku khawatirkan. Dan satu hal yang membuatku sesak, kau tahu apa? Aku menyangka bahwa kau benar-benar serius denganku. Bahwa kau memang mencintaiku. Dan aku percaya. Ya, aku percaya. Tapi mungkin itu dulu, saat masa kuliah. Atau memang dari dulu kau memang tidak benar-benar mencintaiku. Apalagi dengan statusku, seorang wanita yang memiliki satu anak tanpa seorang pendamping. Dan itu membingungkan. Namun sampai saat ini yang membuatku sakit adalah, aku masih mencintaimu. Ya, aku memang mencintaimu. Aku tidak menyalahkanmu dalam hal ini. Ini salahku. Aku terlalu berharap sesuatu darimu. Betapa bodohnya aku”. Ernita tertawa sendiri.
“Tapi, Er”. Rudi mencoba membalas
“Sekarang, kita lupakan kita pernah bertemu dan saling mengenal. Aku mau pergi dan mencoba melupakan beberapa hal dengan apa yang telah terajdi pada diriku selama ini, dan sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi. Aku harap kamu mengerti. Selamat sore”. Ernita pun pergi meniggalkan Rudi. sementara Rudi hanya memandanginya dari belakang. Sedikitpun ia tak diberi kesempatan untuk bicara. Padahal, ia merasa sangat bersalah padanya dan ingin sekali bicara. Entah apa yang Ia rasakan? Tak lama hujan pun turun membasahi semua yang ada di atas tanah. Ia hanya terdiam meratapi kedaan. Sementara hari mulai senja, kerlap-kerlip lampu kota pun mulai terlihat menghiasi gedung dan taman kota. Orang-orang di tengah kota mulai ramai pulang dari kerja. Seiring dengan gelapnya hari, siang pun telah berganti menjadi malam.

Beberapa saat sebelum acara di sebuah gedung. Feri tampak gelisah karena mendapati Rudi yang tak kunjung menampakan batang hidungnya. Diwaktu yang bersamaan tampak para tamu undangan satu-persatu mulai datang. Pak Adi selaku orang yang membiayai acara ikut cemas mengenai keberadaan Rudi. Ia duduk di kursi belakang panggung sambil memegang segelas air dan sebatang rokok dan menatap jam kecil di atas meja di depannya.

“Ti, di mana Rudi?”. Feri bertanya pada Asti.
“Entah. Aku tak tahu”
“Kamu gimana Gus, tahu nggak?”. Agus hanya menggelengkan kepala.
“Kamu sudah mencoba meneleponnya, Ti?”
“Sudah berkali-kali aku telepon”
“Terus?”
“Tidak ia angkat”
“Ke mana dia, ya?”. Agus berbicara pelan
“Ayolah, bos. Kamu ada di mana sih? Acara sudah mau dimulai, kau belum juga muncul”. Feri berbicara sendiri.
“Gimana, semua lancar?”. Pak Adi tiba-tiba muncul
“Semua lancar, pak”. Feri memastikan

“Kring, kring”. Telepon berdering.
“Siapa itu, Ti?”. Tanya Feri kepada Asti.
“Ibunya Rudi. Tak seperti biasanya, ada apa ya ibunya Rudi menelepon aku?”. Ujar Asti penasaran.
“Coba kamu angkat”. Ujar Agus. Sementara Feri hanya menatap Asti.
“Hallo”. Asti mengangkat telepon
“Ini Asti?”.
“Iya, bu. Ada apa ya, bu”. Jawab Asti sopan.
“Rudi sekarang berada di rumah sakit”.
“Maksud ibu?”. Asti penasaran. Sementara Feri dan Agus hanya mengangkat dahinya karena tak mengerti degan apa yang sedang mereka bicarakan lewat telepon.
“Kenapa, Ti?”. Keduanya ikut penasaran
“Dari kemarin malam Rudi terbaring di rumah sakit dan tak bangun”.
“benarkah?”. Asti memotong
“Iya, nak. Dan ibu nggak tahu harus menghubungi siapa. Nak Asti mau menemani ibu di sini?”. Ibu Rudi memohon.
“Ibu sama siapa di sana?”
“Ibu sama Jabar dan Ida. Bapak lagi di jalan mau ke sini”.
“Baik, bu. Aku segera ke sana”.
“Terimakasih, nak”
“Sama-sama”. Asti menutup telepon.

“Ada apa, Ti?”. Feri dan Agus tampak penasaran karena mereka hanya mendengar pembincaraan dalam satu sisi, sehingga mereka tidak mengerti dan bingung.
“Sekarang kalian ikut aku?”
“Ke mana?”. Ujar Feri
“Rumah sakit”.
“Apa kau gila. Acara sebentar lagi dimulai. Tamu undangan sudah banyak yang datang. Apa yang sebenarnya terjadi, Ti?”.
“Rudi sekarang berada di rumah sakit. Dari semalam ia tidak sadarkan diri. Aku akan menyusulnya ke sana. Terserah kalian mau ikut aku atau tidak”. Feri memegang dahi dengan telapak tangannya. Sejenak ia memejamkan matanya, ia seolah tak percaya, kenapa kejadian seperti ini harus terjadi saat ini. Tak henti-henti ia menggelengkan kepala dan memandang Asti dan Agus.
“Gimana?”. Asti memastiakn keduanya, ikut atau tidak.
“Ini sangat, mebingungkan bagiku, Ti”. Ujar Feri.
“Baiklah. Aku berangkat sendiri saja”
“Tunggu-tunggu”. Feri mencoba menahan Asti “Aku ikut sama kamu, Ti. Sementara kamu Gus, selesaikan semua masalah apapun yang akan terjadi di sini. Gimana?”. Asti hanya diam.
“Baiklah. Terserah kau saja. Aku sih gimana baiknya saja”. Agus mengiyakan. Mereka berdua pun pergi. Namun sesaat sebelum keduanya pergi, Asti tampak menelepon seseorang di belakang. Terdengar dar suaranya, orang yang ia telepon sepertinya seorna perempuan. Tapi siapa? Feri hanya bisa menebak-nebak siapa yang Asti telepon. Setelah Asti selesai dengan teleponnya, akhirnya mereka pun segera meluncur menuju rumah sakit tempat Rudi di rawat.

Tiba mereka di rumah sakit. Tampak ayah Rudi sudah tiba lebih dulu dari mereka. Sambil menjinjing makanan Asti dan Feri menghampiri
“Siang, bu?”. Asti menyapa. Tak disangka, ibu Rudi menyambut sapaan Asti dengan sebuah pelukan. Ia memeluk Asti dengan begitu erat, seolah tak ingin dilepaskan. Terlihat jelas pandangan kegelisahan dari mata sang ibu. Wajahnya tampak pucat dan matanya memerah. Air mata pun keluar begitu deras tak terbendung keluar dari mata sang ibu yang menantikan anaknya yang terbaring kaku di atas ranjang dengan selang impusan yang menempel di tangan dan hidungnya dan tak kunjung sadar “Sungguh kasihan aku melihatnya”. Asti berbicara sendiri dalam hati.
“Sabar, bu”. Asti mengusap pundak ibu Rudi lembut
“Ibu tak tahu harus berbuat apa lagi nak, Asti. Sudah hampir dari semalam dia tak sadarkan diri. Ibu tidak tahu apa yang terjadi sebelum ia pulang ke rumah, karena ia terlihat baik-baik saja saat itu. Ibu cemas, takut nak,Asti”. Ia menyeka matanya sendiri “Ibu takut dia,”.
“SStttt,”. Asti memotong pembicaraan dan mencoba meraih kedua tangan agar sang ibu tenang. “Lebih baik kita tunggu sampai kondisi Rudi pulih. Kita tunggu sampai ia bangun terlebih dahulu. Kita nggak boleh membuat keputusan sendiri mengenai keadaan Rudi saat ini, apalagi sampai menyangka yang tidak-tidak. Kita berdo’a saja, semoga tidak akan terjadi apa-apa pada Rudi”. Seiring dengan perkataan Asti, tampak sang ibu mulai tenang dan tidak mengeluarkan air matanya lagi. Namun rasa kekhawatirannya tampak jelas tidak bisa dibohongi terlihat dari sorotan matanya yang layu.
Sementara Ayah Rudi memperhatikan Rudi yang terkapar di depan pintu yang terlihat dari kaca pintu dari luar. Asti, Feri, ibu Rudi dan kedua adik rudi duduk dikursi panjang di sana. Dalam keheningan itu, ibu Rudi mulai menceritakan apa yang sebenarnya menimpa Rudi sampai ia bisa mengalami kejadian seperti sekarang dan kejadian-kejadian yang pernah menimpa Rudi sebelumnya. Dengan seksama mereka menyimak cerita sang ibu.

Tak lama kemudian,
“Orangtua Rudi!”. Dokter keluar dan memanggil.
“Iya, dok”. Ayah Rudi menyahut.
“Bisa bicara sebentar?”
“Bisa-bisa. Ada apa ya, dok?”. Tanya ayah Rudi heran. “Ayo, bu”. Ayah mengajak ibu untuk menemani.
“Sebaiknya bapak saja”
“Oh iya, dok”.
“Mari, pak”. Kemudian Ayah Rudi dan dokter masuk ke ruangan dokter. Tampak terlihat muka serius dari wajah dokter, seolah menggambarkan ia akan memberikan kabar yang tidak baik mengenai anaknya, Rudi.
Sementara ibu Rudi terus saja cemas dan khawatir, air matanya sudah tak keluar lagi menahan kesedihan yang menimpa anaknya. Di sisi lain, ia sendiri penasaran, ia pun hanya bisa menduga-duga “Apa sebenarnya yang mereka bicarakan di dalam? Semoga saja tidak ada apa-apa. Ya, semoga”. Ibu berbicara sendiri dalam hati.

Kilasan masa lalu.
“Bu, kalau aku gede nanti, aku mau jadi jagoan kaya di film-film. Boleh kan, bu?”.
“Ya, kalau ibu si terserah kamu. Yang penting kamu seneng. Coba kamu tanya ayah”. Ibu meneruskan melipat baju bersihnya.
“Boleh ya, yah?”. Rudi memohon.
“Emang kalau udah gede, kamu mau jadi apa, nak?”
“Aku mau kayak superman, nolongin orang-orang yang lemah sama nembakin orang-orang jahat. Bolehkan, yah?”
“Itu baru anak ayah”
“Hore. Aku jadi superman. Hore”. Rudi berlari sambil memegang mobil mainan kesukaannya.

Tak lama bapak keluar lalu memanggil ibu, mereka pun masuk bersama ke dalam ruangan. Sementara dokter menuggu di dalam. Keduanya duduk bersamaan di kursi yang telah disediakan di sana, sementara dokter berada tepat di depan mereka hanya terhalang oleh meja yang cukup besar dan kokoh, dan mereka saling berhadapan. Dokter itu tersenyum, namun jemari tangannya terus saja bergerak sendiri memukul-mukul meja dan bergetar, seolah mengisyaratkan sesuatu.

“Hmm,”. Dokter mengawali percakapan
“Ada apa, dok?”. Bapak penasaran
“Iya. Ada apa, dok?”. Sahut ibu menyambar
“Tenang, bu. Biarkan pak dokter menjelaskan apa yang terjadi”. Bapak mencoba menenangkan ibu “Silahkan pak dokter”.
“Nak Rudi ini, nampaknya sudah tidak bisa bertahan”
“Maksud dokter?”. Ibu menyambar.
“Tenang, bu”. Lagi-lagi bapak menenangkan ibu yang sepertinya sudah tidak sabar mendengar penjelasan dokter.
“jika menurut data riwayat data yang ada, usia anak bapak dan ibu mungkin hanya tinggal menghitung hari, atau bahkan jam, itu pun jika kondisi fisiknya bisa bertahan. Sebagai seorang dokter, saya dan tim sudah berusaha sekuat tenaga. Namun, sepertinya Tuhan memiliki kehendak lain”
“Apa semua cara suda dilakukan, dok?”. Bapak mencoba optimis. Sementara ibu hanya bisa mengeluarkan air mata kering.
“Demi Allah! Saya telah melakukan semua cara, kecuali,”.
“Kecuali apa, dok?”. Kali ini tidak hanya ibu yang penasaran, bapak pun ikut menyambar dan memotong perkataan dokter dan tangan mereka pun saling menggenggam.
“Kecuali ada seseorang yang rela mengorbankan jantungnya untuk anak bapak dan ibu, dengan resiko,”
“Resiko apa, dok?”
“Bertukar nyawa”. Keduanya terdiam
“Apa tak ada cara lain, dok?”.
“Tidak ada. Hanya itu satu-satunya cara”. Bapak menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku tak percaya ini. Apa di rumah sakit ini tidak ada stok donor jantung seperti hal nya darah?”.
“Jika ada, kami akan langsung mengusulkan kepada bapak dan ibu. Tapi, inilah kenyataan, bahwa mencari donorkan jantung itu sangat sulit”. Kemudian,
“Dok, tolong ambil jantung saya”. Ibu memohon sambil menangis. Sementara dokter menatap bapak dengan kepala tertunduk mencoba menghindar dari tatapan ibu yang terlihat yang lesu dan penuh air mata.
“Ssttt, tidak bu, ibu tidak perlu melakukan ini. Bapak yakin masih ada cara lain”.
“Apa bapak tidak mendengar tadi, tidak ada cara lain kecuali dengan ini, pak”. Ibu kembali mengeluarkan air mata, yang sepertinya sudah mulai habis. Bapak mencoba menenangkan ibu. Dengan hangat, bapak memeluk ibu dari isak tangisnya. Semakin ibu menagis, semakin kencang pula bapak memeluk ibu. Sementara dokter mencoba mencari pandangan lain, agar tak terbawa suasana. Ia merasakan kesedihan serta kecemasan yang dirasakan oleh mereka berdua, namun ia menahannya agar bisa menguatkan mereka.

Beberapa saat kemudian, di saat keputusasaan sedang mendera mereka, dan waktu pun seolah tak mau bekerja sama, tiba-tiba,
“Tok, tok, tok”. Terdengar suara pintu yang diketuk
“Silahkan masuk”. Sapa dokter terhadap seseorang yang mengetuk pintu dari luar. Seseorang tersebut lalu membuka pintunya sendiri, lalu ia pun masuk. Sementara bapak dan ibu tampak sedang menyeka kedua matanya yang basah dengan air mata. Dan seseorang tersebut ternyata seorang wanita. Ia tampak cantik dan begitu bercahaya, bagai malaikat yang dikirim tuhan untuk mendatangi mereka yang sedang mengalami masalah. Namun ketiganya pun tak ada yang tahu siapa gerangan wanita ini sebenarnya?
“Maaf, saya mengganggu. Dan saya telah mendengar semua percakapan bapak, ibu dan dokter tadi. Sekali lagi saya mohon maaf”.
Karena merasa tenang dan nyaman sekaligus penasaran dengan kehadirannya, ibu pun bertanya kepada wanita tersbut
“Maaf nak. Kalau boleh tahu, nak cantik ini siapa, ya?”
“Perkenalkan, nama saya Ernita”. ia pun lansung mencium tangan bapak dan ibu Rudi lembut.
Ibu dan ayah Rudi pun merasa senang, sesaat mereka sedikit melupakan mengenai keadaan yang sedang mereka alami pada saat itu. Tampak ibu merasa nyaman dengan kehadiran Ernita.
“Nak Ernita ini, siapa ya?”. Ibu tersenyum
“Saya bukan siapa-siapa. Pak, bu, izinkan saya untuk berbicara empat mata dengan dokter”.

Awalnya mereka merasa aneh dengan keadan seperti itu, dan memang terlalu rumit untuk dijelaskan. Namun akhirnya dengan isyarat dokter, mereka mengerti dan bapak dan ibu Rudi pun menuruti permintaan Ernita. di dalam ruangan hanya tinggal ada Ernita dan dokter.

Lima puluh hari kemudian. Rudi berjalan dan langkahnya mengarah ke suatu tempat. Ia menggandeng seorang anak laki-laki yang masih kecil, Ahasan Rudi. mereka pun berjalan sambil saling bergandengan tangan selayaknya bapak dan anak.

Setelah cukup jauh mereka berjalan, kemudian langkah mereka pun terhenti di sebuah pemakaman yang letaknya tak jauh dari rumah Rudi. Rudipin mengajak Ahsan masuk ke pemakaman. Setelah berjalan cukup dalam, mereka pun berhenti lagi di satu kuburan dengan sebuah nisan yang bertuliskan, Ernita binti Ahmad sajili.

Ahsan menaburkan bunga yang ia bawa dari rumah Rudi. Kemudian Rudi jongkok dan mengangkat kedua telapak tangannya. Seraya Ia memanjatkan do’a, sementara Ahsan masih sibuk dengan bunganya. Setelah selesai, kedua telapak tangannya ia usapkan pada wajahnya. Seonggok tanah kasar ia ambil dengan tangan kanan lalu ia gerakan jemari tangannya yang penuh dengan tanah. tak satu pun kata ia keluarkan dari mulutnya, hanya memandang gunukan tanah berbalut hamparan bunga dan satu pohon kamboja. Di sinilah tempat peristirahatan terakhir dari seorang wanita yang teramat sangat ia kagumi dan tak terbayangkan sebelumnya. namun, entah apa ia yang pikirkan? lalu, ia pun berdiri dan kembali menggandeng Ahsan. Tapi terlihat dari dirinya wajah yang berseri. Sebuah pemandangan yang tak pernah terlihat dari dirinya. Mereka pun pergi.

Saat malam di rumah sakit lima puluh hari yang lalu.
“Saya tahu dengan maksud nak, Ernita. Tapi apa nak Ernita tahu dengan resikonya dan benar-benar ingin melakukannya?”
“Saya sudah tahu segala resikonya, dok. Saya sudah memikirkanya, dan saya benar-benar ingin melakukannya”.
“Jika berkenan, apa saya boleh tahu alasannya?”
“Saya rasa tidak, dok”.
“Saya mengerti. Kemudian maaf nak Ernita, apa Nak Ernita ada semacam permintaan? Sekali lagi saya mohon maaf”.
“Iya. Iya, dok. Ada tiga permintaan dari saya sebelum kita memulainya. Dan aku ingin dokter mwlakukannya”
“Akan kupastikan itu terjasi, nak.
“Terimakasih”
“Lalu apa permintaanmu, nak. Silahkan sebutkan”. Ernita pun mneyebutkan ketiga permintaanya. Sementara dokter mendengarkan dengan seksama.
“Pertama, tolong sandingkan saya dengan dia saat operasi berlangsung. Kedua, tolong segera singkirkan mayat saya setelah saya mati. Saya tidak mau saat dia bangun nanti, dia menagis mendapati tubuh saya yang sudah tak berdaya di sampingnya. dan terakhir, Tolong berikan pesan dalam surat ini padanya”.

Sepucuk surat dari Aku
“Dengan menyebut nama Allah SWT aku menulis surat ini untukmu, raga yang tak pernah menyatu. Tidak ada maksud ataupun hal yang teramat penting yang akan aku sampaikan dalam surat ini, aku hanya berharap saat kau menerima dan mambaca surat ini, Kau dalam keadaan sehat tanpa sedikitpun merasakan kekurangan dalam dirimu. Dan jika kau hendak menanyakan bagaimana kabarku? Tenang saja, aku baik-baik saja dan aku merasa bahagia di sini.

Hei, kau masih ingat ketika masih di Universitas? Aku tahu, kau selalu memperhatikanku diam-diam. Dan hal itu selalu kau lakukan disetiap kesempatan. Namun saat itu terasa canggung, karena aku sudah memiliki teman yang lain dan datang sebelum kau. Tapi aku pun tak keberatan, karena aku merasa senang ketika kau melakukan itu. Bahkan, aku sering datang lebih awal dan duduk berlama-lama hanya untuk menunggumu melewati kelasku di balik jendela kelas yang tembus dan terlihat dari dalam kelas. Dan Ketika kau tiba-tiba menghilang, Entah apa yang kurasakan saat itu.

Lalu, setelah bertahun-tahun tak bertemu, tiba-tiba kau hadir kembali dalam kehidupanku. Sungguh beberapa minggu belakangan ini, adalah hari-hari yang sangat menyenangkan dan paling membahagiakan dalam kehidupanku. Karena seperti biasa kau selalu menjadi pembeda dan selalu saja ada tempat yang kusisihkan dalam diriku untuk dirimu. Senang bisa bertemu denganmu kembali.

Dan untuk kejadian terakhir, sungguh itu membuat hatiku renyuh, aku bahagia karena bisa bertemu denganmu kembali, tapi di sisi lain aku harus marah padamu dan sungguh itu membuatku bingung. Tapi, itu tak mengubah apapun dalam diriku.

Bersaman dengan surat ini, aku titipkan Ahsan Rudi, anakku. Aku yakin kau pasti mengerti kenapa dibelakang anak itu tertera namamu. Aku berharap kau tidak keberatan jika ia memanggilmu “ayah”. Karena aku yang mengajarinya. Jangan lupa, bangunkan ia saat pukul empat pagi. Jangan biasakan ia tidur terlalu malam dan bangun setelah matahari bersinar. Biasakan ia membaca do’a sebelum memulai aktivitas, dan jangan beri ia makanan warung, karena gizinya sedikit. Satu lagi. Ia sangat suka sekali kentang rebus yang hanya diberi garam buatan ibunya, aku. Jangan terlalu panas tapi juga jangan terlalu dingin. Aku rasa hanya itu. Aku percaya kau akan menerima, merawat dan menjaganya dengan baik sampai ia dewasa dan tumbuh menjadi pria hebat sepertimu. Aku percaya itu.

Setelah aku sampaikan beberapa pesan dalam surat ini, aku berharap kau mengerti dan tetap menjalani hidup seperti biasa. Biarkan aku yang terbaring sambil memperhatikan kau dan Ahsan serta melihat senyuman manis kalian dari sisi yang lain. Dan sekarang aku pun bisa tidur dengan tenang. Karena, meski kita tidak pernah sekalipun bersama, setidaknya ada sebagian dalam diriku yang menempel dan hidup dalam dirimu. Dari aku raga yang tak pernah menyatu”

Ernita

Tamat

Cerpen Karangan: Anharudini
Blog / Facebook: thebookanhar.wordpress.com / www.facebook.com/anhar.rudini

Cerpen Tak Terjelaskan (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Sempat Memiliki

Oleh:
Betapa hancur hati ini saat mengetahui bahwa aku dan temanku mencintai satu cowok. Bagai diiris-iris dengan pisau yang tajam, hatiku perih sekali ingin menangis tapi aku hanya bisa menahan

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Namaku Dellia Salshabilla Putri, aku kerap disapa Shalsa. Aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Aku mempunyai sahabat, dia bernama Aldina Larasari yang kerap disapa Laras. Kami sudah bersahabat

Taman ini

Oleh:
Disini aku duduk. Menikmati indahnya alam. Melihat awan berputar diterpa angin yang terlihat seperti menari. Burung bernyanyi mengelilingi awan. Angin sejuk menambah suasana tenang. Lalu aku teringat kejadian dulu.

Me And My Sister’s Friend

Oleh:
Mungkin aku yang salah telah mencintainya. Tapi gadis itu patut tuk dipilih dan dicintai. Bukan hanya aku yang mencintainya, tapi aku yakin semua pria akan memilih gadis seperti dia.

Senja Yang Kedua

Oleh:
Mentari senja di pingir pantai menjadi kisah hidupku yang indah dengan lelaki yang kusayang, saat itu sunset menyinari tubuhku dan menjadi saksi kisah cintaku. Awalnya kita bertemu pada acara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *